IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.4 Batasan dan Konsep Penelitian
1. Perdagangan internasional terdiri dari kegiatan ekspor dan impor. Ekspor adalah berbagai macam barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri namun dijual di luar negeri. Salah satu komoditas perdagangan adalah komoditas perikanan. Udang merupakan komoditas unggulan ekspor perikanan Indonesia. Variabel yang digunakan adalah dalam volume atau nilai.
2. Salah satu pasar produktif bagi ekspor komoditas udang Indonesia adalah pasar Uni Eropa. Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa terus berkembang. Data perdagangan yang digunakan untuk analisis pasar Uni Eropa yaitu 12 negara (1992-1994), 15 negara (1995-2004), dan 25 negara (2004-2006).
3. Hambatan perdagangan yang dikeluarkan Uni Eropa berupa hambatan tarif dan non tarif yang saat ini banyak diperbincangkan juga dalam perdagangan global.
4. Hambatan tarif yang seringkali mempengaruhi perkembangan ekspor yaitu bea masuk dan diskriminasi tarif.
5. Hambatan non tarif dalam hal standar mutu dan keamanan pangan.
6. Analisis deskriptif berupa penjelasan atas tampilan tabulasi atau grafik untuk memaparkan kebijakan hambatan perdagangan Uni Eropa dan kebijakan perdagangan Indonesia.
7. Analisis regresi berganda menggunakan variabel dummy untuk mengukur pengaruh hambatan perdagangan terhadap ekspor udang Indonesia.
8. Peramalan digunakan untuk menduga volume atau nilai ekspor udang
Indonesia ke Uni Eropa lima tahun mendatang. Metode yang digunakan yaitu metode trend, metode rata-rata bergerak ganda, dan metode pemulusan eksponensial linier Holt.
9. Penelitian ini dibatasi pada pendeskripsian kebijakan Uni Eropa yang menjadi hambatan perdagangan bagi Indonesia serta pengaruhnya terhadap ekspor Indonesia. Selain itu dideskripsikan pula kebijakan perdagangan Indonesia yang terkait dengan ekspor perikanan dalam penyesuaian terhadap permintaan pasar. Pendugaan volume atau nilai ekspor udang Indonesia ke Uni Eropa beberapa tahun mendatang juga ditampilkan.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum Pasar Uni Eropa
Uni Eropa (UE-27) merupakan blok sukarela dan damai terbesar di dunia, dengan jumlah 492 juta warga negara yang terdapat di dalamnya. Awal
terbentuknya UE dirintis oleh enam negara hingga tahun 2007 terus berkembang menjadi 27 negara. Dalam perdagangan internasional, UE memainkan peranan yang sangat penting dikarenakan posisinya yaitu urutan pertama sebagai importir dan urutan kedua sebagai eksportir pada tahun 2006 (Directorate General Trade of European Union, 2007). Peningkatan ekspor dan impor yang terjadi pada Uni Eropa tentunya berjalan beriringan dengan peningkatan jumlah negara anggota Uni Eropa dari UE-6, UE-12, UE-15, UE-25 hingga UE-27 pada tahun 2007.
Selain itu, peran Uni Eropa sebagai penggerak ataupun pencetus perjanjian-perjanjian (agreement) World Trade Organization (WTO) menjadikannya pasar yang kuat. Adanya harmonisasi peraturan perdagangan internasional diantara negara-negara anggota Uni Eropa menjadikan Uni Eropa sebagai pasar tunggal yang sangat potensial untuk dimasuki jika negara eksportir mampu memenuhi persyaratan impor yang dilakukan ataupun menjadikan Uni Eropa sebagai pasar yang sangat sulit dimasuki karena kemampuan negara eksportir yang masih lemah.
5.1.1 Pasar Merchandise Uni Eropa
Uni Eropa merupakan pasar potensial dalam perdagangan internasional baik itu sebagai eksportir maupun importir. Pangsa ekspornya di dunia sebesar 16,2% dengan nilai € 1.661,1 miliar dan sebesar 18% untuk pangsa impor dengan nilai € 1350,5 miliar pada tahun 2006 (Directorate General Trade of European Union, 2007). Perkembangan ekspor dan impor UE untuk merchandise selama 15 tahun dapat dilihat pada Tabel 4. Ekspor UE meningkat dari US$ 1.584 miliar pada tahun 1992 menjadi US$ 4.543 miliar pada tahun 2006. Impor UE jauh lebih drastis peningkatannya yaitu sebesar US$ 1.654 miliar pada tahun 1992 menjadi US$ 4.759 miliar pada tahun 2006. Peningkatan ekspor paling besar terjadi pada
tahun 1995 sebesar 22,35% dibanding tahun sebelumnya dan peningkatan impor yang terjadi pada periode yang sama sebesar 21,31%. Apabila dilihat dari neraca perdagangannya tampak bahwa posisi UE selama kurun waktu lima tahun ini lebih berpotensi sebagai importir. Selisih ekspor-impornya terus bertambah dari US$ 28, 29 miliar pada tahun 2002 hingga mencapai angka US$ 215,69 miliar pada tahun 2006.
Tabel 4. Total Nilai Ekspor-Impor Merchandise Uni Eropa dengan Dunia Tahun 1992-2006
Tahun Ekspor (juta US$)
Keterangan : * nilai US$ yang berlaku pada saat itu (current price)
0
1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun
Nilai (juta US$)
Ekspor Total EU ke Dunia Im por Total EU dari Dunia
Gambar 8. Total Nilai Ekspor-Impor Merchandise Uni Eropa dengan Dunia Tahun 1992-2006
Nilai ekspor dan impor UE yang diperlihatkan pada Gambar 8 mulai mengalami peningkatan yang cukup drastis pada tahun 2003 dibanding tahun sebelumnya dengan melihat selisih volume impor atau impor. Hal ini diduga terkait dengan dikeluarkannya mata uang tunggal Uni Eropa yaitu Euro pada tanggal 1 Januari 2002. Dalam pasar valuta asing (valas), Euro mempunyai posisi bersaing dengan Yen dan Dolar AS. Dampak dengan dikeluarkannya Euro, pertumbuhan ekonomi Uni Eropa diasumsikan menjadi lebih stabil dikarenakan transaksi perdagangan berjalan dengan lebih baik.
Negara-negara yang menjadi partner utama perdagangan Uni Eropa (ekspor dan impor) selama kurun waktu 2002 hingga 2006 dapat dilihat pada Tabel 5, yaitu Amerika Serikat, Cina, Rusia, Switzerland, dan Jepang.
Tabel 5. Urutan Peringkat Negara Partner Perdagangan Uni Eropa Tahun 2002-2006
Negara Partner
Perdagangan 2002 2003 2004 2005 2006
USA 1 1 1 1 1
China 3 2 2 2 2
Russia 5 5 4 3 3
Switzerland 2 3 3 4 4
Japan 4 4 5 5 5
Sumber: Directorate General Trade of European Union, 2008.
Pangsa nilai produk ekspor UE-25 menurut penggolongan SITC pada tahun 2006 yaitu mesin dan alat transportasi (44,1%), bahan kimia dan sejenisnya (16%), barang-barang pabrik (14,5%), bahan mineral, pelumas, dan bahan-bahan material (4,2%), pangan dan hewan hidup (3,4%). Sedangkan besarnya pangsa yang menjadi produk impor UE-25 yaitu mesin dan alat transportasi (29,8%), bahan mineral, pelumas, dan bahan-bahan material (24,7%), Bahan kimia dan sejenisnya (8%), pangan dan hewan hidup (4,5%).
Penggolongan produk menurut SITC hasil revisi terbagi atas: (1) Produk primer yaitu produk agrikultur dan energi dan (2) Produk manufaktur yaitu mesin, alat transportasi, bahan kimia, serta tekstil dan pakaian. Kategori produk yang menjadi komoditi ekspor utama yaitu dari produk manufaktur dengan pangsa terbesar yaitu mesin (28,9%) dari total ekspor UE dan komoditi impor utama dari
produk primer yaitu produk agrikultur dengan pangsa terbesar 24,7% dari total impor UE. Uni Eropa merupakan importir terbesar untuk produk agrikultur yang berasal dari negara-negara berkembang. Oleh sebab itu, untuk melakukan ekspansi pasar maka Uni Eropa menjadi penggerak utama terlaksananya Doha Development Agenda (DDA) yang dikeluarkan WTO pada Bulan November 2002. Produk-produk agrikultur yang dimaksud berupa: pangan dan hewan hidup termasuk ikan; minuman dan tembakau; kulit; bahan mentah; bibit minyak dan minyak tumbuhan; karet alami; gabus dan kayu; sutera; kapas; ramidan serabut kulit pohon untuk tekstil; serabut tanaman untuk tekstil; wool; serta lemak minyak tumbuhan dan hewan mentah. Kontribusi impor ikan, krustasea, dan moluska dalam impor produk agrikultur oleh UE-25 dari tahun 2002 hingga 2006 secara berurutan sebesar 21,37%, 21,60%, 20,70%, 21,85%, dan 23,36%.
Dalam perdagangan bilateral dengan Indonesia, ekspor Uni Eropa ke Indonesia mencapai peringkat 34 dan peringkat 32 untuk impornya pada tahun 2006. Pangsa ekspor dan impor Uni Eropa dengan Indonesia dapat dilihat pada Gambar 9 dan 10.
Produk Agrikultur Energi Mesin Alat Transportasi Bahan Kimia Tekstil dan Pakaian
Sumber : Eurostat, 2008.
Gambar 9. Pangsa Produk Ekspor Uni Eropa ke Indonesia Tahun 2002-2006.
Dominasi impor Indonesia berupa mesin-mesin dikarenakan tingkat teknologi negara-negara anggota UE sudah lebih maju dalam menciptakan inovasi teknologi. Sedangkan Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah merupakan pasar yang tepat bagi Uni Eropa mendapatkan kebutuhan akan
produk-produk agrikultur. Sesuai dengan teori perdagangan internasional bahwa
masing-masing negara akan melakukan spesialisasi yang disesuaikan dengan kondisi negara dan kebutuhannya hingga akhirnya terjadi transaksi perdagangan.
0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00
%
2002 2004 2006
Tahun
Produk Agrikultur Energi Mesin Alat Transportasi Bahan Kimia Tekstil dan Pakaian
Sumber: Eurostat, 2008
Gambar 10. Pangsa Produk Impor Uni Eropa dari Indonesia Tahun 2002-2006.
5.1.2. Pasar Komoditas Perikanan Uni Eropa
Pangsa nilai ekspor perikanan Uni Eropa sebesar 0.048% dari total ekspor UE dan memiliki pangsa nilai impor sebesar 0,79% terhadap total impor pada tahun 2006. Dilihat dari sisi volume, ekpor perikanan Uni Eropa meningkat dari 3.928.961 ton pada tahun 1992 menjadi 6.944.184 ton pada tahun 2006 dan impornya sebesar 6.190.289 ton pada tahun 1992 juga meningkat hingga
10.394.573 ton pada tahun 2006 . Jadi, Uni Eropa memiliki kecenderungan lebih banyak mengimpor produk perikanan, sesuai dengan yang telah disebutkan sebelumnya bahwa komoditas impor utama yaitu produk pertanian yang didalamnya termasuk komoditas perikanan. Bahkan, UE merupakan importir terbesar produk ikan, pangan laut, dan budidaya di dunia. Peraturan impor untuk produk perikanan diharmonisasikan yang artinya peraturan yang sama berlaku di semua negara-negara Uni Eropa (DG Sanco, 2007). Pada Tabel 6 ditampilkan perkembangan volume ekspor-impor perikanan UE dengan dunia. Adapun yang menjadi produk perikanan yang paling banyak diimpor menurut kode HS 03 dan 16 berupa daging/fillet ikan beku sebesar US$14 miliar, krustasea (udang, lobster, dan kepiting) sebesar US$ 4 milyar, dan udang yang siap disajikan sebesar US$
600 juta pada tahun 2005 dengan total impor produk perikanan keseluruhan pada saat itu lebih besar dari US$17 miliar (Direktorat Pemasaran Luar Negeri, 2007).
Tabel 6. Total Volume Ekspor-Impor Perikanan Uni Eropa dengan Dunia Tahun
Sumber: FAO, Fishstat (diolah), 1992-2006.
0
1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun
Volume (ton)
Ekspor Perikanan UE ke Dunia Impor Perikanan UE dari Dunia
Gambar 11. Total Volume Ekspor-Impor Perikanan Uni Eropa dengan Dunia Tahun 1992-2006.
Apabila diperhatikan pada Gambar 11 terlihat bahwa kecenderungan ekspor maupun impor perikanan Uni Eropa meningkat. Peningkatan ekspor yang cukup besar terjadi pada tahun 2003 dan impor pada tahun 1993 dibanding dengan tahun sebelumnya.
5.1.3 Pasar Komoditas Udang Uni Eropa
Komoditas udang merupakan salah satu komoditas perikanan yang diminati di Uni Eropa. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 dapat dihitung pangsa impor komoditas udang terhadap impor komoditas perikanan sebesar 6,26 % pada tahun 1992 dan meningkat hingga 8,053 % pada tahun 2006 berdasarkan volumenya.
Volume ekspor udang Uni Eropa pada tahun 1992 sebesar 146.074 ton menjadi 396.278 ton pada tahun 2006. Peningkatan yang lebih besar terjadi pada volume impornya yaitu pada tahun 1992 sebesar 387.552 ton menjadi 837.159 ton pada tahun 2006.
Tabel 7. Total Volume Ekspor-Impor Komoditas Udang Uni Eropa dengan Dunia Tahun 1992-2006
Sumber: FAO, Fishtat (diolah), 1992-2006.
Grafik perkembangan volume ekspor impor udang Uni Eropa dapat dilihat pada Gambar 12. Uni Eropa merupakan net importir untuk komoditas udang, hal ini terlihat dari volume impor yang lebih besar dari volume ekspornya. Volume ekspor udang Uni Eropa memiliki kecenderungan meningkat yaitu pada tahun 1992 sebesar 146.074 ton menjadi 396.278 ton. Peningkatan yang lebih besar terjadi pada volume impornya yaitu pada tahun 1992 sebesar 387.552 ton menjadi 837.159 ton pada tahun 2006.
0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000 800.000 900.000
1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Ekspor Udang UE ke Dunia Impor Udang UE dari Dunia
Gambar 12. Total Volume Ekspor-Impor Komoditas Udang Uni Eropa dengan Dunia Tahun 1992-2006.
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa UE merupakan net importer untuk komoditas udang, bahkan termasuk salah satu importir utama udang di dunia.
Negara-negara lain yang juga merupakan importir utama untuk komoditas udang yaitu Amerika Serikat, dan Jepang.
Sumber: Globefish, 2007.
Gambar 13. Negara Importir Utama Udang di Dunia
Gambar 13 memperlihatkan adanya penurunan volume impor udang dari Jepang dan Amerika Serikat (USA) dan peningkatan volume impor udang dari
Uni Eropa (UE). Selama periode Januari-September 2007 impor meningkat dibandingkan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, kenaikannya mencapai hingga 4%. Hal ini terjadi karena eksportir untuk tujuan ekspor USA yaitu Thailand, Indonesia, dan Ekuador mengalami kesulitan untuk mengekspor dengan adanya depresiasi dolar, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan tarif anti-dumping. Kondisi ini menyebabkan ketiga negara tersebut mengalihkan perhatiannya pada pasar Uni Eropa serta adanya faktor ekspansi pasar dari Uni Eropa.
Negara anggota Uni Eropa yang meupakan importir utama udang yaitu Spanyol, Perancis, Inggris, Italia, dan Jerman. Perkembangan volume impor udang selama Tahun 2004 -2007 periode September hingga Januari pada kelima negara tersebut dapat dilihat pada Gambar 14.
Sumber: Globefish, 2007.
Gambar 14. Negara Impotir Udang Utama di Uni Eropa Periode Januari-September 2004 hingga 2007
Spanyol merupakan negara anggota Uni Eropa yang memiliki pangsa pasar paling besar yang mengalami peningkatan volume impor sebesar 6%, begitu pula dengan Perancis, Italia, dan Jerman yang volume impornya meningkat secara
berurutan sebesar 4%, 3%, dan 3%, sedangkan Inggris menurun sebesar 3%
selama periode Januari-Spetember 2004 hingga 2007.
Negara-negara eksportir utama ke Uni Eropa yaitu Thailand dengan tujuan ekspor utama Jerman dan Inggris. Kemudian negara yang semakin kuat posisinya sebagai eksportir udang ke Italia (supplier utama), Perancis, dan Spanyol yaitu Ekuador. Indonesia menemukan peluang pasar di Inggris. China berusaha memperoleh pasar di Spanyol. Argentina merupakan supplier utama di Spanyol dengan komoditi unggulannya Pleoticus muelleri dan juga mengekspor ke pasar Italia. India yang mulai kehilangan posisi di Inggris dikarenakan komoditas unggulannya Black Tiger mulai tersingkir dengan meningkatnya permintaan akan Penaeus vannamei mulai merambah pasar Perancis. Brasil mengambil alih posisi Ekuador sebagai supplier utama di Perancis pada Tahun 2007 periode Januari-September.
Negara pesaing Indonesia untuk ekspor udang ke Inggris yaitu Islandia, India, Denmark, Thailand, Bagladesh, Ekuador, Perancis, Malaysia, Norwegia, dan Kanada selama periode Januari-Juni tahun 2004 hingga 2007. Islandia merupakan eksportir utama udang olahan dan kemasan ke Uni Eropa selama periode tersebut. Pangsa volume ekspor udang Indonesia ke Italy sebesar 2%
bersaing dengan negara eksportir utama lainnya yaitu Ekuador (31%), Argentina (13%), Spanyol (9%), India (8%), China (7%), Malaysia (5%), Denmark (5%), Inggris (4%), Tunisia (3%), Belanda (3%),, Venezuela (2%), dan Vietnam (2%) selama periode Juni 2007 (Globefish, 2007).
5.2. Perkembangan Ekspor Komoditas Udang Indonesia 5.2.1 Perkembangan Ekspor Komoditas Udang secara Umum
Indonesia merupakan salah satu negara eksportir udang utama di dunia.
Gambar 15 menunjukkan Indonesia dalam kategori eksportir utama udang selain Thailand, India, Ekuador, Denmark, dan China pada tahun 2004. Indonesia masih lebih banyak mengekspor udang beku ataupun segar dibandingkan dalam bentuk kemasan.
Sumber : Globefish, 2004.
Gambar 15. Negara Eksportir Utama Udang di Dunia pada Tahun 2004
Nilai ekspor udang beku Indonesia selama periode 1996-2005 meningkat dengan rata-rata sebesar 0,04%/tahun, India sebesar 2,36%/tahun, China
9,77%/tahun, dan Mexico -1,22%/tahun. Sementara itu, Thailand mengalami penurunan sebesar -2,97%/tahun selama periode 1999-2005. Berdasarkan data tersebut, China dan India menjadi pesaing potensial bagi ekspor udang beku Indonesia (shrimp and prawn). Sementara Thailand masih tetap menempati urutan pertama.
Tabel 8. Volume Ekspor Perikanan dan Udang Indonesia Tahun 1992-2006 Tahun Ekspor
Perikanan (ton)
Ekspor Udang (ton)
Harga Rata-Rata Ekspor Udang (US$)
Kontribusi Ekspor Udang (%)
1992 421.367 100.456 7,61 23,84
1993 529.213 98.569 8,89 18,63
1994 545.371 99.523 10,15 18,25
1995 563.065 94.551 10,97 16,79
1996 598.385 100.230 10,16 16,75
1997 574.419 93.044 10,87 16,20
1998 650.291 142.690 7,09 21,94
1999 644.604 109.651 8,11 17,01
2000 519.416 116.187 8,63 22,37
2001 487.116 128.830 7,26 26,45
2002 565.739 124.765 6,71 22,05
2003 857.783 137.636 6,18 16,05
2004 907.970 142.135 6,28 15,65
2005 857.922 153.906 6,16 17,94
2006 926.478 169.329 6,59 18,28
Sumber: DKP, 1992-2006.
Ekspor komoditas udang Indonesia secara rata-rata meningkat dalam hal volume. Namun kontribusinya terhadap ekspor perikanan mengalami penurunan yaitu 23,84% pada tahun 1992 menjadi 18,28% pada tahun 2006, ditunjukkan pada Tabel 8. Perkembangan nilai transaksi udang dunia mengalami peningkatan sebesar 5,65% per tahunnya selama periode 1996-2005, yaitu meningkat dari sebesar US$ 4,4 miliar pada tahun 1996 menjadi US$ 6,8 miliar pada tahun 2005.
Jika dilihat dari segi harga mengalami penurunan dari US$ 7,61 pada tahun 1992 menjadi US$ 6,59 pada tahun 2006.
Pengembangan komoditas unggulan ekspor, salah satunya udang terkait dengan analisis pada komoditas (termasuk didalamnya produk) unggulan ekspor perikanan Indonesia, terdapat beberapa isu yang dapat diidentifikasi diantaranya dalam aspek pasar (BAPPENAS,2006) yaitu: (1) Meningkatnya kesadaran konsumsi ikan sebagai alternatif makanan sehat; (2) Meningkatnya permintaan ekspor produk perikanan dunia; (3) Masih diperlukannya koordinasi kelembagaan yang menangani ekspor produk perikanan Indonesia; (4) Berkembangnya
hambatan tarif dan non tarif bagi produk perikanan dunia; (5) Ketatnya
persyaratan mutu dari negara importir (traceability law, official inspection, zona kekerangan, dan sertifikat kesehatan; (6) Adanya upaya advokasi dari pemerintah pada upaya penyelesaian politik perdagangan dari negara-negara importir yang tidak sehat dan adil; dan (7) informasi pasar pada ekspor ikan hias yang bersifat asimetris bagi eksportir dan breeder.
5.2.2 Perkembangan Ekspor Komoditas Udang ke Uni Eropa
Salah satu pasar potensial ekspor udang Indonesia adalah Uni Eropa. Pada Tabel 9 diperlihatkan kontribusi ekspor udang Indonesia bagi impor udang Uni Eropa. Volume ekspor udang Indonesia ke Uni Eropa sebesar 7.324 ton pada tahun 1992 meningkat menjadi 31.016 ton pada tahun 2006.
Tabel 9. Kontribusi Ekspor Udang Indonesia bagi Impor Uni Eropa Tahun 1992-2006
Tahun Ekspor Udang Indonesia ke UE (ton) Impor Total Udang UE (ton) Kontribusi
1992 7.324 387.552 1,89%
Sumber : BPS (1992-1995), DKP (1992-2006), Fishstat (1992-2006).
Kontribusi ekspor udang Indonesia bagi Uni Eropa, dapat dilihat pada Tabel 9 terus mengalami penurunan pada tahun 1993 yaitu 2,310% hingga tahun 1996 menjadi 1,04% kemudian meningkat lagi pada tahun 1997. Menurut
Mangunsong (2007), peningkatan yang terjadi pada ekspor udang Indonesia pada tahun 1997 disebabkan Indonesia mampu memenuhi standar mutu perdagangan internasional dengan diterapkannya Penerapan Manajemen Mutu Terpadu (PMMT) sedangkan penurunan volume terjadi ketika pasar global semakin meningkatkan standarnya dan belum ada penyesuaian standar oleh Indonesia.
Sedangkan pada tahun 2001 ke tahun 2002, kontribusi ekspor udang Indonesia ke UE mengalami penurunan, hal ini diduga telah berlakunya framework baru mengenai standar mutu dan keamanan pangan dengan standar yang lebih tinggi yaitu EC No 178/2002 dan Indonesia belum mampu memenuhi ketentuan yang berlaku.
Indonesia mempunyai 287 perusahaan yang punya izin ekspor (approval number) ke Uni Eropa hingga tahun 2004. Namun, masih ada juga perusahaan-perusahaan yang memilki approval number mempunyai masalah dalam jaminan mutu dan keamanan pangan komoditas yang akan diekspor (Sumpeno diacu Tempo, 2004).
.
5.3 Kebijakan Perdagangan Tarif Uni Eropa
Bea masuk dan berbagai jenis tarif lainnya dalam perdagangan internasional sangat lazim ditemukan. Tarif bea masuk produk perikanan ke negara-negara Uni Eropa berkisar antara 0% - 21% (Khonifah et al, 2006).
Namun demikian, Uni Eropa sebagai kelompok negara maju juga memberikan skema Generalized System of Preferences (GSP) kepada negara-negara
berkembang guna memperluas akses pasar ke negara-negara Uni Eropa. GSP Uni Eropa memberikan akses masuk dengan memberikan pengurangan tarif bea masuk bagi produk-produk yang diimpor dari negara penerima GSP. GSP termasuk tarif preferensi yaitu tarif General Agreement on Tariff and Trade (GATT) yang persentasinya diturunkan yang diberlakukan oleh negara terhadap komoditi yang diimpor dari negara-negara lain tertentu karena adanya hubungan khusus antara negara pengimpor dengan negara pengekspor.
Masyarakat Uni Eropa pertama kali menerapkan skema GSP pada tahun 1971. Peraturan yang tercantum dalam GSP terus mengalami perkembangan. Pada tahun 2002, dikeluarkan skema GSP, yaitu Council Regulation (EC) 2211/2002.
Pemberlakuan skema tersebut dimulai tanggal 1 Januari 2002 - 31 Desember 2005. Pada tahun 2005, juga dikeluarkan Council Regulation (EC) 980/2005 yang dilaksanakan mulai tanggal 1 Januari 2006 hingga 31 Desember 2008.
Selama periode 1 Januari 2006 - 31 Desember 2008, berdasarkan Regulation (EC) 980/2005, terdapat tiga skema peraturan yang dianggap menguntungkan negara penerima GSP, yaitu :
1. Skema umum (general scheme), yaitu seluruh negara penerima GSP dapat menikmati fasilitas GSP
2. Skema intensif khusus (GSP+) untuk mendukung pembangunan yang
berkelanjutan dan pemerintahan yang bersih, GSP (+) menyediakan keuntungan tambahan terhadap negara yang menerapkan standard internasional terhadap kebebasan manusia (HAM) dan buruh, perlindungan lingkungan, perlawanan terhadap obat-obatan terlarang, dan pemerintahan yang bersih.
3. Skema khusus bagi negara tertinggal (LCDs) yang juga dikenal sebagai Everything But Arms (EBA). EBA memberikan perlakuan yang paling
menguntungkan terhadap semua dengan tujuan membebaskan bea tarif dan bebas kuota untuk akses pasar ke Uni Eropa.
Pada saat ini, skema GSP berlaku terhadap impor dari negara-negara berkembang yang dikenai bea masuk untuk memasuki pasar Uni Eropa dan tidak dalam kondisi bebas bea masuk di bawah persetujuan Most Favoured Nations (MFN). Sesuai dengan standar internasional bahwa setiap produk diberikan kode untuk memudahkan dalam mendeskripsikan suatu produk secara lebih detail yang dikenal dengan HS (Harmonized System) Code. Produk udang dimasukkan dalam kategori kode HS 03.06 (krustasea) dan 16.05 (untuk yang telah diolah).
Berdasarkan catatan tersebut, tarif bea masuk komoditas perikanan, khususnya udang dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Daftar Tarif Bea Masuk Komoditas Udang ke Uni Eropa dari Indonesia* Periode 1992-2006.
Tahun
Tarif Bea Masuk Uni Eropa (%)
Regulasi yang
Sumber : Taxation and Custom Union European Commission, 1992-2006.
Keterangan : * Termasuk dalam daftar negara SPGL.
Kode HS 03.06.13: Beku : udang kecil dan udang biasa Kode HS 03.06.23: Tidak beku : udang kecil dan udang biasa
Kode HS 16.05.20: Udang kecil dan udang biasa, diolah atau diawetkan
5.4 Kebijakan Perdagangan Non Tarif Uni Eropa
Komisi Eropa memiliki kebijakan dalam memenuhi konsumsi produk perikanan atau makanan berbasis pada perlindungan konsumen tingkat tinggi dengan memperhatikan lima komponen kebijakan umum dalam impor makanan
(Direktorat Pemasaran Luar Negeri, 2006). Kelima komponen dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Standar pemasaran dan informasi konsumen b. Organisasi dari eksportir/produsen
c. Interbranch organisasi dan persetujuan d. Harga dan intervensi harga
e. Perdagangan dengan negara ketiga
Regulasi yang berkaitan dengan standar mutu dan keamanan pangan dirangkum dalam Tabel 11..
Tabel 11. Regulasi yang Berkaitan dengan Kebijakan Non Tarif
Tahun
Dikeluarkan Kebijakan Keterangan
1992 Regulation (EC) No 3760/92 tentang Kebijakan Umum Perikanan (Common Fisheries Policy)
Tidak efektif dikarenakan tidak ada kecocokan antara usaha perikanan dengan sumber daya yang tersedia.
2001 EC No 466/2001 tanggal 8 Maret 2001 Tentang Taraf Maksimum bagi Pencemar Tertentu dalam Bahan Pangan
Diantaranya mengatur taraf timbal, kadmium, dan raksa dalam vahan pangan.
2002 EC No 178/2002 tanggal 28 Januari 2002 Tentang Prinsip Umum dan Persyaratan Hukum Pangan, Pembentukan Otoritas Keamanan Pangan Eropa dan Penetapan Prosedur yang Terkait dengan Keamanan Pangan
Kunci pokok regulasi standar mutu dan keamanan pangan Uni Eropa yang berbasis perlindungan konsumen tingkat tinggi, kepedulian terhadap hewan dan juga lingkungan.
2004 EC No 852/2004 Tanggal 29 April 2004 tentang Higien Bahan Pangan
Regulasi ini merupakan ratifikasi SPS dari WTO dan standar keamanan pangan internasional yang termuat dalam Codex
Regulasi ini merupakan ratifikasi SPS dari WTO dan standar keamanan pangan internasional yang termuat dalam Codex