• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa contoh kasus percobaan bunuh diri terkait Pencalonan

NO PEMILU/PILKADA DAERAH/TAHUN KETERANGAN

1 Caleg DPRD Subang (2008) Percobaan gantung diri karena gagal terpilih

2 Caleg DPRD Malang (2009) Tewas gantung diri setelah gagal terpilih

3 Suami calon wawali Semarang (2010) Istrinya kalah dalam Pilkada

4 Calon Bupati Ponorogo (2005) Percobaan bunuh diri karena kalah/Masuk RSJ

5 Caleg DPRD Ciamis Bunuh diri setelah gagal terpilih

6 Calon Bupati Bekasi (2010) Bunuh diri setelah kalah

7 Tim sukses Bangli Bunuh diri karena jagonya kalah

DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER.

Terakhir, penyelenggara pemilu menjadi tidak bisa menjaga independensinya dalam melaksanakan pemilu karena faktor suap (korupsi). Penyelenggara pemilu yang semestinya menjaga jarak dengan semua kandidat dapat melakukan pelanggaran dengan mendukung salah satu calon. Posisinya sebagai penyelenggara dimanfaatkan untuk memanipulasi hasil pemilihan, perhitungan suara dan menjegal calon lain dalam tahapan pendaftaran calon. Institusi KPU/D menjadi sangat tidak kredibel dan gagal dalam mengawal demokrasi ke aras yang sebenarnya.

F. MEMPERTIMBANGKAN JALAN KELUAR

Karena sifatnya yang dapat merusak, maka pemanfaatan uang dalam pemilu semestinya diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas politik. Oleh karena itu, tanggungjawab besarnya ada pada Pemerintah dan DPR untuk mendesain sedemikian rupa aturan mengenai dana kampanye sehingga dapat menjamin kesetaraan dalam kompetisi politik. Membatasi maksimal penggunaan dana kampanye merupakan cara yang dapat ditempuh untuk menciptakan

iklim dan arena kompetisi politik yang setara, terutama antara yang miskin dan kaya. Dengan membatasi maksimal belanja kampanye, maka upaya untuk memenangi kompetisi akan jauh lebih kreatif karena tidak hanya mengandalkan uang. Pembatasan maksimal belanja kampanye juga akan mereduksi persepsi yang selama ini sudah kadung terbangun jika untuk memenangi pemilu, harus tersedia banyak uang. Dengan pembatasan ini, diharapkan tidak akan ada penyokong dana besar yang akan mendominasi atau mempengaruhi proses-proses politik, baik pada saat pemilu maupun paska pemilu secara tidak proposional.

Untuk mengantisipasi masuknya sumber keuangan/donasi illegal, aturan dana kampanye harus dapat memastikan keterbukaan daftar penyumbang dan akses publik yang luas untuk melakukan pengawasan. adanya public disclosure akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penerimaan donasi sekaligus penggunaannya. Penggunaan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) merupakan instrumen baru yang bisa dimanfaatkan oleh para pengawas atau pemantau untuk mendapatkan akses informasi yang dijamin oleh UU. ICW sendiri telah menggunakan UU ini untuk mendapatkan informasi mengenai daftar penerima bantuan sosial dan hibah di Provinsi Banten yang diduga terkait dengan Pilgub pada 2011.

Desain peraturan yang selama ini ada memang telah menyediakan mekanisme akuntabilitas publik, baik melalui audit laporan dana kampanye maupun publikasi laporan hasil audit. Namun demikian hal itu tidaklah memadai karena KPU saja yang dalam aturannya bisa membuka laporan hasil audit kepada publik melalui media massa. Idealnya, karena yang memiliki, mengelola dan membelanjakan dana kampanye adalah kandidat atau partai politik, maka mereka juga dikenai kewajiban untuk membuka informasi mengenai sumbangan dana kampanye kepada publik, baik melalui website ataupun instrumen lain yang mudah diakses oleh publik.

Demikian pula audit laporan dana kampanye tidak bisa dibatasi waktunya hanya dalam kurun waktu 30 hingga 50 hari kerja. Pelaksanaan audit yang baik dan mampu menghasilkan produk audit yang kredibel setidaknya harus diberikan dalam kurun waktu yang lebih lama, setidaknya 100 hari kerja. Oleh karena itu, antara hasil audit dengan proses pemilu lainnya tidak perlu dibuat kronologis. Jikapun dikemudian hari ditemukan skandal dalam laporan dana kampanye kandidat, kandidat yang sudah terpilih menjadi pejabat publik sekalipun tetap bisa dikenai sanksi, baik

pidana maupun administrasi. Serendah-rendahnya, pejabat publik tersebut harus mau mengundurkan diri sebagaimana telah dicontohkan oleh para pejabat publik lain di negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Jerman ataupun aS.21

aturan yang ketat terhadap batas maksimal sumbangan dana kampanye juga akan membatasi pengaruh yang berlebihan antara penyumbang dengan yang disumbang. Dalam logika umum, semakin kecil sumbangan yang diperoleh, akan semakin kecil pula pengaruh penyumbang terhadap calon. Jika dalam pemilu daftar penyumbangnya didominasi oleh individu tertentu atau kelompok tertentu, sangat besar kemungkinan pengaruhnya muncul dalam keputusan politik pemenang. Pembatasan maksimal sumbangan dana kampanye juga untuk menghindari terbangunnya konstituen berbasis sumbangan (cash constituent).22

Batas maksimal sumbangan dana kampanye juga harus mengadopsi prinsip bahwa badan usaha atau badan swasta yang berada pada satu kepemilikan (holding company) tidak diperkenankan menyumbang melebihi batas maksimal yang ditetapkan. aturan ini penting untuk menghindari praktek donasi yang selama ini terjadi dimana perusahaan dan anak perusahaan sama-sama menyumbang dengan total melebihi batas maksimal sumbangan kepada satu kandidat.

Demikian halnya, setiap pelanggaran dana kampanye yang dilakukan oleh kandidat maupun tim suksesnya harus dikenakan pinalti yang merugikan setiap calon atau pasangannya. Hal ini untuk memperbesar tingkat pertanggungjawaban calon terhadap seluruh proses pemilu, termasuk mengatur sepak terjang tim suksesnya. Dalam berbagai aturan dana kampanye yang dimaksudkan untuk memperkecil kesempatan korupsi pemilu, tim sukses atau tim pendukung atau calon sendiri yang terbukti melakukan pelanggaran dana kampanye dapat digugurkan sebagai pemenang atau sebagai kandidat dalam pemilu.

21 Bahkan di Korea Selatan, baru-baru ini Juru Bicara Parlemen Korea Selatan, Park-Hee Tae mengundurkan diri dari jabatannya karena skandal suap di internal Grand National Party (GNP) dalam pemilihan pemimpin baru partai tersebut pada tahun 2008. Lihat lebih lengkap di http://id.berita.yahoo.com/juru-bicara-parlemen-korea-selatan-mundur-terkait-skandal- 072809176.html.

Memperkuat sanksi administrasi pemilu menurut hemat penulis lebih baik, khususnya yang berkaitan dengan ancaman digugurkan sebagai calon atau pasangan calon yang terlibat atau melakukan skandal tertentu seperti korupsi pemilu daripada menyelesaikannya melalui mekanisme pidana pemilu. Kekakuan pada prosedur penegakan hukum dan batas waktu yang tidak memadai untuk membongkar skandal korupsi pemilu membuat penegakan hukum pemilu hampir dikatakan lumpuh sama sekali.

Berkaitan dengan hal itu, maka perlu difikirkan untuk meletakkan

isu yang berkaitan dengan korupsi pemilu dalam rezim korupsi, bukan pada rezim pidana pemilu. Hal ini relevan dengan wacana yang mulai

dikembangkan oleh Pimpinan KPK untuk memperluas definisi hukum

tentang korupsi politik. Tujuannya supaya korupsi politik menjadi bagian dari lingkup pidana korupsi yang bisa ditangani kasusnya oleh penegak hukum seperti KPK.

gagasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru karena di Hongkong, kasus-kasus korupsi di pemilu dikategorikan sebagai bentuk pidana korupsi yang dirumuskan dalam undang-undang bernama Elections (Corrupt and Illegal Conduct) Ordinance (ECICO) Chapter 554. apa saja yang dikategorikan sebagai korupsi pemilu secara jelas dirumuskan dalam hukum tersebut.23

Lantas, siapakah yang melaksanakan atau mengeksekusi ECICO? Tidak lain adalah ICaC (the Independent Commission againts Corruption) sejenis KPK seperti di Indonesia. Oleh karena ICaC yang bertindak sebagai lembaga yang menegakkan aturan ECICO, maka tidak ada istilah rezim pidana pemilu atau rezim pidana umum. Sebagaimana tertuang dalam bab mengenai Corrupt Conduct di pasal 2 dinyatakan dengan tegas sebagai berikut ”...A person may be convicted of an offence of having engaged in corrupt conduct at an election if the person is found to have engaged in the conduct before, during or after the election period”. artinya, proses penegakan hukum korupsi pemilu tidak lantas terjegal karena pemilu yang telah usai dilaksanakan.

Tujuan dari ICaC Hongkong melakukan penegakan hukum terhadap korupsi pemilu adalah untuk menjaga fairness dan proses pemilihan

pejabat publik yang bersih dari korupsi, serta untuk mencegah korupsi dan praktek ilegal lainnya dalam pemilu.24Sepertinya, akan lebih prospektif

jika penegakan hukum korupsi pemilu diletakkan dalam kerangka pidana korupsi sehingga KPK dapat menangani perkara-perkara korupsi pemilu sebagaimana otoritas yang dimiliki oleh ICaC.

Daftar Pustaka