• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sehubungan dengan terjadinya krisis ekonomi secara global tahun 2008 di Amerika Serikat mempengaruhi stabilitas sistem keuangan di Indonesia, maka diperlukan upaya untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, dilakukan perubahan terhadap ketentuan UU No.23 Tahun 1999 tentang BI sebagaimana telah diubah dengan UU No.3 Tahun 2004 yang mengatur mengenai

dalam perkembangannya piranti elektronik mulai banyak berperan terutama sejak dioperasikannya sistem BI RTGS pada bulan November untuk penyelesaian transaksi bernilai besar. Sementara, dalam kaitannya dengan pengawasan sistem pembayaran, BI memiliki tanggung jawab agar masyarakat luas dapat memperoleh jasa sistem pembayaran yang efisien, cepat, tepat dan aman. Fungsi pengawasan sistem pembayaran ini selain berwenang untuk memberikan izin operasional terhadap pihak yang menyelenggarakan kegiatan di bidang sistem pembayaran juga berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan sistem pembayaran baik yang dilakukan oleh BI maupun pihak lain di luar BI.

129

Ibid., hal. 78-79. Lihat juga di: Bank Indonesia, “Status dan Kedudukan Bank Indonesia”, http://www.bi.go.id, diakses tanggal 25 Februari 2011. Dalam rangka tugas mengatur dan mengawasi perbankan, BI menetapkan peraturan, memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan atau kegiatan usaha tertentu dari bank, melaksanakan pengawasan atas bank, dan mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pelaksanaan tugas ini, Bank Indonesia berwenang menetapkan ketentuan-ketentuan perbankan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian. Berkaitan dengan kewenangan di bidang perizinan, selain memberikan dan mencabut izin usaha bank, BI juga dapat memberikan izin pembukaan, penutupan dan pemindahan kantor bank, memberikan persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank, serta memberikan izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu. Dalam bidang pengawasan, BI melakukan pengawasan langsung maupun tidak langsung. Pengawasan langsung dilakukan baik dalam bentuk pemeriksaan secara berkala maupun sewaktu-waktu bila diperlukan. Pengawasan tidak langsung dilakukan melalui penelitian, analisis dan evaluasi terhadap laporan yang disampaikan oleh bank.

kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dari BI kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek.130

Pemerintah Indonesia melakukan berbagai langkah antisipatif dan mengambil langkah-langkah responsif dalam membendung dampak krisis keuangan Amerika Serikat sehingga stabilitas sistem keuangan tetap terpelihara. Salah satu langkah dilakukan pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak dan hal ihwal kegentingan yang memaksa tersebut dengan menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Perubahan Kedua atas UU No.23 Tahun 1999 tentang BI sehingga diundangkan UU No.6 Tahun 2009.

Ketentuan Pasal 11 UU No.23 Tahun 1999 tentang BI sebagaimana telah diubah dengan UU No.3 Tahun 2004 berbunyi sebagai berikut:

(1) Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan

Prinsip Syariah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kepada Bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek Bank yang bersangkutan.

(2) Pelaksanaan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dijamin oleh Bank penerima dengan agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya.

(3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)

ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.

(4) Dalam hal suatu Bank mengalami kesulitan keuangan yang berdampak

sistemik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem

130

Sawidji Widoatmodjo., Mencari Kebenaran Objektif Dampak Sistemik Bank Century,

Kajian Teoritis dan Empiris, (Jakarta: Alex Media Komputindo, 2010), hal. 1-2. Adanya krisis

keuangan tahun 2008 di Amerika Serikat yang merupakan terbesar sejak krisis 1929 telah memaksa pemerintah Amerika Serikat memberikan dana talangan atau bantuan likuiditas kepada industri keuangan yang bermasalah sebesar USD700 miliar. Krisis keuangan ini dipicu dari masalah pembiayaan kredit properti (subprime mortgage) yang dilakukan kurang hati-hati. Dampak krisis keuangan ini berimbas pada berbagai negara termasuk negara Indonesia, karena sistem keuangan global saling interdependensi.

keuangan, Bank Indonesia dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah.

(5) Ketentuan dan tata cara pengambilan keputusan mengenai kesulitan keuangan Bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diatur dalam undang-undang tersendiri, yang ditetapkan selambatlambatnya akhir tahun 2004.

Berdasarkan ketentuan di atas apabila dirujuk kepada Pasal I Perppu No.2 Tahun 2008 menegaskan bahwa ketentuan Pasal 11 ayat (2) dan ayat (5) UU No.23 Tahun 1999 tentang BI sebagaimana telah diubah melalui UU No.3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No.23 Tahun 1999 tentang BI diubah lagi sehingga menjadi sebagai berikut:

(1) Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan

Prinsip Syariah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kepada Bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek Bank yang bersangkutan.

(2) Pelaksanaan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dijamin oleh Bank penerima dengan agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya.

(3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)

ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.

(4) Dalam hal suatu Bank mengalami kesulitan keuangan yang berdampak

sistemik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan, Bank Indonesia dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah.

(5) Ketentuan dan tata cara pengambilan keputusan mengenai kesulitan keuangan Bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diatur dalam undang-undang tersendiri.

Hal yang menarik dari kedua ketentuan di atas adalah pada Pasal 11 ayat (5) UU No.23 Tahun 1999 tentang BI sebagaimana telah diubah dengan UU No.3 Tahun 2004, yakni ”Ketentuan dan tata cara pengambilan keputusan mengenai kesulitan

keuangan Bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diatur dalam undang-undang tersendiri, yang ditetapkan selambat-lambatnya akhir tahun 2004”.

Ketentuan Pasal 11 ayat (5) UU No.23 Tahun 1999 tentang BI junto UU No.3 Tahun 2004 diubah bunyinya dalam Pasal I Perppu No.2 Tahun 2008 sehingga ayat (5) dinyatakan: “Ketentuan dan tata cara pengambilan keputusan mengenai kesulitan keuangan Bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diatur dalam undang-undang tersendiri”.

Bedanya adalah terdapat kalimat yang mengatakan “selambat-lambatnya akhir tahun 2004” dan “diatur dalam undang-undang tersendiri”. Undang-undang yang dimaksud atau yang diamanahkan dalam Pasal I Perppu No.2 Tahun 2008 tersebut hingga saat ini tidak ada realisasinya, melainkan BI hanya mengeluarkan PBI No.10/31/PBI/2008 tentang Fasilitas Pembiayaan Darurat Bagi Bank Umum (khususnya Bank Umum) yang salah satu pertimbangannya pada bagian konsiderannya disebutkan bahwa bank dapat mengalami kesulitan likuiditas yang membahayakan kelangsungan usahanya dan memiliki dampak sistemik sehingga berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan stabilitas sistem keuangan.131

131

Lahirnya Perppu No.2 Tahun 2008 terkait dengan krisis global yang berdampak pada sistim keuangan nasional Indonesia. Pertimbangan demikian itulah, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Perppu No.2 Tahun 2008 untuk sebagai langkah antisipatif terhadap dampak krisis global tahun 2008.

Pengaturan FPJP ditemukan dalam Pasal 11 ayat (1), (2), dan (3) UU No.6 Tahun 2009 yaitu:

(1) Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan

Prinsip Syariah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kepada Bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek Bank yang bersangkutan.

(2) Pelaksanaan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dijamin oleh Bank penerima dengan agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya.

(3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)

ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.

Pelaksanaan dari ketentuan Pasal 11 ayat (3) ditemukan dalam PBI No.10/26/PBI/2008 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek bagi Bank Umum dan PBI No.10/30/PBI/2008 tentang Perubahan atas PBI No.10/26/PBI/2008 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek bagi Bank Umum serta SE No.10/39/DPM. Berdasarkan Pasal 1 angka 4 PBI No.10/26/PBI/2008 dan SE No.10/39/DPM, ditegaskan bahwa FPJP adalah fasilitas pendanaan dari BI kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek yang dialami oleh bank. Sementara pada Pasal 1 angka 5 PBI No.10/26/PBI/2008 dinyatakan bahwa kesulitan pendanaan jangka pendek adalah keadaan yang dialami bank yang disebabkan oleh terjadinya arus dana masuk yang lebih kecil dibandingkan dengan arus dana keluar (mismatch) dalam rupiah sehingga bank tidak dapat memenuhi kewajiban GWM rupiah.

Berdasarkan ketentuan ini maka dapat dipahami bahwa 11 ayat (1), (2), dan (3) UU No.6 Tahun 2009 yang kemudian diatur dalam PBI No.10/26/PBI/2008 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek bagi Bank Umum dan PBI No.10/30/PBI/2008 tentang Perubahan atas PBI No.10/26/PBI/2008 tentang Fasilitas

Pendanaan Jangka Pendek bagi Bank Umum serta SE No.10/39/DPM, status bank masih dalam pengawasan normal atau pengawasan intensif oleh BI sehingga disalurkan FPJP. Sementara Pasal 11 ayat (4) UU No.6 Tahun 2009 terkait dengan bank mengalami kesulitan keuangan yang “berdampak sistemik” dan “berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan”, maka BI dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban pemerintah dinamakan dengan istilah bailout atau pemberian dana talangan. Norma dalam ayat (5), “tata cara pengambilan keputusan mengenai kesulitan keuangan bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat dan sumber pendanaan yang berasal dari APBN diatur dalam undang-undang tersendiri”. Namun, norma tersebut tidak ditegaskan secara rinci dalam penejelasannya mengenai “kesulitan keuangan”, yang “berdampak” “sistemik” dan “yang berpotensi” mengakibatkan “krisis” “yang membahayakan sistem keuangan”, sehingga dapat dikatakan tidak ada ukurannya.