i
P ROFIL KESEHATAN
Kabupaten Tegal Tahun 2016
DINAS KESEHATAN KABUPATEN TEGAL 2017
ii Buku ini diterbitkan oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal Jalan dr. Sutomo No. 1 C, Slawi Telepon no: 0283-491644 Fax no: 0283-491674
e-mail: dinkes@tegalkab .go.id
web site: http://www.dinkes.tegalkab.go.id
iii
TIM PENYUSUN
Pengarah
dr. Hendadi Setiaji. M.Kes Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal
Penanggung Jawab Dr. Titis Cahyaningsih, MMR
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal Ketua
Edy Sucipto, SKM.M.Si
Kepala Sub Bag Perencanaan dan Keuangan Penyusun (Editor)
Lina Rahmawati, S.Kep, Ns.
Rizal Purnomo, SKM, M.Kes.
Kontributor
Bidang Kesehatan Keluarga, Bidang Pelayanan Kesehatan
Bidang Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit, Bidang Promosi Kesehatan dan Penyehatan Lingkungan
Sub Bag Perencanaan dan Keuangan; Sub Bag Kepegawaian; Sub Bag Umum;
Seksi Pemberantasan Penyakit; Seksi Pencegahan Penyakit; Seksi Imunisasi; Seksi Penyehatan Lingkungan,
Seksi Pemberdayaan Masyarakat,
Seksi Promosi Kesehatan; Seksi Upaya Kesehatan Masyarakat;
Seksi Upaya Kesehatan Perorangan;
Seksi Farmasi dan Perbekalan Kesehatan;
Seksi Kesehatan Ibu dan Lansia, Seksi Kesehatan anak dan Remaja Seksi Gizi Masyarakat,
UPTD Puskesmas, UPTD Gudang Farmasi; UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah
iv
UcapanTerimaKasih
Kami sampaikan kepada : dr. Meliansyori, dr. Isriyati,
Muchtar Mawardi, SKM.MKes, Toto Raharjo, SKM Istichomah, S.SiT. M.Kes, Henifah, SKM, Slamet Sukamto, S.Gz Ustriyaningsih, AMd.Keb Toto Sugiarto, S.ST, Apt, Dra. Endang Puji H, MMR
Dedi Sutanto, SKM. M.Kes, Inayah, S.Kep,
Ari Dwi Cahyani, SKM. M.Kes, Kliwon Sutrisno, SKM, Yulia Prihastuti, SKM Susliastuti, SKM, Bagus Johan Maulana, SKM, Eko Budi P. Prabowo P, SKM,
Patriawati Narendra, SKM, Drs. Aris Wimbargo, Apt.
Edi Ismanto, SKM, Abdurachman, SKM, Ali Ghozi, S.IP Slamet, SKM, Siti Nur’aeny, SKM, Paramitha, SKM
Aripin, SIP, MM, Dwi Risdiyanto, AMKl.,
Dhimas Adiyasa Pramudya SE, Ratna Ika Kumala H, S.AP Kepala Puskesmas Wilayah Kabupaten Tegal
Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Buku Profil Kesehatan Kabupaten Tegal 2016
Copyrigh@2017
created by Sub Bag Perencanaan dan Keuangan email: [email protected]
v
KATA PENGANTAR
KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN TEGAL
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena kami dapat menyelesaikan Profil Kesehatan Kabupaten Tegal 2016 ini dengan baik. Profil Kesehatan Kabupaten Tegal merupakan salah satu media publikasi data dan informasi yang terkait dengan situasi dan kondisi kesehatan yang relative komprehensif.
Sumber data Profil Kesehatan Kabupaten Tegal berasal dari Bidang, Seksi dan Pelaksana Program di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, UPTD Puskesmas, UPTD Gudang Farmasi, UPTD Laboratorium serta institusi lain yang memiliki data terkait bidang kesehatan seperti Rumah Sakit, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PP dan KB), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Data yang ditampilkan pada Profil Kesehatan Kabupaten Tegal dapat membantu kita dalam membandingkan capaian pembangunan kesehatan antara satu Puskesmas dengan Puskesmas lainnya, mengukur capaian pembangunan kesehatan di Kabupaten Tegal, serta sebagai dasar untuk perencanaan program pembangunan kesehatan selanjutnya.
Semoga publikasi ini dapat berguna bagi semua pihak, baik pemerintah, organisasi profesi, akademisi, sektor swasta dan masyarakat serta berkontribusi secara positif bagi pembangunan kesehatan di Kabupaten Tegal. Kritik dan saran kami harapkan sebagai penyempurnaan profil yang akan datang.
Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Tegal 2016 ini, kami mengucapkan terimakasih.
Slawi, Mei 2017 Kepala Dinas Kesehatan
KabupatenTegal
Dr. Hendadi Setiaji, M.Kes Pembina Utama Muda NIP. 19630530 198911 1001
vi
D aftar I si
halaman
Halaman Judul ... i
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... vi
BAB I DEMOGRAFI ... 1
A. Keadaan Penduduk ... 2
B. Keadaan Ekonomi ... 5
C. Keadaan Pendidikan ... 9
D. Indeks Pembangunan Manusia ... 11
BAB II SARANA KESEHATAN ... 12
A. Pusat Kesehatan Masyarakat ... 12
B. Rumah Sakit ... 16
C. Sarana Kefarmasian dan Alat Kesehatan ... 18
D. Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat ... 20
E. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan ... 24
BAB III TENAGA KESEHATAN ... 26
A. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan ... 26
BAB IV PEMBIAYAAN KESEHATAN ... 41
A. Anggaran Dinas Kesehatan ... 41
B.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Bidang Kesehatan ... 41C. Jaminan Kesehatan ... 42
D. Bantuan Operasional Kesehatan ... 43
vii
BAB V SITUASI DERAJAT KESEHATAN ... 44
A. Usia Harapan Hidup (UHH) ... 44
B. Angka Kematian (Mortalitas) ... 44
1. Angka Kematian Bayi (AKB) ... 45
2. Angka Kematian Balita (AKABA) ... 46
3. Angka Kematian Ibu (AKI) ... 47
BAB VI KESEHATAN KELUARGA ... 50
A. Kesehatan Ibu... 50
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ... 51
2. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin ... 55
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas ... 59
4. Pelayanan/Penanganan Komplikasi Kebidanan ... 60
5. Pelayanan Keluarga Berencana... 63
B. Kesehatan Anak ... 64
1. Berat Badan Bayi Lahir... 65
2. Penanganan Komplikasi Neonatal ... 67
3. Pelayanan Kesehatan Neonatus ... 69
4. Pelayanan Kesehatan pada Bayi ... 72
5. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif ... 74
6. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita ... 77
7. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) ... 80
8. Imunisasi ... 82
9. Pelayanan Kesehatan pada Balita ... 87
10. Pelayanan Kesehatan pada siswa SD dan setingkat ... 88
C. Gizi Keluarga ... 91
BAB VII PENGENDALIAN PENYAKIT DAN KESEHATAN LINGKUNGAN... ... ... 93
viii
A. Pengendalian Penyakit ... 93
1. Penyakit Menular ... 93
2. Penyakit Tidak Menular ... 107
B. Kesehatan Lingkungan ... 110
1. Air Minum ... 110
2. Sanitasi Layak ... 113
3. Pengawasan Tempat Tempat Umum ... 114
DAFTAR PUSTAKA...116
LAMPIRAN
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
1
DEMOGRAFI
Kabupaten Tegal secara geografis terletak pada koordinat 108o57’6”-109o21’30” BT dan 6o50’41” – 7o15’30” LS. Panjang garis pantai 30 km dan panjang perbatasan darat dengan daerah lain adalah 27 Km. Wilayah Kabupaten Tegal terdiri dari daratan seluas 87.878,56 ha dan lautan seluas 121,50 km2.
Wilayah daratan mempunyai kemiringan bervariasi, mulai dari yang datar hingga yang sangat curam. Kemiringan lahan tipe datar/pesisir (0-20) seluas 24.547,52 ha (Kecamatan Kramat, Suradadi dan Warureja), tipe bergelombang/dataran (2-150) seluas 35.847,22 ha (Kecamatan Adiwerna, Dukuhturi, Talang, Tarub, Pagerbarang, Dukuhwaru, Slawi, Lebaksiu, sebagian wilayah Suradadi, Warureja, Kedungbanteng dan Pangkah), tipe curam/berbukit- bukit (15-400) seluas 20.383,84 ha dan tipe sangat curam/pegunungan (>400) seluas 7.099,97 ha (Kecamatan Jatinegara, Margasari, Balapulang, Bumijawa, Bojong, sebagian Pangkah dan Kedungbanteng).
Kondisi dataran tersebut, di antaranya berupa wilayah hutan, persawahan dan ladang yang cukup luas. Upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup terhadap lahan hutan sebagai daerah penyangga dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir memperlihatkan perkembangan yang mengkhawatirkan.
Tercatat pada tahun 2009 luas lahan hutan di Kabupaten Tegal seluas 21.258,41 ha dan pada tahun 2013 turun menjadi 20.963,20 ha.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1986 tentang Perubahan Batas Wilayah Kota Tegal dan Kabupaten Tegal, secara administratif pada tahun 2013 wilayah Kabupaten Tegal terbagi menjadi 18 kecamatan, yaitu Kecamatan Margasari, Bumijawa, Bojong, Balapulang, Pagerbarang, Lebaksiu, Jatinegara, Kedungbanteng, Pangkah, Slawi, Dukuhwaru, Adiwerna, Dukuhturi, Talang, Tarub, Kramat, Suradadi dan Warureja), 281 desa, 6 kelurahan, 1.404 RW dan 6.746 RT, denganbatas batas wilayah Kabupaten Tegal adalah sebagai berikut:
Sebelah utara : Kota Tegal dan Laut Jawa
Sebelah selatan : Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas Sebelah timur : Kabupaten Pemalang
Bab I
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
2
Sebelah barat : Kabupaten Brebes
A. KEADAAN PENDUDUK
Jumlah penduduk Kabupaten Tegal tahun 2016 sesuai dengan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Tegal sebesar 1.429.386 jiwa, yang terdiri atas jumlah penduduk laki-laki sebesar 710.513 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 718.873 jiwa. Jumlah penduduk di Kabupaten Tegal meningkat dengan relatif cepat. Diperlukan kebijakan untuk mengatur atau membatasi jumlah kelahiran agar kelahiran dapat dikendalikan dan kesejahteraan penduduk makin meningkat.
Rasio jenis kelamin pada tahun 2016 sebesar 98,84. Angka ini berarti bahwa terdapat 99 laki-laki diantara 100 perempuan.
Pada Tabel 1 (lampiran profil), jumlah penduduk tertinggi di Kabupaten Tegal terdapat di Kecamatan Adiwerna dengan jumlah penduduk sebesar 119.751 jiwa, Kramat sebesar 110.591 jiwa dan Talang sebesar 101.558 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk terendah terdapat di Kecamatan Kedungbanteng dengan jumlah penduduk sebesar 40.440 jiwa.
Struktur penduduk di Kabupaten Tegal termasuk struktur penduduk muda. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya jumlah penduduk usia muda yang masih tinggi. Badan piramida besar, ini menunjukkan banyaknya penduduk usia produktif terutama pada kelompok umur 25-29 tahun dan 30-34 tahun, baik laki- laki maupun perempuan. Jumlah golongan penduduk usia tua juga cukup besar,
GAMBAR 1.1
PETA WILAYAH ADMINISTRATIF KABUPATEN TEGAL
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
3
terutama laki-laki. Hal ini dapat dimaknai dengan semakin tingginya usia harapan hidup, terutama laki-laki. Kondisi ini menuntut kebijakan terhadap penduduk usia tua. Bertambahnya jumlah penduduk tua dapat dimaknai sebagai meningkatnya tingkat kesejahteraan, meningkatnya kondisi kesehatan tetapi juga dapat dimaknai sebagai beban karena kelompok usia tua ini sudah tidak produktif lagi. Rincian jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur di Kabupaten Tegal tahun 2016 dapat dilihat pada Lampiran Tabel 2.
Konsentrasi penduduk disuatu wilayah dapat dipelajari dengan menggunakan kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk menunjukkan rata-rata jumlah penduduk per 1 kilometer persegi. Semakin besar angka kepadatan penduduk menunjukkan bahwa semakin padat penduduk yang mendiami wilayah tersebut. Kepadatan rata-rata penduduk di Kabupaten Tegal berdasarkan hasil estimasi sebesar 1.627 penduduk per km2. Kepadatan penduduk berguna sebagai acuan dalam rangka mewujudkan pemerataan dan persebaran penduduk.
Kepadatan penduduk menurut Kecamatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel 1.
Gambar 1.2 Grafik Kepadatan Penduduk Berdasarkan Kecamatan Di Kabupaten Tegal Tahun 2016
Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Tegal, 2016 462
1.627
5.522
- 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 Kedungbanteng
Jatinegara Bumijawa Warureja Bojong Balapulang Margasari Pagerbarang Suradadi Kab. Tegal Lebaksiu Dukuhwaru Pangkah Kramat Tarub Adiwerna Dukuhturi Slawi Talang
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
4
Berdsasarkan gambar 1.2 dapat diketahui bahwa kepadatan penduduk di Kabupaten Tegal belum merata. Kepadatan penduduk tertinggi di Kabupaten Tegal terdapat di Kecamatan Talang sebesar 5.522 penduduk per km2, sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kecamatan Kedungbanteng sebesar 462 penduduk per km2.
Indikator penting terkait distribusi penduduk menurut umur yang sering digunakan untuk mengetahui produktivitas penduduk adalah Angka Beban Tanggungan atau Dependency Ratio. Angka Beban Tanggungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya orang yang tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan umur 65 tahun ke atas) dengan banyaknya orang yang termasuk umur produktif (umur 15–64 tahun). Secara kasar perbandingan angka beban tanggungan menunjukkan dinamika beban tanggungan umur produktif terhadap umur nonproduktif. Angka ini dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Angka Beban Tanggungan penduduk Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 51. Hal ini berarti bahwa 100 penduduk Kabupaten Tegal yang produktif, di samping menanggung dirinya sendiri, juga menanggung 51 orang yang belum/sudah tidak produktif lagi. Apabila dibandingkan antar jenis kelamin, maka Angka Beban Tanggungan laki-laki lebih kecil jika dibandingkan dengan perempuan. Pada tahun 2016, angka beban tanggungan laki-laki sebesar 49, yang berarti bahwa 100 orang penduduk laki-laki yang produktif, di samping menanggung dirinya sendiri, akan menanggung beban 49 penduduk laki-laki yang belum/sudah tidak produktif. Angka Beban tanggungan penduduk Kabupaten Tegal dapat dilihat pada tabel berikut table 1.1.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
5
TABEL 1.1
JUMLAH PENDUDUK DAN ANGKA BEBAN TANGGUNGAN
MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK USIA PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
No Umur Jenis Kelamin Laki laki
dan Perempuan Laki-laki Perempuan
1 0-14
200.445 188.972
389.4172 15-64
469.946 475.563
945.5093 Diatas 65
40.122 54.338
94.460Jumlah 710.513 718.873 1.429.386
Angka Beban Tanggungan 51 51 51
Sumber: Dinkes Kabupaten Tegal, 2016, Hasil Estimasi
Penduduk sebagai determinan pembangunan harus mendapat perhatian yang serius. Program pembangunan, termasuk pembangunan di bidang kesehatan, harus didasarkan pada dinamika kependudukan. Upaya pembangunan di bidang kesehatan tercermin dalam program kesehatan melalui upaya promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif. Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pencapaian derajat kesehatan yang optimal bukan hanya menjadi tanggung jawab dari sektor kesehatan saja, namun sektor terkait lainnya seperti sektor pendidikan, sektor ekonomi, sektor sosial dan pemerintahan juga memiliki peranan yang cukup besar.
Untuk mendukung upaya tersebut diperlukan ketersediaan data mengenai penduduk sebagai sasaran program pembangunan kesehatan.
B. KEADAAN EKONOMI
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. Produk Domestik Bruto per kapita merupakan Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Berdasarkan data BPS Kabupaten Tegal dalam kurun waktu 2009–2013, Produk Domestik Bruto per kapita atas dasar harga berlaku terus mengalami peningkatan, tahun 2009 sebesar Rp 23,9 juta, tahun 2010 sebesar Rp 27,0 juta, tahun 2011 sebesar Rp 30,7 juta, tahun 2012 sebesar Rp 33,5 juta, dan tahun 2013 sebesar Rp 36,5 juta.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tegal pada tahun
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
6
2012 (data 2013 masih dalam proses perhitungan) telah mencapai sebesar Rp.
9.802.454,69 juta.
Selama kurun waktu dua belas tahun, dari tahun 2000–2012 terjadi kenaikan menurut harga berlaku sebesar 4,42 kali lipat (tahun 2000 sebesar 2.214,45 miliyar). Sedangkan pertumbuhan ekonomi ditunjukkan oleh indeks perkembangan atas dasar harga konstan tahun 2012 sebesar 1,80 kali lipat (tahun 2000 sebesar Rp 2.214,45 milyar meningkat menjadi Rp. 4.001,20 milyar pada tahun 2012). Laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Brutto (PDRB) selama tahun 2012 terjadi pertumbuhan menurut harga berlaku sebesar 11,41 persen dengan inflasi harga produsen sebesar 5,86 persen. Untuk pertumbuhan menurut harga konstan yang terjadi selama tahun 2012 sebesar 5,25 persen.
Pertumbuhan ekonomi menurut harga konstan pada tahun 2012 sebesar (5,25 persen) tingkat percepatan pertumbuhannya lebih tajam dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2011 sebelumnya (4,81 persen). Percepatan laju pertumbuhan ini didominasi sektor Pertambangan dan Penggalian serta sektor Keuangan, Persewaan, dan jasa perusahaan yang menanjak tajam 7,78 persen seiring menggeliatnya perekonomian yang ditandai dengan perputaran uang yang lebih cepat. Sektor Pengangkutan dan komunikasi juga mengalami percepatan pertumbuhan yakni 7,45 persen.
Sektor Pertanian terutama produksi padi pada tahun 2012 kembali mengalami percepatan pertumbuhan seiring membaiknya curah hujan yaitu sebesar 2,41 persen dibanding tahun 2011 yang 1,02 persen. Sektor industri pada tahun 2011 membukukan laju pertumbuhan sebesar positif 5,20 persen melaju pelan pada tahun 2012 sebesar positif 5,28 persen. Sektor jasa-jasa membukukan pertumbuhan positif 5,65 persen, naik jika dibandingkan tahun 2011 sebesar 4,65 persen. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tegal ditopang dari pertumbuhan ekonomi 18 kecamatan yang ada di wilayah pemerintahan Kabupaten Tegal, Kecamatan yang memberikan konstribusi pertumbuhan pada tahun 2012 memiliki rentang pertumbuhan 3,38 persen (Kecamatan Pagerbarang) sampai 8,88 persen (Kecamatan Adiwerna). Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tegal atas dasar harga konstan sebesar 5,25 persen ini masih berada di bawah target rata-rata yaitu 5,72 persen dalam rangka mendukung perekonomian Jawa Tengah. Berikut disajikan indikator ekonomi, khususnya mengenai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tegal tahun 2010-2012 yang mencakup pertumbuhan sektoral, struktur ekonomi, pendapatan perkapita, perkembangan dan indeks implisitnya.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
7
Di bidang ketenagakerjaan, jumlah angkatan kerja Kabupaten Tegal terus mengalami kenaikan. Tercatat pada tahun 2009 berjumlah 725.461 orang, tahun 2010: 739.994 orang, tahun 2011: 988.871 orang, tahun 2012 1.008.845 orang, dan di tahun 2013 terdapat 1.008.971 orang. Mayoritas penduduk Kabupaten Tegal masih bekerja di sektor pertanian dalam arti luas. Berdasarkan data yang ada pada tahun 2012 sebanyak 140.420 orang (7,78%) yang menggeluti lapangan kerja di sektor pertanian. Jumlah penduduk yang memilih sektor pertanian sebagai lapangan kerjanya, selama 4 tahun terakhir ini cenderung mengalami penurunan seiring dengan semakin berkurangnya lahan pertanian karena beralih fungsi.
Disinyalir mereka beralih profesi ke sektor perdagangan, industri dan sektor lainnya. Terbukti jumlah penduduk yang berprofesi di sektor perdagangan pada tahun 2012 sebanyak 160.441 orang (8,89%). Sektor lainnya yang cukup diminati masyarakat adalah sektor industri pengolahan, dan sektor jasa kemasyarakatan yang masing-masing ditekuni oleh 112.244 orang (6,22 %) dan 74.532 orang (4,13
%).
Disadari bahwa bidang ketenagakerjaan di Kabupaten Tegal masih menyisakan berbagai persoalan, diantaranya masalah pengangguran. Jumlah pengangguran selama kurun waktu tiga tahun terakhir mengalami fluktuasi.
Tercatat pada tahun 2009 terdapat 187.682 pengangguran, dan di tahun 2010 jumlahnya mengalami peningkatan menjadi 302.990 orang, sedangkan di tahun 2011 turun menjadi 187.686 orang. Dengan semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja, Pemerintah Kabupaten Tegal terus mendorong terbukanya lapangan kerja dan investasi yang selama ini belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Upaya penempatan TKI di luar negeri pun dilakukan. Jumlah TKI selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 terdapat 330 orang TKI. Di tahun 2010 naik menjadi 461, dan di tahun 2011 naik menjadi 490 orang, sementara di tahun 2012 turun menjadi 472 orang. Hal penting lainnya terkait dengan ketenagakerjaan adalah Upah Minimum Regional (UMR). Dari tahun ke tahun UMR di Kabupaten Tegal terus mengalami peningkatan (rata-rata per tahun sebesar 9%). Pada tahun 2009 UMR sebesar Rp. 640.000,- dan pada tahun 2010, 2011, 2012 naik menjadi Rp. 685.000,-; Rp 725.000,- dan Rp. 780.000,-.
Persoalan besar bagi semua daerah adalah menurunkan angka kemiskinan. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tegal dalam kurun waktu 4 tahun (2009-2012) menunjukkan tren positif/menurun, tercatat pada tahun 2010
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
8
sebanyak 189.687 jiwa ((13,98 %), tahun 2011 kembali turun hingga angka 182.542jiwa (13,11%), kemudian tahun 2012 turun lagi menjadi 161.116 jiwa (7,31%).Batasan/garis keluarga/seseorang (garis kemiskinan) disebut miskin di wilayah Pedesaan pada tahun 2009 adalah Rp. 187.048,- tahun 2011 naik menjadi Rp. 204.093,- dan pada tahun 2012 kembali naik menjadi Rp. 222.700,-.
Besarnya pendapatan yang diterima rumah tangga dapat menggambarkan kesejahteraan suatu masyarakat. Namun data pendapatan yang akurat sulit diperoleh, sehingga dilakukan pendekatan melalui data pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga yang terdiri dari pengeluaran makanan dan bukan makanan dapat menggambarkan bagaimana penduduk mengalokasikan kebutuhan rumah tangganya. Walaupun harga antar daerah berbeda, namun nilai pengeluaran rumah tangga masih dapat menunjukkan perbedaan tingkat kesejahteraan penduduk antar kecamatan khususnya dilihat dari segi ekonomi.
Pengukuran kemiskinan dari BPS menggunakan konsep memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach). Kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Distribusi pendapatan merupakan salah satu aspek kemiskinan yang perlu dilihat karena pada dasarnya merupakan ukuran kemiskinan relatif. Karena data pendapatan sulit diperoleh, pengukuran distribusi pendapatan selama ini didekati dengan menggunakan data pengeluaran.
Kemiskinan dipahami sebagai ketidakmampuan ekonomi penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan maupun non makanan yang diukur dari pengeluaran. Pengukuran kemiskinan dilakukan dengan cara menetapkan nilai standar kebutuhan minimum, baik untuk makanan maupun untuk non makanan yang harus dipenuhi seseorang untuk hidup secara layak. Nilai standar kebutuhan minimum tersebut digunakan sebagai garis pembatas untuk memisahkan antara penduduk miskin dan tidak miskin. Garis pembatas tersebut yang sering disebut dengan garis kemiskinan. Kategori penduduk miskin adalah penduduk dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan kurang dari garis kemiskinan.
Masalah kemiskinan bukan hanya sekedar jumlah dan persentase penduduk miskin saja, ada dimensi lain yang perlu diperhatikan yaitu tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan, merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
9
terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Indeks Keparahan Kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.
C. KEADAAN PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. Pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku masyarakat. Pendidikan menjadi pelopor utama dalam rangka penyiapan sumber daya manusia dan merupakan salah satu aspek pembangunan yang merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Untuk peningkatan peran pendidikan dalam pembangunan, maka kualitas pendidikan harus ditingkatkan salah satunya dengan meningkatkan rata-rata lama sekolah.
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Peningkatan mutu pendidikan harus terus diupayakan, dimulai dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan, hingga pada peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan. Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki seseorang merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formal. Semakin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu negara semakin tinggi taraf intelektualitas negara tersebut.
Analisis tentang kondisi pendidikan di Kabupaten Tegal dapat menggunakan dua indikator partisipasi sekolah, yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Kedua ukuran tersebut mengukur partisipasi penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. Perbedaan di antara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan.
APK adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu jenjang pendidikan. Angka ini merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Hasil perhitungan
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
10
APK ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan tertentu pada wilayah tertentu. Semakin tinggi APK menunjukkan semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah.
APK membagi jumlah siswa dengan tingkat pendidikan tanpa menggunakan batasan kelompok umur. Hal ini memungkinkan nilai APK yang melebihi 100%. Kondisi ini sering terjadi pada jenjang pendidikan SD/MI. Nilai diatas 100% ini terjadi karena terdapat penduduk dengan umur dibawah 7 tahun yang sudah bersekolah ditingkat sekolah dasar, atau penduduk yang berusia lebih dari 12 tahun yang masih bersekolah pada tingkat SD/MI.
Angka Partisipasi Sekolah pada tingkat Pendidikan Dasar di Kabupaten Tegal dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir (2009-2013) adalah sebagai berikut: 109%, 109,20%, 110,30%, 113,80%, dan 93,80%; sedangkan pada tingkat Pendidikan Menengah masih relatif rendah, sebagaimana tercatat dalam data tahun 2009-2013 yaitu 48,20%, 47,10%, 52,40%, 78,50% dan 56,7%.
Berdasarkan data tersebut diketahui nilai APK untuk SD/MI melebihi 100%, sedangkan untuk pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA lebih rendah dari nilai APK SD.
Nilai APK ini kurang bagus untuk mencerminkan kondisi pendidikan, karena memasukkan semua penduduk dalam jenjang pendidikan tanpa dibatasi dengan kelompok umur yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sehingga diperlukan indikator yang lebih mencerminkan partisipasi sekolah, yaitu APM.
APM didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah siswa kelompok usia sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah yang sesuai dengan usianya.Indikator APM ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya. Semakin tinggi APM menandakan semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah. Jika dibandingkan APK,APM merupakan indikator pendidikan yang lebih baik karena memperhitungjkan juga partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.
APM membagi jumlah siswa dengan jenjang pendidikan dengan menggunakan batasan kelompok umur. Kondisi ini tidak memungkinkan nilai APM yang melebihi 100%, sehingga nilaiAPM lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai APK. APM pada jenjang SD/MI dari data 2009-2013 menunjukkan tren yang
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
11
positif, berturut-turut yaitu: 96,72%; 97,38%; 97,11%; 96,64% dan 94,64%. APM pada jenjang SMP/MTs berturut-turut fluktuatif, yaitu sebesar: 89,31%; 89,45%;
89,48%; 88,95 dan 88,95%.
D. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan suatu ukuran standar pembangunan manusia yaitu indeks pembangunan manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Indeks ini dibentuk berdasarkan empat indikator, yaitu angka harapan hidup,angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan kemampuan daya beli. Indikator angka harapanhidup merepresentasikan dimensi umur panjang dan sehat. Selanjutnya, angka melek huruf danrata-rata lama sekolah mencerminkan capaian pembangunan di bidang pendidikan.
Sedangkanindikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihatdari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan yang mewakili capaianpembangunan untuk hidup lebih layak.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Tegal menunjukkan perkembangan yang positif dalam kurun waktu 3 tahun (2009-2012), tercatat pada tahun 2009 adalah 69,54 dan pada tahun 2009 terjadi peningkatan kembali hingga angka 70,08 dan IPM tahun 2011 adalah 70,59 serta tahun 2012 sebesar 71,09 dengan indikator penentu IPM yaitu angka melek huruf dari tahun 2009- 2013 berturut-turut yaitu (89,09% ; 89,21% ; 89,26% ; 89,47% dan 95,68%).
Keseriusan Pemerintah dalam meningkatkan pendidikan dasar dapat dilihat dari Angka Rata-rata Lama Sekolah dari tahun 2009-2013 menunjukkan tren yang positif, berturut-turut adalah (6,24 ; 6,42 ; 6,56 ; 6,60 ; dan 6,84 tahun). Sedangkan Angka Harapan Hidup juga menunjukkan tren positif tahun 2009 yaitu 68,49 tahun, di tahun 2011-2012 yaitu 68,79 tahun dan tahun 2013 naik menjadi 69,12 tahun. Sementara Indeks Daya Beli pada tahun 2009-2013 berturut-turut terdapat peningkatan yaitu : Rp. 634.240,-; Rp. 637.090,- dan Rp 639.950,- (data 2012 dan 2013 belum ada).
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
12
SARANA KESEHATAN
Derajat kesehatan masyarakat suatu negara dipengaruhi oleh keberadaan sarana kesehatan. Sarana kesehatan yang diulas pada pada bagian ini terdiri dari fasilitas pelayanan kesehatan dan institusi pendidikan kesehatan milik pemerintah yang menghasilkan tenaga kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan yang dibahas pada bagian ini terdiri dari : puskesmas, Rumah Sakit, dan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM).
Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
A. PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas mendefinisikan puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer, dan pusat pelayanan kesehatan perorangan primer, puskesmas berkewajiban memberikan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan.
Upaya kesehatan wajib terdiri dari:
1. Upaya promosi kesehatan 2. Upaya kesehatan lingkungan
3. Upaya kesehatan ibu dan anak serta Keluarga Berencana 4. Upaya perbaikan gizi
5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
Bab II
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
13
6. Upaya pengobatan
Jumlah puskesmas di Kabupaten Tegal sampai dengan Desember 2016 sebanyak 29 unit. Jumlah tersebut terdiri dari 13 unit puskesmas non rawat inap dan 16 unit puskesmas rawat inap. Jumlah ini sama dibandingkan tahun 2015 yaitu sebanyak 16 unit. Peningkatan jumlah puskesmas tidak mengindikasikan secara langsung seberapa baik keberadaan puskesmas mampu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan primer di masyarakat. Indikator yang mampu menggambarkan secara kasar tercukupinya kebutuhan pelayanan kesehatan primer oleh puskesmas adalah rasio puskesmas terhadap 30.000 penduduk.
Bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja Puskesmas, dengan sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah Puskesmas rata-rata 30.000 penduduk per Puskesmas, maka rasio jumlah Puskesmas per 30.000 penduduk di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 0,61. Angka tersebut lebih rendah dari rasio pada tahun 2015, yaitu sebesar 0,63. Rasio puskesmas per 30.000 penduduk menurut kecamatan menunjukkan bahwa rasio tertinggi pada tahun 2016 adalah di Puskesmas Kecamatan Warureja yaitu sebesar 0,99 sedangkan rasio terendah adalah Kecamatan Bumijawa yaitu sebesar 0,04. Gambaran rasio puskesmas menurut Kecamatan pada tahun 2016 terdapat pada Gambar 2.1.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
14
GAMBAR 2.1
GRAFIK RASIO PUSKESMAS PER 30.000 PENDUDUK MENURUT KECAMATAN DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Dinkes Kabupaten Tegal, 2016
Seluruh kecamatan memiliki rasio puskesmas yang rendah. Hal ini disebabkan karena jumlah dan kepadatan populasi yang tinggi. Jika dilihat dari rasio terhadap jumlah penduduk, memang seluruh provinsi di Jawa memiliki angka yang rendah. Namun dalam hal keberadaan pelayanan kesehatan dasar, Kabupaten Tegal memiliki kondisi baik yang berasal dari penyedia sektor swasta.
Kondisi seperti ini sebetulnya tetap harus diperhatikan. Meskipun kebutuhan pelayanan kesehatan dasar dapat dipenuhi oleh sektor swasta, suatu wilayah tetap membutuhkan entitas yang berperan sebagai penanggungjawab upaya kesehatan masyarakat.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan dasar, puskesmas melaksanakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan yang diberikan terdiri
0,04 0,42
0,50 0,50 0,54
0,55 0,57
0,59 0,59 0,61
0,63 0,67
0,71 0,73 0,74 0,74 0,77
0,97 0,99
0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 Bumijawa
Slawi Adiwerna Dukuhwaru Kramat Jatinegara Pagerbarang Talang Pangkah Kab.Tegal Margasari Dukuhturi Lebaksiu Balapulang Suradadi Kedungbanteng Tarub Bojong Warureja
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
15
dari pelayanan rawat jalan dan rawat inap untuk puskesmas tertentu jika dianggap perlu. Meskipun pelayanan kesehatan masyarakat merupakan inti dari puskesmas, pelayanan kesehatan perorangan juga menjadi perhatian dari Pemerintah.
GAMBAR 2.2
GRAFIK PERKEMBANGAN PUSKEMAS RAWAT INAP DAN NON RAWAT INAP DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
23 22
21
18
13 13
6 7 8
11
16 16
0 5 10 15 20 25
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Non Rawat Inap Rawat Inap
Sumber: Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinkes, 2016
Pada gambar di atas diketahui bahwa jumlah puskesmas non rawat inap menurun dari 23 unit pada tahun 2009 menjadi 13 unit pada tahun 2016.
Peningkatan jumlah terjadi pada puskesmas rawat inap yaitu dari 6 unit pada tahun 2009 menjadi 16 unit pada tahun 2016. Angka tersebut sudah memenuhi target jumlah puskesmas rawat inap tahun 2016 yaitu sebesar 16 unit.
Selain enam upaya kesehatan wajib yang harus diberikan, puskesmas juga menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan. Salah satu upaya kesehatan pengembangan puskesmas di Kabupaten Tegal berupa pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi dasar (PONED) dan pengembangan puskesmas mampu persalinan. Upaya kesehatan ini dilakukan untuk mendekatkan akses masyarakat kepada pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar. Akses masyarakat yang semakin mudah terhadap pelayanan kegawatdaruratan diharapkan dapat berkontribusi kepada penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Badan kesehatan dunia (WHO) menargetkan agar minimal terdapat 4 Puskesmas PONED di tiap kabupaten/kota. Sampai dengan tahun 2016 jumlah kumulatif Puskesmas PONED sebanyak 11 unit dan Puskesmas mampu
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
16
pertolongan persalinan sebanyak 8 unit.
B. RUMAH SAKIT
Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat juga diperlukan upaya kuratif dan rehabilitatif selain upaya promotif dan preventif. Upaya kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif dapat diperoleh melalui rumah sakit yang juga berfungsi sebagai penyedia pelayanan kesehatan rujukan.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 147/Menkes/PER/I/2010 tentang Perizinan Rumah Sakit mengelompokkan rumah sakit berdasarkan kepemilikan, yaitu rumah sakit publik dan rumah sakit privat. Rumah sakit publik adalah rumah sakit yang dikelola Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Badan Hukum yang bersifat nirlaba. Sedangkan rumah sakit privat adalah rumah sakit yang dikelola oleh bahan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk perseroan terbatas atau persero.
1. Jumlah dan Jenis Rumah Sakit
Rumah sakit publik di Kabupaten Tegal dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Tegal, TNI/Polri, serta swasta non profit (organisasi keagamaan dan organisasi sosial). Jumlah rumah sakit publik di Kabupaten Tegal sampai dengan tahun 2016 sebanyak 3 unit, yang terdiri atas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) berjumlah 2 unit dan Rumah Sakit Tentara (RSK) berjumlah 1 unit. Berbeda dengan rumah sakit publik, rumah sakit privat dikelola oleh swasta (perorangan, perusahaan dan swasta lainnya). Pada tahun 2016 terdapat 4 unit rumah sakit swasta di Kabupaten Tegal yang terdiri dari 3 unit RSU dan 1 unit RS Khusus KIA. Jumlah rumah sakit publik maupun privat relative tidak berubah pada kurun waktu 2012 sampai dengan 2016 seperti yang disajikan pada tabel berikut:
TABEL 2.1
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT MENURUT KEPEMILIKAN DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012- 2016
No Pengelola/Kepemilikan 2012 2013 2014 2015 2016 1. Pemerintah
Kabupaten Tegal 2 2 2 2 2
2. TNI/ Polri 1 1 1 1 1
3. Swasta 4 4 4 4 4
Jumlah 6 7 7 7 7
Sumber: Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kab Tegal, 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
17
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit mengelompokkan rumah sakit berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan menjadi rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Adapun rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya. Jumlah rumah sakit umum adalah 6 unit dan rumah sakit khusus 1 unit pada tahun 2016. Jumlah tersebut sama dengan tahun 2015.
Terpenuhi atau tidaknya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan dan perorangan di suatu wilayah dapat dilihat dari rasio tempat tidur terhadap 1.000 penduduk. Rasio tempat tidur di rumah sakit di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 adalah 0,62 per 1.000 penduduk. Rasio ini lebih rendah dibandingkan tahun 2015 sebesar 0,65 per 1.000 penduduk. Rasio tempat tidur di rumah sakit di Kabupaten Tegal sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2016 ditampilkan pada gambar berikut.
GAMBAR 2.3
GRAFIK RASIO TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT PER 1.000 PENDUDUK DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2010-2016
Sumber: Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kab Tegal, 2016
Berdasarkan gambar 2.3, dapat dilihat secara keseluruhan di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 maka jumlah tempat tidur belum mencukupi, karena rasio kurang dari 1 tempat tidur per 1.000 penduduk. Namun grafik
0,44 0,44 0,46
0,41
0,49 0,65
0,62
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
18
tersebut cenderung naik dari tahun 2013 karena pemerintah terus berupaya untuk menambah jumlah tempat tidur di rumah sakit.
2. Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emegensi Komprehensif (PONEK) Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif adalah upaya yang dilakukan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka kematian Anak. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kematian ibu dan kematian anak banyak terjadi di Rumah Sakit. Rumah Sakit berkontribusi terhadap 40-70% Angka Kematian Ibu, persalinan di rumah berkontribusi sebesar 20-35%, dan persalinan yang terjadi di perjalanan sebesar 10-18%
(Lancet, 2005). Dengan melihat fakta tersebut maka dapat dikatakan bahwa dibutuhkan adanya upaya penurunan AKI yang difokuskan di rumah sakit.
Salah satu program kesehatan yang dilaksanakan untuk menurunkan kematian ibu adalah implementasi Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK). Jumlah Rumah Sakit PONEK sampai dengan tahun 2016 sebanyak 3 unit.
C. SARANA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
1. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Ketersediaan farmasi dan alat kesehatan memiliki peran yang signifikan dalam pelayanan kesehatan. Akses masyarakat terhadap obat khususnya obat esensial merupakan salah satu hak asasi manusia. Dengan demikian penyediaan obat esensial merupakan kewajiban bagi pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan baik publik maupun privat. Sebagai komoditi khusus, semua obat yang beredar harus terjamin keamanan, khasiat dan mutunya agar dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Oleh karena itu salah satu upaya yang dilakukan untuk menjamin mutu obat hingga diterima konsumen adalah menyediakan sarana penyimpanan obat dan alat kesehatan yang dapat menjaga keamanan secara fisik serta dapatmempertahankan kualitas obat di samping tenaga pengelola yang terlatih.
Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk menjamin keamanan, khasiat, dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan. Hal ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penyalahgunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan atau
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
19
penggunaan yang salah/tidak tepat serta tidak memenuhi mutu keamanan dan pemanfaatan yang dilakukan sejak proses produksi, distribusi hingga penggunaannya dimasyarakat. Cakupan sarana produksi bidang kefarmasian dan alat kesehatan menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan yang melakukan upaya produksi di bidang kefarmasian dan alat kesehatan. Yang termasuk sarana produksi di bidang kefarmasian dan alat kesehatan antara lain Industri Farmasi, Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), Industri Kosmetika, Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), Produksi Alat Kesehatan Produksi Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT), dan Industri Kosmetika.
Sarana produksi dan distribusi di Kabupaten Tegal masih menunjukkan adanya ketimpangan dalam hal persebaran jumlah. Ketersediaan ini terkait dengan sumber daya yang dimiliki dan kebutuhan pada wilayah setempat.
Kondisi ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam kebijakan untuk mengembangkan jumlah sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan di Kabupaten Tegal, sehingga terjadi pemerataan jumlah sarana tersebut di seluruh Kabupaten Tegal. Selain itu, hal ini bertujuan untuk membuka akses terhadap keterjangkauan masyarakat terhadap sarana kesehatan.
2. Ketersediaan Vaksin
Dalam upaya pelayanan kesehatan, ketersediaan obat dalam jenis yang lengkap, jumlah yang cukup, terjamin khasiatnya, aman, efektif dan bermutu dengan harga terjangkau serta mudah diakses adalah sasaran yang harus dicapai. Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator rencana strategis tahun 2015-2019 terkait program kefarmasian dan alat kesehatan, yaitu meningkatnya sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau oleh masyarakat. Indikator tercapainya sasaran hasil tersebut pada tahun 2016 yaitu persentase ketersediaan obat dan vaksin sebesar 100%.
Dalam rangka mencapai target tersebut, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan dasar.
Pemantauan ketersediaan obat digunakan untuk mengetahui kondisi tingkat ketersediaan obat di berbagai unit sarana kesehatan seperti Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota (IFK) dan puskesmas. Kegiatan ini dilakukan untuk
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
20
mendukung pemerintah pusat dan daerah dalam rangka menentukan langkah- langkah kebijakan yang akan diambil di masa yang akan datang. Di era otonomi daerah, pengelolaan obat merupakan salah satu kewenangan yang diserahkan ke kabupaten/kota, akibatnya sulit bagi pemerintah pusat untuk mengetahui kondisi ketersediaan obat di seluruh Indonesia. Dengan tidak adanya laporan secara periodik yang dikirim oleh provinsi, maka relatif sulit bagi pemerintah pusat untuk menentukan langkah langkah yang harus dilakukan. Adanya data ketersediaan obat di provinsi atau kabupaten/kota akan mempermudah penyusunan prioritas bantuan maupun intervensi program di masa yang akan datang.
Untuk mendapatkan gambaran ketersediaan obat dan vaksin di Indonesia, dilakukan pemantauan ketersediaan obat dan vaksin. Obat yang dipantau ketersediaannya merupakan obat indikator yang digunakan untuk pelayanan kesehatan dasar dan obat yang mendukung pelaksanaan program kesehatan. Jumlah item obat yang dipantau adalah 20 item obat dan vaksin yang terdiri dari 17 item obat untuk pelayanan kesehatan dasar dan 3 jenis vaksin untuk imunisasi dasar.
D. UPAYA KESEHATAN BERSUMBER DAYA MASYARAKAT
Pembangunan kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya juga memerlukan peran masyarakat. Melalui konsep Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), masyarakat berperan serta aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Bentuk UKBM antara lain Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), dan desa/kelurahan siaga aktif.
Desa/kelurahan Siaga Aktif adalah desa yang mempunyai Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau UKBM lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar, penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, surveilans berbasis masyarakat yang meliputi pemantauan pertumbuhan (gizi), penyakit, lingkungan dan perilaku sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Terdapat 287 Desa/kelurahan Siaga Aktif dengan persentase sebesar 100%. Dalam memberikan pelayanan kesehatan, Desa/kelurahan Siaga Aktif terbagi menjadi empat strata, yaitu pratama, madya, purnama, dan mandiri.
Secara persentase jumlah desa/kelurahan siaga aktif di Kabupaten Tegal pada
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
21
tahun 2016 sebagai berikut:
GAMBAR 2.4
GRAFIK PERSENTASE DESA SIAGA AKTIF BERDASARKAN STRATA DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Bidang PKPL Dinas Kesehatan, 2016
Jenis UKBM lainnya adalah Poskesdes, yaitu UKBM yang dibentuk di desa untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa sehingga mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan utama poskesdes yaitu pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa berupa pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan ibu menyusui, pelayanan kesehatan anak, pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans penyakit, surveilans gizi, surveilans perilaku berisiko, surveilans lingkungan dan masalah kesehatan lainnya), penanganan kegawatdaruratan kesehatan serta kesiapsiagaan terhadap bencana. Jumlah poskesdes yang beroperasi pada tahun 2016 sebanyak 210 unit, sama dengan jumlah poskesdes tahun 2015 yang berjumlah 210 unit.
Pada gambar 2.5 dapat diketahui bahwa wilayah Puskesmas di Kabupaten Tegal dengan jumlah poskesdes terbanyak adalah Puskesmas Bumijawa dengan jumlah sebanyak 16 unit dan Puskesmas Pangkah 14 unit. Puskesmas dengan jumlah Poskesdes paling sedikit adalah Puskesmas Pagerbarang sebanyak 2 unit.
Distribusi Poskesdes di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 adalah sebagai berikut:
Pratama 8%
Madya 57%
Purnama 29%
Mandiri 6%
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
22
GAMBAR 2.5
GRAFIK JUMLAH POSKESDES BERDASARKAN WILAYAH PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Pemberdayaan, Dinkes Kab.Tegal, 2016
UKBM lainnya yang memiliki peran signifikan dalam pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah posyandu.
Posyandu dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat terutama ibu, bayi dan anak balita. Posyandu memiliki 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, imunisasi, gizi serta pencegahan dan penanggulangan diare.
Jumlah Posyandu tahun 2016 di Kabupaten Tegal tercatat sebanyak 1.518 2
3 4 4 4
5 5 5 5
6 6 6 6 6
7 7 7
8 8 8
9 9
10 10 10 10 10
14 16
0 5 10 15 20
Pagerbarang Jatibogor Balapulang Kambangan Suradadi Kesambi Bojong Danasari Bangun Galih Kalibakung Lebaksiu Dukuhturi Kaladawa Kesamiran Penusupan Slawi Kupu Margasari Kedungbanteng Warureja Pagiyanten Kramat Jatinegara Dukuhwaru Adiwerna Talang Tarub Pangkah Bumijawa
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
23
posyandu. Dari jumlah tersebut, semua posyandu aktif melaksanakan kegiatan secara rutin. Persentase jumlah posyandu berdasarkan strata makan jumlah posyandu pratama sebanyak 3%, madya sebanyak 13%, purnama sebanyak 60%, dan mandiri sebanyak 24%.
GAMBAR 2.6
GRAFIK PERSENTASE JUMLAH POSYANDU
BERDASARKAN STRATA POSYANDU DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Pemberdayaan, Dinkes Kab.Tegal, 2016
Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa proporsi tertinggi adalah posyandu purnama dan proporsi terendah adalah posyandu pratama. Dengan demikian diperlukan upaya intensif untuk meningkatkan jumlah posyandu mandiri. Dalam menjalankan fungsinya, perlu diketahui rasio kecukupan posyandu terhadap masyarakat yang ada. Pada tahun 2016, rasio posyandu terhadap jumlah desa/kelurahan adalah 5,3. Pada tingkat kabupaten, rasio posyandu terhadap jumlah desa/keluarahan telah mencukupi yaitu lebih dari satu. Gambaran rasio posyandu terhadap jumlah desa/kelurahan berdasarkan wilayah Puskesmas di Kabupaten Tegal adalah sebagai berikut:
Pratama
3% Madya
13%
Purnama 60%
Mandiri 24%
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
24
GAMBAR 2.7
GRAFIK RASIO POSYANDU TERHADAP JUMLAH DESA/KELURAHAN BERDASARKAN WILAYAH PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Pemberdayaan, Dinkes Kab.Tegal, 2016
Gambar di atas menunjukkan bahwa Puskesmas Suradadi memiliki rasio tertinggi sebesar 8,60. Sedangkan Puskesmas Bangun Galih memiliki rasio posyandu terendah yaitu sebesar 2,3. Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan juga memerlukan peran serta kader dan tokoh masyarakat/agama.
E. INSTITUSI PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN
Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai baik dari segi jenis, jumlah maupun kualitas. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula. Dinas Kesehatan Republik Indonesia merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut. Institusi pendidikan tenaga kesehatan selain tenaga medis terdiri dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) dan Non Politeknik Kesehatan (Non Poltekkes). Dinas Kesehatan melakukan pembinaan terhadap institusi Poltekkes.
Sampai dengan Desember 2013, terdapat 3 Poltekkes di Kabupaten Tegal yang terdiri dari program studi strata S1 sebanyak 2 jurusan/program studi, dan strata
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
25
Diploma III terdiri dari 3 jurusan/program studi.
Jurusan/program studi terbanyak adalah keperawatan dengan jumlah 2 pada Diploma III dan 1 pada S1 . Jurusan/program studi keperawatan terdiri dari S1 keperawatan, kebidanan, dan profesi keperawatan. Jurusan/program studi farmasi terdiri S1 Kefarmasian memilki jumlah terendah yaitu 1 program studi pada S1 Kefarmasian.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
26
TENAGA KESEHATAN
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada pasal 21 menyebutkan bahwa pemerintah mengatur perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional dijelaskan bahwa untuk melaksanakan upaya kesehatan dalam rangka pembangunan kesehatan diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis dan kualitasnya serta terdistribusi secara adil dan merata.
Sumber daya manusia kesehatan yang disajikan pada bab ini lebih diutamakan pada kelompok tenaga kesehatan. Dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan memutuskan bahwa tenaga kesehatan terdiri dari tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik dan tenaga keteknisian medis.
Gambaran mengenai jumlah, jenis, dan kualitas, serta penyebaran tenaga kesehatan di seluruh wilayah Indonesia dilakukan dengan cara pengumpulan data pada sarana pelayanan kesehatan baik di wilayah dinas kesehatan kabupaten/kota maupun dinas kesehatan provinsi. Pengumpulan data tenaga kesehatan meliputi tenaga kesehatan yang berstatus PNS pusat, PNS daerah, Pegawai Tidak Tetap (PTT), TNI/POLRI, dan swasta. Metode pengumpulan data yang digunakan melalui mekanisme pemutakhiran data secara berjenjang mulai dari dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi dan secara nasional dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (Badan PPSDMK) Kementerian Kesehatan RI melalui Sistem Informasi SDMK.
A. JUMLAH DAN RASIO TENAGA KESEHATAN
Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah tenaga kesehatan yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Bab III
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
27
Pendataan tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Bagian Kepegawaian Sekretariat Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal dan Bagian Perijinan Dinas Kesehatan menggunakan pendekatan tenaga kesehatan yang melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya. Berdasarkan pendekatan tersebut, pada tahun 2016 jumlah SDM Kesehatan yang tercatat sebanyak 3.534 orang yang terdiri atas 2.681 tenaga kesehatan dan 853 tenaga penunjang kesehatan. Tenaga kesehatan terdiri atas 293 tenaga medis (dokter spesialis, dokter umum dan dokter gigi), 919 perawat, 816 bidan, 351 tenaga farmasi, dan 302 tenaga kesehatan lainnya. Data tersebut berdasarkan laporan fasilitas kesehatan yang melapor ke Dinas Kesehatan Kabupate Tegal. Rincian lengkap mengenai rekapitulasi sumber daya manusia kesehatan menurut jenis tenaga dapat dilihat pada tabel 72 - 80.
Menurut Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004, yang dimaksud dengan dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
1. Dokter Spesialis
Jumlah Dokter Spesialis di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebanyak 114 orang. Jumlah tersebut berdasarkan jumlah surat ijin praktik (SIP) dokter di fasilitas kesehatan yang melapor ke Dinas Kesehatan, bukan jumlah per personal dokter. Rasio Dokter Ahli per 100.000 penduduk sebesar 7,98. Angka ini sudah sesuai target Indonesia Sehat dan standar dari WHO sebesar 6 per 100.000 penduduk.
2. Dokter Umum
Jumlah dokter umum di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 tercatat sebanyak 141 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 46 orang bertugas di Puskesmas dan 50 orang bertugas di Rumah Sakit, dan 45 orang bertugas Fasilitas Kesehatan lainnya. Jumlah tersebut berdasarkan jumlah surat ijin praktik (SIP) dokter di fasilitas kesehatan yang melapor ke Dinas Kesehatan, bukan jumlah per personal dokter. Rasio dokter umum per 100.000 penduduk di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 9,86. Rasio tersebut masih di bawah target Indonesia Sehat dan standar dari WHO sebesar 40 per 100.000 penduduk.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
28
Rasio Dokter Umum terhadap jumlah penduduk di Kabupaten Tegal tahun 2016 menurut wilayah Puskesmas dapat dilihat pada gambar 3.1.
GAMBAR 3.1
GRAFIK RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.000 PENDUDUK BERDASARKAN PUSKESMAS
DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Sub Bag Kepegawaian Dinas Kesehatan Kab. Tegal, 2016
Puskesmas dengan rasio dokter umum terhadap 100.000 penduduk tertinggi terdapat di Puskesmas Kupu sebesar 6,8. Rasio dokter umum per 100.000 penduduk terendah terdapat di Puskemas Dukuhwaru sebesar 1,7.
1,7 1,7 1,9
2,0 2,1
2,4 2,5 2,5 2,5 2,6
2,7 2,7 2,8
2,9 3,3 3,3 3,5 3,5 3,7
3,8 4,2
4,4 4,5
4,6 4,7
5,1 5,1 5,3
6,8
0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0
Dukuhwaru Dukuhturi Kaladawa Tarub Lebaksiu Bumijawa Bangun Galih Kedungbanteng Penusupan Kalibakung Adiwerna Kambangan Slawi Kramat Pangkah Warureja Margasari Kesamiran Jatinegara Pagerbarang Talang Pagiyanten Balapulang Bojong Suradadi Jatibogor Kesambi Danasari Kupu
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
29
3. Dokter Gigi
Jumlah dokter gigi di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 tercatat sebanyak 37 dan jumlah dokter gigi spesialis sebanyak 1 orang. Rasio dokter gigi per 100.000 penduduk sebesar 2,66 dokter gigi per 100.000 penduduk.
Rasio tersebut masih di bawah target Indonesia Sehat dan standar dari WHO sebesar 11 per 100.000 penduduk. Jumlah dokter gigi di Puskesmas Kabupaten Tegal tahun 2016 sebanyak 20 orang.
4. Tenaga Keperawatan a. Perawat
Perawat dapat menyelenggarakan praktik di fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri dan atau praktik mandiri. Perawat yang dapat menyelenggarakan praktik mandiri harus berpendidikan minimal Diploma III Keperawatan dan wajib memiliki Surat Ijin Praktek Perawat adalah (SIPP) yang hanya diberikan pada satu tempat praktek. SIPP berlaku selama Surat Tanda Registrasi (STR) masih berlaku. STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah kepada tenaga kesehatan yang memiliki sertifikat kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Jumlah Tenaga Perawat (perawat, perawat gigi, dll) di Kabupaten Tegal yang tercatat pada tahun 2016 sebanyak 919 orang. Tenaga keperawatan yang bekerja di Puskesmas sebanyak 283 orang (PNS). Jika dibandingkan dengan jumlah Puskesmas sebanyak 29 Puskesmas maka rata-rata per Puskesmas sebesar 9,76. Standar yang ada dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 81/MENKES/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan SDM Kesehatan di Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit bahwa untuk kategori Puskesmas Perkotaan maka harus memiliki minimal 12 orang tenaga perawat sedangkan Puskesmas pedesaan minimal 8 orang tenaga perawat.
Dapat disimpulkan bahwa puskesmas pedesaan di Kabupaten Tegal sudah memenuhi standar minimal 8 orang tenaga perawat. Sedangkan puskesmas perkotaan belum memenuhi standar minimal 12 orang tenaga perawat.
Gambaran distribusi tenaga perawat di Kabupaten Tegal menurut fasilitas pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut:
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
30
GAMBAR 3.2
PERSEBARAN TENAGA PERAWAT
MENURUT FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Sub Bag Kepegawaian Dinas Kesehatan Kab. Tegal, 2016
Rasio Tenaga Keperawatan per 100.000 penduduk di Kabupaten Tegal sebesar 64,3. Angka ini masih di bawah target Indonesia Sehat dan standar dari WHO yaitu sebesar 117,5 per 100.000 penduduk. Rasio perawat terhadap jumlah penduduk menurut wilayah Puskesmas pada tahun 2016 terlihat pada Gambar 3.3 berikut:
Puskesmas 31%
Rumah Sakit 62%
Sarkes lain 7%