• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIWAYAT HIDUP

DAFTAR LAMPIRAN

6. MODEL PENGELOLAAN PENCEMARAN 1 Penyusunan Skenario Model

6.3. Simulasi Model Pengelolaan

6.4.1 Beban Limbah Skenario Basis

Hasil simulasi beban limbah untuk parameter-parameter yang dijadikan acuan, diperoleh hasil akhir yang berbeda. Hal ini bergantung pada nilai atribut masing-masing parameter. Nilai parameter BOD yang diperoleh dari hasil simulasi paling tinggi pada aliran sungai Jenneberang dan terkecil pada Kanal Benteng (lihat gambar 24). Aliran beban limbah pada Sungai Jenneberang pada awal simulasi 18.128 ton/bln menjadi 70.993 ton/bln diakhir periode dengan lama simulasi 10 tahun, adapun beban limbah pada Kanal Benteng 9 ton/bln menjadi 52 ton/bln. Total limbah BOD yang terakumulasi pada perairan pesisir Kota Makassar dari semua aliran limbah yang masuk adalah 25.596 ton/bln pada awal simulasi menjadi 10.799.191 ton/bln

Gambar 25 Hasil simulasi beban limbah BOD5

Hasil simulasi untuk beban limbah COD pada skenario basis ini juga tidak berbeda hampir sama dengan BOD. Beban terbesar limbah COD tertinggi dialirkan oleh Sungai Jenneberang dengan 95.972 ton/bln diawal periode 375.862

ton/bln diakhir periode. Loading beban terendah di Kanal Benteng dan Kanal Haji Bau.

Gambar 26 Hasil simulasi beban limbah COD skenario basis

Konsentrasi beban limbah NO3 pada pesisir kota Makassar

memperlihatkan hasil yang relatif hampir sama dengan parameter lain. Loading beban NO3

Hasil simulasi beban limbah PO

memperlihatkan besaran yang berbeda-beda. Kontribusi terbesar masih dari aliran beban limbah pada sungai Jenneberang selanjutnya berturut- turut Kanal Panampu, Sungai Tallo, Kanal Jongaya, Kanal H Bau dan Kanal Benteng. Terdapat sedikit perbedaan besaran loading beban antara Kanal Panampu dan Sungai Tallo, walaupun debit Sungai Jenneberang lebih tinggi tetapi memiliki konsentrasi limbah aliran yang lebih rendah dari Kanal Panampu (lihat gambar 26).

4 total diperairan pesisir Kota Makassar adalah 1.565 ton/bln menjadi 663.391 ton/bln diakhir periode simulasi 10 tahun mendatang. Sama dengan konsentrasi parameter limbah yang lain, PO4 yang ada di perairan pesisir kota Makassar disumbangkan oleh aliran sungai dan kanal. Aliran limbah PO4 tertinggi berasal dari Sungai Jenneberang dan terendah oleh Kanal Haji Bau. Variasi beban limbah pada airan beban dikarenakan tingkat konsentrasi parameter dan debit aliran yang berbeda-beda

t

Gambar 27 Hasil simulasi beban limbah NO3 skenario basis

Gambar 28 Hasil simulasi beban limbah PO4

6.4.2 Status Keberlanjutan Perikanan dan Wisata Skenario Basis

skenario basis

Model pengelolaan pencemaran di perairan pesisir Kota Makassar adalah untuk melihat status keberlanjutan aktivitas perikanan dan wisata. Aktivitas perikanan dan wisata yang memungkinkan terdapat di perairan pantai Kota

Makassar diukur berdasarkan kesesuaian lahan dan daya dukung perairan. Pencemaran beban limbah yang terdapat di perairan akan mempengaruhi daya dukung perairan, sehingga keberlanjutan perikanan dan wisata akan terancam karena adanya pencemaran. Daya dukung lingkungan sangat erat kaitannya dengan kapasitas asimilasi dari lingkungan yang menggambarkan jumlah limbah yang dapat dibuang ke dalam lingkungan tanpa menyebabkan polusi (UNEP, 1993)

Gambar 29 Status keberlanjutan perikanan dan wisata berdasarkan beban limbah BOD5 skenario basis

Beban limbah yang masuk ke perairan selain bergantung pada aliran dan konsentrasi pencemar, serta jumlah pencemar juga bergantung pada kemampuan perairan tersebut untuk menampung beban limbah yang biasanya dinyatakan dengan kemampuan asimilasi perairan. Bila beban limbah yang masuk belum melebihi kapasitas asimilasinya maka perairan tersebut masih dapat mendukung aktivitas yang sesuai dengan peruntukkannya. Sejalan yang dikemukakan Krom (1996) bahwa Daya tampung kawasan pesisir adalah kemampuan badan air atau perairan di kawasan tersebut dalam menerima limbah organik termasuk didalamnya adalah kemampuan untuk mendaur ulang atau mengasimilasi limbah

tersebut sehingga tidak mencemari lingkungan perairan yang berakibat terganggunya keseimbangan ekologisnya

Dalam simulasi model yang dibangun terdapat berbagai parameter yang dijadikan acuan dengan kondisi aliran sungai dan kanal. Hasil simulasi status

keberlanjutan dengan parameter acuan beban limbah BOD5, didapatkan hasil

yang bervariasi. Status perikanan dan wisata di daerah muara aliran sungai Jenneberang dan Sungai Tallo serta Kanal-kanal masih memungkinkan untuk dilanjutkan karena memperlihatkan nilai negatif artinya beban limbah yang masuk masih dibawah kemampuan asimilasi.

Gambar 30 Status keberlanjutan perikanan dan wisata berdasarkan beban limbah COD skenario basis

Hasil simulasi status keberlanjutan perikanan dan wisata untuk parameter COD mempelihatkan bahwa kegiatan perikanan dan wisata masih dapat dimungkinkan dilakukan kecuali perairan disekitar muara Sungai Jenneberang . Hal ini terindikasi dari nilai negatif yang diperoleh untuk semua aliran sungai dan kanal, walaupun dengan nilai yang beragam sementara nilai keberlanjutan di muara sungai Jenneberang walaupun pada awalnya memungkinkan karena nilainya negative, tetapi untuk periode simulasi akhir memperlihatkan hasil nilai positif

Hasil simulasi status keberlanjutan perikanan dan wisata untuk parameter

NO3 juga mempelihatkan bahwa kegiatan perikanan dan wisata masih dapat

dimungkinkan dilakukan kecuali perairan disekitar muara Sungai Jenneberang. Hal ini terindikasi dari nilai negatif yang diperoleh untuk semua aliran sungai dan kanal, walaupun dengan nilai yang beragam. Adapun untuk aliran pada sungai Jenneberang memperlihatkan status tidak berlanjut karena sejak awal simulasi nilainya positif yang artinnya aliran beban limbah NO3 yang masuk terlalu tinggi dibandingkan kemampuan asimilasi perairan tersebut

Gambar 31 Status keberlanjutan perikanan dan wisata berdasarkan beban limbah NO3

Hasil simulasi model basis untuk mengukur status keberlanjutan perikanan dan wisata di perairan pesisir Makassar berdasarkan aliran limbah PO4 memperlihatkan hasil yang bervariasi. Untuk aliran sungai Jenneberang dan Tallo memperlihatkan hasil positif artinya aktivitas perikanan disekitar muara sungai tidak dapat dilakukan karena beban limbah terlalu tinggi, sementara untuk aliran kanal masih dapat dimungkinkan. Hal ini karena selain jumlah debit yang lebih besar dari masing-masing sungai juga karena nilai konsentrasi parameter pada aliran juga besar

Gambar 32 Status keberlanjutan perikanan dan wisata berdasarkan beban limbah PO4

6.4.3 Pencemaran dan Nilai Kompensasi Skenario Basis

skenario basis

Model pengelolaan pencemaran untuk keberlanjutan perikanan dan wisata di pantai Kota Makassar, mencoba untuk menerapkan prinsip bahwa pencemar

akan membayar setiap kerusakan yang ditimbulkan pada lingkungan (polluter

must pay principle). Dengan menerapkan sistem kompensasi atas limbah atau cemaran yang dihasilkan pada setiap pencemar maka pengelolaan pencemaran diharapkan akan dapat berkelanjutan, karena setiap individu ataupun lembaga pencemar akan membayar tiap cemaran yang dihasilkan. Semakin tinggi kesadaran akan lingkungan semakin rendah biaya yang akan dibayarkan begitu juga sebaliknya.

Pada model yang dibangun terdapat atribut penduduk sebagai sumber pencemar. Penduduk dalam model terdiri dari jumlah penduduk lokal Kota Makassar dan tamu atau wisatawan yang menginap di hotel-hotel yang ada di Makassar. Jumlah penduduk kota Makassar saat ini berjumlah 1.272.349 jiwa (BPS kota Makassar, 2010) dan diperkirakan 1.687.024 jiwa pada 25 tahun mendatang. Pertumbuhan penduduk kota Makassar berdasarkan asumsi

pertumbuhan 1,63% untuk setiap tahun, jumlah ini bisa saja lebih besar mengingat prediksi ini tidak memasukkan jumlah migrasi penduduk. Asumsi ini karena perkembangan Kota Makassar yang relatif pesat serta merupakan pintu gerbang pembangunan dan pertumbuhan di Indonesia timur. Adapun jumlah tamu mengikuti pertumbuhan jumlah hotel, jumlah kamar dan tingkat hunian (okupansi) dari hotel.

Nilai kompensasi dalam model pengelolaan pencemaran, menggambarkan berapa besar nilai ekonomi yang yang harus dibayarkan oleh penduduk (sumber pencemar) untuk dapat memulihkan kondisi perairan agar dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya. Dalam memulihkan kondisi perairan agar tidak tercemar maka IPAL (instalasi pengolahan air limbah) sebagi medianya. Jadi dalam model ini diasumsikan berapa nilai ekonomi yang harus dibayar oleh penduduk Makassar untuk dapat membiayai IPAL.

Gambar 33 Hasil simulasi nilai kompensasi terhadap manfaat perikanan dan wisata skenario basis

Hasil simulasi memperlihatkan pertumbuhan sumber pencemar yang terdiri dari penduduk Kota Makassar dan Jumlah tamu hotel di Makassar pada awal simulasi berjumlah 1.274.732 jiwa sementara pada akhir simulasi 10 tahun kemudian berjumlah 1.505.055 jiwa. Sementara nilai kompensasi untuk tiap sumber pencemar adalah Rp 798,- pada awal simulasi menjadi Rp 676,- pada akhir simulasi. Hasil simulasi ini memperlihatkan adanya penurunan nilai

kompensasi untuk tiap pencemar (penduduk) yang disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk. Nilai kompensasi sendiri diperoleh dari nilai IPAL yang terdiri dari nilai investasi dan operasional dibagi dengan jumlah penduduk. Jadi semakin tinggi jumlah penduduk maka semakin rendah jumlah nilai kompensasi yang dibayar oleh setiap penduduk

Dalam Simulasi model basis jumlah nilai IPAL hanya dialokasikan sebesar 30% dari total nilainya. Hal ini juga diasumsikan sama dengan efektfitas kerja dan alokasi nilai kompensasi. Dari hasil simulasi dengan alokasi anggaran IPAL dan efektifitas kerja 30%, diperoleh nilai manfaat bersih perikanan dan wisata Rp 1.469.772.082/bln dan manfaat total yang diperoleh sampai tahun ke-10 menjadi Rp 12.538.802.584.706,- (lihat gambar 32). Nilai manfaat ini diperoleh dari akumulasi manfaat perikanan dan wisata dikurangi dengan biaya total yang berasal dari operasional IPAL yang dibayarkan oleh penduduk

Imbangan nilai insentif pada model basis menggambarkan jumlah keuntungan tiap-tiap sumber pencemar (penduduk). Pada hasil simulasi model imbangan nilan insentif diperoleh sebesar Rp 1.153,-/orang/bln pada awal periode menjadi total Rp 8.397.567,- pada akhir simulasi. Jadi bila dibandingkan antara nilai kompensasi dan imbangan nilai insentif yang diperoleh penduduk, masih terdapat selisih nilai bersih yang menguntungkan. Pada awal simulasi nilai insentif adalah Rp 1.153,-/orang/bln dikurangi dengan nilai kompensasi yang dibayar penduduk sebesar Rp 798,-, masih terdapat keuntungan bersih sebesar Rp 355,-/orang/bln

6.4.4 IPAL, Daya Dukung dan Keuntungan Ekonomi

Dalam model pengelolaan pencemaran yang dibangun, IPAL mempunyai peranan penting sebagai pengendali beban pencemaran yang bermuara di perairan Makassar. Kinerja IPAL sangat menentukan keberlanjutan aktivitas perikanan dan wisata, hal ini dikarenakan beban limbah yang berasal dari penduduk Kota Makassar akan dikelola terlebih dahulu hingga mencapai titik aman konsentrasi sebelum dibuang ke perairan pantai, Menurut Pemkot Makassar (2010) dana pembangunan IPAL akan dialokasikan sebesar 407 milyar. Instalasi pengolahan air limbah saat ini hanya baru melayani beberapa kecamatan dan diharapkan semua kecamatan memiliki intalasi pengolahan sehingga Makassar akan terbebas dari limbah.

.

Gambar 34 Hasil simulasi nilai efektifitas IPAL terhadap nilai keuntungan dan manfaat perikanan dan wisata skenario basis

Dengan adanya proses pengolahan limbah sebelum masuk ke perairan pantai, tentu akan tetap menjaga lingkungan supaya tidak tercemar. Perairan yang tidak tercemari beban limbah tentu akan dapat memberikan jasa lingkungan sesuai dengan peruntukkan berdasarkan tingkat kesesuaian dan daya dukungnya. Jadi IPAL memgang peranan penting agar perairan pesisir pantai tetap terpelihara daya dukung untuk berbagai aktivitas termasuk perikanan dan wisata. Dampak dari tetap terpeliharanya daya dukung lingkungan akan memberikan efek positif dari sisi ekonomi, selain tentunya efek pembiayaan untuk pembangunan dan operasionalisasi IPAL tersebut

Berdasarkan hasil simulasi model dengan skenario basis memperlihatkan bahwa nilai keuntungan perikanan dan wisata cukup besar yakni Rp 1.775.022.080,-/bulan pada awal simulasi dan kemudian menjadi Rp Rp 213.002.649.792,-/bln pada akhir periode. Selain nilai keuntungan yang dapat diperoleh masyarakat atau pelaku usaha pada bidang perikanan dan wisata, pemerintah juga dapat memperoleh pemasukan berupa pajak yang dipungut sebesar 10% dari tingkat keuntungan usaha dengan asumsi yang digunakan dalah pajak PPh atau pajak penghasilan. Bila dilihat dari sisi ekonomi maka pembangunan IPAL bukan membebani anggaran secara negatif tetapi memberikan manfaat ekonomi dua sisi baik bagi masyarakat maupun pemerintah,

itupun belum memperhitungkan manfaat lainnya seperti terpeliharanya ekosistem dan estetika serta lainnya.