• Tidak ada hasil yang ditemukan

Istilah yang perlu dibatasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Gaya Belajar

Brown (dalam Widharyanto, 2017), menjelaskan bahwa gaya belajar adalah cara dimana individu menerima dan memproses informasi dalam situasi belajar.

2. Strategi Belajar

Berdasarkan penapat O’Malley dan Chamot (dalam Hardan, 2013), pengertian strategi belajar bahasa sebagai teknik dan perangkat yang digunakan oleh pembelajar bahasa kedua untuk mengingat dan atau mengatur sampel bahasa kedua.

3. Membaca

Menurut Tarigan (2008: 7), membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.

4. Menulis

Berdasarkan pendapat Tarigan (2008: 3), menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.

5. Menyimak

Menurut Hermawan (2012:30), menyimak merupakan sebuah keterampilan yang kompleks yang memerlukan ketajaman perhatian, konsentrasi, sikap

mental yang aktif, dan kecerdasan dalam mengasimilasi serta menerapkan setiap gagasan.

6. Berbicara

Menurut Tarigan (1984: 15), berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

F. Sistematika Penyajian

Sistematika penyajian ini terdiri dari Bab I yang mencakup enam subbab, diantaranya; a) latar belakang masalah, b) rumusan masalah, c) tujuan penelitian, d) manfaat penelitian, e) batasan istilah, dan f) sistematika penyajian. Bab I merupakan pendahuluan dari penelitian ini. Bab ini memaparkan mengenai gambaran awal dari penelitian.

Bab II mencakup tiga subbab yaitu; a) penelitian yang relevan, b) landasan teori, dan c) kerangka berpikir. Bab II merupakan landasan teori dan kerangka berpikir. Bab III mencakup lima subbab, yakni; a) seting penelitian, b) sumber dan data penelitian, c) metode dan teknik pengumpulan data, d) instrumen penelitian, e) teknik analisis data. Bab IV mencakup tiga subbab, yaitu: a) deskripsi data, b) analisis data, c) pembahasan. Bab V mencakup dua subbab, diantaranya; a) simpulan dan b) saran.

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian ini merupakan penelitian yang mengkaji topik tentang gaya belajar dan strategi belajar. Berdasarkan hasil eksplorasi peneliti, ditemukan tiga penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Yang pertama, dalam penelitian yang dilakukan oleh Zakaria, dkk (2018) dengan judul penelitian “Language Learning Strategies Used by Secondary Schools Students in Enhancing Speaking Skills”, penelitian tersebut terfokus untuk mengidentifikasi penggunaan strategi belajar yang paling sering digunakan siswa, untuk menambah kemampuan mereka dalam berbicara bahasa Inggris dan juga terfokus untuk menganalisis perbedaan penggunaan strategi antar gender.

Subjek penelitian tersebut adalah 60 siswa yang dipilih secara acak dari SMP yang berlokasi di Bandar Baru Bangi, Malaysia. Penelitian tersebut menggunakan desain penelitian campuran (mixed-method), data diperoleh dari kuesioner yang diadaptasi dari Oxford dan wawancara semi terstruktur. Data dari hasil kuesioner dikumpulkan, dikuantifikasi dan disajikan dalam bentuk frekuensi yang dihitung, dirata-rata dan distandardeviasikan. Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah topik penelitian yang sama-sama mengkaji penggunaan strategi belajar bahasa pada siswa di sekolah

tertentu. Selanjutnya terdapat pula persamaan pada penggunaan instrumen penelitian, secara khusus pada penggunaan kuesioner Oxford yang telah diadaptasi.

Kedua, pada penelitian Alqadi (2015) dengan judul “Different Learning Styles of L2 Learners”, penelitian tersebut terfokus pada perlunya mencocokan berbagai gaya belajar dan strategi pendidik untuk mengembangkan potensi siswa dalam belajar L2. Selain itu, artikel jurnal ini juga menyajikan beberapa implikasi yang dapat berkontribusi untuk membantu pendidik dan desainer kurikulum mengidentifikasi beragam gaya belajar yang akan membantu siswa untuk memahami dan memodifikasi gaya belajar mereka sendiri sehingga dapat mencapai tingkat kemahiran belajar yang lebih baik dan lebih tinggi.

Relevansi antara penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah bahwa penelitian ini berfokus pada meneliti strategi belajar, karakteristik belajar pada siswa bergaya belajar read/write yang dimiliki siswa tertentu, penelitian tersebut juga mengkaji tentang gaya belajar siswa, namun lebih kepada bagaimana mencocokan gaya belajar tersebut dengan strategi mengajar guru, serta berbagai implikasi.

Ketiga, pada penelitian yang dilakukan oleh Anam dan Stracke (2016) yang berjudul “Language Learning Strategies of Indonesian Primary School Students: In Relation to self-efficacy beliefs”. Penelitian tersebut meneliti siswa sekolah dasar dalam belajar bahasa inggris, secara khusus strategi yang digunakan, dan bagaimana siswa mengaitkan antara strategi dan efikasi diri.

Untuk menginventarisasi strategi siswa penelitian tersebut menggunakan kuesioner “SILL” dan untuk mengukur efikasi diri dalam belajar bahasa Inggris menggunakan kuesioner “C-SELEQ” yang diberikan kepada 522 siswa kelas 6. Penelitian tersebut menghasilkan data bahwa strategi yang paling banyak digunakan adalah strategi sosioafektif dan metakognitif serta strategi kognitif yang jumlahnya sedang. Hasil dari penelitian tersebut juga menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan strategi antar siswa yang menganggap diri mereka mampu melakukan tugas bahasa inggris dan mengatur pembelajaran mereka sendiri, dengan siswa yang tidak. Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah topik penelitian yang sama-sama meneliti strategi belajar bahasa yang digunakan oleh siswa. Secara lebih mendalam penelitian tersebut menganalisi keterkaitan antara strategi belajar bahasa dengan efikasi diri, berbeda halnya dengan penelitian ini, yang memperdalam analisis karakteristik belajar, serta strategi belajar yang dimiliki siswa bergaya belajar read/write. Persamaan lain antara penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah instrumen penelitian yang digunakan untuk menginventarisasikan strategi belajar siswa, yakni sama-sama menggunakan kuesioner SILL.

Berdasarkan hasil riset peneliti mengenai relevansi dari ketiga penelitian diatas, didapatkan pula adanya suatu kebaharuan dari penelitian ini. Dalam pengkajian gaya belajar secara khusus pada bidang pembelajaran bahasa Indonesia terbilang masih sedikit jumlahnya. Berdasarkan hasil eksplorasi peneliti mengenai pengkajian gaya belajar, terutama gaya belajar model VARK

di Indonesia terbilang minim, penelitian-penelitian tersebut juga hanya mengkaji pada hubungan antara strategi belajar dengan berbagai unsur, seperti pada penelitian diatas, yang mengkaji strategi belajar dengan efikasi diri serta strategi belajar dengan kemampuan belajar bahasa Inggris. Berbeda dengan penelitian ini yang secara mendalam mengkaji lingkup suatu hubungan antara gaya belajar, karakteristik belajar, serta strategi belajar siswa tertentu, dengan tujuan menghasilkan suatu deskripsi mendalam mengenai pemaparan hubungan strategi belajar yang digunakan siswa bergaya read/write, serta karakteristik belajarnya dalam belajar bahasa Indonesia, secara khusus pada empat keterampilan berbahasa, untuk itu terdapat suatu kebaharuan dari penelitian ini dari penelitian-penelitian sebelumnya.

B. Landasan Teori

1. Pembelajaran Bahasa Indonesia

Menurut Brown (dalam Suwarsih, 2013: 1), bidang pengajaran bahasa telah mengalami berbagai perkembangan yang terkait dengan pendekatan dan atau metode dari belajar bahasa lisan ke belajar kaidah-kaidah bahasa kembali ke belajar bahasa lisan. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, perubahan kurikulum telah dilakukan beberapa kali dengan tujuan mengembangkan ranah pendidikan menjadi lebih baik. Pada tahun 2013 pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, melakukan suatu hajatan besar dalam ikhtiar mencerdaskan anak bangsa, yaitu hajatan yang terkait dengan pengembangan kurikulum (Mahsun, 2014: 91).

Bahasa Indonesia dalam konteks kurikulum 2013, berdasarkan pendapat Nuh (dalam Mahsun, 2014:94), merupakan suatu keistimewaan, karena Kurikulum 2013 menempatkan bahasa sebagai penghela ilmu pengetahuan.

Menurut Mahsun (2014: 95), peran bahasa sebagai penghela ilmu pengetahuan tentunya bukan merupakan suatu kebetulan jika paradigma pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 diorientasikan pada pembelajaran berbasis teks, seperti dapat dilihat dalam rumusan kompetensi dasar substansi Bahasa Indonesia dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

Perancangan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks memberi ruang pada peserta didik untuk mengembangkan berbagai jenis struktur berpikir, karena setiap teks memiliki struktur berpikir yang berbeda satu sama lain.

semakin banyak teks yang dikuasai, maka semakin banyak struktur berpikir

yang dikuasi peserta didik (Mahsun, 2014: 95). Bidang pembelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 mengalami berbagai perubahan. Menurut (Mahsun, 2014: 95), perubahan bidang pembelajaran bahasa Indonesia terjadi pada paradigma penetapan satuan kebahasaan yang menjadi basis materi pembelajaran. adapun satuan bahasa yang menjadi basis pembelajarannya adalah teks. Jadi, pembelajaran bahasa Indonesia dengan mempertimbangkan konteks situasi pemakaian bahasa itu sendiri.

Terdapat beberapa alasan teks dijadikan basis dalam pembelajaran kurikulum 2013 menurut Mahsun (2014 : 97). Pertama, melalui teks kemampuan berpikir siswa dapat dikembangkan. Kedua, materi pembelajaran berupa teks lebih relevan dengan karakteristik kurikulum 2013 yang menetapkan capaian kompetensi siswa yang mencakup ketiga ranah pendidikan: pengetahuan, keterampilan, sikap.

2. Gaya Belajar

Menurut Brown (dalam Widharyanto, 2017), gaya belajar merupakan cara individu menerima dan memproses informasi dalam situasi belajar, sedangkan menurut Gallow dan Labraca (dalam Ghazali, 2013: 134), semua orang memiliki gaya belajar sendiri-sendiri, gaya belajar ini dipengaruhi oleh karakteristik personal, karakteristik lingkungan, dan pilihan persepsi, orientasi kognitif dan kebutuhan mereka masing-masing.

Fleming (dalam Widharyanto, 2017), menyatakan bahwa gaya belajar merupakan karakteristik individual dan cara-cara yang lebih disukai dalam

mengumpulkan, mengorganisasikan, dan berpikir tentang informasi.

Berdasarkan pemaparan beberapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar merupakan cara individu untuk menerima dan memproses ilmu yang disampaikan oleh orang lain dalam situasi belajar, dan terdapat gaya belajar yang berbeda antara satu individu dengan individu lain.

3. Gaya belajar model VARK

Gaya belajar VARK adalah model yang dikembangkan oleh Neil D.

Fleming pada tahun 1987 terhadap model yang sudah ada, yakni VAK (Visual, Aural, Kinesthetic). Gaya belajar model Fleming memiliki empat preferensi

modalitas, yakni Visual, Aural atau Auditory, Read/Write , dan Kinesthetic dan disingkat menjadi VARK. Fleming membedakan preferensi modalitas Visual dengan Read/Writing (R) karena di antara keduanya memiliki kecenderungan yang berbeda. Dari apa yang dia baca dan amati, tampak jelas bahwa beberapa siswa memiliki preferensi yang berbeda untuk kata-kata tertulis (grafis) sementara yang lainnya lebih suka informasi simbolis (gambar) seperti dalam peta, diagram, dan grafik. Kedua preferensi tidak selalu ditemukan pada orang yang sama. Untuk selanjutnya, gaya belajar model Fleming memiliki 4 preferensi modalitas, yakni Visual, Aural atau Auditory, Read/Write , dan Kinesthetic dan disingkat menjadi VARK (Widharyanto, 2017).

VARK, menurut Fleming (dalam Widharyanto, 2017), mengacu pada kategori preferensi komunikasi. Ini berkaitan dengan cara seseorang mengambil dan memberikan informasi. Selama bertahun-tahun Fleming mengkaji preferensi modalitas sensorik seseorang dengan menggunakan

kuesioner VARK dan hasilya adalah sebagai berikut. Pertama, seorang siswa mungkin memiliki preferensi untuk satu modalitas atau lebih dari satu modalitas (multimodal). Kedua, modalitas belajar yang disukai tersebut mempengaruhi perilaku individu, termasuk belajarnya. Ketiga, preferensi gaya belajar tidak tetap, namun stabil dalam jangka menengah. Ketiga, baik guru dan siswa, dipercaya keduanya dapat mengidentikasi dan memberikan contoh-contoh penggunaan modalitas preferensi dalam belajar. Keempat, informasi yang diakses menggunakan strategi yang selaras dengan preferensi modalitas siswa lebih mungkin dipahami dan dapat memotivasi. Kelima, pencocokan strategi pembelajaran dengan preferensi modalitas juga cenderung mengarah ketekunan tugas-tugas belajar, pendekatan lebih mendalam untuk belajar, dan metakognisi aktif dan efektif. Keenam, pengetahuan tentang, dan bertindak atas, preferensi modal seseorang adalah kondisi penting untuk meningkatkan belajar seseorang.

Hawk dan Shah (dalam Widharyanto, 2017), menyajikan matriks yang diadaptasi dari Fleming tentang empat mode persepsi. Setiap individu memiliki kemungkinan untuk memiliki preferensi dari satu sampai empat, masing-masing siswa memiliki satu rentangan preferensi relatif dari empat mode persepsi yang ada, akan tetapi siswa juga dapat belajar untuk menggunakan mode lainnya, seperti yang tergambar dalam gambar berikut:

Gambar 1. Empat Preferensi Model Belajar

a. Gaya Visual

Siswa dengan gaya belajar visual mengandalkan indera mata atau penglihatan dalam proses menangkap informasi sebelum akhirnya memahami informasi tersebut. Siswa dengan gaya ini lebih mudah mengingat apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar, baca, dan lakukan. Preferensi yang mengandalkan indera mata ini lebih mudah, lebih menarik, manakala menangkap dan memahami informasi yang berasal peta, gambar, desain, diagram laba-laba, grafik, flow chart, diagram berlabel, semua anak panah simbolik, lingkaran, hirarki, foto, power point, film, demonstrasi guru, dan sebagainya yang digunakan orang untuk menyajikan informasi sebagai pengganti wujud kata-kata.

b. Gaya Aural

Siswa dengan gaya belajar Aural cenderung mengandalkan indera telinga atau pendengaran dalam menangkap informasi dan memahami informasi tersebut. Ia akan sangat memperhatikan intonasi, lafal, dan kecepatan bicara dari guru pada saat menjelaskan, bertanya, atau menjawab pertanyaan.

Keberhasilan dalam menangkap informasi dan memahami informasi sangat

bergantung pada pengemasan informasi tersebut. Jika informasi disajikan dalam bentuk rekaman, presentasi, cerita, atau dibacakan dengan keras, maka siswa dengan preferensi gaya aural akan lebih senang, lebih nyaman, dan lebih mudah.

c. Gaya Baca/Tulis

Siswa yang memiliki gaya belajar baca/tulis lebih suka memperoleh informasi dalam bentuk teks grafis dan bukan gambar yang memuat kata-kata, kalimat, paragraf, atau wacana. Siswa dengan gaya ini lebih nyaman dalam aktivitas belajar dengan input dan output dalam bentuk teks. Dengan demikian, kegiatan membaca buku (teks, pelajaran, ilmiah), koran (artikel, opini, berita, iklan, tajuk rencana, biografi), majalah (petunjuk mengoperasikan sesuatu, resep masakan, informasi hiburan), novel, esai, brosur, leaflet, surat, poster, serta menerjemahkan dengan kamus, menulis kembali, meringkas, mencatat, menulis pokok-pokok informasi, menulis kata-kata kunci, dan membuat parafrase, merupakan kunci keberhasilan dalam memperoleh dan memahami informasi.

d. Gaya Kinestetik

Siswa dengan gaya belajar kinestetik lebih suka memperoleh informasi melalui aktivitas praktik yang melibatkan fisik dan mengalami langsung dalam situasi kelas atau di luar kelas. Pengalaman merupakan hal yang penting bagi siswa kinestetik. Aktivitas seperti melakukan percobaan, membuat sesuatu, mendemonstrasikan suatu gerakan, bermain drama atau role playing, merupakan aktivitas yang mereka minati.

4. Strategi Belajar Bahasa

O’Malley dan Chamot (dalam Hardan, 2013), mengungkapkan bahwa strategi belajar bahasa adalah teknik dan perangkat yang digunakan oleh pelajar bahasa kedua untuk mengingat atau mengatur sampel bahasa kedua. Oxford (1990:8), memaparkan pengertian strategi belajar melalui satu definisi teknis yang umum digunakan, bahwa strategi pembelajaran adalah operasi yang dilakukan oleh pelajar untuk membantu akuisisi, penyimpanan, pengambilan, dan penggunaan informasi.

Oxford (dalam Suwarsih, 2013:181), menggolongkan strategi belajar menjadi strategi langsung dan nir-langsung. Strategi langsung terdiri atas strategi ingatan, strategi kognitif, dan strategi kompensasi, sedangkan strategi nirlangsung terdiri atas strategi metakognitif, strategi afektif, dan strategi sosial. Strategi ingatan membantu siswa menghubungkan butir-butir satu dengan lainnya, tetapi tidak selalu melibatkan pemahaman yang dalam. Stategi kognitif memapukan siswa untuk memanipulasi materi bahasa dengan cara langsung, misalnya melalui penalaran, analisis, pencatatan, rangkuman, sintesis, membuat kerangka, mengatur kembali informasi untuk membuat skema yang lebih kuat, praktik dalam ajang alami, dan memraktikkan struktur dan bunyi secara formal. Menurut Oxford (dalam Suwarsih, 2013:181), strategi kognitif secara signifikan terkait dengan kemahiran bahasa kedua atau bahasa asing. Stategi metakognitif digunakan untuk mengelola keseluruhan proses pembelajaran. Strategi metakognitif mencakup: mengidentifikasi gaya belajarnya sendiri, merencanakan tugas bahasa kedua atau bahasa asing,

mengumpulkan dan mengatur materi, mengatur ruang dan jadwal belajar, memantau kesalahan, mengevaluasi keberhasilan tugas, dan mengevaluasi keberhasilan strategi belajar apapun. Strategi kompensasi membantu siswa mengadakan pengetahuan yang hilang. Termasuk dalam strategi ini adalah menebak dari konteks dalam mendengarkan dan membaca, menggunakan sinonim dan mengupayakan menemukan kata untuk membantu dalam berbicara dan menulis, dan, khusus untuk berbicara, menggunakan isyarat.

Strategi afektif memampukan para siswa untuk mengungkapkan perasaan yang terkait dengan pembelajaran bahasa, misalnya dengan mengidentifikasi tingkat kecemasan, berbicara tentang perasaan, menghadiahi diri sendiri, karena telah tampil bagus, dan menggunakan nafas dalam-dalam atau berbicara positif tentang diri sendiri. Terakhir, strategi sosial membantu para siswa bekerja sama dengan orang lain dan memahami bahasa dan budaya sasaran. Strategi sosial menyakup kegiatan-kegiatan berikut: bertanya untuk memverifikasi, meminta klarifikasi, meminta bantuan dalam mengerjakan tugas bahasa, berbicara dengan mitra percakapan penutur asli, dan menjaga norma sosial dan budaya.

Tabel 1. Strategi Langsung dan Rinciannya STRATEGI LANGSUNG Menempatkan kata baru dalam konteks Merepresentasikan suara dalam ingatan

Meninjau

Menggunakan respon fisik atau sensasi

Menggunakan teknik mekanis

Strategi kognitif

Berpraktik Mengulangi

Secara formal memraktikkan dengan sistem bunyi dan tulisan Mengenali dan menggunakan rumus dan pola

Menemukan gagasan dengan cepat

Menggunakan sumberdaya untuk menerima dan mengirim pesan.

Menganalisis dan menalar

Menalar secara deduktif Menganalisis ungkapan

Menganalisis secara kontrastif lintas bahasa

Beralih pada bahasa ibu Mencari bantuan

Menggunakan isyarat atau mimik muka

Tabel 2. Strategi Nir-langsung dan Rinciannya

Strategi pengguna fasih bahasa sasaran

Empati pada orang lain

Mengembangkan pemahaman budaya Menyadari pikiran dan perasaan orang lain

5. Keterampilan Berbahasa

Menurut Tarigan (2008: 2), keterampilan berbahasa atau language arts, language skills dalam kurikulum di sekolah biasanya mencakup empat segi, yaitu:

a. Keterampilan menyimak (listening skill) b. Keterampilan berbicara (speaking skill) c. Keterampilan membaca (reading skill) d. Keterampilan menulis (writing skill)

Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraenka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur; mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupkan satu kesatuan, merupakan catur-tunggal.

Selanjutnya, setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir.

a. Menyimak

Menurut Hermawan (2012:30), menyimak merupakan sebuah keterampilan yang kompleks yang memerlukan ketajaman perhatian, konsentrasi, sikap mental yang aktif, dan kecerdasan dalam mengasimilasi serta menerapkan setiap gagasan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2020), memaparkan pengertian menyimak ialah mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.

Berdasarkan definisi dari kedua ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa menyimak merupakan suatu kegiatan maupun keterampilan yang memerlukan konsentrasi, perhatian, kecerdasan dan sikap mental yang aktif untuk mendengarkan informasi atau lambang bunyi agar dapat memperoleh makna serta isi informasi yang disampaikan pembicara melalui ucapan.

b. Menulis

Menurut Alek dan Achmad (2011: 105), menulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Berdasarkan pendapat Tarigan (2008: 3),

menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.

c. Membaca

Secara mendalam Tarigan (2008: 7), memaparkan bahwa membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Menurut Alek dan Achmad (2011: 74), membaca adalah proses memahami pesan tertulis yang menggunakan bahasa tertentu yang disampaiakan oleh penulis kepada pembacanya. Sementara itu, Anderson (dalam Alek dan Achmad, 2011: 74), memaparkan pengertian membaca ialah suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, melihat pikiran yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis.

e. Berbicara

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, berbicara yaitu berkata;

bercakap; berbahasa; melahirkan pendapat, dan berunding. Dalam pemaparan Tarigan (2008: 15), berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.

C. Kerangka Berpikir

Dalam kerangka berpikir, peneliti akan menjelaskan secara runtut langkah-langkah yang dilakukan peneliti saat melaksanakan penelitian ini. Penelitian

dilatarbelakangi masalah ketidakcocokan strategi pengajaran yang digunakan guru dan gaya belajar serta strategi belajar siswa kelas XII OTKP SMK Sanjaya Pakem dalam belajar bahasa Indonesia di kelas. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti melakukan langkah-langkah penelitian untuk mengetahui gaya belajar, karakteristik belajar dan strategi belajar secara khusus siswa bergaya read/write.

Pertama peneliti akan menganalisis gaya belajar seluruh siswa kelas XII OTKP SMK Sanjaya Pakem, dengan menggunakan kuesioner VARK untuk menemukan siswa-siswa yang bergaya belajar read/write. Tahap kedua, peneliti menganalisis karakteristik belajar siswa yang bergaya read/write dalam belajar bahasa Indonesia. Ketiga, secara mendalam peneliti menganalisis strategi belajar yang digunakan siswa bergaya read/write dengan kuesioner dari Oxford. Keempat peneliti mendeskripsikan data gaya belajar, karakteristik belajar, dan strategi belajar siswa kelas XII OTKP SMK Sanjaya Pakem yang bergaya belajar read/write.

Gambar 2. Kerangka Berpikir

Teori gaya belajar VARK dari Flemming dalam Widharyanto (2017) dan Teori strategi belajar

bahasa dari Oxford (dalam Suwarsih 2013:181)

Gaya belajar siswa kelas XII

OTKP SMK Sanjaya Pakem

Karakteristik belajar siswa kelas XII OTKP SMK Sanjaya Pakem yang bergaya belajar read/write

Strategi belajar siswa bergaya belajar read/write dalam belajar

bahasa Indonesia

Deskripsi gaya belajar, karakteristik belajar, dan strategi belajar siswa

kelas XII OTKP SMK Sanjaya Pakem yang bergaya belajar

read/write

28 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

Dokumen terkait