• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESEHATAN KELUARGA

B. Kesehatan Anak

8. Imunisasi

Setiap tahun lebih 1,4 juta anak di dunia meninggal karena berbagai penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah dengan imunisasi. Beberapa penyakitmenular yang termasuk ke dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) antara lain:

Difteri, Tetanus, Hepatitis B, radang selaput otak, radang paru-paru,pertusis, dan polio.

Anak yang telah diberi imunisasi akan terlindungi dariberbagai penyakit berbahaya tersebut, yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian.

Proses perjalanan penyakit diawali ketika virus/ bakteri/ protozoa/ jamur, masuk ke dalam tubuh. Setiap makhluk hidup yang masuk ke dalam tubuh manusia akan dianggap benda asing oleh tubuh atau yang disebut dengan antigen. Secara alamiah sistem kekebalan tubuh akan membentuk zat anti yang disebut antibodiuntuk melumpuhkan antigen. Pada saat pertama kali antibodi “berinteraksi” denganantigen, respon yang diberikan tidak terlalu kuat. Hal ini disebabkan antibodi belum

“mengenali” antigen. Pada interaksi antibodi-antigen yang ke-2 dan seterusnya, sistem kekebalan tubuh sudah memiliki “memori” untuk mengenali antigen yangmasuk ke dalam tubuh, sehingga antibodi yang terbentuk lebih banyak dan dalamwaktu yang lebih cepat.

Proses pembentukan antibodi untuk melawan antigen secara alamiah disebut imunisasi alamiah. Sedangkan program imunisasi melalui pemberian vaksin adalah upaya stimulasi terhadap sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkanantibodi dalam upaya melawan penyakit dengan melumpuhkan “antigen” yang telah dilemahkan yang berasal dari vaksin. Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

83

kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya sakit ringan.

Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasiyang dianggap rentan terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita usia subur, dan ibu hamil.

a. Imunisasi Dasar pada Bayi

Imunisasi melindungi anak terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Seorang anak diimunisasi dengan vaksin yang disuntikkan atau diteteskan melalui mulut. Pada beberapa negara hepatitis masih menjadi masalah.

Sepuluh dari 100 orang akan menderita hepatitis sepanjang hidupnya jika tidak diberi vaksin hepatitis B. Sampai dengan seperempat dari jumlah anak yang menderita hepatitis B dapat berkembang menjadi kondisipenyakit hati yang serius, seperti kanker hati. Disamping itu wajib diberikan imunisasi hepatitis B segera setelah bayi lahir untuk mencegah penularan virus hepatitis dari ibu kepada anaknya.

Imunisasi BCG dapat melindungi anak dari penyakit tuberculosis.Imunisasi DPT dapat mencegah penyakit diptheri, pertusis dan tetanus. Diptheri menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kesulitan bernafas bahkan kematian. Tetanus menyebabkan kekakuan otot dan kekejangan otot yang menyakitkan dan dapat mengakibatkan kematian. Pertusis atau batuk rejan mempengaruhi saluran pernafasan dana dapat menyebabkan batuk hingga delapan minggu.

Semua anak perlu mendapatkan imunisasi polio. Tanda-tanda polio adalah tungkai tiba tiba lumpuh dan sulit untuk bergerak. Dari 200 anak yangterinfeksi polio, maka satu orang akan menjadi cacat sepanjang hidupnya.

Sebagai salah satu kelompok yang menjadi sasaran program imunisasi,setiap bayi wajib mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap (LIL) yang terdiridari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 3 dosis hepatitis B, dan 1 dosis campak. Dari kelima imunisasi dasar lengkap yang diwajibkan tersebut, campak merupakan imunisasi yang mendapat perhatian lebih yang dibuktikan dengan komitmen Indonesia pada lingkup ASEAN dan SEARO untuk mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%.

Hal ini terkait dengan realita bahwa campak adalah salah satu penyebab utama kematian pada balita. Dengan demikian pencegahan campak memiliki peran signifikan dalam penurunan angka kematian balita.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

84

Kabupaten Tegal memiliki cakupan imunisasi campak pada tahun 2016 sebesar 102,5%, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2015 (99,3%). Capaian tersebut telah memenuhi target 95% yang menjadi komitmen target pada rencana strategis Dinas Kesehatan. Pada tingkat Puskesmas, terdapat 26 puskesmas yang telah berhasil mencapai target 95% seperti yang disajikan pada gambar 6.19 berikut.

GAMBAR 6.19

CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016

Pada gambar 6.19 di atas dapat diketahui bahwa Puskesmas Balapulang memiliki capaian tertinggi sebesar 112% diikuti oleh Bumijawa sebesar 111,7% dan Bangun Galih sebesar 109,2%. Sedangkan Puskesmas dengan cakupan terendah adalah Puskesmas Jatinegara sebesar 92,8%.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

85

Program imunisasi pada bayi mengharapkan agar setiap bayi mendapatkan kelima jenis imunisasi dasar lengkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan 5 jenis imunisasi dasar tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap.

Capaian indikator ini di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 101%. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015, yaitu sebesar 95,3%.

Capaian tahun 2016 juga sudah memenuhi target Renstra pada tahun 2016 yang sebesar 100%.

GAMBAR 6.20

CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

86

Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa puskesmas yang melampaui target capaian imunisasi dasar lengkap pada bayi tahun 2016 sebanyak 16 Puskesmas.

Puskesmas dengan capaian tertinggi adalah puskesmas Balapulang (112%) dan puskesmas dengan capaian terendah adalah Puskesmas Warureja sebesar 89,8%. Data dan informasi terkait imunisasi dasar pada bayi yang dirinci menurut puskesmas tahun 2016 terdapat pada lampiran table 43.

b. Universal Child Immunization (UCI)

Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi adalah Universal Child Immunization atau yang biasa disingkat UCI. UCI adalah gambaran suatu desa/kelurahan dimana ≥ 80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Target UCI pada Renstra Dinas Kesehatan tahun 2016 adalah sebesar 100%. Pada tahun 2016 semua puskesmas yang telah mencapai persentase desa UCI sebesar 100% atau 287 desa/kelurahan telah mencapai presentase UCI.

Imunisasi dasar pada bayi seharusnya diberikan pada anak sesuai dengan umurnya. Pada kondisi ini, diharapkan sistem kekebalan tubuh dapat bekerja secara optimal. Namun demikian, pada kondisi tertentu beberapa bayi tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Kelompok inilah yang disebut dengan drop out (DO) imunisasi. Bayi yang mendapatkan imunisasi DPT/HB1 pada awal pemberian imunisasi, namun tidak mendapatkan imunisasi campak, disebut Drop Out RateDPT/HB1- Campak. Indikator ini diperoleh dengan menghitung selisih penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi DPT/HB1.

9. Pelayanan Kesehatan Anak Balita

Kehidupan anak, usia dibawah lima tahun merupakan bagian yang sangat penting. Usia tersebut merupakan landasan yang membentuk masa depan kesehatan, kebahagiaan, pertumbuhan, perkembangan, dan hasil pembelajaran anak di sekolah, keluarga, masyarakat dan kehidupan secara umum.

Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Untuk itu dipakai indikator-indikator yang bias menjadi ukuran keberhasilan upaya peningkatan kesehatan bayi dan balita, salah satudiantaranya adalah pelayanan kesehatan anak balita. Adapun batasan anak balita adalah setiap anak yang berada pada kisaran umur 12 sampai dengan 59 bulan.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

87

Pelayanan kesehatan pada anak balita dilakukan oleh tenaga kesehatan danmemperoleh :

a. Pelayanan Pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun (Penimbangan berat

badan dan pengukuran tinggi badan minimal 8 kali dalam setahun).

b. Pemberian vitamin A dua kali dalam setahun yakni setiap bulan Februari dan Agustus

c. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang balita minimal 2 kali dalam setahun.

d. Pelayanan Anak Balita Sakit sesuai standar menggunakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

Capaian Indikator pelayanan kesehatan anak balita pada tahun 2016 sebesar 94,5%, yang berarti belum memenuhi target Renstra pada tahun 2016 yang sebesar 86%. Capaian indikator ini meningkat dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 75,5%.

Sebanyak 18 puskesmas telah mencapai target seperti yang terlihat pada gambar 6.21 berikut. Data dan informasi menurut puskesmas terkait upaya pelayanan kesehatan anak balita disajikan pada lampiran table 46.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

88

GAMBAR 6.21

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Kesehatan Anak dan Remaja Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016 10. Pelayanan Kesehatan pada Siswa SD dan setingkat

Mulai masuk sekolah merupakan hal penting bagi tahap perkembangan anak.

Banyak masalah kesehatan terjadi pada anak usia sekolah, seperti misalnya pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar, mencuci tangan menggunakan sabun, karies gigi, kecacingan, kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi. Pelayanan kesehatan pada anak termasuk pula intervensi pada anak usia sekolah.

Anak usia sekolah merupakan sasaran yang strategis untuk pelaksanaan program kesehatan, karena selain jumlahnya yang besar, mereka juga merupakan

49,1

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

89

sasaran yang mudah dijangkau karena terorganisir dengan baik. Sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini diutamakan untuk siswa SD/ sederajat kelas 1. Pemeriksaan kesehatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama tenaga lainnya yang terlatih (guru UKS/UKSG dan dokter kecil). Tenaga kesehatan disini adalah tenaga medis, tenaga keperawatan atau petugas puskesmas lainnya yang telah dilatih sebagai tenaga pelaksana UKS/ UKGS. Guru UKS/UKGS adalah guru kelas atau guru yang ditunjuk sebagai pembina UKS/UKGS di sekolah dan telah dilatih tentang UKS/UKGS. Dokter kecil adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya berasal dari murid kelas 4dan 5 SD dan setingkat yang telah mendapatkan pelatihan dokter kecil.

Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran tentang kebersihan dan kesehatan gigi bisa dilaksanakan sedini mungkin. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada khususnya dan kesehatan tubuh serta lingkungan pada umumnya.

Upaya kesehatan pada kelompok ini yang dilakukan melalui penjaringan kesehatan terhadap murid SD/MI kelas 1 juga menjadi salah satu indikator yang dievaluasi keberhasilannya melalui Renstra Kementerian Kesehatan. Kegiatan penjaringan kesehatan selain untuk mengetahui secara dini masalah-masalah kesehatan anak sekolah sehingga dapat dilakukan tindakan secepatnya untuk mencegah keadaan yang lebih buruk, juga untuk memperoleh data atau informasi dalam menilai perkembangan kesehatan anak sekolah, maupun untuk dijadikanpertimbangan dalam menyusun perencanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatanUsaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Kegiatan penjaringan kesehatan ini terdiri dari :

a. Pemeriksaan kebersihan perorangan (rambut, kulit dan kuku) b. Pemeriksaan status gizi melalui pengukuran antropometri c. Pemeriksaan ketajaman indera (penglihatan dan pendengaran) d. Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut

e. Pemeriksaan laboratorium untuk anemia dan kecacingan

f. Pengukuran kebugaran jasmani dan deteksi dini masalah mental emosional.

Penjaringan kesehatan dinilai dengan menghitung persentase SD/MI yangmelakukan penjaringan kesehatan terhadap seluruh SD/MI yang menjadi sasaran penjaringan. Cakupan SD atau sederajat yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk siswa kelas 1 pada tahun 2016 di Kabupaten Tegal yang sebesar 96,08%

mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2015 dengan cakupan sebesar 96,3%. Capaian tersebut belum memenuhi target Renstra 2016 yang sebesar 100%.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

90

Berdasarkan gambar 6.22 diketahui bahwa ada 10 puskesmas sudah memenuhi target 100% dan 19 puskesmas yang belum mencapai target 100%. Puskesmas yang memenuhi target antara lain Puskesmas Talang, Kupu, Dukuhturi, Penusupan, Kedungbanteng, Jatinegara, Lebaksiu, Danasari, Kesambi, dan Margasari.

Masih adanya puskesmas yang belum memenuhi target Renstra Dinas Kesehatan dapat disebabkan oleh beberapa masalah. Masalah utama yang sering ditemukan di daerah adalah kurangnya tenaga di Puskesmas sedangkan jumlah SD/MI cukup banyak, sehingga untuk melaksanakan penjaringan kesehatan membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu juga manajemen pelaporan belum terintegrasi dengan baik.

Walaupun kegiatan penjaringan kesehatan telah dilaksanakan di Puskesmas namun pengelola program UKS di Puskesmas berada pada struktur organisasi yang berbeda sehingga menjadi penyebab koordinasi pencatatan dan pelaporan tidak berjalan dengan baik.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

91

GAMBAR 6.22

CAKUPAN PENJARINGAN SISWA SD/MI SETINGKATMENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kab. Tegal, 2016

C. GIZI KELURAGA

Setiap tahun lebih dari sepertiga kematian anak di dunia berkaitan dengan masalah kurang gizi, yang dapat melemahkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Ibu yang mengalami kekurangan gizi pada saat hamil, atau anaknya mengalami kekurangan gizi pada usia 2 tahun pertama, pertumbuhan serta perkembangan fisik dan mentalnya akan lambat.

Salah satu indikator kesehatan yang dinilai pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi anak balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB)

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

92

indikator antropometri, yaitu: berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/U memberikan indikasi masalah gizi secara umum.

Indikator ini tidak memberikan indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya kronisataupun akut karena berat badan berkorelasi positif dengan umur dan tinggi badan. Dengan kata lain, berat badan yang rendah dapat disebabkan karena pendek (masalah gizi kronis) atau sedang menderita diare atau penyakit infeksi lain (masalah gizi akut).

Menurut Laporan Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, pada tahun 2016, terdapat 2,4% balita kekurangan gizi yang terdiri dari 2,26% balita berstatus gizi kurang dan 0,16% berstatus gizi buruk. Capaian gizi buruk mendapat perawatan sebesar 100%.

Indikator gizi yang lain yaitu tinggi badan menurut umur (TB/U) memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaanyang berlangsung lama. Misalnya: kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, dan pola asuh/pemberian makan yang kurang baik dari sejak anak dilahirkan yang mengakibatkan anak menjadi pendek. Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristi wayang terjadi dalam waktu yang tidak lama (singkat). Misalnya: terjadi wabah penyakit dan kekurangan makan (kelaparan) yang mengakibatkan anak menjadi kurus.

Indikator BB/TB dan IMT/U dapat digunakan untuk identifikasi kurus dangemuk. Masalah kurus dan gemuk pada umur dini dapat berakibat pada risiko berbagai penyakit degenerative pada saat dewasa.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

93

PENGENDALIAN PENYAKIT DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Bab 7 berisi pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan.

Data mengenaipengendalian penyakit terdiri atas penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular meliputi penyakit menular langsung dan penyakit yang ditularkan melalui binatang. Situasi penyakit, baik kesakitan maupun kematian, merupakan indikator dalam menilai derajat kesehatan suatu masyarakat.

A. PENGENDALIAN PENYAKIT

Selain membahas pengendalian penyakit yang menjadi prioritas pembangunankesehatan nasional, pada subbab ini juga dibahas pengendalian penyakit di daerah tropis yangsalah satunya disebabkan oleh nyamuk, juga neglected disease seperti filariasis.

1. Penyakit Menular a. Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteriMycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksibasil tuberkulosis.

Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur dengan case notification rate (CNR) dan prevalensi (didefinisikan sebagai jumlah kasus tuberkulosis pada suatu titik waktutertentu) dan mortalitas/kematian (didefinisikan sebagai jumlah kematian akibat tuberkulosis dalam jangka waktu tertentu).

1) Kasus Baru BTA Positif

Pada tahun 2016 ditemukan jumlah kasus baru BTA positif (BTA+) sebanyak 769 kasus, lebih sedikit dibanding kasus baru BTA+ yang ditemukan tahun 2015 (944 kasus). Jumlah tersebut termasuk jumlah kasus yang ditemukan di rumah sakit sebanyak 154 kasus. Jumlah kasus tertinggi yaitu Puskesmas Adiwerna, Kalibakung, dan Bumijawa. Sedangkan jumlah total kasus TB BTA (+) dapat dilihat pada gambar 7.1.

Bab VII

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

94

GAMBAR 7.1

JUMLAH KASUS TB BTA (+) MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016

Perkiraan jumlah penderita baru TB Paru BTA (+) di Kabupaten Tegal sebanyak 1.529 penderita. Jumlah penderita TB Paru baru BTA (+) yang ditemukan pada tahun 2016 sebanyak 769 orang maka didapatkan angka cakupan penemuan penderita TB Paru baru (+) atau Case Detection Rate (CDR) sebesar 50,28%.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

95

GAMBAR 7.2

CASE DETECTION RATE (CDR)MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016

Angka penemuan TB Paru (CDR) merupakan salah satu indikator keberhasilan program TB Paru di Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Semakin rendah angka penemuan ini berarti semakin banyak kasus TB Paru yang belum terdeteksi dan belum terobati sehingga dapat menjadi sumber penularan bagi lingkungan sekitar para penderita tersebut. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan upaya penemuan kasus secara aktif oleh petugas kesehatan. Selain itu pengembangan PPM (public private mix) dalam penanggulangan TB dengan melibatkan, dokter praktek swasta, LSM, dan masyarakat.

9,1

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

96

2) Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate)

Salah satu upaya untuk mengendalikan TB yaitu dengan pengobatan.

Indikator yang digunakan sebagai evaluasi pengobatan yaitu angka keberhasilan pengobatan (success rate). Angka keberhasilan pengobatan ini dibentuk dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

Evaluasi pengobatan pada penderita TB pau BTA (+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif.

Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif. Target 2016untuk angka keberhasilan pengobatan (sukses rate) adalah 90%. Berikut ini digambarkan angka kesembuhan dan keberhasilan pengobatan TB Paru tahun 2011-2016.

GAMBAR 7.3

ANGKA KESEMBUHAN DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012 - 2016

Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016

Pada Gambar 7.3 terlihat perkembangan angka keberhasilan pengobatan tahun 2012 - 2016. Pada tahun 2016 angka keberhasilan pengobatan sebesar 89,8%. WHO menetapkan standar angka keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Dengan demikian pada tahun 2016, Kabupaten Tegal telah mencapai standar tersebut. Sementara Dinas Kesehatan menetapkan

2012 2013 2014 2015 2016

Cure Rate 85,5 89,8 88,45 87,14 81,7

Success Rate 89,8 91,6 94,7 91,1 89,8

75 80 85 90 95 100

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

97

target Renstra minimal 90% untuk angka keberhasilan pengobatan pada tahun 2016. Berdasarkan hal tersebut, capaian angka keberhasilan pengobatan tahun 2016 belum memenuhi target Renstra.

Angka kesembuhan tahun 2016 di Kabupaten Tegal sebesar 81,7%, menurun dibandingkan tahun 2015 yaitu sebesar 87,14%.

b. HIV & AIDS

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.

Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counseling, and Testing (VCT), sero survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP).

Perkembangan HIV positif sampai tahun 2016 disajikan pada Gambar 7.4 berikut ini.

GAMBAR 7.4

JUMLAH KASUS BARU HIV POSITIVE DAN AIDS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012 - 2016

Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016

Kasus HIV dan AIDS dalam lima tahun terakhir (2012-2016) cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan kualitas penemuan kasus HIV/AIDS meningkat. Kasus terbanyak pada kelompok risiko tinggi yaitu WPS dan

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

98

pasangan risiko tinggi, dengan usia antara 35-45 tahun.

c. Pneumonia

Pneumonia adalah penyakit yang disebabkan kuman pneumococcus, staphylococcus, streptococcus, dan virus. Gejala penyakit pneumonia yaitu menggigil, demam, sakit kepala, batuk, mengeluarkan dahak, dan sesak napas.

Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun dan orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan meningkatkan penemuan pneumonia pada balita. Perkiraan kasus pneumonia pada balita di suatu wilayah sebesar 10% dari jumlah balita di wilayah tersebut. Berikut ini gambaran penemuan peneumonia pada balita tahun 2011-2016.

GAMBAR 7.5

CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PNEUMONIA PADA BALITA DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2012-2016

Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016

Dari tahun 2012 Sampai dengan tahun 2016, angka cakupan penemuan dan penanganan pneumonia pada balita mengalami fluktuasi.

Cakupan penemuan dan penanganan pneumonia pada balita tahun 2016 belum mencapai target renstra Dinas Kesehatan sebesar 62%.

72,49

58,25

77,3

72,8

59,5

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

2012 2013 2014 2015 2016

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

99

d. Kusta

Penyakit Kusta disebut juga sebagai penyakit Lepra atau penyakit Hansen disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini mengalami proses pembelahan cukup lama antara 2–3 minggu. Daya tahan hidup kuman kusta mencapai 9 hari di luar tubuh manusia. Kuman kusta memiliki masa inkubasi 2–5 tahun bahkan juga dapat memakan waktu lebih dari 5 tahun.

Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata.

Angka penemuan kasus baru kusta pada tahun 2016 sebesar 1,33 per 10.000 penduduk atau 13,36 per 100.000 penduduk. Capaian tersebut belum memenuhi target renstra tahun 2016 sebesar 1,54 per 10.000 penduduk. Angka prevalensi kusta tahun 2016 adalah sebesar 1,37 per 10.000 penduduk.

GAMBAR 7.6

ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA (NCDR) DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2011-2016

Sumber: Seksi Pemberantasan Dinas Kesehatan Kab. Tegal 2016

Berdasarkan bebannya, kusta dibagi menjadi 2 kelompok yaitu beban kusta tinggi (high burden) dan beban kusta rendah (low burden). Provinsi disebut high burden jika NCDR (new case detection rate: angka penemuan kasus baru)> 10 per 100.000 penduduk dan atau jumlah kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low burden jika NCDR < 10 per 100.000 penduduk dan atau jumlah kasus baru kurang dari 1.000 kasus.

1,47

1,56 1,51

1,69

1,33 1,4

1,5 1,5

1,77 1,37

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2

2012 2013 2014 2015 2016

NCDR Prev kusta

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

100

Kabupaten Tegal merupakan salah satu dari 9 kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah yang mempunyai kasus kusta tinggi (high endemic),

Kabupaten Tegal merupakan salah satu dari 9 kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah yang mempunyai kasus kusta tinggi (high endemic),