BAB IV PEMBIAYAAN KESEHATAN
D. Bantuan Operasional Kesehatan
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) merupakan bantuan dana dari Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI dalam membantu pemerintahan kabupaten/kota untukmeningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat melalui kegiatanPuskesmas untuk mendukung tercapainya target Millennium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan tahun 2016. Selain itu
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
43
diharapkan dengan bantuan ini dapat meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas, terutama dalam perencanaan tingkat Puskesmas dan lokakarya mini Puskesmas, meningkatkan upaya untuk menggerakkan potensi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya, dan meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif yang dilakukan oleh Puskesmas dan jaringannya sertaPoskesdes dan Posyandu.
Pemanfaatan dana BOK difokuskan pada beberapa upaya kesehatan promotif danpreventif meliputi KIA, KB, imunisasi, perbaikan gizi masyarakat, promosi kesehatan, kesehatanlingkungan dan pengendalian penyakit, dan upaya kesehatan lain sesuai risiko dan masalahutama kesehatan di wilayah setempat dengan tetap mengacu pada pencapaian target StandarPelayanan Minimal (SPM) Kesehatan serta target MDGs Bidang Kesehatan tahun 2016.
Pada proses pelaksanaan, penyaluran dana BOK telah dilakukan berbagai upaya penyempurnaan. Realisasi pemanfaatan dana BOK pada tahun 2016 sebesar Rp 8.410.435.000,-. Anggaran tersebut terserap sebanyak Rp 8.150.538.542,- atau sebesar 96,9%. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 99,86%.
BOK merupakan salah satu program strategis Kementerian Kesehatan RI disampingJamkesmasl sehingga terus diupayakan perbaikan agar BOK dimanfaatkan dengan optimal oleh Puskesmas. Dinas kesehatan provinsi sebagai perpanjangan tangan Kementerian Kesehatan juga memiliki peran serta yaitu melakukan pembinaan dan evaluasi pelaksanaan BOK di kabupaten/kota. Dengan kehadiran BOK diharapkan petugas kesehatan/kader kesehatan tidak lagi mengalami kendala dalam melakukan kegiatan untuk mendekatkan akses pada masyarakat. Hal penting yang perlu dipahami, BOK bukan merupakan dana utama penyelenggaraan upaya kesehatan di kabupaten/kota, namun hanya dana tambahan yang bersifat bantuan sehingga tidak dapat menjawab semua permasalahan kesehatan. Sumber pembiayaan kesehatan yang utama tetap harus disediakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
44
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Menurut UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang dimaksud dengan Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Mewujudkan derajat kesehatan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan keadaan kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya.
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan, dan faktor lainnya.
Situasi derajat kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka morbiditas, mortalitas dan status gizi. Pada bab berikut ini situasi derajat kesehatan di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI), dan angka morbiditas beberapa penyakit serta status Gizi Masyarakat.
A. USIA HARAPAN HIDUP
Target pencapaian Umur Harapan Hidup (UHH) Waktu Lahir di Kabupaten Tegal pada Tahun 2012 adalah 71 tahun. Umur harapan hidup di Kabupaten Tegal cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Usia Harapan Hidup pada Tahun pada tahun 2010 adalah 68,79 tahun, sedangkan UHH pada tahun 2011 adalah 69,08 tahun dan pada tahun 2012 adalah 69,38 tahun. Peningkatan UHH ini dipengaruhi oleh multifaktor, antara lain faktor kesehatan menjadi salah satu yang berperan penting didalamnya. Peran faktor kesehatan ditunjukkan dari semakin menurunnya angka kematian, perbaikan sistem pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi di masyarakat.
B. MORTALITAS
Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB, AKABA, AKI, dan Angka Kematian Kasar.
Bab V
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
45
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan AKB.
Kecenderungan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Tegal dalam kurun lima tahun terakhir cenderung naik. AKB tahun 2016 yaitu sebesar 9,7 per 1000 kelahiran hidup (262 kematian bayi dari 26.919 kelahiran hidup). Sama dengan AKB tahun 2015 yaitu sebesar 9,6 per 1000 kelahiran hidup (263 kematian bayi dari 27.314 kelahiran hidup). Secara rinci AKB di Kabupaten Tegal dalam kurun lima tahun adalah sebagai berikut:
GAMBAR 5.1
ANGKA KEMATIAN BAYI DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012 – 2016
Sumber: Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Pencapaian AKB Tahun 2016 belum memenuhi target renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal tahun 2016-2019, yaitu 9,5. Apabila dibandingkan dengan target dalam Indikator Indonesia Sehat tahun 2016 sebesar 32/1.000 kelahiran hidup, maka AKB di Kabupaten Tegal tahun 2010 sampai dengan tahun 2016 sudah melampaui target, demikian juga bila dibandingkan dengan cakupan yang diharapkan dalam MDG’s ke-4 tahun 2016 yaitu 17/1.000 kelahiran hidup.
8,4 8,9
9,6
9,6
9,7
7,5 8 8,5 9 9,5 10
2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
46
GAMBAR 5.2
DISTRIBUSI KEMATIAN BAYI MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Kasus kematian bayi terjadi hampir di semua wilayah Puskesmas di Kabupaten Tegal. Puskesmas dengan kasus kematian bayi tertinggi yaitu di wilayah Puskesmas Margasari dengan 20 kasus. Berbagai faktor dapat menyebabkan peningkatan kematian bayi, diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Hal ini disebabkan kematian bayi sangat dipengaruhi oleh pelayanan kesehatan. Selain itu, perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit.
2. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. AKABA merepresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. AKABA dapat pula menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak balita, tingkat pelayanan KIA/Posyandu, tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu, dan kondisi sanitasi lingkungan.
AKABA di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 yaitu sebesar 11 per 1000 kelahiran hidup (295 kematian balita dari 26.919 kelahiran hidup), menurun jika dibandingkan AKB tahun 2015 yaitu sebesar 10,5 per 1000 kelahiran hidup (287 kematian balita dari 27.314 kelahiran hidup). Pencapaian AKABA Tahun 2016 belum
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
47
memenuhi target renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal tahun 2016-2019, yaitu 10,4. Namun demikian apabila dibandingkan dengan indikator nilai normatif AKABA Millenium Development Goals (MDGs) yang menetapkan yaitu sangat tinggi dengan nilai >140, tinggi dengan nilai 71-140, sedang dengan nilai 20-70 dan rendah dengan nilai < 20, maka AKABA di Kabupaten Tegal termasuk dalam kategori rendah yaitu 10,1.
Kecenderungan AKABA di Kabupaten Tegal dalam waktu lima tahun terakhir dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
GAMBAR 5.3
ANGKA KEMATIAN BALITA DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012 – 2016
Sumber: Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
3. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI dapat menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan
8,9 9,6
10,7 10,5 11
0 2 4 6 8 10 12
2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
48
pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan, dan nifas.
AKI di Kabupaten Tegal dalam enam tahun terakhir telah mengalami fluktuasi yaitu sebesar 100,3 per 100.000 kelahiran hidup (27 kematian ibu maternal dari 26.919 kelahiran hidup). Angka ini meningkat jika dibandingkan AKI tahun 2015 yaitu sebesar 120,8 per 100.000 kelahiran hidup (33 kematian ibu maternal dari 26.919 kelahiran hidup). Kecenderungan AKI dalam tujuh tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut:
GAMBAR 5.4
ANGKA KEMATIAN IBU DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2010 – 2016
Sumber: Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Jika dibandingkan dengan target MDGs maka angka tersebut sudah memenuhi target yaitu 132 pada tahun 2016. AKI tersebut juga sudah memenuhi target Indikator Indonesia Sehat 2010 sebesar 150 per 100.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan Restra Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal 2016-2019, AKI Kabupaten Tegal sudah melampaui target yang diharapkan yaitu 126,6 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2016.
Persebaran kasus kematian ibu di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 terjadi pada beberapa wilayah kerja Puskesmas. Persebaran kematian ibu dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
97,6
196,5
145,4
146,6
173
120,8 100,3
0 50 100 150 200 250
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
49
GRAFIK 5.4
DISTRIBUSI KEMATIAN IBU MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk menurunkan kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita. Antara lain melalui penempatan bidan di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), serta penyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas perawatan dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit. Program terbaru yaitu Jaminan Persalinan yang menyediakan biaya operasional untuk rumah tunggu kelahiran bagi ibu hamil/nifas yang jarak dari rumah ke fasilitas kesehatan/puskesmas jauh atau sulit dijangkau.
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
1 1 1 1 1 1 1 1 2 2
3 3 3 3 3
Kesambi Danasari Kalibakung Lebaksiu Kambangan Kedungbanteng Pangkah Slawi Dukuhwaru Pagiyanten Dukuhturi Kupu Kesamiran Jatibogor Margasari Bojong Jatinegara Penusupan Adiwerna Tarub Bangun Galih Warureja Pagerbarang Kaladawa Bumijawa Balapulang Talang Kramat Suradadi
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
50
KESEHATAN KELUARGA
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari sekelompok orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dan biasanya memiliki hubungan darah atau perkawinan, dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga memiliki fungsi yang sangat strategis dalam mempengaruhi status kesehatan diantara anggotanya.
Diantara fungsi keluarga dalam tatanan masyarakat yaitu memenuhi kebutuhan gizi dan merawat serta melindungi kesehatan para anggotanya. Anak dan ibu merupakan dua anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan. Hal tersebut disebabkan Angka Kematian Ibu dan Anak merupakan dua indikator yang peka terhadap kualitas fasilitas pelayanan kesehatan. Kualitas fasilitas pelayanan kesehatan yang dimaksud termasuk aksesibilitas terhadap fasilitas pelayanan kesehatan itu sendiri.
A. KESEHATAN IBU
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi apalagi jika dibandingkan dengan negara–negara tetangga.
Sejak tahun 1990 upaya strategis yang dilakukan dalam upaya menekan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah dengan pendekatan safe motherhood, dengan menganggap bahwa setiap kehamilan mengandung risiko, walaupun kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan dalam keadaan baik. Di Indonesia Safe Motherhood initiative ditindaklanjuti dengan peluncuran Gerakan Sayang Ibu di tahun 1996 oleh Presiden yang melibatkan berbagi sector pemerintahan di samping sektor kesehatan. Salah satu program utama yang ditujukan untuk mengatasi masalah kematian ibu adalah penempatan bidan di tingkat desa secara besar-besaran yang bertujuan untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir ke masyarakat. Di tahun 2000, Kementerian Kesehatan RI memperkuat strategi intervensi sektor kesehatan untuk mengatasi kematian ibu dengan mencanangkan strategi Making Pregnancy Safer. Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan program
Bab VI
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
51
Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan neonatal sebesar 25%.
Program ini dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian ibu dan neonatal yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Dasar pemilihan provinsi-provinsi tersebut dikarenakan 52,6% dari jumlah total kejadian kematian ibu di Indonesia berasal dari enam provinsi tersebut. Sehingga dengan menurunkan angka kematian ibu di enam provinsi tersebut diharapkan akan dapat menurunkan angka kematian ibu di Indonesia secara signifikan.
Khusus di Provinsi Jawa Tengah Program EMAS dilaksanakan di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Tegal dan Kabupaten Banyumas. Upaya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian neonatal melalui program EMAS dilakukan dengan cara:
1) Meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di rumah sakit (PONEK) dan Puskesmas mampu PONED.
2) Memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar Puskesmas dan Rumah Sakit.
Selain itu pemerintah bersama masyarakat juga bertanggung jawab untuk menjamin bahwa setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas. Mulai dari saat hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih, dan perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, dan memperoleh cuti hamil dan melahirkan serta akses terhadap keluarga berencana. Di samping itu, pentingnya melakukan intervensi lebih ke hulu yakni kepada kelompok remaja dan dewasa muda dalam upaya percepatan penurunan AKI.
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil
Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal sekurang-kurangnya 4 kali selama masa kehamilan, dengan distribusi waktu minimal 1 kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), minimal 1 kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan minimal 2 kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu - lahir). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan atau janin, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan dini komplikasi kehamilan.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
52
Pelayanan antenatal diupayakan agar memenuhi standar kualitas, yaitu : a. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan;
b. Pengukuran tekanan darah;
c. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA);
d. Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri);
e. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid sesuai status imunisasi;
f. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan;
g. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ);
h. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling, termasuk keluarga berencana);
i. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya); dan
j. Tatalaksana kasus.
Capaian pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indicator Cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun.
Sedangkan Cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali sesuai jadwal yang dianjurkan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan. Gambaran capaian pelayanan K1 dan K4 di Kabupaten Tegal pada tahun 2007 – 2016 secara dapat dilihat sebagai berikut:
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
53
GAMBAR 6.1
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU K1 DAN K4 DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2007-2016
Sumber: Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Pada gambar 6.1 di atas terlihat bahwa cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K1 dari tahun ke tahun relatif lebih stabil jika dibandingkan dengan cakupan K4.
Indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada tahun 2016 sudah dapat mencapai target Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan tahun yang sama, yakni sebesar 90%. Namun belum mencapai target Standar Pelayanan Minimal (SPM) Tahun 2016 yaitu sebesar 95%. Meski demikian, terdapat 7 Puskesmas telah mencapai target cakupan K4 sebesar 95%. Puskesmas tersebut antara lain Puskesmas Kalibakung, Dukuhturi, Margasri, Kaladawa, Talang, Tarub, dan Bojong. Gambaran cakupan pelayanan K4 ibu hamil di Puskesmas Kabupaten Tegal pada tahun 2016 dapat dilihat pada gambar 6.2.
89,2
86,58
91,3
87,7
90,3 96,54 97,12
99,3
97,9 98,7
80 85 90 95 100 105
2012 2013 2014 2015 2016
K4 K1
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
54
GAMBAR 6.2
CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 MENURUT WILAYAH PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Berbagai program dan kegiatan telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan untuk semakin mendekatkan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat hingga ke pelosok desa, termasuk untuk meningkatkan cakupan pelayanan antenatal.
Terdapat 29 Puskesmas di Kabupaten Tegal. Dengan demikian rasio Puskesmas terhadap 30.000 penduduk yaitu 0,61, belum melampaui rasio ideal 1:30.000 penduduk. Demikian pula dengan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
77,94
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
55
(UKBM) seperti Poskesdes dan Posyandu. Sampai dengan tahun 2016, tercatat terdapat 210 Poskesdes yang beroperasi dan 1.518 Posyandu di Kabupaten Tegal.
Upaya meningkatkan cakupan pelayanan antenatal juga makin diperkuat dengan adanya Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) sejak tahun 2010. BOK dapat dimanfaatkan untuk kegiatan luar gedung, seperti pendataan, pelayanan di Posyandu, kunjungan rumah, sweeping kasus drop out, pelaksanaan kelas ibu hamil serta penguatan kemitraan bidan dan dukun. Sementara itu Jampersal menyediakan biaya operasional rumah tunggu kelahiran. Rumah tunggu kelahiran adalah rumah warga yang berada di dekat fasilitas kesehatan dan disewa untuk tempat tinggal sementara ibu hamil/nifas.
Semakin kuatnya kerja sama dan sinergi berbagai program yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat termasuk sektor swasta diharapkan dapat mendorong tercapainya target cakupan pelayanan antenatal.
2. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
Upaya kesehatan ibu bersalin dilaksanakan dalam rangka mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu dokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, serta diupayakan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan persalinan yang dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan. Pencapaian upaya kesehatan ibu bersalin diukur melalui indikator persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan terlatih (Cakupan Pn). Indikator ini memperlihatkan diantaranya tingkat kemampuan pemerintah dalam menyediakan pelayanan persalinan berkualitas yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
Dari gambar 6.3 dapat diketahui bahwa secara umum cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Tegal dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami fluktuasi. Cakupan secara pelayanan ibu bersalin oleh tenaga kesehatan pada tahun 2016 adalah sebesar 92,8%, dimana angka ini belum memenuhi target Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal tahun 2016 yakni sebesar 93%.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
56
GAMBAR 6.3
CAKUPAN PELAYANAN IBU BERSALIN DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012-2016
Sumber: Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Sebagian besar Puskesmas (17 puskesmas) telah dapat mencapai target renstra tersebut, dan selebihnya yakni sebanyak 12 puskesmas belum dapat mencapai target.
Tiga Puskesmas dengan cakupan tertinggi adalah Kalibakung (113,8%), Dukuhturi (106,7%), dan Margasari (103,5%). Sedangkan tiga Puskesmas dengan cakupan terendah adalah Puskesmas Kramat (82,6%), Kesambi (81,2%), dan Suradadi (79,4%).
Selengkapnya tentang cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Tegal menurut Puskesmas tahun 2016 disajikan pada gambar 6.4.
89,93
95,77
93,7
97
92,8
86 88 90 92 94 96 98
2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
57
GAMBAR 6.4
CAKUPAN PELAYANAN IBU BERSALIN OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Kesehatan Ibu dan Lansia Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Analisis kematian ibu yang dilakukan Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal pada tahun 2016 membuktikan bahwa kematian ibu terkait erat dengan penolong persalinan dan tempat/fasilitas persalinan. Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukti berkontribusi terhadap turunnya risiko kematian ibu. Demikian pula dengan tempat/fasilitas. Jika persalinan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, juga akan semakin menekan risiko kematian ibu.
Dinas Kesehatan tetap konsisten dalam menerapkan kebijakan bahwa seluruh persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan dan didorong untuk dilakukan di
79,4
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
58
fasilitas pelayanan kesehatan. Kebijakan Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan menggariskan bahwa pembangunan Puskesmas harus satu paket dengan rumah dinas tenaga kesehatan. Demikian pula dengan pembangunan Poskesdes yang harus bisa sekaligus menjadi rumah tinggal bagi bidan di desa. Dengan disediakan rumah tinggal, maka tenaga kesehatan termasuk bidan akan siaga di tempat tugasnya dan dapat memberikan pertolongan persalinan setiap saat.
Untuk daerah dengan akses sulit, kebijakan Kementerian Kesehatan adalah dengan mengembangkan program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran. Para dukun diupayakan bermitra dengan bidan dengan hak dan kewajiban yang jelas. Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan tidak lagi dikerjakan oleh dukun, namun dirujuk ke bidan. Bagi ibu hamil yang di daerah tempat tinggalnya tidak ada bidan atau jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan, maka menjelang hari taksiran persalinan diupayakan sudah berada di dekat fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu di Rumah Tunggu Kelahiran. Rumah Tunggu Kelahiran tersebut dapat berupa rumah tunggu khusus maupun di rumah sanak saudara yang dekat dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
GAMBAR 6.5
CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 DAN CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI KABUPATEN TEGAL
TAHUN 2011-2016
Sumber: Seksi Kesehatan Ibu dan Lansia Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Dari gambar 6.5 dapat dilihat bahwa meski cakupan pelayanan ibu hamil K4 mengalami kenaikan, namun cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan mengalami penurunan. Persentasenya bahkan melebihi cakupan K4. Hal ini menjadi
89,93
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
59
tantangan tersendiri bagi Pemerintah. Pelayanan antenatal memiliki peranan yang
tantangan tersendiri bagi Pemerintah. Pelayanan antenatal memiliki peranan yang