RIWAYAT HIDUP
DAFTAR LAMPIRAN
6. MODEL PENGELOLAAN PENCEMARAN 1 Penyusunan Skenario Model
6.6. Skenario Optimis
6.6.1 Beban Limbah Skenario Optimis
Skenario model optimis dibangun agar diharapkan hasil yang lebih baik bagi pengelolaan beban limbah yang masuk ke perairan pantai Kota Makassar.
Dengan melakukan perubahan pada atribut yang menyebabkan penurunan beban limbah maka hasil yang diharapkan dapat tercapai. Perubahan pada berbagai atribut pada model dilakukan tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai aspek diantaranya kemampuan pemangku kepentingan dalam hal ini pemerintah untuk dapat melaksanakan baik berupa kebijakan ataupun program pembangunan. Untuk dapat mengurangi angka sumber pencemar (penduduk) tentu dapat dilakukan dengan program pengendalian penduduk diantaranya Keluarga Berencana, sedangkan peningkatan kinerja IPAL dapat dilakukan dengan pembangunan IPAL baru dengan kapasitas yang lebih besar dari yang telah ada.
Gambar 45 Hasil simulasi beban limbah BOD5
Hasil simulasi beban limbah pada skenario optimis bagi parameter- parameter yang dijadikan acuan diperoleh hasil akhir yang berbeda-beda. Peningkatan kinerja IPAL, penurunan konsentrasi parameter perkapita, serta penurunan jumlah pertumbuhan pencemar sangat mempengaruhi hasil akhir running model. Nilai parameter BOD5 yang diperoleh dari hasil simulasi mengalami penurunan secara drastis. Total beban limbah BOD yang bermuara dipantai Kota Makassar pada skenario optimis hanya tersisa 15.168 ton/bln sementara pada skenario basis 25.596 ton/bln. Jadi terjadi penurunan beban limbah total mendekati setengah beban pada model basis. Beban limbah terbesar masih dari aliran limbah pada Sungai Jenneberang mengingat debit air sungai
yang relatif lebih tinggi dari aliran sumber pencemaran lainnya. Kontribusi terkecil berasal dari aliran limbah pada Kanal Benteng
Gambar 46 Hasil simulasi beban limbah COD Skenario optimis
Simulasi model skenario optimis untuk beban limbah COD juga memperlihatkan penurunan drastis. Beban limbah total COD pada awal simulasi 125.390 ton/bln menjadi 59.902.200 ton pada akhir simulasi. Peranan IPAL untuk menurunkan beban limbah yang masuk ke perairan pantai Kota Makassar terlihat jelas pada gambar grafik simulasi untuk semua jenis aliran, pada bulan awal semulasi terlihat curam akibat adanya pengurangan oleh IPAL Kontribusi beban limbah sama dengan skenario basis dikarenakan perubahan atribut seperti IPAL, jumlah pencemar dan konsentrasi dilakukan dengan perubahan yang sama untuk semua aliran limbah.sungai maupun kanal. Loading beban limbah terbesar oleh Sungai Jenneberang dan sungai Tallo sementra terendah Kanal Benteng dan Kanal Haji Bau
Perubahan atribut pada skenario optimis juga memberikan dapak penurunan beban limbah secara umum pada semua aliran beban limbah NO3. Hasil simulasi model optimis untuk konsentrasi beban limbah NO3 pada pesisir kota Makassar memperlihatkan hasil yang relatif hampir sama dengan parameter lain. Loading beban NO3 memperlihatkan besaran yang berbeda-beda.
Gambar 47 Hasil simulasi beban limbah NO3
Kontribusi terbesar masih dari aliran beban limbah pada sungai Jenneberang selanjutnya berturut-turut Kanal Panampu, Sungai Tallo, Kanal Jongaya, Kanal H Bau dan Kanal Benteng. Terdapat sedikit perbedaan besaran loading beban antara Kanal Panampu dan Sungai Tallo, walaupun debit Sungai Jenneberang lebih tinggi tetapi memiliki konsentrasi limbah aliran yang lebih rendah dari Kanal Panampu.
Skenario optimis
Hasil simulasi beban limbah PO4 total pada skenario optimis diperairan pesisir Kota Makassar adalah tersisa hanya 677,54 ton/bln menurun tajam dari 1.565 ton/bln pada model basis, sementara pada akhir periode simulasi 10 tahun kedepan jumlah beban limbah PO4 adalah 94.748 ton menurun jika dibandingkan dengan skenario basis 663.391 ton. Aliran limbah PO4 terbesar berasal dari Sungai Jenneberang dan terendah oleh Kanal Haji Bau. Variasi beban limbah pada airan beban dikarenakan tingkat konsentrasi parameter dan debit aliran yang
berbeda-beda. Jadi secara umum beban limbah PO4 mengalami penurunan yang
diakibatkan oleh kinerja IPAL yang meningkat dari 30% pada model basi menjadi 90% pada skenario optimis, selain dari faktor IPAL penurunan jumlah pencemar (penduduk turut memberikan pengaruh pada total beban limbah bukan saja pada konsentrasi PO4 tetapi pada semua parameter yang dijadikan acuan pada model yang dibangun
Gambar 48 Hasil simulasi beban limbah PO4
6.6.2 Status Keberlanjutan Perikanan dan Wisata Skenario Optimis
skenario optimis
Salah satu tujuan untuk membentuk model pengelolaan pencemaran adalah selain mensimulasi aliran beban limbah yang masuk ke perairan pantai Kota Makassar adalah mengetahui tingkat keberlanjutan aktivitas perikanan dan wisata. Pada skenario optimis terdapat perubahan pada beberapa atribut yang mana diharapkan dapat mengurangi beban limbah yang masuk kedalam perairan. Setiap perubahan atribut akan mengacu kemampuan dari pemerintah Kota Makassar untuk dapat menerapkan. Perubahan atribut yang diperkirakan dapat dilakukan oleh pemerintah Makassar adalah peningkatan kapasitas atau kinerja IPAL dari kondisi basis 30% menjadi 90%. Dalam kondisi yang sebenarnya Pemerintah Kota Makassar sedang berusaha untuk membangun IPAL untuk menangani semua beban limbah rumh tangga dan industri kecil yang ada di seluruh wilayah Makassar. Adapun biaya untuk membangun IPAL berasal dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) serta dana pinjaman, total dana yang dibutuhkan adalah 407 milyar. Perubahan atribut lain yang diperkirakan mamp dilakukan oleh pemerintah adalah penurunan angka pertumbuha penduduk kota Makassar dari 1,63% menjadi 1% melalui Program Keluarga Berencana
Secara umum hasil simulasi untuk mengukur status keberlanjutan perikanan dan wisata yang diukur dari kemampuan perairan untuk mengasimilasi beban limbah pada skenario basis adalah bernilai negatif untuk semua jenis aliran beban limbah baik sungai maupun kanal. Hasil ini juga diperoleh untuk semua
parameter yang dijadikan acuan yakni BOD5, COD, NO3 dan PO4. Hasil yang
negatif atau status berlanjut ini memang diharapkan dalam skenario optimis agar beban limbah dapat diatasi dan tetap dapat memelihara daya dukung lingkungan untuk perikanan dan wisata. Hasil simulasi status keberlanjutan dengan parameter acuan beban limbah BOD5 pada skenario optimis, diperoleh hasil yang seragam untuk semua tipe aliran limbah akan tetapi berbeda jauh dalam jumlah beban dibandingkan skenario basis.
Gambar 49 Status keberlanjutan perikanan dan wisata berdasarkan beban limbah BOD5 skenario optimis
Hasil simulasi status keberlanjutan perikanan dan wisata untuk parameter COD pada skenario optimis memperlihatkan bahwa aliran beban limbah pada sungai Jenneberang dan Sungai Tallo mengalami perubahan status yang tadinya tidak memungkinkan pada skenario basis berubah menjadi memungkinkan atau berlanjut Untuk status perikanan dan wisata pada muara kanal-kanal diMakassar
berdasarkan loading beban COD kesemuanya masih memungkinkan karena nilai kapasitas asimilasi masih diatas beban limbah yang masuk ke perairan. Berdasarkan nilai pada simulasi, total beban COD yang berasal dari semua aliran terlihat nilai negative mulai awal simulasi sampai akhir periode 10 tahun kedepan
Gambar 50 Status keberlanjutan Perikanan dan wisata berdasarkan beban limbah COD skenario optimis
Gambar 51 Status keberlanjutan perikanan dan wisata berdasarkan beban limbah NO3 skenario optimis
Berdasarkan hasil simulasi model optimis, status keberlanjutan perikanan
dan wisata untuk parameter NO3 juga mempelihatkan bahwa kegiatan perikanan
dan wisata dapat dimungkinkan dilakukan di semua aliran beban limbah tanpa terkecuali. Demikian juga halnya status keberlanjutan dengan parameter PO4 juga memperoleh hasil yang sama yakni dalam kondisi berlanjut dimana hasil simulasi memperoleh nilai negatif untuk semua aliran sungai dan kanal baik pada awal maupun akhir simulasi
Gambar 52 Status keberlanjutan perikanan dan wisata berdasarkan beban limbah PO4 skenario optimis
6.6.3 Pencemaran dan nilai Kompensasi Skenario Optimis
Model skenario optmis jumlah penduduk sebagai sumber pencemar mengalami perubahan bila dalam skenario pesimis penduduk berubah mengalami peningkatan pada nilai pertumbuhan, pada skenario optimis pertumbuhan penduduk mengalami penurunan angka pertumbuhan dari 1,63% menjadi 1%. Hasil simulasi menunjukkan bahwa jumlah penduduk mengalami pertumbuhan yang relatif kecil, pada awal simulasi jumlah penduduk adalah 1.274.732 jiwa meningkat tipis menjadi 1.415.027 jiwa pada akhir simulasi untuk 10 tahun kedepan. Jumlah ini merupakan gabungan dari total sumber pencemar yang terdiri dari penduduk kota Makassar sendiri ditambah dengan jumlah penduduk ‘tamu’ dari wisatawan yang menginap. Angka jumlah tamu diperoleh dari jumlah
kamar hotel yang ada di Makassar dengan rasio rata-rata tutupan kamar (okupansi). Semakin tinggi jumlah sumber pencemar maka semakin tinggi pula pencemaran berupa limbah yang dihasilkan begitu juga sebaliknya
Nilai kompensasi pada skenario model optimis mengalami peningkatan relatif tinggi, hal ini terjadi karena peningkatan atribut kinerja IPAL dari basis 30% menjadi 90%. Hal ini dengan sendirinya akan memberikan beban biaya pada pengadaan dan operasionalisasi IPAL. Dalam skenario model pencemaran yang dibangun ini, IPAL dibiayai oleh penduduk sebagai sumber pencemar dengan prinsip setiap pencemar harus membayar atas setiap cemaran yang dihasilkan ke lingkungan agar tetap bersih (Polluters must pay principle). Prinsip ini coba diterapkan dalam model pengelolaan pencemaran pantai Kota Makassar secara sederhana, karena mestinya pembebanan insentif lingkungan ini tidak diterapkan secara merata pada semua penduduk kerena setiap indivisdu mempunyai kontribusi yang berbeda-beda dalam mencenari lingkungan selain itu ada unsur industry yang tidak diterapkan dalam model.
Gambar 53 Hasil simulasi nilai kompensasi terhadap manfaat perikanan dan wisata skenario optimis
Pada negara yang telah menerapkan prinsip pajak insentif lingkungan terdapat perlakuan yang berbeda unuk setiap orang yang mencemari lingkungan, misalnya orangnya yang menggunakan mobil dengan sumber bahan bakar yang lebih ramah lingkungan akan dibebani pakak yang lebih ringan dibandingkan
dengan yang menggunakan mobil dengan emisi pencemaran yang lebih tinggi. Demikian juga untuk penggunaan barang-barang lainnya seperti air condition (ac), kantong plastik dan sebagainya yang mengakibatkan cemaran yang lebih tinggi akan dibebani pajak yang lebih tinggi pula. Selain itu dalam ekonomi lingkungan terdapat istilah eksternalitas, dimana aktivitas seseorang akan memberikan dampak kepada orang lain atau lingkungan. Dalam konsep perhitungan juga dikenal perhitungan dengan memasukkan unsure kerusakan lingkungan sebagai
bagian dari kalkulasi kelayakan usaha contohnya adalah ECBA (extended cost
benefit analysis).
Unsur insentif dalam pengelolaan limbah yang dibebankan ke masyarakat mestinyanya dapat diterapkan, selain memberikan efek jera juga menimbulkan rasa keadilan antara yang mencemari lingkungan dengan yang tidak. Hasil simulasi model optimis dengan periode simulasi 10 tahun memperlihat hasil bahwa jumlah insentif dengan kinerja IPAL 90% memberikan beban yang cukup tinggi yakni Rp 2.395/org/bln. pada awal simulasi menjadi Rp 2.028,-/org/bln diakhir simulasi model. Jumlah insentif relatif lebih tinggi dari model basis maupun model skenario pesimis. Sementara hasil simulasi imbangan akan nilai insentif didapatkan nilai Rp 2.022/bln/org menjadi Rp 25.046.074. Mengacu pada hasil simulasi tersebut, maka walaupun secara relatif lebih tinggi jumlah insentif yang dibayarkan masyarakat akan tetapi imbangan atas insentif tersebut diperoleh nilai imbangan yang sangat tinggi.
6.6.4 IPAL, Daya Dukung dan Keuntungan Ekonomi Skenario Optimis
Dalam skenario model optimis, nilai kinerja IPAL dialokasikan sebesar 90%, juga dengan sendirinya kinerja IPAL juga meningkat dari 30% di model basis menjadi lebih tinggi Skenario ini merupakan kemungkinan maksimal dari kinerja IPAL. Peningkatan kinerja IPAL pada skenario model optimis akan memberikan dampak maksimal terhadap kinerja untuk dapat mengeliminir beban limbah yang masuk ke perairan pantai Kota Makassar. Dengan pengurangan beban limbah yang maksimal oleh IPAL maka diharapkan daya dukung lingkungan perairan juga tetap terpelihara sesuai kinerja IPAL. Hasil simulasi model optimis dengan kinerja IPAL 90% menunjukkan bahwa biaya IPAL setiap
bulan adalah Rp 3.052.500.000,-/bln. Biaya IPAL ini akan dibagi secara merata pada semua sumber pencemar dalam bentuk insentif.
Gambar 54 Hasil simulasi nilai efektifitas IPAL terhadap nilai keuntungan dan manfaat perikanan dan wisata skenario optimis
Dampak peningkatan kinerja IPAL adalah peningkatan daya dukung lingkungan akan aktivitas wisata dan perikanan. Berdasarkan hasil simulasi model dengan skenario optimis memperlihatkan bahwa nilai keuntungan perikanan dan wisata mengalami peningkatan yakni Rp 5.325.066.245/bln diawal simulasi, kemudian terakumulasi menjadi sekitar 639 milyar rupiah diakhir simulasi 10 tahun ke depan. Jadi bila dikaji nilai investasi IPAL 407 milyar dan keuntungan IPAL dari aktivitas perikanan dan wisata terdapat selisih keuntungan yang cukup tinggi. Selain keuntungan dari aktivitas wisata dan perikanan, keuntungan lainnya masih dapat diperoleh dari lingkungan perairan pesisir yang lebih bersih yang tidak dimasukkan dalam model. Selain itu pemerintah daerah juga memperoleh pemasukkan dari pajak dan ritribusi berupa PAD yang dipungut dari kedua aktivitas tersebut. Jadi pada prinsipnya pengadaan IPAL memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk investasi dan operasionalsanya. Selain itu memberikan efek keberlanjutan bagi perikanan dan wisata di peraran pantai Kota Makassar