• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENJAMIN : MODERNITAS, PRODUKSI BUDAYA DAN AURA

Walter Benjamin adalah seorang kritikus Jerman yang lahir sebelum pergantian abad dan meninggal karena bunuh diri untuk menghindari penganiayaan Nazi yang terjadi dalam Perang Dunia Kedua. Ia melahirkan suatu spektrum yang luas melalui tulisannya seputar permasalahan estetika, produksi dan penerimaan bentuk budaya dan artefak, teknisisasi, kritik kesusasteraan dan kehidupan masyarakat perkotaan (urban), seluruh pemeikirannya ini terdapat dalam kerangka kerja materialis. Meskipun Benjamin merupakan pemikir yang sulit dikategorisasikan, ia lebih banyak didefinisikan sebagai seorang teoritisi modernitas. Bahkan, ia sejalan dengan Nietzsche dalam berbagi doktrin tentang ‘keuntungan abadi’ (the eternal return), dimana Benjamin digambarkan memproduksi suatu arkeologi dan penjelasan pre-historis atas modernitas.

… tidak ada suatu zaman yang tidak dapat merasakan dirinya sendiri, dalam kepekaan yang paling eksentrik sekalipun, untuk menjadi ‘moderen’ dan mempertimbangkan dirinya sendiri untuk segera berdiri di depan segera kekacauan. Keputusasaan, dan kewaspadaan yang terbenam dalam krisis yang harus segera dipecahkan bersifat kronis dalam kemanusiaan. Setiap periode muncul dengan sendirinya sebagai hal baru yang tak terhindari. Meskipun demikian, ‘modernitas’ secara tepat merupakan keragaman seperti halnya keragaman aspek –aspek dari salah satu kaleidoskop yang sama.29

Benjamin menganggap dirinya sendiri sebagai seorang sosialis yang sangat kritis, yang memproduksi sosiologi seni yang melanjutkan program Lukács tentang estetika, serta suatu konsep hasil kerjasama dengan Korsch dan juga Brecht. Sosiologi seni menurut Benjamin menaruh perhatian yang jelas terhadap konteks politik suatu budaya dan juga terhadap dampak politis pada seni yang terdapat dalam budaya pada saat itu. Salah satu kutipannya yang paling sering dirujuk orang menyatakan bahwa ‘…sementara Fasisme memberikan nilai estetika pada politik, komunisme justru mempolitisir seni’. Jadi jelaslah bahwa kutipan di atas menunjukkan kepekaan yang kuat atas integritas material antara politik dan budaya yang terdapat dalam pemikiran Benjamin. Meskipun teorisasinya ini amat baik tentang dorongan pengaruh reduksi materialis, tetapi justru sering menjadi kelemahan dari karyanya. Pada kenyataannya, Adorno, seorang anggota terkemuka dari Institut Frankfurt yang bekerja sama dengan Benjamin selama tahun 1930-an, mengkritik secara keras analisa Benjamin tentang perkotaan yang berpusat di Paris sebagai salah satu contoh analisis materialisme reduksionis yang mentah. Dalam dua esai-nya yang paling signifikan tentang produksi budaya, yang berjudul ‘The Author as Producer’ (Penulis sebagai Produsen) dan ‘The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction’ (Karya Seni di Zaman Reproduksi Mekanis), Benjamin mengembangkan tesisnya yang berkaitan dengan ironi utama atas ‘hal-hal yang baru’ (the newness) dan proyek kreatif dalam modernitas. Sementara sekolah Frankfurt memperkenalkan ide-ide mereka tentang meningkatnya ‘industri budaya’ dan ‘budaya massa’ (yang akan kita bahas dalam bab berikutnya) dan menganggap perkembangan historis ini, tanpa sedikitpun meremehkan, lewat suatu pertimbangan dalam dasar ide-ide tersebut dalam konsep ‘Kultuur’ dari filsafat Romantis-Jerman. Benjamin menyusun suatu pandangan yang sama tentang proses-proses yang memiliki optimisme dalam dua sisinya. Zaman modern, dibandingkan dengan zaman yang lain, memproduksi identitasnya dan mereproduksi tanda-tanda dari identitas tersebut melalui teknologi yang bersifat mekanis. Hal ini telah mempercepat perubahan melalui perkembangan teknologi produksi, dasar-dasar material inilah yang secara esensial menjadi pembahasan dalam teori posmodernitas yang disebut dengan simulakra. ‘Pengaruh baik’ dalam perkembangan ini sebagaimana yang dilihat oleh Benjamin, merupakan serangan yang tak terhindarkan bagi budaya elit yang borjuis. Pada suatu masa sebelum adanya kemungkinan produksi mekanis atau yang secara signifikan disebut dengan reproduksi massa, kemurnian, ketunggalan, spontanitas dan kreativitas obyek seni, semuanya menjadi suatu simponi dari Mahler atau lukisan karya Manet, yang hanya dimiliki sebagai suatu keistimewaan sebagian kecil rakyat yang secara nyata ditandai oleh posisi-posisi kelas bagi mereka yang memiliki akses untuk mengkonsumsinya.

Disinilah Benjamin menjelaskan pada kita tentang ‘aura’ dari suatu karya seni. Dari sudut pandang semacam ini, reproduksi mekanis memiliki potensi emansipatorik, apakah dalam bentuk video, rekaman yang berdurasi panjang, reproduksi karya-karya ilmiah, atau bahkan perhiasan imitasi, disini semua orang diasumsikan memiliki akses yang setara terhadap seni. ‘Pengaruh buruk’ dalam perkembangan ini secara simultan dan ironis dikenali oleh Benjamin dalam bentuk komodifikasi budaya itu sendiri, dimana hilangnya aura suatu karya seni adakah suatu kerugian. Dalam membawa obyek seni menjadi lebih dekat dengan banyak orang atau demokratisasi produksi budaya, hanya dapat menjadi lebih dekat dengan sebagian besar orang melalui komoditas dan esensi dalam penciptaan itu hilang seperti yang kita lihat dalam T-shirt Picasso, atau Pavarotti sebagai lagu tema sepakbola.

Benjamin mendefinisikan aura sebagai ‘fenomena unik dari suatu jarak, bagaimanapun dekatnya (sebuah obyek) yang mungkin ada’. Aura menjadi saksi bagi kesewenangan-wenangan seni dalam bentuk-bentuk pemujaannya, kondisi atas keunikan yang tidak dapat ditiru, suatu bentuk tunggal dalam ruang dan waktu dimana tanda orisinil menjadi merupakan bukti otentiknya. ‘Keunikan suatu karya seni merupakan bentuk yang tak terpisahkan dari keberadaannya yang melekat dalam tradisi manufaktur.’30

Bagi Benjamin, seni adalah ekspresi dalam budaya, bukan bagian dari pandangan dunia, sebagaimana yang dilihat oleh Goldmann, bahkan tidak dalam konsep totalitas Lukács, menurutnya seni merupakan suatu fragmen, suatu mikrosom (representasi di dalam bentuk miniatur).

Cinta terhadap obyek berpegang pada keunikan radikal dari karya seni dan menggunakannya sebagai titik awal titik bagi pokok perbedaan secara kreatif dimana wawasan tentang sifat alamiah ‘keindahan’ atau ‘seni’ terkungkung pada keunikan karya-karya individu dan menyebarkannya. Seni masuk ke dalam sifat alamiah seperti dalam suatu kesatuan yang sederhana yang tidak dapat dibagi (monad) yang…tidak memiliki jendela, tetapi terwujud di dalam dirinya sendiri sebagai miniatur dari seluruhnya.31

Seni mempunyai basis material dalam struktur dan organisasi suatu masyarakat, dalam sistem kepercayaannya, serta dalam alat-alat produksi dan pengaturan politiknya. Pada sisi ini, ide-ide Benjamin sejalan dengan pandangan sebelumnya dalam modernisme, dimana seni dihubungankan secara intim dengan ranah produksi. Jika seni yang bersifat tidak demokratis terletak pada aura yang bersifat monopolistik, sebagai contoh, bahasa personal yang digunakan dalam suatu cerita yang dikisahkan, mengkarakteristikkan spesialisme dan keahlian komunitas borjuis, maka seni sosialis kemudian harus didasarkan pada kekuatan-kekuatan bersama yang bersifat kolektif dan egaliter dalam masyarakat moderen, yakni suatu fakta realisme. Kapitalisme dan industrialisme yang menyertainya telah mengubah ruang antara produksi dan penerimaan. ‘Untuk mempersepsikan aura atas suatu obyek, kita melihat pada cara-cara menginvestasikannya, dengan kemampuan untuk melihat diri kita sendiri, sebagai suatu respon dalam suatu konsep tentang aura yang meliputi ‘manifestasi-manifestasi yang unik atas perbedaan.’32

Benjamin menunjukkan pada kita bahwa setiap pola produksi budaya mengikutsertakan hubungan yang secara relatif tetap, yakni tentang suatu pola spesifik penerimaan. Dalam pemikiran Benjamin tentang Baudelaire, dan keterlibatannya dengan proyek Parisian Arcades (jalan yang memiliki dua sisi di Perancis). Benjamin mengembangkan serangkaian metafora yang layak untuk apresiasi representasi budaya melalui modernitas, sebagai contoh kerumunan orang, keruwetan, para pemalas, hal-hal yang tidak berguna, dan pengembara jalanan. Setiap pemikiran tentang kehidupan yang bersifat ‘reseptif’ (bersifat fleksibel) dari orang moderen, terkait dengan kesadaran, seni, serta struktur sosial dalam suatu estetika yang kompleks, yang benar-benar kompleks, sehingga dapat mereduksi materialistik, yang dalam kenyataannya, oleh Adorno disebut sebagai kesenjangan antara dialektika dan mediasi. Proses sosial yang menyeluruh dalam kasus ini merupakan dunia yang bersifat mekanis, menurut Benjamin. Kelemahan teorisasi ini dirangkum dengan baik oleh Swingewood yang mengatakan :

Suatu teori tentang produksi secara jelas membutuhkan teori tentang masyarakat, akan tetapi Benjamin gagal untuk menteorisasikan kecendrungan-kecendrungan struktural mendasar yang bersifat spesifik dalam kapitalisme maju . Pada satu sisi, formasi sosial kapitalis semakin bertambah tersentralisasikan (terutama dalam ruang ekonomi dan politik) dan ikatan-ikatan kolektif (seperti: serikat perdagangan, partai politik), sementara di sini lain terjadi perubahan yang amat cepat dalam keberagaman institusi otonom yang kompleks dalam masyarakat madani. Benyamin berpegang pada penyederhanaan konsep Marxis mengenai ekonomi kapitalis dan budaya sebagai struktur-struktur yang bersifat tertutup terhadap teknologi yang membentuk perangkat demokratisasi dan seni yang dipolitisir. Politik seperti itu, tidak lagi berdasarkan pada ritual, seni yang mengalir dari praktek lainnya.33