BAB VII PENGENDALIAN PENYAKIT DAN
A. Pengendalian Penyakit
1. Penyakit Menular
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteriMycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksibasil tuberkulosis.
Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur dengan case notification rate (CNR) dan prevalensi (didefinisikan sebagai jumlah kasus tuberkulosis pada suatu titik waktutertentu) dan mortalitas/kematian (didefinisikan sebagai jumlah kematian akibat tuberkulosis dalam jangka waktu tertentu).
1) Kasus Baru BTA Positif
Pada tahun 2016 ditemukan jumlah kasus baru BTA positif (BTA+) sebanyak 769 kasus, lebih sedikit dibanding kasus baru BTA+ yang ditemukan tahun 2015 (944 kasus). Jumlah tersebut termasuk jumlah kasus yang ditemukan di rumah sakit sebanyak 154 kasus. Jumlah kasus tertinggi yaitu Puskesmas Adiwerna, Kalibakung, dan Bumijawa. Sedangkan jumlah total kasus TB BTA (+) dapat dilihat pada gambar 7.1.
Bab VII
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
94
GAMBAR 7.1
JUMLAH KASUS TB BTA (+) MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Perkiraan jumlah penderita baru TB Paru BTA (+) di Kabupaten Tegal sebanyak 1.529 penderita. Jumlah penderita TB Paru baru BTA (+) yang ditemukan pada tahun 2016 sebanyak 769 orang maka didapatkan angka cakupan penemuan penderita TB Paru baru (+) atau Case Detection Rate (CDR) sebesar 50,28%.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
95
GAMBAR 7.2
CASE DETECTION RATE (CDR)MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Angka penemuan TB Paru (CDR) merupakan salah satu indikator keberhasilan program TB Paru di Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Semakin rendah angka penemuan ini berarti semakin banyak kasus TB Paru yang belum terdeteksi dan belum terobati sehingga dapat menjadi sumber penularan bagi lingkungan sekitar para penderita tersebut. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan upaya penemuan kasus secara aktif oleh petugas kesehatan. Selain itu pengembangan PPM (public private mix) dalam penanggulangan TB dengan melibatkan, dokter praktek swasta, LSM, dan masyarakat.
9,1
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
96
2) Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate)
Salah satu upaya untuk mengendalikan TB yaitu dengan pengobatan.
Indikator yang digunakan sebagai evaluasi pengobatan yaitu angka keberhasilan pengobatan (success rate). Angka keberhasilan pengobatan ini dibentuk dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.
Evaluasi pengobatan pada penderita TB pau BTA (+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif.
Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif. Target 2016untuk angka keberhasilan pengobatan (sukses rate) adalah 90%. Berikut ini digambarkan angka kesembuhan dan keberhasilan pengobatan TB Paru tahun 2011-2016.
GAMBAR 7.3
ANGKA KESEMBUHAN DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012 - 2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Pada Gambar 7.3 terlihat perkembangan angka keberhasilan pengobatan tahun 2012 - 2016. Pada tahun 2016 angka keberhasilan pengobatan sebesar 89,8%. WHO menetapkan standar angka keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Dengan demikian pada tahun 2016, Kabupaten Tegal telah mencapai standar tersebut. Sementara Dinas Kesehatan menetapkan
2012 2013 2014 2015 2016
Cure Rate 85,5 89,8 88,45 87,14 81,7
Success Rate 89,8 91,6 94,7 91,1 89,8
75 80 85 90 95 100
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
97
target Renstra minimal 90% untuk angka keberhasilan pengobatan pada tahun 2016. Berdasarkan hal tersebut, capaian angka keberhasilan pengobatan tahun 2016 belum memenuhi target Renstra.
Angka kesembuhan tahun 2016 di Kabupaten Tegal sebesar 81,7%, menurun dibandingkan tahun 2015 yaitu sebesar 87,14%.
b. HIV & AIDS
HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.
Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counseling, and Testing (VCT), sero survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).
Perkembangan HIV positif sampai tahun 2016 disajikan pada Gambar 7.4 berikut ini.
GAMBAR 7.4
JUMLAH KASUS BARU HIV POSITIVE DAN AIDS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012 - 2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Kasus HIV dan AIDS dalam lima tahun terakhir (2012-2016) cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan kualitas penemuan kasus HIV/AIDS meningkat. Kasus terbanyak pada kelompok risiko tinggi yaitu WPS dan
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
98
pasangan risiko tinggi, dengan usia antara 35-45 tahun.
c. Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit yang disebabkan kuman pneumococcus, staphylococcus, streptococcus, dan virus. Gejala penyakit pneumonia yaitu menggigil, demam, sakit kepala, batuk, mengeluarkan dahak, dan sesak napas.
Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun dan orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan meningkatkan penemuan pneumonia pada balita. Perkiraan kasus pneumonia pada balita di suatu wilayah sebesar 10% dari jumlah balita di wilayah tersebut. Berikut ini gambaran penemuan peneumonia pada balita tahun 2011-2016.
GAMBAR 7.5
CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PNEUMONIA PADA BALITA DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012-2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Dari tahun 2012 Sampai dengan tahun 2016, angka cakupan penemuan dan penanganan pneumonia pada balita mengalami fluktuasi.
Cakupan penemuan dan penanganan pneumonia pada balita tahun 2016 belum mencapai target renstra Dinas Kesehatan sebesar 62%.
72,49
58,25
77,3
72,8
59,5
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
99
d. Kusta
Penyakit Kusta disebut juga sebagai penyakit Lepra atau penyakit Hansen disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini mengalami proses pembelahan cukup lama antara 2–3 minggu. Daya tahan hidup kuman kusta mencapai 9 hari di luar tubuh manusia. Kuman kusta memiliki masa inkubasi 2–5 tahun bahkan juga dapat memakan waktu lebih dari 5 tahun.
Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata.
Angka penemuan kasus baru kusta pada tahun 2016 sebesar 1,33 per 10.000 penduduk atau 13,36 per 100.000 penduduk. Capaian tersebut belum memenuhi target renstra tahun 2016 sebesar 1,54 per 10.000 penduduk. Angka prevalensi kusta tahun 2016 adalah sebesar 1,37 per 10.000 penduduk.
GAMBAR 7.6
ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA (NCDR) DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2011-2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Berdasarkan bebannya, kusta dibagi menjadi 2 kelompok yaitu beban kusta tinggi (high burden) dan beban kusta rendah (low burden). Provinsi disebut high burden jika NCDR (new case detection rate: angka penemuan kasus baru)> 10 per 100.000 penduduk dan atau jumlah kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low burden jika NCDR < 10 per 100.000 penduduk dan atau jumlah kasus baru kurang dari 1.000 kasus.
1,47
1,56 1,51
1,69
1,33 1,4
1,5 1,5
1,77 1,37
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2
2012 2013 2014 2015 2016
NCDR Prev kusta
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
100
Kabupaten Tegal merupakan salah satu dari 9 kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah yang mempunyai kasus kusta tinggi (high endemic), karena prevalence rate lebih dari 1/10.000 penduduk dan CDR lebih dari 5/100.000 penduduk. Pada tahun 2016 dilaporkan 191 kasus baru kusta, lebih sedikit dengan tahun 2015 (234 kasus). Sebesar 158 kasus di antaranya merupakan tipe Multi Basiler, sedangkan 33 kasus merupakan penderita kusta tipe Pausi basiler.
Persentase penderita kusta selesai berobat (RFT), kusta type PB (Pausi Basiler) pada tahun 2016 sebesar 100% meningkat dibandingkan tahun 2015 sebesar 88,5%. Sedangkan RFT kusta type MB (Multi Basiler) pada tahun 2016 sebesar 83%. Angka ini belum mencapai target renstra 90%. Evaluasi RFT ini pada penderita baru kusta yang diobati tahun 2016 untuk kusta PB dan tahun 2015 pada kusta type MB, karena pengobatan kusta memerlukan waktu 6 – 12 bulan. Target angka RFT berdasarkan SPM 2010 adalah > 90% agar dapat memutuskan rantai penularan penyakit kusta.
Upaya yang dilakukan untuk mencapai eliminasi kusta (prevalensi kurang 1 per 10.000 penduduk ) antara lain : 1) Penemuan penderita secara aktif melalui kegiatan kampanye eliminasi kusta (LEC), 2) Peningkatan ketrampilan petugas puskesmas dalam menemukan penderita kusta sedini mungkin, 3)Peningkatkan kesadaran masyarakat dengan menghilangkan stigma yang ada di masyarakat.
Pengendalian kasus kusta antara lain dengan meningkatkan deteksi kasus sejak dini. Indikator yang digunakan untuk menunjukkan keberhasilan dalam mendeteksi kasus barukusta yaitu angka cacat tingkat dua (II). Angka cacat tingkat II tahun 2016 adalah 0,2 per 10.000 penduduk. Sedangkan persentase cacat tingkat II (dari seluruh jumlah kasus baru kusta) pada tahun 2016 sebesar 11,52%. Berikut grafik persentase cacat tingkat II selama lima tahun terakhir.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
101
GAMBAR 7.7
PERSENTASE CACAT TINGKAT II PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012 -2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Puskesmas dengan persentase cacat tingkat II tertinggi pada tahun 2016 yaitu Puskesmas Kesamiran sebesar 60%, Jatibogor, disusul Bojong dan Bumijwa sebesar 50%. Hal itu menunjukkan kemampuan mendeteksi kasus baru kusta di ketiga puskesmas tersebut masih rendah.
21,4
11,9
14,1
11,9
11,52
0 5 10 15 20 25
2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
102
GAMBAR 7.8
PERSENTASE CACAT TINGKAT II PENDERITA KUSTA MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016 e. Diare
Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit potensial KLB yang sering disertai dengan kematian.
Menurut hasil Riskesdas 2007, Diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur merupakan penyebab kematian yang ke empat (13,2%).
Kasus diare ditemukan dan ditangani di kabupaten Tegal tahun 2016 mencapai 181,8%. Angka ini sudah memenuhi target SPM dan Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal yaitu 100%. Incidence Rate diare Kabupaten Tegal tahun 2016 sebesar 214 per 1000 penduduk.
0
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
103
f. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)
PD3I adalah penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti Difteri, Pertusis, Tetanus, Tetanus Neonatorum, Polio, Campak dan Hepatitis B. Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut, diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO), Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN).
Dinas Kesehatan saat ini telah melaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I, yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri, Tetanus Neonatorum, dan Campak).
Jumlah kasus PD3I yang dilaporkan selama 3 tahun terakhir menunjukkan bahwa tidak ada kejadian kasus PD3I. Pada tahun 2013 penyakit menular Difteri, Pertusis, Tetanus dan Polio tidak ditemukan kasus. Jumlah kasus Campak di Kabupaten Tegal tahun 2016 sebanyak 20 kasus, menurun dibandingkan dengan tahun 2015 yaitu sebanyak 59 kasus.
g. Demam Berdara Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedis albopictus.
Penyakit DBD dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh kelompok umur. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat.
Jumlah penderita DBD di Kabupaten Tegal yang dilaporkan pada tahun 2016 sebanyak 610 kasus dengan jumlah kematian 20 orang. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2015, yaitu sebanyak 422 kasus DBD dengan jumlah kematian 12 orang. Angka kesakitan sebesar 42,7 sebesar 100.000 penduduk, menurun dibandingkan angka kesakitan tahun 2015 sebesar 30,4 per 100.000 penduduk. Angka tersebut belum memenuhi target renstra Dinas Kesehatan tahun 2016 sebesar 42 per 100.000 penduduk. Semua penderita DBD sudah ditangani sesuai dengan standar operasional prosedur DBD. Tren jumlah kasus DBD di Kabupaten Tegal dalam enam tahun terakhir dapat dilihat di gambar 7.9.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
104
GAMBAR 7.9
JUMLAH KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012 - 2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Gambaran jumlah kasus DBD menurut puskesmas tahun 2016 dapat dilihat pada Gambar 7.10. Jumlah kasus DBD terbanyak terjadi di Puskesmas Slawi dengan 710 kasus, disusul kemudian Puskesmas Penusupan sebanyak 46 kasus dan Puskesmas Dukuhwaru sebanyak 41 kasus. Jumlah kasus DBD terendah terdapat di Puskesmas Danasari sebanyak tiga kasus.
201
243
526
422
610
0 100 200 300 400 500 600 700
2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
105
GAMBAR 7.10
JUMLAH KASUS DBD MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016
Angka kematian (Case Fatality Rate/CFR) DBD tahun 2016 sebesar 3,3%, meningkat dibandingkan dengan angka kematin tahun 2015 sebesar 2,8%. Angka tersebut melampaui target renstra Dinas Kesehatan tahun 2016 sebesar 3,5%. Kematian akibat DBD dikategorikan tinggi jika CFR > 2%. Pada tahun 2016 terdapat sebelas puskesmas yang memiliki CFR tinggi yaitu Puskesmas Pagiyanten (22,2%), Warureja (16,7%), dan Kesamiran (15,4%).
Pada puskesmas tersebut masih perlu upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas dan kuantitas SDM kesehatan di rumah sakit dan puskesmas (dokter, perawat, dan lain-lain) termasuk peningkatan sarana-sarana penunjang diagnostik dan penatalaksanaan bagi penderita di sarana-sarana pelayanan kesehatan. Data dan informasi lengkap terlampir pada
3
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
106
table 21.
h. Filariasis
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria, yang terdiri dari tiga spesies yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Penyakit inimenginfeksi jaringan limfe (getah bening).
Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Dalam tubuh manusia, cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di kaki, tungkai, payudara, lengan dan organ genital.
Pada tahun 2016 dilaporkan sebanyak 11 kasus filariasis yang ada di wilayah Puskesmas Balapulang, Pagerbarang, Lebaksiu, Jatinegara, Pangkah, Pagiyanten, Talang, Tarub, dan Bangun Galih masing-masing 1 kasus, dan dua kasus di Puskesmas Warureja.
Filariasis dapat dicegah dan diobati dengan melaksanakan Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) filariasis selama lima tahun berturut-turut sehingga diperlukan komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan biaya operasional POMP selama minimal lima tahun berturut- turut yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Sedangkan tanggung jawab pemerintah pusat yaitu menyediakan obat.
i. Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina, dapat menyerang semua orang baik laki-laki ataupun perempuan pada semua golongan umur dari bayi, anak-anak dan orang dewasa.
Tidak ada kasus klinis malaria di Kabupaten Tegal tahun 2016. Jika dibandingkan tahun 2015 kasus malaria impor ini menurun (2 kasus). Angka kesakitan malaria tahun 2016 sebesar 0 per 1.000 penduduk berisiko, dengan demikian sudah melampaui target Indonesia Sehat 2010 sebesar 5 per 1.000 penduduk.
Bentuk pelayanan yang diberikan terhadap penderita malaria adalah pemeriksaan darah dan pengobatan. Pemeriksaan darah dilakukan terhadap penderita klinis, sedangkan pengobatan dilakukan terhadap penderita klinis maupun yang positif malaria. Pemeriksaan darah dilakukan untuk menegakkan
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
107
diagnosa. Seorang penderita klinis baru dinyatakan positif malaria apabila sediaan darah yang diperiksa terdapat plasmodium. Selain dilakukan pemeriksaan darah, semua penderita klinis memperoleh pengobatan klinis, sedangkan penderita positif diberikan pengobatan radikal. Sehingga cakupan pengobatan malaria di Kabupaten Tegal selalu mencapai 100% dan mencapai target SPM 2010.