Dalam penelitian ini untuk menghindari pembahasan yang lebih luas dan agar penelitian ini dapat dilakukan lebih mendalam maka penulis membatasi permasalahan yaitu pada konsumen produk HABBATUSSAUDA di Halal Mart BC Medan 3 dengan karakteristik tertentu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Pemasaran
Suatu perusahaan akan menjadi sukses apabila di dalamnya ada kegiatan manajemen pemasaran yang baik. Manajemen pemasaran menjadi pedoman dalam menjalankan kelangsungan hidup perusahaan. Sejak dimulainya proses produksi hingga barang sampai pada konsumen peran manajemen pemasaran tidak bisa terpisahkan karena nantinya apabila dapat dilaksanakan dengan baik, maka akan menjadi keuntungan bagi perusahaan khusunya dan konsumen pada umumnya. Mullins dan Walker (2010:40), menjelaskan manajemen pemasaran adalah proses menganalisis, merencanakan, melaksanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan program-program yang melibatkan konsepsi, penetapan harga, promosi dan distribusi produk, jasa dan ide-ide yang dirancang untuk menciptakan dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan target pasar untuk tujuan mencapai tujuan organisasi.
Menurut Kotler, P dan Amstrong, Gary (2008:7), pemasaran dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan, lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. Manajemen pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan.
2.2 Word of Mouth
2.2.1 Pengertian Word of Mouth
Perusahaan memicu minat konsumen dengan cara menyebabkan konsumen berbagi pengalaman dengan orang lain. Agar prosesnya dapat berjalan dengan sempurna marketing perlu mencari orang-orang yang sangat terkesan dan sangat puas atau bahagia karena produk, atau jasa yang ia terima, orang semacam ini akan menjadi rekomendasi yang besar pengaruhnya terhadap orang lain.
Menurut Lupiyoadi (2006:238), Word of Mouth adalah suatu bentuk promosi yang berupa rekomendasi dari mulut ke mulut tentang kebaikan dalam suatu produk.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Word of Mouth merupakan komunikasi yang dilakukan oleh konsumen yang telah melakukan pembelian dan menceritakan pengalamannya tentang produk atau jasa tersebut kepada orang lain sehingga secara tidak langsung konsumen tersebut telah melakukan promosi yang dapat menarik minat konsumen lain yang mendengarkan pembicaraan tersebut. Menurut Hasan (2010:96) Word of Mouth merupakan aspek penting program pemasaran dalam mengembangkan ekspresi konsumen terhadap merek. Word of Mouth merupakan bagian dari strategi promosi dalam kegiatan pemasaran yang menggunakan orang ke orang yang puas untuk meningkatkan kesadaran produk dan menghasilkan tingkat penjualan tertentu (Hasan et al., 2010:230). Komunikasi dari mulut ke mulut menyebar dengan jaringan bisnis, sosial, dan masyarakat yang dianggap sangat berpengaruh. Menurut Kotler & Keller (2007) mengemukakan bahwa Word of Mouth Communication atau komunikasi dari mulut ke mulut merupakan proses komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau
jasa yang bertujuan untuk memberikan informasi secara personal.
Menurut Hughes (2015:31) mengemukakan bahwa jenis-jenis komunikasi Word of Mouth dapat di kelompokkan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Word of Mouth positif, merupakan proses penyampaian informasi dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh individu yang satu ke individu lain berdasarkan pengalaman yang bersifat positif terhadap suatu produk, jasa, maupun perusahaan.
2. Word of Mouth negatif, merupakan proses interaksi dari mulut ke mulut yang didasarkan pada pengalaman negatif yang diperoleh dari individu yang satu ke individu yang lain terhadap suatu produk, jasa, atau perusahaan.
Menurut Rosen, (2004:16) ada tiga alasan yang membuat Word of Mouth menjadi begitu penting yaitu:
1. Kebisingan (Noise)
Para calon konsumen hampir tidak dapat mendengar banyaknya kebisingan yang dilihatnya di berbagai media setiap hari. Mereka bingung sehingga untuk melindungi diri, mereka menyaring sebagian pesan yang berjalan dari media massa. Sebenarnya mereka cenderung lebih mendengarkan apa yang dikatakan orang atau kelompok yang menjadi rujukan seperti teman-teman atau keluarga.
2. Keraguan (Skepticism)
Para calon konsumen umumnya bersikap skeptis ataupun meragukan kebenaran informasi yang diterimanya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kekecawan yang dialami konsumen saat harapannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan di saat mekonsumsi produk. Dalam kondisi ini konsumen akan berpaling ke teman ataupun orang yang bisa dipercaya untuk
mendapatkan produk yang mampu memuaskan kebutuhannya.
3. Keterhubungan (Connectivity)
Kenyataan bahwa para konsumen selalu berinteraksi dan berkomunikasi satu dengan yang lain, mereka saling berkomentar mengenai produk yang dibeli ataupun bahkan bergosip mengenai persoalan lain. Dalam interaksi inisering terjadi dialog tentang produk seperti pengalaman mereka menggunakan produk.
Menurut Hasan (2010:33), ada lima manfaat Word of Mouth sebagai sumber informasi yang kuat untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen yaitu sebagai berikut:
1. Word of Mouth adalah sumber informasi yang independen dan jujur ketika informasi datang dari seseorang teman itu lebih kredibel karena tidak ada association dari orang dengan perusahaan atau produk.
2. Word of Mouth sangat kuat dalam memberikan manfaat kepada orang yang bertanya dengan pengalaman langsung tentang produk melalui pengalaman teman dan kerabat.
3. Word of Mouth disesuaikan dengan orang-orang terbaik di dalamnya, seseorang tidak akan bergabung dengan percakapan kecuali mereka tertarik pada topik yang dibicarakan.
4. Word of Mouth menghasilkan media iklan informal.
5. Word of Mouth dapat dimulai dari satu sumber tergantung bagaimana kekuatan Influencer dan jaringan sosial yang menyebar dengan begitu cepat dan luas kepada orang lain.
2.2.2 Karakteristik Word of Mouth
Menurut Sernovitz (2009 :31), terdapat lima elemen yang dibutuhkan agar Word of Mouth dapat menyebar yaitu :
1. Talkers (Pembicara)
Harus tahu siapa pembicara dalam hal ini pembicara adalah konsumen yang telah mekonsumsi produk yang telah diberikan, terkadang orang lain cenderung dalam memilih atau memutuskan suatu produk tergantung kepada konsumen yang telah berpengalaman menggunakan produk atau biasa disebut dengan referal pihak yang merekomendasikan suatu produk atau jasa.
2. Topics (Topik)
Adanya suatu Word of Mouth karena tercipta suatu pesan atau perihal yang membuat mereka berbicara mengenai produk atau jasa, seperti halnya pelayanan yang diberikan, karena produk mempunyai keunggulan tersendiri, tentang perusahaan dan lokasi yang strategis.
3. Tools (Alat)
Setelah mengetahui pesan atau perihal yang membuat mereka berbicara mengenai produk atau jasa tersebut dibutuhkan suatu alat untuk membantu agar pesan tersebut dapat berjalan, seperti website game yang diciptakan untuk orang-orang bermain, contoh produk gratis, postcards, brosur, spanduk, melalui iklan di radio apa saja alat yang bisa membuat orang mudah membicarakan atau menularkan produk anda kepada temannya.
4. Talking Part (Partisipasi)
Suatu partisipasi perusahaan seperti halnya dalam menanggapi respon pertanyaan-pertanyaan mengenai produk atau jasa dan terperinci mengenai
produk atau jasa tersebut, melakukan follow-up ke calon konsumen sehingga mereka melakukan suatu proses pengambilan keputusan.
5. Tracking (Pengawasan)
Pengawasan akan hasil Word of Mouth marketing perusahaan setelah suatu alat tersebut berguna dalam proses Word of Mouth dan perusahaan pun cepat tanggap dalam menanggapi calon konsumen, perlu pula pengawasan akan Word of Mouth yang telah ada tersebut yaitu dengan melihat hasil seperti dalam kotak saran sehingga terdapat informasi banyaknya Word of Mouth positif atau Word of Mouth negatif dari para konsumen.
2.3 Keputusan Pembelian
2.3.1 Pengertian Keputusan Pembelian
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa keputusan-keputusan lebih sulit apabila produk alternatif secara psikologis adalah penting, dan apabila mereka memiliki sifat-sifat abstrak yang berbeda. Suatu keputusan melibatkan pilihan diantara dua atau lebih alternatif tindakan atau perilaku. Menurut Setiadi (2008:416), menyatakan bahwa pengambilan keputusan pembelian adalah proses penginter gasian yang mekombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya. Keputusan pembelian merupakan hasil atau alternatif tertentu untuk berperilaku dalam memenuhi kebutuhannya. Tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap suatu produk dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk yang sudah dikenal oleh masyarakat sebelum konsumen memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen
melalui beberapa tahap terlebih dahulu yaitu, pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan membeli atau tidak dan perilaku pasca pembelian (Kotler, 2002:184).
Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian merupakan keputusan dalam memilih suatu produk dari beberapa alternatif pilihan yang sudah ada.
2.3.2 Karakteristik Keputusan Pembeli Gambar 2.1
Proses Pengambilan Keputusan
Sumber: Kolter dan Armstrong (2004:224)
Perilaku pembelian pelanggan merupakan unsur suatu rangkaian tindakan fisik maupun mental yang dialami pelanggan ketika akan melakukan pembelian produk tertentu terdiri dari:
1. Pengenalan Masalah
Keputusan pembelian diawali dengan adanya kebutuhan dan keinginan seseorang, dimana pembeli merasakan adanya perbedaan antara keadaan aktual dan sejumlah keadaan yang diinginkan. Kebutuhan itu dapat dipicu oleh stimulan internal maupun dipicu oleh rangsangan eksternal.
2. Pencarian Informasi
Setelah pelanggan menyadari adanya kebutuhan terhadap produk tertentu, selanjutnya pelanggan tersebut mencari informasi, baik yang berasal dari pengetahuan maupun berasal dari luar. Sumber informasi pelanggan digolongkan ke dalam empat kelompok yaitu:
Evaluasi
a. Sumber pribadi.
b. Sumber konvensi c. Sumber publik d. Sumber pengalaman 3. Evaluasi Alternatif
Setelah informasi diperoleh, pelanggan mengevaluasi berbagai alternatif pilihan dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
4. Keputusan Pembelian
Apabila tidak ada faktor lain yang mengganggu setelah pelanggan menentukan pilihan yang telah ditetapkan, maka pembelian yang aktual adalah hasil akhir dari pencarian dan evaluasi yang telah dilakukan.
5. Perilaku Pasca Pembelian
Apabila produk yang dibeli tidak memberikan kepuasan yang diharapkan, maka pelanggan akan mengubah sikapnya terhadap merek produk tersebut menjadi sikap negatif, bahkan mungkin akan menolak produk tersebut di kemudian hari. Sebaliknya, bila pelanggan mendapat kepuasan dari produk yang dibelinya, maka keinginan untuk membeli terhadap produk tersebut cenderung akan menjadi lebih kuat.
2.3.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Keputusan Pembeli
Menurut Kolter (1997:153), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian adalah sebagai berikut :
1. Faktor Budaya
Faktor budaya terdiri dari beberapa sub yang berkaitan, antara lain dengan:
a. Budaya, merupakan penentu keinginan dan perilaku yang mendasar yang
terdiri dari kumpulan nilai, preferensi dan perilaku dari keluarganya dan lembaga-lembaga penting lainnya yang memberikan pengaruh kepada konsumen.
b. Sub Budaya, terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyaknya sub-budaya yang membentuk segmen pasar yang penting, dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang disesuai dengan kebutuhan mereka.
c. Kelas Sosial, berkaitan dengan preferensi produk dan merek yang berbeda dalam banyak hal, termasuk pakaian, perabot rumah tangga dan kegiatan dalam waktu luang.
2. Faktor Sosial
Selain faktor budaya, keputusan pembelian seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti:
a. Kelompok Acuan, yang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak terhadap sikap atau perilaku seseorang.
b. Keluarga, merupakan organisasi pembelian pelanggan yang paling penting dalam masyarakat, dan telah menjadi obyek penelitian yang ekstensif.
Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh. Kehidupan pembeli dapat dibedaka menjadi dua keluarga yaitu kelompok orientasi terdiri dari orang tua dan saudara kandung seseorang. Sedangkan keluarga prokreasi yaitu pasangan dan sejumlah anak seseorang.
c. Peran dan Status, meliputi kegiatan yang diharapkan akan kelakuan oleh pelanggan dan masing-masing peran mengharapkan status.
3. Faktor Pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi yang meliputi:
a. Usia dan Tahap Siklus Hidup, orang membeli barang dan jasa yang berbeda-beda sepanjang hidupnya. Pemasar sering memilih kelompok-kelompok berdasarkan siklus hidup sebagai pasar sasaran mereka.
b. Pekerjaan dan Keadaan Ekonomi, pekerjaan seseorang juga mempengaruhi pola konsumsi yang peka terhadap harga dan terus menerus memperhatikan kecenderungan penghasilan pribadi, tabungan dan tingkat suku bunga.
c. Gaya Hidup, adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya yang menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungan.
d. Kepribadian dan Konsep Diri, merupakan karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang yang menghasilkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan yang berkaitan dengan kepribadian adalah konsep (citra pribadi) seseorang.
4. Faktor Psikologi
Pilihan pembelian pelanggan dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama yaitu:
a. Motivasi, suatu kebutuhan akan menjadi motif jika didorong hingga mencapai tingkat intensitas yang memadai.
b. Persepsi, proses bagaimana seseorang individu memilih, mengorganisasi dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan
gambaran dunia yang memiliki arti.
c. Pembelajaran, perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Dorongan akan menjadi motif jika diarahkan menuju rangsangan (stimulus) pengurangan dorongan tertentu.
d. Keyakinan dan Sikap
1) Keyakinan, keyakinan pelanggan tentang produk atau merek mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Keyakinan mungkin berdasarkan pengetahuan, pendapat, atau kepercayaan.
2) Sikap, merupakan evaluasi, perasaan emosional, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama dari seseorang terhadap suatu obyek atau gagasan.
2.4 Kerangka Berpikir
Menurut Hermawan dan Yusran (2017:36), kerangka berpikir merupakan landasan dari keseluruhan proses penelitian. Kerangka pemikiran yang baik dan benar akan menjelaskan secara teoretis pertautan antara variabel yang diteliti.
Perilaku konsumen adalah tindakan yang dilakukan konsumen guna mencapai dan memenuhi kebutuhannya baik untuk menggunakan, mengonsumsi, maupun menghabiskan barang dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan yang menyusul.
Word of Mouth komunikasi dari mulut ke mulut merupakan proses komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa yang bertujuan untuk memberikan informasi secara personal. Suatu bentuk promosi yang berupa rekomendasi dari mulut ke mulut tentang kebaikan dalam suatu produk sehingga dapat disimpulkan
bahwa Word of Mouth merupakan komunikasi yang dilakukan oleh konsumen yang telah melakukan pembelian dan menceritakan pengalamannya tentang produk atau jasa tersebut kepada orang lain sehingga secara tidak langsung konsumen tersebut telah melakukan promosi yang dapat menarik minat konsumen lain yang mendengarkan pembicaraan tersebut.
Keputusan pembelian merupakan tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap suatu produk dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk yang sudah dikenal oleh masyarakat sebelum konsumen memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen melalui beberapa tahap terlebih dahulu yaitu, pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan membeli atau tidak dan perilaku pasca pembelian.
Berdasarkan teori yang sudah dijelaskan diatas, maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir
Sumber: Diolah oleh peneliti 2020 Manajemen Pemasaran
Word Of Mouth (X)
Keputusan Pembelian (Y)
2.5 Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konseptual adalah suatu pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi fondasi bagi setiap pemikiran atau suatu bentuk proses dari keseluruhan penelitian yang di lakukan (Sugiyono, 2011:60). Maka peneliti menentukan konsep penelitian berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan dalam teori terkait yaitu keputusan pembelian yang merupakan variabel terikat (Y) disebabkan oleh Word of Mouth (X) yang merupakan variabel bebas. Indikator Word of Mouth (X) yang dapat mendorong terjadinya keputusan pembelian yaitu dengan talkers, dimana harus tahu siapa pembicara dalam hal ini pembicara adalah konsumen yang telah mekonsumsi produk yang telah diberikan, terkadang orang lain cenderung dalam memilih atau memutuskan suatu produk tergantung kepada konsumen yang telah berpengalaman menggunakan produk atau biasa disebut dengan referral pihak yang merekomendasikan suatu produk atau jasa. Topics, adanya suatu Word of Mouth karena tercipta suatu pesan atau perihal yang membuat mereka berbicara mengenai produk atau jasa, seperti halnya pelayanan yang diberikan, karena produk mempunyai keunggulan tersendiri, tentang perusahaan dan lokasi yang strategis. Tools, setelah mengetahui pesan atau perihal yang membuat mereka berbicara mengenai produk atau jasa tersebut dibutuhkan suatu alat untuk membantu agar pesan tersebut dapat berjalan, seperti website game yang diciptakan untuk orang-orang bermain, contoh produk gratis, postcards, brosur, spanduk, melalui iklan di radio apa saja alat yang bisa membuat orang mudah membicarakan atau menularkan produk kepada temannya. Talking Part atau partisipasi perusahaan, suatu partisipasi perusahaan seperti halnya dalam
menanggapi respon pertanyaan-pertanyaan mengenai produk atau jasa dan terperinci mengenai produk atau jasa tersebut, melakukan follow up ke calon konsumen sehingga mereka melakukan suatu proses pengambilan keputusan. Dan Tracking, pengawasan akan hasil Word of Mouth Marketing perusahaan setelah suatu alat tersebut berguna dalam proses Word of Mouth dan perusahaan pun cepat tanggap dalam menanggapi calon konsumen, perlu pula pengawasan akan Word of Mouth yang telah ada tersebut yaitu dengan melihat hasil seperti dalam kotak saran sehingga terdapat informasi banyaknya Word of Mouth positif atau Word of Mouth negatif dari para konsumen.
Gambar 2.3 Gempol Dan Kopi Anjis”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh Word of Mouth terhadap keputusan pembelian pada Cafe tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data yang didapatkan melalui kuesioner danmenggunakan responden sebanyak 100 orang. Kemudian data yang didapat diolah dengan metode regresi linear sederhana menggunakan aplikasi SPSS 22. Dari hasil perhitungan koefisien
Word of Mouth (X)
determinasi didapatkan hasil bahwa R Square bernilai 0,348 yang berarti Word of Mouth mempengaruhi keputusan pembelian sebesar 34,81%
sedangkan sisanya sebesar 65,19% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Sedangkan pada hasil uji simultan (uji-F) didapatkan hasil F hitung 52,319 yang lebih besar dari F tabel 2,31 yang berarti Word of Mouth berpengaruh secara simultan terhadap keputusan pembelian. Dapat disimpulkan bahwa Word of Mouth berpengaruh secara simultan terhadap keputusan pembelian pada Cafe Roti Gempol dan Kopi Anjis. Perusahaan disarankan meningkatkan kualitas produk dan pelayanan sehingga menghasilkan Word of Mouth yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian.
2. Budi Prasetiyo dan Taopik Hidayat (2019)melakukan penelitian yang berjudul: “Pengaruh Promosi Dan Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Produk XYZ Donat”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi dan word of mouth terhadap keputusan pembelian produk XYZ Donat di Bandung baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel yang terdiri dari 100 orang konsumen XYZ Donut. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis jalur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa promosi dan Word of Mouth secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap keputusan pembelian dengan nilai koefisien determinasi sebesar 83,7%, dan sisanya sebesar 16,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.
3. Kiki Joesyiana (2018) melakukan penelitian yang berjudul: “Pengaruh Word
of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Media Online Shop Shopee Di Pekanbaru (Surve Pada Mahasiswa Semester Vii Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau)”. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui, menjelaskan dan menganalisis pengaruh Word of Mouth terhadap Keputusan Pembelian Konsumen melalui Media Online Shop Shopee di Pekanbaru, yang survenya di lakukan pada mahasiswa semester VII Jurusan Pendidikan Ekonomi Akuntansi Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau. Penelitian ini menggunakan Explanatory Research dengan metode survey melalui pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian adalah Mahasiswa sebagai konsumen yang pernah menggunakan media Online Shop Shopee. Menggunakan metode pengumpulan data sensus, karena jumlah responden yang tidak banyak bahkan diketahui, yaitu sebesar 78 orang responden. Metode pengumpulan data menggunakan angket. Analisis data secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus analisis regresi linier sederhana yang di olah menggunakan program SPSS 20. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: terdapat pengaruh yang signifikan antara Word of Mouth terhadap Keputusan Pembelian Konsumen melalui Media Online Shop Shopee di Pekanbaru.
4. Putri Rizkia Paputungan, Agus. S. Soegoto dan Ferdy Roring (2018) melakukan penelitian yang berjudul: “Pengaruh Promosi Dan Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Di Oriflame Manado”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari promosi dan Word of Mouth terhadap keputusan pembelian Oriflame di Manado. Peneliti menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi linier berganda.
Instrumen yang digunakan sebelumnya telah diuji validitas dan reliabilitasnya ditemukan bahwa seluruh item pernyataan didalam kuesioner valid dan reliabel untuk digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara persial dan simultan sehingga dapat disimpulkan bahwa promosi dan Word of Mouth berpengaruh terhadap keputusan pembelian di Oriflame Manado. Sebaiknya Oriflame melakukan inovasi yang baru untuk mempromosikan produk dari oriflame sehingga lebih banyak lagi yang mengetahui tentang Oriflame karena dengan melihat Oriflame jarang melakukan promosi melalui iklan serta melakukan promosi tidak hanya
Instrumen yang digunakan sebelumnya telah diuji validitas dan reliabilitasnya ditemukan bahwa seluruh item pernyataan didalam kuesioner valid dan reliabel untuk digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara persial dan simultan sehingga dapat disimpulkan bahwa promosi dan Word of Mouth berpengaruh terhadap keputusan pembelian di Oriflame Manado. Sebaiknya Oriflame melakukan inovasi yang baru untuk mempromosikan produk dari oriflame sehingga lebih banyak lagi yang mengetahui tentang Oriflame karena dengan melihat Oriflame jarang melakukan promosi melalui iklan serta melakukan promosi tidak hanya