I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan perikanan Indonesia merupakan suatu kegiatan ekonomi yang memiliki prospek yang semakin baik, terutama dalam meningkatkan
penerimaan devisa negara melalui ekspor hasil perikanan. Total ekspor perikanan Indonesia tahun 2006 yaitu 926.478 ton dengan nilai ekspor US$ 2,1 miliar.
Komoditas utama ekspor hasil perikanan Indonesia yaitu udang, tuna, cakalang, tongkol, ikan lainnya, dan kepiting. Berdasarkan data hasil olahan Departemen Perdagangan tahun 2002 hingga 2006, rata-rata ekspor non migas (non minyak dan gas bumi) Indonesia pada periode tersebut sebesar US$ 58,89 miliar dengan rata-rata ekspor total Indonesia pada periode tersebut yaitu US$ 75,25 miliar.
Kecenderungan (trend) neraca perdagangan untuk ekspor migas sebesar -26,27%
dan ekspor non migas sebesar 14,82% selama tahun 2002-2006. Hal tersebut menunjukkan bahwa non migas memiliki peluang ekspor lebih tinggi
dibandingkan dengan migas dilihat dari kecenderungan non migas yang bernilai positif yang berarti adanya peningkatan ekspor, berbeda halnya dengan migas yang bernilai negatif. Ekspor non migas Indonesia terdiri dari beberapa sektor yaitu sektor pertanian, sektor industri, sektor pertambangan, dan sektor lainnya.
Udang segar atau beku merupakan komoditas ekspor utama dari sektor pertanian dengan rata-rata ekspor tahun 2002 hingga 2006 yaitu US$ 0,86 miliar per tahun dari rata-rata ekspor sektor pertanian sebesar US$ 2,77 miliar per tahun.
kecenderungan pertumbuhan ekspor udang segar atau beku sebesar 3,05% yang menunjukkan adanya peningkatan ekspor dan memberikan kontribusi sebesar 1,48% dalam ekspor non migas. Rendahnya nilai tersebut bukan berarti komoditas udang tidak berpeluang ekspor tinggi akan tetapi menunjukkan fakta perlunya pengembangan ekspor komoditas udang.
Peningkatan konsumsi produk perikanan didukung dengan adanya perubahan pola makan dari red meat kepada white meat pada masyarakat dunia, yang berarti membuka peluang terhadap peningkatan ekspor komoditas perikanan.
Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor utama hasil perikanan Indonesia yaitu Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa (UE).
0
2002 2003 2004 2005 2006
Tahun
volume (ton)
Jepang Amerika Serikat Uni Eropa
Trend Jepang Trend Amerika Serikat Trend Uni Eropa
Gambar 1. Grafik Volume Ekspor Udang Indonesia ke Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa Tahun 2002-2006.
0
2002 2003 2004 2005 2006
Tahun
Nilai (000US$)
Jepang Amerika Serikat Uni Eropa
Trend Jepang Trend Amerika Serikat Trend Uni Eropa
Gambar 2. Grafik Nilai Ekspor Udang Indonesia ke Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa Tahun 2002-2006
Sumber : Departemen Perikanan dan Kelautan, 2002-2006 (diolah).
Berdasarkan Gambar 1 dan 2 di atas dapat dilihat bahwa selain Jepang dan Amerika Serikat, Uni Eropa juga merupakan pasar potensial bagi ekspor komoditas udang sebagai salah satu komoditas utama ekspor hasil perikanan.
Peningkatan ekspor udang ke UE selama kurun waktu lima tahun yaitu pada tahun 2002 sebesar 16.140 ton menjadi 31.016 ton pada tahun 2006. Selain itu, dapat dilihat pula pada garis trend ekspor udang ke tiga negara tujuan, adanya kecenderungan ekspor udang meningkat ke Amerika Serikat dan Uni Eropa, sedangkan Jepang mengalami penurunan volume impor udang dari Indonesia.
Uni Eropa yang merupakan pasar potensial bagi ekspor hasil perikanan Indonesia memilki kebijakan atau peraturan dengan standar tersendiri yang cukup tinggi, baik dalam hal tarif maupun jaminan kualitas dan keamanan produk pangan, termasuk di dalamnya produk perikanan. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia dalam memenuhi permintaan konsumen sebagai salah satu cara
memposisikan diri agar tetap kompetititf selain juga tetap bersaing dengan negara kompetitor.
Kinerja Indonesia antara yang idealnya diimplementasikan dengan kenyataan di lapangan dalam sistem perdagangan internasional tidaklah selaras.
Hal ini terjadi dikarenakan adanya keterbatasan, baik dalam segi kebijakan dan penerapannya, sarana dan prasarana, dan berbagai aspek lainnya. Kondisi ini sejalan dengan pemikiran tokoh-tokoh pemikir ekonomi aliran sejarah seperti Friedrich List yang pernah mengemukakan pendapat bahwa perdagangan bebas hanya menguntungkan negara-negara yang industri dalam negerinya sudah maju.
Negara maju bisa menghasilkan berbagai macam produk secara lebih efisien, sehingga lebih kompetitif dalam bersaing. Kenyataan tersebut tentunya
menunjukkan bahwa kebijakan yang diterapkan dalam perdagangan internasional dapat menjadi hambatan bagi ekspor Indonesia, baik itu dalam hal tarif maupun non tarif.
Secara umum, tingkat tarif yang diberlakukan oleh Uni Eropa paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya seperti Jepang dan Amerika Serikat (Dahuri, 2002). Tarif bea masuk yang tinggi nantinya akan meningkatkan harga produk yang beredar di pasar. Selain itu, UE memberlakukan adanya diskriminasi tarif. Negara-negara bekas jajahan UE mendapatkan keringanan atau dibebaskan dari kewajiban membayar tarif bea masuk. Hal tersebut semakin melemahkan daya saing ekspor Indonesia dibandingkan dengan negara eksportir lainnya.
Perdagangan hasil perikanan nampaknya akan menghadapi permasalahan yang lebih berat yaitu hambatan non-tarif (non-tariff barrier) dalam perdagangan global. Pada saat ini setiap negara cenderung menerapkan standar yang berlaku di negara masing-masing sebagai acuan dalam impor dan ekspor hasil perikanan sebagai tindak lanjut dari standar yang dikeluarkan oleh Organisasi Perdagangan
Dunia (World Trade Organization/WTO). Akibatnya banyak timbul masalah penolakan atau penahanan bahkan embargo terhadap ekspor hasil perikanan dari negara-negara berkembang ke negara industri maju. Sebagai contoh, terjadinya kasus penahanan dan penolakan terhadap udang Indonesia yang diekspor ke Uni Eropa karena produk tersebut dianggap mengandung antibiotika
chloramphenicol. Uni Eropa mengeluarkan peraturan mengenai standarisasi yang lebih ketat dibandingkan yang ditetapkan Codex Alimentarius Commision (CAC) dengan asumsi standar tersebut dapat diuji secara ilmiah. Hal inilah yang dapat menjadi kendala bagi pengusaha Indonesia untuk dapat meningkatkan ekspor udang ke UE sebagai pasar potensial.
Banyaknya persyaratan yang dikeluarkan oleh pasar Uni Eropa dan pernyataan dari pemerintah UE yang menyatakan ketidakmampuan Indonesia memenuhinya, maka produk udang Indonesia ditolak oleh pasar Uni Eropa.
Dalam hal Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF), pihak Komisi Eropa (KE) mengeluhkan lemahnya pihak yang berkompeten di Indonesia dalam melakukan pengawasan terhadap kualitas kesehatan dari produk ikan atau udang yang diekspor, khususnya terkait dengan border control maupun market control yang dilakukan oleh pihak Competent Authority (Dit Pemasaran Luar Negeri DKP, 2006).
Hal-hal tersebut diatas baik yang bersifat hambatan tarif maupun non tarif akan berpengaruh terhadap ekspor komoditas udang. Untuk itulah perlu dianalisis sejauh mana hambatan perdagangan tarif maupun non tarif yang dikeluarkan oleh Uni Eropa mempengaruhi ekspor udang Indonesia.