I. PENDAHULUAN
1.5 Ruang Lingkup
Penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis kebijakan yang dinyatakan menjadi hambatan tarif dan non tarif yang dikeluarkan oleh Uni Eropa yaitu kawasan negara-negara yang tergabung dalam UE-25 hingga tahun 2006 berkaitan dengan impor komoditas pangan, termasuk di dalamnya
komoditas udang dan dampaknya terhadap ekspor Indonesia. Kebijakan atau regulasi perdagangan Indonesia juga turut dideskripsikan dalam rangka ekuivalen
kebijakan dengan Uni Eropa. Selanjutnya dilihat pengaruh dari kebijakan-kebijakan tersebut terhadap perkembangan ekspor udang Indonesia serta meramalkan volume ekspor udang Indonesia ke Uni Eropa beberapa tahun mendatang. Jangka waktu data yang digunakan sejak tahun 1992 hingga tahun 2006.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komoditas udang
Komoditas udang secara umum biasa disebut dengan istilah shrimp dalam dunia perdagangan. Spesies udang sendiri di seluruh dunia tercatat tidak kurang dari 2700 buah. Secara geografis udang ini bisa dikelompokkan menjadi 4 golongan, yakni udang tropis, udang china, udang atlantik utara, dan udang laut utara. Jenis yang dihasilkan Indonesia tergolong udang tropis. Udang tropis menguasai pasar hingga 70% dari angka konsumsi udang, sedangkan golongan lainnya hanya 30% saja. Jenis udang yang dipasarkan oleh Indonesia adalah jenis udang tropis (Nazaruddin, 1993).
Beragam spesies udang dikenal dalam dunia perdagangan internasional (Murty, 1991). Keragaman spesies udang ini dapat dipilah-pilah lebih lanjut diantaranya menurut asal habitatnya. Berdasarkan asal habitatnya, spesies udang yang telah dikenal dalam jalur perdagangan internasional dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar, yakni:
- Spesies udang laut dingin. Kelompok spesies ini berasal dari dan hidup pada lautan daerah dingin.
- Spesies udang laut tropika. Kelompok spesies ini berasal dari dan hidup pada perairan pantai daerah tropika, serta memiliki ukuran yang lebih besar.
- Spesies udang air tawar. Umumnya kelompok spesies ini hidup pada danau atau sungai di daerah tropika dan dapat memiliki ukuran yang besar sekali.
Spesies udang ini dalam dunia perdagangan internasional umumnya dikenal sebagai giant river prawn.
Spesies udang laut dingin menyebar dan banyak ditangkap di daerah sebelah utara Jepang, Alaska, Kanada, di sebelah barat laut dan timur laut Amerika Serikat, Islandia, Greenland, dan di sebelah utara Eropa. Daerah
penyebaran spesies udang laut tropika meliputi perairan pantai tenggara Amerika Serikat, Teluk Meksiko, Laut Karibia, pantai barat tengah Afrika, Teluk Persia, negara-negara pantai Samudera Hindia, Asia Timur, Indonesia, Australia, pantai barat Amerika Tengah, dan pantai timur serta pantai barat Amerika Selatan.
Di luar spesies udang air tawar, paling sedikit terdapat lebih dari 20 macam spesies udang laut tropika yang telah lazim diperdagangkan secara internasional dan hampir seluruhnya udang penaeid. Spesies udang yang secara komersial memilki arti penting dalam perdagangan internasional disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Spesies Udang Komersial Penting
Kelompok Spesies Daerah Asal Nama Inggris Nama latin/Ilmiah Laut-Dingin Atlantik utara,
dan Pasifik Utara,
Indo pasifik Green tiger prawn Banana prawn Pasifik Timur Yellowleg shrimp
Whiteleg shrimp Air Tawar Indo Pasifik Giant river prawn Macrobrachium
rosenbergii Sumber : ADB/FAO, INFOFISH, 1983 dalam Murty, 1991.
Berdasarkan Tabel 1 tampak bahwa ragam jenis spesies udang laut tropika lebih dominan jika dibandingkan dengan spesies udang yang berasal dari kawasan laut-dingin. Keragaman spesies udang laut daerah tropika merupakan sumber daya alami yang dimiliki oleh negara-negara dalam kawasan yang bersangkutan, termasuk di dalamnya Indonesia. Keragaman spesies ini cukup mendominasi pasar udang internasional. Udang Penaeid yang dimiliki Indonesia, antara lain
udang jerbung/udang putih (Penaeus mergulensis), udang kelong/udang putih (Penaeus indicus), udang raja/udang kembang (Penaeus latisulcatus), udang bago (Penaeus semisulcatus), dan udang windu (Penaeus monodon) dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Beberapa Spesies Udang Laut Tropika.
Dalam dunia perdagangan internasional berdasarkan Murty (1991) dikenal dua istilah yang digunakan untuk menamakan udang, yakni prawn dan shrimp.
Kedua penamaan ini sering digunakan sebagai pembeda ukuran fisik. Shrimp digunakan untuk menyebut udang yang berukuran kecil, dan biasanya digunakan untuk menamakan udang yang tergolong dalam famili Crangonidae. Istilah prawn digunakan untuk menamakan spesies dengan ukuran fisik yang lebih besar, terutama dari famili Pandalidae, Peneidae, dan Palaemonidae. Seringkali pula shrimp dan prawn digunakan untuk membedakan asal habitat udang. Shrimp digunakan untuk menamakan spesies udang laut dan prawn digunakan untuk
Penaeus Monodon Penaeus Indicus
Penaeus Japonicus Penaeus Semisulcatus
Penaeus Orientalis
Penaeus latinsulcatus Penaeus merguensis
menamakan spesies udang sungai atau spesies udang air tawar. Sehingga tidak jarang pula digunakan istilah seawater shrimp dan freshwater prawn.
Bentuk produk udang yang dijajakan di pasaran internasional cukup beragam dari satu pangsa pasar ke pangsa pasar lainnya. Keragaman bentuk produk ini dapat dianggap suatu cermin dari preferensi konsumennya pada suatu pasar. Di pasaran internasional, secara umum penyajian udang yang
diperdagangkan antara lain : bentuk hidup, bentuk segar, bentuk beku, dan bentuk kering.
Kenyataan adanya pengaruh dari perbedaan tradisi, geografi, sosial ekonomi memberikan dampak pula terhadap preferensi konsumen terhadap bentuk penyajian produk udang olahan. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan suatu pasar, udang olahan disajikan dalam berbagai bentuk produk yang lebih spesifik. Uraian yang lebih terinci terhadap cara penyajian bentuk produk udang olahan yang lazim dijumpai di pasaran internasional adalah seperti berikut (Murty, 1991):
- Whole, head-on, shell-on, raw, frozen. Udang segar utuh yang dibekukan.
Bentuk produk ini disukai di Eropa Selatan, terutama Spanyol.
- Whole, head on, shell-on, cooked, not frozen. Udang utuh yang direbus dan tidak dibekukan. Bentuk produk ini bersifat terbatas, terutama untuk brown shrimp (Crangon crangon) yang berasal dari Laut Utara. Daerah pemasaran utamanya, Jerman Barat dan Belanda. Perdagangan antar negara Eropa bagi bentuk produk ini sangat dibatasi, karena produk ini relatif mudah
terkontaminasi.
- Whole, head-on, shell-on, cooked, frozen. Udang utuh, direbus, dan
dibekukan. Dalam perdagangannya, produk ini didominasi oleh spesies yang berasal dari Laut Atlantik Utara (Pandalus spp), dan ekspornya terutama dilakukan oleh Greenland, Islandia, dan Norwegia.
- Headless, shell-on, raw, frozen. Udang segar tanpa kepala yang dibekukan.
Pada spesies udang laut tropika umumnya produk ini akan berbobot dua per tiga dari bobot utuhnya dan pada spesies udang air tawar atau udang sungai bobotnya kurang lebih hanya 50% dari bobot utuhnya. Sebagian terbesar dari udang beku yang diperdagangkan di pasaran internasional disajikan dalam
bentuk ini. Daerah pemasaran utama untuk bentuk produk ini meliputi Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa (kecuali Spanyol).
- Headless, cooked, pelled, frozen. Udang tanpa kepala, direbus, dikupas kulitnya, dan dibekukan. Bentuk produk ini terutama diperdagangkan di Eropa, kecuali Spanyol.
- Headless, peeled, and deveined (P&D). Udang tanpa kepala, dikupas, dan dibuang ususnya. Jika segmen kulit pada ujung ekornya tidak dibuang, maka produknya disebut P&D tail-on.
- Headless, peeled, undeveined (PUD) udang tanpa kepala, dikupas, tanpa dibuang bagian ususnya. Bentuk produk ini biasanya dibekukan dan disajikan dalam bentuk block frozen. Pasaran utamanya adalah Eropa dan Jepang.
- Canned shrimp. Udang yang dikalengkan. Biasanya udang yang dikalengkan berukuran kecil dan berbentuk headless, cooked, and peeled (c & p).
- Breaded. Bentuk udang P&D atau biasanya P&D tail-on, dicelupkan ke dalam batter dan breading, dikemas, dan dibekukan. Produk ini bersifat domestik dan kurang penting dalam perdagangan internasional.
- Battered. Bentuk udang P&D dicelupkan ke dalam batter, dikemas, dan dibekukan. Produk ini bersifat domestik dan kurang penting dalam perdagangan internasional.
- Specialties. Merupakan bentuk produk regional atau domestik dan dalam perdagangan internasional terhitung kurang penting.
Berdasarkan penelaahan Perutusan Republik Indonesia untuk Masyarakat Eropa (PRI-ME) tahun 2001 terdapat sekitar 300 spesies di dunia untuk shrimps akan tetapi spesies utama yang diperjualbelikan di pasar UE adalah : Pink (Pandalus borealis), Pacific white (Penaeus vannamei), sedangkan spesies lainnya adalah : Black tiger (Penaeus monodon), Chinese white (Penaeus chinensis) dan Gulf (Penaeus aztecus).
Produksi udang Indonesia berasal dari perikanan tangkap dan perikanan budidaya, hal ini diungkapkan oleh Hamdani, 2006. Perikanan tangkap dibagi menjadi dua sumber yaitu kegiatan penangkapan di laut dan penangkapan di perairan umum. Sedangkan udang yang diperoleh dari kegiatan perikanan budidaya berasal dari tambak. Produksi udang Indonesia sebagian besar
merupakan jenis Penaidae yang hidup di perairan laut tropis serta beberapa jenis udang air tawar. Jenis-jenis udang yang berasal dari laut diantaranya adalah udang putih (Penaeus indicus / banana prawns), udang dogol ( Metapenaeus ensis / endeavour), udang windu (Penaeus monodon / giant tiger prawn), dan udang karang (Panilurus versicolor / lobster) serta beberapa jenis udang lainnya. Jenis udang budidaya tambak adalah udang windu, udang putih, udang api-api,
(Metapenaeus spp / greasy back shrimps). Sedangkan udang hasil penangkapan di perairan umum adalah udang galah (Macrobranchium rosenbergii / freshwater giant shrimps), udang rebon (Mycidacea / mysid).
2.2 Uni Eropa (UE)
Uni Eropa hingga tahun 2007 menurut Delegasi Komisi Eropa untuk Indonesia (2007) merupakan kelompok 27 negara-negara independen yang unik dengan lebih dari 492 juta warga negara yang tinggal dalam batas wilayahnya.
Awal mula berdirinya dapat ditelusuri ke akhir masa perang dunia kedua ketika para anggota pendirinya memutuskan bahwa cara terbaik untuk mencegah konflik adalah dengan mengelola secara bersama produksi batu bara dan baja, dua bahan utama yang diperlukan untuk berperang. Negara-negara anggota terikat di dalam Uni Eropa dengan serangkaian traktat yang telah mereka tandatangani seiring dengan perkembangannya. Semua traktat itu harus disepakati oleh masing-masing Negara Anggota dan kemudian diratifikasi baik oleh parlemen nasional atau melalui referendum. Nama Uni Eropa muncul pada tahun 1992 menggantikan nama Komunitas Masyarakat Eropa bersamaan dengan ditandatanganinya Traktat Maastricht (Traktat Uni Eropa) pada tanggal 7 Februari 1992.
Pemrakarsa Uni Eropa terdiri atas enam negara, yaitu: Belgia, Jerman, Perancis, Italia, Luksemburg dan Belanda. Sejak itu Uni Eropa telah berkembang menjadi 27 anggota dengan serangkaian perluasan. Denmark, Irlandia dan Inggris bergabung pada tahun 1973, Yunani pada tahun 1981, Spanyol dan Portugal pada tahun 1986. Uni Eropa semakin berkembang pada tahun 1995 dengan masuknya Austria, Finlandia dan Swedia. Perluasan pada tahun 2004 membawa masuk Republik Ceko, Estonia, Siprus, Latvia, Lithuania, Hongaria, Malta, Polandia, Slovenia, dan Slowakia. Bulgaria dan Rumania bergabung dengan Uni Eropa pada
tahun 2007. Urutan masuknya negara-negara dalam keanggotaan Uni Eropa dapat dilihat pada Tabel 2. Untuk menjadi anggota Uni Eropa, suatu negara harus memiliki demokrasi yang stabil yang menjamin supremasi hukum, hak-hak asasi manusia dan perlindungan kaum minoritas. Negara tersebut juga harus memiliki ekonomi pasar yang berfungsi serta administrasi publik yang dapat menerapkan dan mengelola undang-undang Uni Eropa (Delegasi Komisi Eropa, 2007).
Tabel 2. Negara-Negara Anggota Uni Eropa
No Negara Tahun Bergabung dengan Uni Eropa
1 Jerman 1950
2 Belanda 1950
3 Belgia 1950
4 Luksemburg 1950
5 Perancis 1950
6 Italia 1950
7 Inggris Raya 1973
8 Denmark 1973
9 Irlandia 1973
10 Yunani 1981
11 Portugal 1986
12 Spanyol 1986
13 Austria 1995
14 Swedia 1995
15 Finlandia 2004
16 Estonia 2004
17 Hongaria 2004
18 Latvia 2004
19 Lituania 2004
20 Malta 2004
21 Polandia 2004
22 Republik Ceko 2004
23 Siprus selatan 2004
24 Slovenia 2004
25 Slowakia 2004
26 Bulgaria 2007
27 Rumania 2007
Sumber : Delegasi Komisi Eropa, 2007.
Sumber : Delegasi Komisi Eropa, 2007.
Gambar 4. Peta Keanggotaan Uni Eropa.
Uni Eropa bukanlah sebuah negara federal atau organisasi internasional dalam pengertian tradisional, akan tetapi merupakan sebuah badan otonom di antara keduanya. Uni Eropa bersifat unik karena negara – negara anggotanya tetap menjadi negara-negara berdaulat yang independen, akan tetapi mereka
menggabungkan kedaulatan mereka dan dengan demikian memperoleh kekuatan dan pengaruh kolektif yang lebih besar. Peta keanggotaan Uni Eropa dapat dilihat pada Gambar 4.
Dalam praktiknya, penggabungan kedaulatan berarti bahwa negara-negara anggota mendelegasikan sebagian kuasa mereka dalam hal pengambilan
keputusan kepada lembaga yang telah didirikan bersama sehingga
keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah tertentu yang melibatkan kepentingan bersama dapat diambil secara demokratis pada tingkat Eropa. Uni Eropa memiliki tiga lembaga utama, yaitu:
1. Parlemen Eropa, yang mewakili warga negara Uni Eropa dan dipilih langsung.
2. Dewan Uni Eropa, yang mewakili masing-masing negara anggota.
3. Komisi Eropa, yang berupaya untuk menegakkan kepentingan Uni Eropa secara keseluruhan.
Segitiga kelembagaan tersebut adalah yang menghasilkan kebijakan dan undang-undang yang berlaku di seluruh Uni Eropa. Ketiga lembaga utama tersebut didukung oleh Badan Pemeriksa Keuangan Eropa yang mengawasi penggunaan anggaran Uni Eropa dan Mahkamah Eropa yang membantu memastikan bahwa negara-negara anggota mematuhi undang-undang Uni Eropa yang telah mereka sepakati.
2.3 Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan luar negeri adalah perdagangan antar negara yang memiiki kesatuan hukum dan kedaulatan yang berbeda dengan kesepakatan tertentu dan memenuhi kaidah-kaidah baku yang telah ditentukan dan diterima secara internasional menurut Putong (2003). Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perdagangan luar negeri:
1. Untuk memperoleh barang atau sumber daya yang tidak dapat dihasilkan di dalam negeri.
2. Untuk mendapatkan barang yang sebenarnya dapat dihasilkan di dalam negeri tetapi kualitasnya belum memenuhi syarat.
3. Untuk mendapatkan teknologi yang lebih modern dalam rangka memberdayakan sumber daya alam di dalam negeri.
4. Untuk memperluas pasaran produk yang dihasilkan di dalam negeri.
5. Untuk mendapatkan keuntungan dari spesialisasi yang diantaranya sebagai berikut : keuntungan mutlak (absolute advantage), keuntungan banding (comparable advantage), dan keuntungan bersaing (competitive advantage).
Perekonomian terbuka berinteraksi dengan perekonomian-perekonomian lainnya dengan dua cara yaitu membeli dan menjual barang dan jasa dalam pasar
produk-produk dunia, serta jual beli modal atau aset dalam pasar-pasar uang internasional (Mankiw, 2000). Dalam hal perdagangan internasional, ekspor adalah berbagai macam barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri namun dijual di luar negeri. Sebaliknya impor adalah segenap barang dan jasa yang dibuat di luar negeri yang dijual di dalam negeri. Sedangkan yang disebut ekspor neto dari suatu negara adalah nilai dari ekspor dikurangi nilai impornya. Karena ekspor neto memberitahu mengenai posisi suatu negara sebagai pembeli atau penjual maka ekspor neto disebut juga neraca perdagangan.
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor, impor, dan ekspor neto:
1. Selera konsumen terhadap barang-barang produk dalam negeri dan luar negeri.
2. Harga barang-barang di dalam dan luar negeri.
3. Besar nilai tukar yang menentukan jumlah mata uang domestik yang dibutuhkan untuk membeli mata uang asing.
4. Ongkos angkutan barang antar negara.
5. Kebijakan pemerintah mengenai perdagangan internasional.
Perdagangan pertanian adalah bagian yang unik dari perdagangan komoditas. Industri pertanian dan produk pertanian memiliki karakteristik yang membedakan dari industri yang lain. Produk pertanian hampir seluruhnya mudah rusak. Hal ini membuat waktu penjualan dari produk pertanian terbatas. Pendapat Adam Smith dalam Koo dan Kennedy (2005) yaitu negara-negara melakukan spesialisasi komoditas dengan dasar keuntungan mutlak dan menukar sebagian dari hasil negaranya untuk komoditas yang dihasilkan negara lain. Beberapa negara dapat memproduksi dan mengkonsumsi berlebih mengindikasikan bahwa perdagangan bersifat saling menguntungkan. David Ricardo memperkenalkan prinsip keuntungan bersaing yang menyatakan bahwa sekalipun satu negara mendapatkan keuntungan mutlak dalam semua produksi komoditas, negara tersebut sebaiknya melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditas yang memilki keuntungan lebih besar. Negara lain sebaiknya memproduksi lebih sedikit komoditas yang tidak menguntungkan. Dalam kasus ini, kedua negara
PA
akan memproduksi dan mengkonsumsi lebih dengan spesialisasi satu komoditas dan saling menukarkan hasil mereka.
Keterangan tentang terjadinya perdagangan internasional menurut Salvatore (1997) dapat diperoleh dari Gambar 5 dengan menggunakan konsep dasar fungsi permintaan dan penawaran domestik. Suatu negara misal negara A dan B memiliki fungsi permintaan dan penawaran domestik, masing-masing adalah DA dan SA di negara A serta DB dan SB di negara B. Sebelum terjadinya perdagangan internasional, keseimbangan di negara A dicapai pada saat kondisi EA dengan jumlah QA dan harga PA sedangkan di negara B keseimbangan dicapai pada kondisi EB dengan jumlah QB dan harga PB, dengan asumsi bahwa harga domestik di negara A relatif lebih rendah dibandingkan dengan harga domestik di negara B. Jika harga internasional diatas PA, maka negara A akan memproduksi lebih banyak daripada kebutuhan konsumsinya sehingga di negara A telah terjadi excess supply atau kelebihan produksi. Dengan demikian negara A mempunyai kesempatan menjual kelebihan produksinya di negara lain. Sementara itu, jika harga intenasional di bawah PB, maka negara B akan meminta lebih banyak dibandingkan produksinya sehingga di negara B terjadi kekurangan supply karena konsumsi domestiknya lebih besar daripada produksi domestiknya (excess demand). Dalam hal ini negara B berkeinginan untuk membeli komoditas dari negara lain yang relatif lebih murah.
Negara A (pengekspor) Perdagangan Internasional Negara B (pengimpor) Sumber: Salvatore,1997.
Gambar 5. Proses Terjadinya Perdagangan Internasional.
Keterangan:
PA : harga domestik di negara A tanpa perdagangan internasional
0QA : jumlah yang diperdagangkan di negara A tanpa perdagangan internasional
DA ES
X : jumlah yang diekspor oleh negara A PB : harga domestik di negara B tanpa PI
0QB : jumlah yang diperdagangkan di negara B tanpa perdagangan internasional M : jumlah yang diimpor oleh negara B
P* : harga di pasaran internasional setelah PI
Q* : jumlah yang diperdagangkan di pasar internasional
Selanjutnya dimisalkan terjadi perdagangan diantara kedua negara.
Penawaran ekspor pada pasar internasional digambarkan oleh ES dan permintaan impor digambarkan oleh ED. Keseimbangan di pasar dunia terjadi pada kondisi E* yang menghasilkan harga dunia sebesar P*, dimana negara A akan
mengekspor sebesar X yang merupakan jumlah yang sama dengan yang diimpor negara B sebesar M. Jumlah ekspor dan impor tersebut ditunjukkan oleh jumlah perdagangan sebesar Q* pada pasar dunia.
2.4 Teori Hambatan Perdagangan
Kebijakan perdagangan internasional di bidang impor dapat
dikelompokkan menjadi dua macam kebijakan sebagai berikut (Hady, 2004).
A. Kebijakan Hambatan Tarif (Tariff Barrier)
Kebijakan Tariff Barrier dalam bentuk bea masuk adalah sebagai berikut:
1. Pembebanan bea masuk atau tarif rendah antara 0% - 5% dikenakan untuk bahan kebutuhan pokok dan vital, alat-alat militer/pertahanan/keamanan,dll.
2. Tarif sedang antara 5% - 20% dikenakan untuk barang setengah jadi dan barang-barang lain yang belum cukup diproduksi dalam negeri.
3. Tarif tinggi diatas 20% dikenakan untuk barang mewah dan barang-barang lain yang sudah cukup diproduksi di dalam negeri dan bukan barang-barang kebutuhan pokok.
Tarif adalah pungutan bea masuk yang dikenakan atas barang impor yang masuk untuk dipakai/dikonsumsi habis di dalam negeri (Hady, 2004). Kebijakan tarif terdiri dari:
1. Tarif Nominal dan Tarif Proteksi Efektif
a. Tarif Nominal adalah besarnya persentase tarif suatu barang tertentu yang tercantum dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI).
b. Tarif Proteksi Efektif disebut juga sebagai Effective Rate of Protection (ERP) yaitu kenaikan Value Added Manufacturing (VAM) yang terjadi karena perbedaan antara persentase tarif nominal untuk barang jadi atau CBU (Completely Built-up) dengan tarif nominal untuk bahan baku atau komponen input impornya atau CKD (Completely Knock Down).
2 Infant Industry Argument adalah suatu kebijaksanaan untuk melindungi industri-industri dalam negeri yang baru lahir atau tumbuh dengan proteksi edukatif, sehingga dapat bersaing baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.
3 Proteksi edukatif yaitu kebijakan untuk melindungi infant industry secara mendidik dengan ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut : transparan, selektif, limitatif, kuantitatif, declining.
Dampak dari kebijakan tarif dapat digambarkan pada Gambar 6 . Dx adalah kurva permintaan dan Sx melambangkan kurva penawaran komoditi X.Jika negara A sama sekali tidak mengadakan hubungan perdagangan internacional maka negara A akan mengalami keseimbangan di titik E yang merupakan titik perpotongan antara Dx dan Sx. Selanjutnya jika negara A melakukan hubungan perdagangan internasional maka ia akan menikmati harga yang jauh lebih murah (P1) sehingga konsumsinyapun meningkat (X4). Kemudian jika negara A
memberlakukan tarif ad valorem yang menyebabkan harga yang harus dipikul konsumen A meningkat (P2) dan akan menurunkan konsumsi penduduknya (X3) sedangkan dari sisi produksi dari dalam negeri akan meningkat dari X1 menjadi X2. Pemerintahpunmendapatkan pemasukan sebesar AB + CD (Salvatore, 1997).
Sumber : Salvatore, 1997
Gambar 6. Dampak Pemberlakuan Tarif A
B. Kebijakan Hambatan Non Tarif (Non Tarif Barrier)
Kebijakan Non Tariff Barrier terdiri atas beberapa bagian yaitu:
a. Pembatasan spesifik, terdiri dari larangan impor secara mutlak; pembatasan impor atau quota system; peraturan atau ketentuan teknis untuk impor produk tertentu; peraturan kesehatan atau karantina, peraturan pertahanan dan keamanan negara; peraturan kebudayaan, perizinan impor/import licenses;
embargo; dan hambatan pemasaran seperti VER (Voluntary Export Restraint), OMA (Orderly Marketing Agreement).
b. Peraturan Bea Cukai (Custom Administration Rules), terdiri dari tatalaksana impor tertentu; penetapan harga pabean; penetapan forres rate (kurs valas) dan pengawasan devisa; consultan formalities; packaging/labelling regulation;
documentation hended; quality and testing standard; pungutan administrasi (fees); dan tariff classification.
c. Partisipasi pemerintah, terdiri dari kebijakan pengadaan pemerintah; subsidi dan insentif ekspor; countervailing duties; domestic assistance programs; dan trade-diverting.
d. Import charges, terdiri dari import deposits ; supplementary duties ; dan variable levies.
Perdagangan dunia menurut Koo dan Kennedy (2005), jauh dari kebebasan. Beberapa negara menggunakan bermacam hambatan perdagangan (tarif dan non tarif) untuk melindungi industri yang tidak efisien. Hal ini terutama berlaku pada pertanian. Rata-rata tarif untuk produk pertanian (30%) lebih besar daripada untuk produk industri (6%). Tarif adalah pajak yang dibebankan pemerintah untuk komoditi sebagai batas garis nasional. Tarif digunakan untuk melindungi ekonomi domestik dari kompetisi luar negeri. Tarif ad valorem menunjukkan persentase dari nilai komoditi yang diperdagangkan. Sedangkan tarif spesifik adalah jumlah tetap per unit komoditi yang diperdagangkan. Tarif campuran adalah kombinasi dari tarif ad valorem dan tarif spesifik.
Hambatan non tarif bisa mengandung rintangan dengan angka yang besar selain tarif, seperti kebijakan, peraturan, prosedur yang mengubah perdagangan.
Hambatan non tarif bisa mengandung rintangan dengan angka yang besar selain tarif, seperti kebijakan, peraturan, prosedur yang mengubah perdagangan.