• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bantahan Terhadap Syubhat

Dalam dokumen Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir (Halaman 74-77)

Dalam kasus ini kaum Syi'ah Rafidah banyak berbicara atas dasar kebodohan sambil mengada-ada perkara yang mereka tidak ketahui, bahkan mendustakan apa- apa yang tidak mereka pahami ilmunya dan belum sampai kepada mereka bagaimana hakikat penafsiran yang benar dalam perkara ini. Mereka sibuk turut campur dalam hal-hal yang tidak layak mereka campuri. Bahkan sebagian dari

mereka berupaya menolak hadits Abu Bakar yang kami sebutkan tadi dengan

alasan bertentangan dengan ayat al-Qur'an yang berbunyi,

"Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud." (An-Naml: 16). Dan ayat lainnya yang berbunyi,

"Maka anugerahilah aku dari Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub, dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridhai." (Maryam: 5-6).

Padahal cara mereka beiistidlal (mengambil dalil) dianggap keliru karena beberapa alasan,111

Pertama, Firman Allah,

"Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud."(An-Naml: 16).

Yakni mewarisi kerajaannya serta kenabiannya, artinya bahwa Kami (Allah) menjadikannya sebagai pengganti setelah Dawud, yakni sebagai raja yang mengatur seluruh rakyat dan sebagai hakim bagi bangsa Bani Israil. Kami jadikan ia sebagai Nabi yang mulia sebagaimana ayahnya. Sebagaimana ayahnya seorang Raja dan Nabi maka iapun dijadikan seperti itu pula. Bukan maksudnya di sini bahwa Sulaiman mewarisi harta ayahnya, sebab diriwayatkan bahwa Dawud memiliki anak yang banyak sekitar seratus orang, oleh karena itu jika makna dari

mewarisi dalam ayat tadi adalah mewarisi harta kenapa hanya Sulaiman saja yang disebutkan sebagai pewaris ayahnya dari sekian banyak saudara-saudaranya. Karena itu makna dari kata mewarisi adalah mewarisi kerajaan dan kenabiannya setelah nabi Dawud wafat, karena itulah Allah berfirman,

1 1 1

"Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia berkata, 'Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesua-tu. Sesungguhnya (semita) ini benar-benar suata kurnia yang nyata'." (An-Naml: 16).

Dan ayat-ayat selanjutnya.

Masalah ini telah kita bahas panjang lebar dalam kitab tafsir112 dan saya anggap hal itu sudah cukup.

Adapun kisah Zakaria AS. sesunggunya beliau adalah seorang Nabi '.yang mulia, sementara dunia dalam pandangannya sangat hina. Apalagi untuk meminta kepada Allah agar anaknya dapat mewarisi hartanya. Beliau hanyalah seorang pengrajin kayu dan makan dari hasil buah tangannya sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari.113 Dan beliau tidak pernah menyimpan makanan lebih dari keperlu-anya. Mustahil jika ia meminta kepada Allah agar diberikan anak yang dapat mewarisi hartanya, jika memang ia memiliki harta. Sebenarnya yang ia minta adalah anak shalih yang dapat mewarisi kenabiannya dan dapat melaksanakan apa-apa yang menjadi kemaslahatan bagi bangsa Bani Israil, dapat menunjuki mereka kepada jalan kebenaran, oleh karena itulah Allah menyebutkan,

Kaaf Ha Yaa 'Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tetang rahmat Rabb kamu kepada hamba-Nya Zakariya. yaitu tatkala ia berdo'a kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. Ia berkata,"Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalanku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub, dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridhai."

(QS. Maryam: 1-6).

Sampai akhir kisah. Ia berdoa, "Yang akan mewarisi aku dan mewarisi

sebahagian keluarga Ya'qub", maksudnya mewarisi kenabian sebagaimana yang telah kami terangkan dalam kitab tafsir114, bagi Allah segala pujian atas limpahan karuniaNya.

112 Tafsir Al-Qur’an Al-azhim, 6/ 192.

113 naskah aslinya, "Diriwayatkan oleh al-Bukhari,'tetapi aku tidak mendapatinya dalam kltab al-Bukhar¡ dan tidak pemah

menyebutkannya dalamTuhfatul AsyrafkecuaWdatang dari riwayat Muslim dan Ibnu Majan 10/ 386. dan menyebutkan hadits ini ketika berbicara mengenai sejarah nabi Zakaria dalam kitabnyaal-Bidayah wan nihayahdia menyebutkan hadits ini dari jalan Imam Ahmad kemudian berkata, "Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahih Muslim4/1847 dengan no. 2379.

Dalam riwayat Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Abu Bakar, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,

Kata'Nabi'di sini adalahisim jinsyang mencakup seluruh Nabi, dan hadits ini dihasankan oleh at-Tirmidzi,115 dalam hadits lain disebutkan,

"Kami para Nabi tidak mewariskan."

Kedua, Bahwasanya syariat Nabi Muhammad memiliki hukum-hukum tersendiri serta kekhususan yang tidak di miliki para nabi lainnya sebagaimana yang akan kami terangkan secara rinci kelak di akhir sirah beliau insya Allah, jika saja ditentukan bahwa para Nabi sebelumnya mewariskan hartanya kepada para anaknya -dan tidak demikian hakikatnya- maka seluruh yang diriwayatkan para sahabat seperti yang diriwayatkan keempat khalifah -Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali - adalah penjelas mengenai kekhususan Rasulullah saw. dalam hal ini yang tidak dimiliki olah para nabi lainnya.

Ketiga, Wajib mengamalkan hadits ini dengan segala konsekwensinya sebagaimana yang diterapkan para khalifah, dan keshahihannya telah diakui oleh para ulama, baik hal ini merupakan kekhususan Nabi ataupun tidak.

Sabda beliau, "Kami para Nabi tidak pernah mewariskan dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah" dari sisi lafazhnya memiliki dua makna, bisa bermakna khabar (informasi) tentang hukum yang berlaku bagi diri beliau dan bagi seluruh Nabi sebagaimana yang telah diterangkan. Itulah makna zhahirnya. Dan bisa pula bermakna insya' yaitu berupa wasiat beliau, seolah-olah beliau berkata, "Kami tidak meninggalkan warisan, sebab semua yang kami tinggalkan adalah sedekah."

Maka seolah-olah beliau mengkhususkan seluruh harta yang beliau tinggalkan menjadi sedekah. Namun makna pertama lebih dekat, dan inilah yang dipilih oleh mayoritas ulama. Walaupun makna yang kedua dapat juga diperkuat dengan hadits Malik dan Iain-lain dari Abu Zinad dari al-A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda,

"Harta warisanku tidak dibagi-bagikan walaupun hanya satu dinar. Apa yang aku tinggalkan setelah nafkah istri-istriku dan gaji para pekerjaku adalah sedekah."

Lafazh ini dikeluarkan dalam kitab Shahihain116 sekaligus bantahan terhadap

penyelewengan orang-orang bodoh dari kelompok Syiah tentang lafaz, “ma

tarakna sadaqoh” yang mereka barisi menjadi nasab ”sadaqoh” dengan

menjadikan ”maa” sebagai maa nafiyah (bermakna penafian). Namun mereka

tidak bisa mengakal-akali ungkapan Nabi saw. (kami tidak mewariskan), ditambah

115Sunan at-Tirmidzi,kitab as-siyar, babMaJa'a fi Tarikati Rasulillah,no. 1608 (4/157).

116Bukhari,kitabal-Faraidh,babQaul an-Nabi, La Nurats Ma Taraknahu Shadaqah. \2/6dariFathul Barí,dan

lagi dengan lafazh hadits yang kita sebutkan ini,

Apa yang kutinggalkan setelah nafkah istri-istriku dan gaji para pegawaiku adalah sedekah."

Penyelewengan lafazh ini persis sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Mu'tazilah bahwasanya salah seorang dari mereka membaca al-Qur’an di hadapan seorang syaikh dari kalangan Ahlus Sunnah,

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (QS. An-Nisa\164).

Tetapi dengan menashabkan Lafzhul Jalalah, maka syaikh tadi berkata

keradanya, "Celakalah dirimu, bagaimana engkau membaca ayat dari firman Allah yang berbunyi,

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya)."(Al-A'raf: 143).

Kesimpulannya wajib mengamalkan sabda Nabi,

”Kami tidak mewariskan, dan apapun yang kami tinggalkan hakikatnya adalah sedekah."

Bagaimanapun juga, lafazh dan maknanya tidak dapat dirubah. Oleh karena itu hadits ini mengkhususkan keumuman ayat al-Qur'an tentang pembagian harta warisan, yaitu kekhususan Nabi yang tidak dibagikan harta warisannya, baik dinyatakan bahwa hukum ini khusus untuk diri beliau ataupun juga berlaku umum bagi seluruh Nabi as.

Abu Bakar Minta Maaf Kepada Fathimah RA. Sebelum

Dalam dokumen Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir (Halaman 74-77)