• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar hukum Bank Indonesia (BI) adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (UU No.23 Tahun 1999) yang diundangkan pada tanggal 17 Mei 1999, kemudian pada tanggal 15 Januari 2004 ditetapkan Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia sebagai perubahan pertama atas UU No.23 Tahun 1999. Pada tanggal 13 Januari 2009, Pemerintah Republik Indonesia mengundangkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Menjadi Undang-Undang (selanjutnya ditulis UU BI).

Pada bagian konsideran huruf d UU No.23 Tahun 1999 ditentukan bahwa untuk menjamin keberhasilan tujuan memelihara stabilitas nilai rupiah diperlukan Bank Sentral yang memiliki kedudukan yang independen. Menurut Muhammad Djumhana, yang dimaksud dengan Bank Sentral adalah suatu lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistim pembayaran, mengatur dan mengawasi sistim perbankan, serta

118

Penerbit Buku Kompas, Centurygate Mengurangi Konspirasi Pengusaha-Pengusaha, (Jakarta: Gramedia, 2010), hal. 151.

menjalankan fungsi sebagai the lender of the last resort (LoLR) yakni sebagai

lembaga pemberi pinjaman terakhir.119 Sedangkan menurut Ismail, Bank Sentral

adalah suatu bank yang berfungsi sebagai pengatur bank-bank yang ada dalam suatu negara tertentu. Bank Sentral hanya ada satu di setiap negara dan mempunyai kantor yang hampir ada di setiap provinsi, Bank Sentral yang ada di Indonesia adalah Bank Indonesia.120

Bank yang berfungsi dan menjalankan kewenangan sebagai Bank Sentral di Indonesia, yaitu Bank Indonesia (BI). Hal ini sesuai dengan penjelasan Pasal 23 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), yaitu Bank Indonesia yang akan mengeluarkan dan mengatur peredaran uang kertas. Kedudukan demikian, selanjutnya akan diatur dalam suatu undang-undang. Lebih jelasnya ketentuan Pasal 4 UU No.23 Tahun 1999 menentukan bahwa:

1. Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia;

2. Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen, bebas dari campur

tangan Pemerintah dan atau pihakpihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-undang ini; dan

3. Bank Indonesia adalah badan hukum berdasarkan Undang-undang ini.

119

Muhammad Djumhana., Hukum Perbankan Di Indonesia, Op. cit, hal. 118. Lihat Juga: Chatamarrasjid Ais., Hukum Perbankan Nasional Indonesia Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 7

Tahun 1992 Tentang Perbankan Sebagaimana Telah Diubah Dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia, Edisi Revisi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hal. 49. BI

juga berfungsi sebagai the lender of the last resort. Dalam melaksanakan fungsi ini, BI dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah kepada bank yang mengalami kesulitan likuiditas jangka pendek yang disebabkan oleh terjadinya ketidaksesuaian (missmatch) dalam pengelolaan dana. Pinjaman tersebut berjangka waktu maksimal 90 hari, dan bank penerima pinjaman wajib menyediakan agunan yang berkualitas tinggi serta mudah dicairkan dengan nilai sekurang- kurangnya sama dengan jumlah pinjaman.

120

BI dalam kedudukannya sebagai badan hukum publik yaitu sebagai salah satu lembaga negara selain mempunyai wewenang dalam mengelola kekayaan sendiri yang terlepas dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), juga berwenang untuk menetapkan peraturan dan mengenakan sanksi dalam batas kewenangannya. Dengan demikian sebagai lembaga negara, BI merupakan lembaga independen yang bidang tugasnya berada di luar Pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya, kecuali yang telah tegas diatur dalam UU BI.121

Diperhatikan dari segi fungsinya, bank dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu

Bank Indonesia (BI), Bank Umum, dan Bank Perkreditan Rakyat.122

Status BI baik sebagai badan hukum publik maupun badan hukum perdata ditetapkan dengan undang-undang. Sebagai badan hukum publik BI berwenang

BI mempunyai otonomi penuh dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam UU BI. Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas BI, dan BI juga berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga. Status dan kedudukan yang khusus diberikan kepada BI agar BI dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih efektif dan efisien.

121

Bank Indonesia, ”Status dan Kedudukan Bank Indonesia”, http://www.bi.go.id/web/id, diakses tanggal 25 Februari 2011. Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. dimulai ketika sebuah undang-undang baru, yaitu UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia, dinyatakan berlaku pada tanggal 17 Mei 1999. UU BI memberikan status dan kedudukan kepada BI sebagai suatu lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.

122

Abdulkadir Muhammad., Hukum Perusahaan Indonesia, Cetakan Keempat Edisi Revisi, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010), hal. 243. Lihat Juga: Ismail., Manajemen Perbankan Dari Teori

menetapkan peraturan-peraturan hukum yang merupakan pelaksanaan dari undang- undang yang mengikat seluruh masyarakat luas sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Sebagai badan hukum perdata, Bank Indonesia dapat bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam maupun di luar pengadilan.123

Kemadirian BI menyebabkan pihak lain dilarang untuk melakukan segala bentuk campur tangan terhadap pelaksanaan tugas BI, namun, sebaliknya BI wajib pula menolak dan/atau mengabaikan segala bentuk campur tangan dari pihak manapun. Akan tetapi dalam kemandiriannya itu, BI tetap berkewajiban menyampaikan informasi kepada masyarakat luas secara terbuka, menyampaikan laporan secara tertulis kepada Presiden dan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Laporan keuangan BI wajib diperiksa oleh BPK.124

1. Bank Indonesia wajib menyampaikan informasi kepada masyarakat secara

terbuka melalui media massa pada setiap awal tahun anggaran yang memuat: Kewajiban BI menyampaikan laporan tersebut ditentukan dalam Pasal 58 UU No.23 Tahun 1999 yaitu:

a. Evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan moneter pada tahun sebelumnya;

b. Rencana kebijakan moneter dan penetapan sasaran-sasaran moneter untuk

tahun yang akan datang dengan mempertimbangkan sasaran laju inflasi serta perkembangan kondisi ekonomi dan keuangan.

2. Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan juga secara

tertulis kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.

3. Bank Indonesia wajib menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan

tugas dan wewenangnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat setiap 3 (tiga) bulan.

123

Bank Indonesia, ”Status dan Kedudukan Bank Indonesia”, http://www.bi.go.id/web/id, diakses tanggal 25 Februari 2011.

124

Laporan keuangan BI, diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 59 UU No.23 Tahun 1999 bahwa BPK dapat melakukan pemeriksaan khusus terhadap Bank Indonesia atas permintaan DPR apabila diperlukan.

4. Dengan tidak mengurangi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bank Indonesia wajib menyampaikan penjelasan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenangnya apabila diminta oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

Misi BI adalah untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan nasional jangka panjang yang berkesinambungan. Visi BI adalah menjadi lembaga bank sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil. Sasaran strategis yang hendak dicapai BI adalah untuk mewujudkan misi, visi, dan nilai-nilai strategis (kompetensi, integritas, transparansi, akuntabilitas, dan kebersamaan), BI menetapkan sasaran strategis jangka menengah dan panjang, yaitu:125

1. Terpeliharanya Kestabilan Moneter;

2. Terpeliharanya Stabilitas Sistem Keuangan;

3. Terpeliharanya kondisi keuangan BI yang sehat dan akuntabel; 4. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen moneter;

5. Memelihara Stabilitas Sistim keuangan (SSK) yaitu: (i) melalui efektifitas pengaturan dan pengawasan bank, surveillance sektor keuangan, dan manajemen krisis, (ii) mendorong fungsi intermediasi;

6. Memelihara keamanan dan efisiensi sistem pembayaran;

7. Meningkatkan kapabilitas organisasi, SDM dan sistem informasi;

8. Memperkuat institusi melalui good governance, efektivitas komunikasi dan

kerangka hukum; dan

9. Mengoptimalkan pencapaian dan manfaat inisiatif BI.

BI mempunyai satu tujuan tunggal dalam kapasitasnya sebagai Bank Sentral, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini

125

Bank Indonesia, ”Fungsi, Misi, dan Visi Bank Indonesia”, http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Fungsi+Bank+Indonesia/Misi+dan+Visi/, diakses tanggal 25 Februari 2011.

mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal BI dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai BI serta batas-batas tanggung jawabnya.126

BI didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya untuk mencapai tujuan tunggal BI tersebut, yaitu: menetapkan dan mekaksanakan kebijakan moneter,127 mengatur dan menjaga kelancaran sistim pembayaran,128

126

Bank Indonesia, Tujuan, Tugas, dan Fungsi Bank Indonesia”, http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Fungsi+Bank+Indonesia/Tujuan+dan+Tugas/, diakses tanggal 25 Februari 2011.

dan mengatur

127

Sentosa Sembiring., Hukum Perbankan, Op. cit., hal. 77. Dalam hal ini BI berwenang: 1.Menetapkan sasaran-sasaran moneter dengan memperhaikan sasaran laju inflasi yang ditetapkannya; 2.Melakukan pengendalian moneter dengan menggunakan cara-cara yang termasuk tetapi tidak terbtas

pada:

a.Operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing; b.Penetapan tingkat diskonto;

c.Penetapan cadangan wajib minimum; dan d.Pengaturan kredit atau pembiayaan.

128

Ibid., hal. 77-78. Lihat juga di: Bank Indonesia, “Status dan Kedudukan Bank Indonesia”, http://www.bi.go.id, diakses tanggal 25 Februari 2011. Dalam bidang sistim pembayaran, BI merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik dan memusnahkan uang dari peredaran. Di sisi lain dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran BI berwenang melaksanakan, memberi persetujuan dan perizinan atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran seperti sistem transfer dana baik yang bersifat

real time, sistem kliring maupun sistem pembayaran lainnya misalnya sistem pembayaran berbasis

kartu. Untuk mewujudkan suatu sistem pembayaran yang efisien, cepat, aman dan handal, BI secara terus menerus melakukan pengembangan sesuai dengan acuan yang ditetapkan yaitu Blue Print Sistem Pembayaran Nasional. Pengembangan tersebut direalisasikan dalam bentuk kebijakan dan ketentuan yang diarahkan pada pengurangan risiko pembayaran antar bank dan peningkatan efisiensi pelayanan jasa sistem pembayaran. Pada sistem pembayaran non tunai, saat ini penyediaan layanan jasa pembayaran sebagian besar dilakukan oleh perbankan baik melalui rekening bank di BI, hubungan bilateral antar bank maupun melalui jaringan internal bank yang dimilikinya. Layanan pembayaran dana antar nasabah tersebut biasanya dilakukan melalui transfer elektronik, sistem kliring maupun melalui sistem BI Real Time Gross Settlement (BI RTGS). Dari sisi piranti pembayaran, secara historis sistem pembayaran non tunai di Indonesia didominasi oleh piranti pembayaran berbasis warkat, namun

dan mengawasi bank-bank di bawahnya.129 Ketiga bidang tugas tersebut perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien.