BAB IV : PERTIMBANGAN BI MELAKUKAN PENANGANAN BANK
E. Implikasi Penggunaan UU No.6 Tahun 2009 tentang BI dalam
Penanganan pada kasus Bank Century melalui proses bail out oleh BI didasarkan kepada UU No.23 Tahun 1999 tentang BI sebagaimana telah diubah melalui UU No.3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No.23 Tahun 1999 tentang BI sebagaimana telah diubah melalui UU No.6 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No.2 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas
UU No.23 Tahun 1999 tentang BI Menjadi Undang-Undang.181
181
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Pertama atas Undang-Undang
Diundangkannya UU No.6 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU BI tampaknya meligitamasi Kasus Bank Century. Pasal terpenting dalam UU No.6 Tahun 2009 adalah pada Pasal 11 ditentukan sebagai berikut:
(1) Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan
Prinsip Syariah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kepada Bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek Bank yang bersangkutan.
(2) Pelaksanaan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dijamin oleh Bank penerima dengan agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya.
(3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.
(4) Dalam hal suatu Bank mengalami kesulitan keuangan yang berdampak
sistemik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan, Bank Indonesia dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah.
(5) Ketentuan dan tata cara pengambilan keputusan mengenai kesulitan keuangan Bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diatur dalam undang-undang tersendiri.
Kehadiran UU No.6 Tahun 2009 berimplikasi kepada pananganan Bank Century melalui bail out dengan pertimbangan berdampak sistemik pada sistim keuangan dan perekonomian negara. UU No.6 Tahun 2009 memperkuat alasan otoritas BI dan Menteri Keuangan untuk memberikan dana kepada Bank Century
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Menjadi Undang-Undang, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 7, dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4962. Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 142, dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomoe 4901.
yang mengalami “kesulitan keuangan”, yang “berdampak” “sistemik” dan “yang berpotensi” mengakibatkan “krisis” “yang membahayakan sistem keuangan”.
UU No.6 Tahun 2009 semakin memperluas independensi BI dan sebagai implikasi dari lemahnya bidang pengawasan BI ditengarai sebagai penyebab lemahnya pengawasan perbankan nasional. UU No.6 Tahun 2009 terkait kasus Bank Century menyebabkan kewenangan BI terlalu besar; sebagai legulator, eksekutor, pemeriksa dan pemberi vonis pada saat yang bersamaan.
Pasal 9 Ayat 2 UU No.6 Tahun 2009 dinyatakan, BI wajib menolak dan atau mengabaikan segala bentuk campur tangan dari pihak manapun dalam rangka melaksanakan tugasnya. Sementara, Pasal 60 Ayat 3, anggaran kegiatan operasional sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dan evaluasi pelaksanaan anggaran tahun berjalan, disampaikan kepada DPR. Dalam hal ini, alat kelengakapan DPR yang membidanginya untuk mendapatkan persetujuan. Penjelasannya Pasal 60 ayat 3 ditegaskan, persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat ini diberikan melalui konsultasi dengan komisi yang membidangi BI dan perbankan, selambat-lambatnya 31 Desember tiap tahun anggaran. Apabila setelah tanggal 31 Desember belum mendapat persetujuan, anggaran yang diusulkan dianggap disetujui.
Berlakunya UU No.6 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 4 Tahun 2008 berpotensi merugikan hak-hak seluruh rakyat Indonesia sebab tidak ada kepastian hukum BI dan Menteri Keuangan dalam menafsirkan keadaan suatu bank yang mengalami “kesulitan keuangan”, yang “berdampak” “sistemik” dan “yang berpotensi” mengakibatkan “krisis” “yang
membahayakan sistem keuangan”, melainkan BI dan Menteri Keuangan terlalu luas menafsirkannya sehingga implikasinya terjadi pada Bank Century.
UU No.6 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia menjadi Undang-Undang juga membawa implikasi kepada berlakunya Perppu Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) padahal pada 18 Desember 2008, Perppu tersebut ditolak oleh DPR. Pada kenyataannya Perppu tersebut masih berlaku setelah berlakunya UU No.6 Tahun 2009 dan menjadi payung hukum dalam pengeluaran dana 6,7 triliun.
Pasal 11 ayat (4) dan (5) UU No.6 Tahun 2009 secara norma bertentangan dengan UUD 1945 karena norma-norma “kesulitan keuangan”, yang “berdampak” “sistemik” dan “yang berpotensi” mengakibatkan “krisis” “yang membahayakan sistem keuangan”, tidak memberikan kepastian hukum karena terlampau elastis. Norma-norma yang tertera dalam Pasal 11 ayat (4) dan (5) terbuka untuk ditafsirkan secara subyektif oleh otoritas Menteri Keuangan dan BI, sehingga tidak memberi jaminan kepastian hukum.
Frasa “mengalami kesulitan keuangan yang berdampak sistemik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan”, adalah norma yang bersifat terbuka, tidak jelas ukuran-ukurannya, sehingga dapat diinterpretasikan secara subyektif oleh Menkeu dan otoritas BI. Begitu pula frasa “darurat”, selain tidak jelas ukurannya, juga harus diinterpretasikan bahwa
pembentuk undang-undang telah mengalihkan kewenangan konstitusional Presiden mengenai keadaan darurat, dan melegalisasi pernyataan keadaan darurat kepada Menteri Keuangan dan BI. Padahal secara konstitusional kewenangan untuk mengatakan “keadaan darurat” tidak dapat didelegasikan kepada siapapun melainkan menjadi hak mutlak Presiden.
Norma dalam Pasal 11 ayat (4) dan (5) UU No. 6 Tahun 2009 jika dihubungkan dengan konstitusional bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan, “Negara Indonesia adalah negara hukum”, dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.
Pasal 29 Perppu No.4 Tahun 2008 tentang JPSK dinyatakan, “Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan/atau pihak yang melaksanakan tugas sesuai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini tidak dapat dihukum karena telah mengambil keputusan atau kebijakan yang sejalan dengan tugas dan wewenangnya sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini”. Ketentuan ini memberikan legitimasi kuat kepada pembuat kebijakan sehingga pembuat kebijakan (dalam kasus Bank Century: Gubernur BI dan Sri Mulyani Indrawai) tidak dapat dipidana terkait kebijakan yang menyatakan Bank Century berdampak sistemik terhadap sistim keuangan Indonesia apabila tidak ditalangi dana sebesar Rp.6,7 trilyun. Khususnya Pasal 11 ayat (4) dan (5) UU No.6 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
(Perppu) Nomor 2 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU BI menjadi landasan hukum pengucuran dana bail out sebesar Rp.6,7 triliun ke Bank Century.
Esensi dari penyaluran dana bail out terhadap Bank Century jika dikaitkan dengan UU No.6 Tahun 2009, sebagai warga negara yang taat dan patuh membayar pajak, sebagai salah satu sumber pendapatan negara, seluruh rakyat Indonesia dirugikan dengan kebijakan yang tidak pasti itu. Sebab Pasal 23 ayat (1) UUD 1945, APBN digunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Pasal 11 ayat (4) UU No.6 Tahun 2009 menunjukkan, dalam suatu hal bank mengalami kesulitan keuangan yang berdampak sistemik dan berpotensi mengakibatkan krisis yang membahayakan sistem keuangan, BI dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat yang pendanaannya menjadi beban pemerintah. ayat (5) berbunyi, ketentuan dan tata cara pengambilan keputusan mengenai kesulitan keuangan bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat dan sumber pendanaan yang berasal dari APBN diatur dalam undang-undang tersendiri. Namun, norma-norma itu tidak ditegaskan secara rinci dalam penejelasannya mengenai “kesulitan keuangan”, yang “berdampak” “sistemik” dan “yang berpotensi” mengakibatkan “krisis” “yang membahayakan sistem keuangan”.