V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Kebijakan Perdagangan Non Tarif Uni Eropa
Komisi Eropa memiliki kebijakan dalam memenuhi konsumsi produk perikanan atau makanan berbasis pada perlindungan konsumen tingkat tinggi dengan memperhatikan lima komponen kebijakan umum dalam impor makanan
(Direktorat Pemasaran Luar Negeri, 2006). Kelima komponen dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Standar pemasaran dan informasi konsumen b. Organisasi dari eksportir/produsen
c. Interbranch organisasi dan persetujuan d. Harga dan intervensi harga
e. Perdagangan dengan negara ketiga
Regulasi yang berkaitan dengan standar mutu dan keamanan pangan dirangkum dalam Tabel 11..
Tabel 11. Regulasi yang Berkaitan dengan Kebijakan Non Tarif
Tahun
Dikeluarkan Kebijakan Keterangan
1992 Regulation (EC) No 3760/92 tentang Kebijakan Umum Perikanan (Common Fisheries Policy)
Tidak efektif dikarenakan tidak ada kecocokan antara usaha perikanan dengan sumber daya yang tersedia.
2001 EC No 466/2001 tanggal 8 Maret 2001 Tentang Taraf Maksimum bagi Pencemar Tertentu dalam Bahan Pangan
Diantaranya mengatur taraf timbal, kadmium, dan raksa dalam vahan pangan.
2002 EC No 178/2002 tanggal 28 Januari 2002 Tentang Prinsip Umum dan Persyaratan Hukum Pangan, Pembentukan Otoritas Keamanan Pangan Eropa dan Penetapan Prosedur yang Terkait dengan Keamanan Pangan
Kunci pokok regulasi standar mutu dan keamanan pangan Uni Eropa yang berbasis perlindungan konsumen tingkat tinggi, kepedulian terhadap hewan dan juga lingkungan.
2004 EC No 852/2004 Tanggal 29 April 2004 tentang Higien Bahan Pangan
Regulasi ini merupakan ratifikasi SPS dari WTO dan standar keamanan pangan internasional yang termuat dalam Codex Alimentarius. Persyarataan umum produksi primer, persyaratan teknis, HACCP, pendaftaran/pengakuan usaha makanan, petunjuk nasional untuk praktek yang baik.
2004 EC No 853/2004 Tanggal 29 April 2004 Tentang Peraturan Kesehatan Spesifik untuk Pangan Asal Hewan
Aturan higienis yang spesifik untuk makanan dari asal hewan (pengakuan dari perusahaan, kesehatan, dan identifikasi penandaan, impor, informasi rantai pangan)
2004 EC No 854/2004 Tanggal 29 April tentang aturan khusus bagi organisasi pengawasan resmi untuk produk asal hewan yang dikonsumsi manusia
Aturan secara rinci untuk organisai dari kontrol resmi pada produk asal hewan
2004 EC No 882/2004 tanggal 29 April 2004 tentang pengawasan resmi guna menjamin verifikasi terhadap pelaksanaan Undang-Undang Pangan dan Pakan, dan peraturan kesehatan hewan dan kesejahteraan hewan.
Sertifikasi hewan, sesuai dengan aturan Uni Eropa.
2005 EC No 2073/2005 tanggal 15 November 2005 tentang kriteria mikrobiologi untuk bahan pangan.
Sumber: Ditjen P2HP, 2007.
Kebijakan-kebijakan tersebut nantinya dapat menjadi hambatan
perdagangan bagi impor produk-produk pangan, termasuk di dalamnya komoditi perikanan. Uni Eropa memberlakukan regulasi ini dengan terlebih dahulu memberikan pembuktian ilmiah kepada organisasi perdagangan dunia (WTO).
Regulasi yang dikeluarkan oleh Komisi Eropa (European Commision) secara umum diberlakukan dua puluh hari setelah diterbitkan dalam Official Journal (OJ). European Commision adalah lembaga eksekutif pemerintah Uni Eropa yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan peraturan Uni Eropa kepada dewan dan parlemen Eropa, termasuk di dalamnya peraturan mengenai pengawasan mutu dan keamanan pangan. Komisi ini terdiri dari perwakilan tiap-tiap negara anggota (Europa, 2007).
Kunci pokok terbaru regulasi yang menitikberatkan pada perlindungan konsumen tingkat tinggi terkait standar mutu dan keamanan pangan di Uni Eropa yaitu EC No 178/2002 tentang persyaratan mutu undang-undang pangan serta prosedur keamanan pangan. Permasalahan yang dibahas pada EC No 178/2002 diantaranya yaitu (Ditjen P2HP, 2007):
• Undang-Undang Pangan secara Umum yang diantaranya membahas kewajiban perdagangan pangan.
• Badan Pengawas Keamanan Pangan yang diantaranya membahas tentang tugas dan misi badan pengawas.
• Rapid Alert System, Manajemen Krisis, dan Keadaan Darurat yang membahas tentang implementasi Rapid Alert System. Salah satu kebijakan yang cukup signifikan mempengaruhi perkembangan impor pangan Uni Eropa yaitu diterapkannya Rapid Alert System for Food and Feeds (RASFF). Pengaruh ini berdampak kepada peredaran produk negara eksportir di Uni Eropa. RASFF merupakan jejaring kerja dalam sistem siaga cepat untuk pemberitahuan resiko langsung atau tak langsung pada kesehatan manusia yang berasal dari pangan atau pakan (EC No 178/2002). Total kasus alert untuk produk yang berasal dari Indonesia meningkat dari tahun 2002 sebanyak 39 kasus menjadi 43 kasus pada tahun 2006.
• Traceability (Pasal 18). Kebijakan ini cukup terkendala dilakukan di Indonesia karena masih kesulitan dalam sistem pengawasannya dimana sistem yang berlaku yaitu “one step backward, one step forward”.
EC No 852/2004 tentang higien bahan pangan merupakan aplikasi dari EC No 178/2002 yang menitikberatkan pada penerapan prinsip HACCP dan good practice. EC No 852/2004 mengemukakan beberapa hal yaitu (Ditjen P2HP, 2007):
• Kewajiban pelaku bisnis pangan,
• Penerapan prinsip HACCP,
• Panduan Good Practice,
• Impor dan ekspor,
EC No 853/2004 tentang peraturan khusus untuk keamanan bahan baku mengimplementasikan konsep “from farm to fork” yang menekankan aplikasi keamanan pangan sejak penangkapan hingga proses pengolahan. Fokus peraturan ini yaitu (Ditjen P2HP, 2007):
• Kewajiban pelaku bisnis pangan,
• Pendaftaran dan izin perusahaan,
• Tanda pengenal dan tanda kesehatan
EC No 854/2004 tentang aturan khusus bagi organisasi pengawasan resmi untuk produk asal hewan yang dikonsumsi manusia merupakan turunan dari EC No 178/2002 yang secara khusus membahas tentang badan pengawas keamanan asal bahan pangan, baik di Uni Eropa maupun di negara eksportir. Beberapa persoalan yang dibahas dalam peraturan ini yaitu (Ditjen P2HP, 2007):
• Izin perusahaan komunitas,
• Prinsip umum pengawasan resmi yang terkait dengan semua produk asal hewan,
• Prosedur untuk impor
Aplikasi dari EC No 178/2002 yaitu EC No 882/2004 tentang pengawasan oleh pemerintah. Peraturan ini menitikberatkan pada pengawasan oleh
Competent Authority (CA) dengan tujuan terlaksananya undang-undang pangan. Beberapa hal yang ditetapkan EC No 882/2004 diantaranya yaitu mengenai (Ditjen P2HP, 2007):
• Pengawasan oleh CA sebagai pihak yang berwenang,
• Penarikan contoh dan analisis,
• Rencana Pengawasan,
• Pengelolaan krisis,
• Pengawasan resmi atas masuknya pangan dan pakan dari negara ketiga.
EC No 2073/2005 tentang kriteria mikrobiologi untuk bahan pangan merupakan salah satu regulasi yang membahas tentang persyaratan teknis produk akhir bahan makanan, termasuk produk perikanan yang berlaku di Uni Eropa.
Beberapa permasalahan yang dibahas yaitu (Ditjen P2HP, 2007):
• Pengujian yang tepat untuk memenuhi kriteria mikrobiologis,
• Pelaksanaan pengujian dan penarikan contoh bagi bahan pangan,
• Persyaratan pelabelan,
• Analisis kecenderungan.
EC No 466/2001 tentang taraf maksimum bagi pencemar tertentu dalam bahan pangan diantaranya mengatur taraf maksimum bahan pencemar yang diperbolehkan dalam bahan pangan. Bahan pencemar yang dimaksud diantaranya berupa timbal (Pb), kadmium (Cd), dan Raksa (Hg). Batas maksimum yang diperbolehkan dalam krustasea (udang) untuk Pb sebesar 0,5 mg/kg (Ditjen P2HP, 2007).
Secara khusus tahapan pengawasan hasil perikanan yang masuk (impor) ke Uni Eropa adalah sebagai berikut (Direktorat Pemasaran Luar Negeri DKP, 2007):
1. Competent Authority (CA) negara pengirim menghubungi komisi Eropa untuk memohon persetujuan Approval Number of Fisheries Establishment atau perusahaan/eksportir hasil perikanan.
2. Approval Number yang diusulkan, jika diterima atau ditolak akan diterbitkan dalam official journal dari European Community dan disebarkan secara elektronik ke semua Member States.
3. Melalui suatu Commision Decision menetapkan format Health Certificate dan List of Establishments (Unit Pengolahan) yang disetujui (yang mendapat Approval Number)
4. CA dari negara pengirim menerbitkan Health Certificate dan stempel yang dikeluarkan oleh Commision Decision.
5. Komisi Eropa melalui Food and Veterinary Office (FVO), Directorate
General of Consumer Protection melakukan kunjungan secara rutin ke negara pengirim, baik negara anggota maupun negara ketiga, untuk misi inspeksi sistem atau higiensi standar apakah ekuivalen dengan peraturan Uni Eropa.
6. Produk ekspor harus masuk melalui pos pengawasan perbatasan (Border Inspection Posts/BIPs).
7. Importir di negara Uni Eropa harus memberitahu kepada BIPs dalam 6 jam melalui udara.
8. Official fish inspector atau official veterinary surgeon melakukan pemeriksaan seperti diuraikan terdahulu:
a. Documentary check (pengecekan dokumen) adalah memeriksa dokumen-dokumen terkait dengan pengiriman barang atau produk termasuk, certificate of origin, health certificate.
b. Identify check (identifikasi dokumen) adalah pengecekan visual untuk melihat kecocokan dan konsistensi antara dokumen-dokumen dan produk-produk, juga dokumen lain seperti certificate of origin, approval number,dll.
c. Physical check (pemeriksaan fisik); adalah pemeriksaan produk yang dilakukan oleh fish/veterinary inspector sendiri (BIPs) seperti organoleptik, pengepakan dan pengemasan (packaging), suhu (temperature), dan atau memungkinkan mengambil contoh dan menguji ke laboratorium (sampling and laboratory testing).
9. Jika pemeriksaan dokumen memuaskan pihak inspekstur sesuai dengan Common Veterinary Entry Document (CVED) yang diterbitkan, maka permohonan tersebut dapat masuk ke Uni Eropa. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan gagal karena masalah mutu dan keamanan produk yang tidak memenuhi syarat seperti kandungan residu logam berat atau antibiotik melebihi batas yang diberlakukan, maka dilakukan salah satu dari dua pilihan yaitu 1) dikirim kembali (re-export) atau 2) dihancurkan (destroyed).