• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEPERANGAN AQRABA DI YAMAMAH DAN KISAH TERBUNUHNYA MUSAILAMAH AL-KADZDZAB

Dalam dokumen Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir (Halaman 107-111)

Setelah memaafkan Khalid bin Walid, Abu Bakar ash-Shiddiq ra. mengu- tusnya untuk memerangi Bani Hanifah di Yamamah, dan melengkapinya dengan pasukan kaum muslimin. Pimpinan kaum Anshar ketika itu adalah Tsabit bin Qais bin Syammas.

Khalid mulai berjalan menuju Bani Hanifah. Tiap kali melewati kaum yang murtad, ia pasti menghabisinya. Ketika melewati pasukan berkuda milik Sajaah, Khalid menyerbu mereka hingga lari tercerai-berai dan akhirnya Khalid berhasil mengeluarkan mereka dari Jazirah Arab. Sementara itu Abu Bakar ash-Shiddiq ra. menyertakan bala bantuan di belakang Khalid untuk menjaganya dari belakang.

Sebelumnya Abu Bakar telah mengutus Ikrimah bin Abu Jahal dan Syarahbil bin Hasanah menuju Musailamah. Namun keduanya tidak mampu menghadapi Bani Hanifah disebabkan jumlah personil mereka yang amat banyak, yakni sekitar 40.000 personil. Ikrimah kembali sebelum kedatangan temannya, Syurahbil. Tatkala mereka berpapasan di jalan, keduanya sepakat untuk berbalik.

Adapun Musailamah, ketika mendengar kedatangan Khalid, dia

menempatkan pasukannya di suatu tempat yang bernama Aqraba169 di peng-

hujung bumi Yamamah. Sementara perkampungan tepat di arah punggung mereka. Musailamah menggugah fanatisme kesukuan pasukannya. Bang-kitlah fanatisme penduduk Yamamah memenuhi ajakannya.

168

Lihat kisah pasukan Khalid yang di utus ke Bani Juzaimah dalamShahih al-Bukhari,kitabal-MaghaziSI57 dari

FathulBan.Dan kata milghatul kalbi adalah tempat air yang dlmlnum airnya langsung dengan memasukkan tempat tersebut ke dalam -nulut untuk dijilat. Lihat Abu as-Sa'adat Ibnul Atsir,an-Nihayah ñ Gharib al-Hadits5/ 226

169

Aqraba': salah satu tempat di bumi Yamamah yang posisinya berada di pinggir negeri itu, dan termasuk ke dalam wilayah

al-Aridh. (Yaqut, fcaM/135.). .

Musailamah menempatkan pada dua sayap pasukannya masing-masing al- Muhkam bin Thufail dan ar-Rajjal170 bin Anfawah bin Nahsyal. Sebelumnya Ar- Rajjal adalah sahabat Musailamah yang pernah bersaksi bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw. menyatakan bahwa Musailamah telah mendapatkan wahyu seperti nabi. Akibat kesaksian palsunya itu -orang terlaknat ini- memiliki andil besar dalam menyesatkan penduduk Yamamah. Hingga akhirnya penduduk Yamamah mengikuti Musailamah, semoga Allah melaknat keduanya. Bahkan ar- Rajjal pernah datang menghadap Rasulullah saw. dan sempat membaca surat al- Baqarah.

Pada waktu terjadi pemurtadan besar-besaran, Abu Bakar mengutus-nya kepada penduduk Yamamah untuk berdakwah menyeru mereka kepada Allah agar mereka tetap setia di atas Islam. Namun akhirnya ia turut murtad bersama Musailamah dan bersaksi bahwa Musailamah adalah nabi.

Saif bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, "Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah saw. bersama seke-lompok orang. Di tengah kami hadir ar-Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda, "Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gusinya di neraka lebih besar daripada gunung Uhud."

Kemudian aku perhatikan bahwa seluruh yang hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya ar-Rajjal keluar mengikuti Musailamah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah." Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya dari Abu Hurairah171

Pasukan Khalid telah dekat, formasi pasukannya; di depan dipimpin Syarhabil bin Hasanah, sementara di sayap kiri dan kanan Zaid dan Abu Hudzaifah. Pasukan Islam yang terdepan yang lebih dahulu menemui musuh berjumlah sebanyak 40 prajurit -ada yang mengatakan 60 prajuruit penung-gang kuda- di malam hari dibawah pimpinan Majja'ah bin Murarah. Kali ini ia berangkat untuk membalas dendam terhadap Bani Tamim dan Bani Amir. Kemudian ketika kembali kepada kaumnya ia dan teman-temannya ditangkap oleh kaum muslimin dan dibawa kepada Khalid. Seluruhnya minta pengam-punan Khalid, namun Khalid tidak percaya bahkan memerintahkan seluruhya dibunuh kecuali Majja'ah. Ia dibiarkan hidup dalam keadaan terikat di sisi Khalid -karena keahliannya dalam siasat perang-. Apalagi ia merupakan pemimpin yang dimuliakan dan dipatuhi oleh kaumnya.

Versi lain mengatakan bahwa ketika mereka dihadapkan pada Khalid, Khalid bertanya kepada mereka, "Bagaimana pendapat kalian wahai Bani Hanifah?" Mereka serentak menjawab, "Dari kami seorang nabi dan dari kalian seorang nabi pula!"

Khalid membunuh mereka seluruhnya kecuali seorang yang bernama Sariyah. Sariyah berkata kepada Khalid, "Wahai bung, jika anda ingin berperang

170

Ibnu Atsir menyebutkan namanya dengan lafazar-Rahhal,namun pendapat pertama lebih masyhur

171

Riwayat Ibnu Ishaq dianggap mí/rea/disebabkan tidak diketahuinya(Jahalah)perawi yang terdapat antara dlrinya dan Abu

esok hari, bagaimanapun kondisi yang anda temui baik ataupun sebaliknya, namun biarkanlah satu orang ini hidup!"-yaitu Majja'ah bin Murarah-Oleh karena itulah Khalid membiarkannya hidup dalam keadaan terikat.

Ketika kedua pasukan bertemu, Musailamah berkata kepada kaumnya, ”Hari ini adalah hari penentuan! Hari ini jika kalian kalah maka istri-istri kalian akan dinikahi orang lain dan ditawan, atau mereka akan dinikahi dengan paksa. Oleh karena itu berperanglah kalian untuk mempertahankan harga diri dan kaum wanita kalian."

Adapun kaum muslimin, mereka telah maju dan membuat pertahanan di perbatasan Yamamah. Di sana Khalid telah mendirikan tenda-tenda. Panji kaum Muhajirin dipegang oleh Salim Maula Abi Hudzaifah dan panji Anshar diregang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Orang-orang Arab juga membawa panji mereka, sementara Majja'ah terikat di dalam tenda.

Pertempuran antara kaum muslimin dan orang-orang kafir mulai berkobar, namun tiba-tiba terjadi serangan balik oleh pasukan Musailamah. Kaum muslimin mulai terdesak hingga Bani Hanifah berhasil memasuki tenda Khalid bin Walid dan hampir membunuh Ummu Tamim, kalau tidak dilindungi oleh Majja'ah dan berkata, "Sesungguhnya wanita merdeka ini sangat mulia."

Pada waktu terjadinya serangan balik inilah ar-Rajjal bin Anfawah tewas terbunuh -semoga Allah melaknatnya-, ia dibunuh oleh Zaid bin al-Khaththab. Situasi semakin genting, sesama sahabat mulai saling memberi semangat, Tsabit bin Qais bin Syammas berkata, "Alangkah jelek perbuatan kalian terhadap rekan- rekan kalian!" Ia mulai menyeru ke setiap penjuru, Bantulah kami wahai Khalid!" Sebagian dari kaum Muhajirin dan Anshar da tang membantu.

Disebutkan bahwa al-Barra bin Ma'rur jika melihat peperangan bergejo-lak semangatnya terbakar, maka dirinya akan bergetar hebat seolah diserang al- arwa'172 ia segera duduk di atas punggung kendaraannya hingga terkencing- kencing dalam celana. Setelah itu ia menjerit laksana singa mengaum dan maju menyerang Bani Hanifah dengan penuh keberanian yang tidak ada bandingannya. Para sahabat saling berwasiat satu sama lainnya dan saling berkata, "Wahai penghafal surat al-Baqarah hari ini sihir akan hancur!"

Sementara Tsabit bin Qais telah menggali dua lubang dan membenamkan kedua kaiknya ke dalamnya hingga sampai betisnya, dia mengenakan kain kafan lengkap dengan wangi-wangiannya sambil membawa panji Anshar, dia tetap tegar di tempat itu hingga akhirnya terbunuh.

Orang-orang Muhajirin berkata kepada Salim Maula Abu Hudzaifah, "Tidakkah engkau takut jika musuh berhasil menjebol pertahananmu?" Dia berkata, "Kalau hal itu terjadi alangkah buruk diriku sebagai penghafal al-Qur'an." Zaid bin al-Khaththab berkata, "Wahai saudara-saudara sekalian, gigit erat dengan geraham kalian dan bunuhlah musuh-musuh, majulah dan seranglah!" la juga berkata, "Demi Allah aku bersumpah tidak akan berbicara hingga Allah mengalahkan mereka atau aku bertemu denganNya dan akan aku sampaikan hujjahku!" Akhirnya dia terbunuh sebagai syahid.

Abu Huzaifah berkata, "Wahai Ahli al-Qur'an hiasilah al-Qur'an dengan perbuatan kalian!" Kemudian dia masuk menyerbu ke arah musuh hingga terbunuh.

Khalid bin Walid masuk menyerbu ke tempat musuh hingga melewati mereka, dia terus berjalan sambil mencari Musailamah, kemudian dia kembali dan berdiri di antara dua pasukan sambil menyeru untuk perang tanding, ia berteriak, "Aku adalah putera al-Walid al-Aud! Aku anak Ibnu Amir dan Zaid!" Kemudian

ia memanggil dengan syiar kaum muslimin, yang ketika itu adalah Ya

Muhammadaah. Setiap kali ada yang maju melayaninya pasti akan terbunuh olehnya, tidak ada yang mendekat kecuali pasti akan dihabisinya.

Waktu itu Khalid telah memisah-misahkan antara kaum Muhajirin, kaum Anshar, orang-orang Arab dan tiap tiap kabilah masing-masing membawa panji dan berperang di bawahnya. Dengan cara itu kelak akan diketahui dari mana musuh bisa memasuki pertahanan kaum muslimin. Pada peperangan ini tampak keuletan dan kesabaran para sahabat yang tiada tandingannya. Mereka terus menerus maju ke arah musuh hingga Allah menaklukkan musuh dan orang kafir lari tungang-langgang. Kaum muslimin terus mengejar mereka sambil menebas leher-leher mereka, dan mengayunkan pedang ke arah mana saja yang mereka maui. Hingga akhirnya orang kafir terdesak sampai kepada kebun kematian,

hadiqatul maut.

Pemimpin Yamamah, Muhakkam bin Thufail, -semoga Allah melaknat-nya- telah memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam kebun, akhirnya seluruhnya masuk kebun yang di dalamnya terdapat Musailamah al-Kadzdzab musuh Allah. Abdurrahman bin Abu Bakar berhasil mengejar Muhakkkam bin Thufail dan berhasil membunuhnya dengan anak panah yang menghujam tepat di lehernya saat sedang berpidato di depan kaumnya. Setelah seluruhnya masuk, Bani Hanifah mengunci pintu kebun tersebut, sementara di luar para sahabat telah mengepung mereka.

Barra' bin Malik kemudian berkata, "Wahai kaum Muslimin lemparkan aku ke dalam kebun!" Mereka membawanya di atas tameng besi dan mereka lempar beramai-ramai hingga melewati pagar kebun tersebut. Lantas Barra' bin Malik terus bertempur hingga ia berhasil membuka pintunya. Akhirnya kaum muslimin berhasil masuk ke dalam kebun, baik dari pintunya maupun dari dindingnya, sambil membunuh orang-orang kafir penduduk Yamamah yang berada di dalamnya. Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat Musai-lamah yang terlaknat itu. Waktu itu dia sedang berdiri di salah satu pagar kebun yang bolong seolah- olah dia seekor unta jantan yang gagah. Dia ingin bersandar dalam keadaan tidak tahu apa yang harus dilakukan karena kemarahannya yang memuncak. Biasanya, jika setannya datang maka dia akan mengeluarkan buih dari mulutnya. Wahsy bin Harb Maula Jubair bin Muth'im -pembunuh Hamzah- datang mendekatinya dengan cepat ia melemparkan tombaknya ke arah Musailamah tepat mengenainya hingga tembus ke sisi belakang. Dengan cepat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah mendatanginya dan menebasnya dengan pedang hingga terjatuh. Perempuan- perempuan dari dalam istana menjerit, "Aduhai malangnya nasib pemimpin kita, dia dibunuh oleh budak hitam!"

maupun dalam pertempuran sebanyak 10.000 orang dan ada juga yang mengatakan sebanyak 21.000 orang. Adapun jumlah kaum muslimin yang terbunuh sebanyak 600 orang, ada yang mengatakan 500 orang,Wallahu Alam.Di antara yang terbunuh banyak terdapat sahabat Nabi yang senior.

Setelah itu Khalid memerintahkan pasukannya untuk mengelilingi Yamamah sambil mengambil harta maupun tawanan yang berceceran. Khalid berkeinginan menyerbu benteng musuh. Benteng itu telah punah kecuali kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang sudah tua. Hanya saja Khalid berhasil dikelabui oleh Majja'ah yang berkata kepadanya, "Sesung-guhnya benteng itu dipenuhi oleh para tentara! Lebih baik kita berdamai saja!"

Khalid menerima tawaran itu, ia melihat pasukan kaum muslimin sudah letih dan bosan disebabkan peperangan yang terus menerus.

Majja'ah berkata, "Biarkan aku masuk ke benteng agar mereka menyetu-jui kesepakatan damai yang aku buat." Khalid berkata, "Pergilah!" Majja'ah segera masuk benteng dan memerintahkan kaum wanita untuk memakai baju perang dan menampakkan kepala mereka dari atas benteng. Ketika itu Khalid melihat ke atas benteng, ia melihat seluruh benteng dipenuhi oleh kepala manusia yang sedang mengintip. Ia mengira mereka adalah pasukan perang sebagaimana yang dikatakan oleh Majja'ah, karena itulah ia memilih untuk berdamai.

Setelah itu Khalid mengajak mereka masuk Islam, dan ternyata seluruhnya menerima tawaran tersebut. Akhirnya mereka kembali kepada kebenaran. bahkan Khalid mengembalikan kepada mereka sebagian dari harta rampasan dan tawanan perang. Selanjutnya sisanya dikirim kepada Abu Bakar ash-Shiddiq ra..

Dalam peperangan ini Ali bin Abi Thalib telah mengambil salah seorang wanita mereka untuk diperistri, yaitu ibu dari anaknya yang bernama Muhammad yang terkenal dengan nama Muhammad bin Hanafiyyah173.

Dalam dokumen Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir (Halaman 107-111)