• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH FRANKFURT: BUDAYA MASSA DAN ‘INDUSTRI BUDAYA’

Dalam banyak hal, salah satu paradoks dan ironi yang besar dalam teori sosial kontemporer yang merupakan sekelompok pemikir Marxist yang produktif dan radikal yang tesisnya didasari pada karakter, nilai dan fungsi budaya massa yang dipersonifikasi melalui hujatan ketimbang suatu upaya penemuan kembali. Bagaimanapun juga, ‘teori kritik’ dari Adorno, Horkheimer, Lowenthal dan Marcuse telah mengokohkan suatu platform sayap kiri yang bertahan lama untuk mendukung kritik atas budaya massa dan kemudian stratifikasi budaya yang tak terhindari. Ironi atas tema argumentasi yang kuat dalam karya mereka, nyaris sama pahitnya dengan gambaran yang membahayakan lewat pecahnya jendela-jendela di Institut Frankfurt oleh segerombolan mahasiswa revolusioner pada tahun 1968. Sungguh-sungguh merupakan ilmu pengetahuan yang melankolis.

Sebelum kita melihat lebih jauh gagasan sekolah Frankfurt ini, amatlah penting untuk mencatat perbedaan mereka dari posisi kritikus-kritikus konservatif yang telah kita bahas sebelumnya. Kaum konservatif jelas-jelas menentang egalitarianisme (prinsip- prinsip kesetaraan), sementara teorisi kritik memiliki komitmen pada demokrasi politik. Perbedaan ini terletak pada cara pandang antagonistik tentang rakyat dan nilai-nilai intrinsik mereka. Oleh karena itu, penjelasan konservatif mengenai kekurangan budaya massa berhubungan dengan ketidakcukupan, keduniawian dan status ‘aspek-aspek yang rendah’ dalam cita rasa publik secara umum, serta kapasitas penerimaan. Penjelasan Marxist disini dikaitkan dengan intervensi pasar dan erosi budaya rakyat yang spontan di hadapan budaya populer yang mengeksploitasi secara komersial dan bersifat mekanis. Semuanya itu menjadi kehendak kekuasaan yang dibebankan pada massa yang tidak berdaya. Meski demikian, kedua kelompok kritikus ini sama-sama terganggu atau bahkan dapat dikatakan terancam oleh meningkatnya budaya populer yang hampa dan terus- menerus bersifat otonom seperti yang kita lihat sekarang.

Selama tahun 1930-an dalam upaya untuk menjelaskan distorsi, baik dalam kepribadian individu maupun respon kolektif yang terjadi melalui totalitarianisme, sekolah Frankfrut mengganti dasar ekonomi dalam pencarian mereka melalui teoritisasi yang mengkombinasikan pendekatan psikologi dan psikoanalisis. Pendekatan ini melibatkan permainan berkelanjutan dengan sistem ide Freudian meski lebih banyak dimediasi lewat pemikiran Reich dan Fromm. Peralihan dari level sosial ke level individual ini sebenarnya ditujukan pada kesadaran diri dan merupakan upaya yang terbuka untuk menghubungkan transformasi dramatis dalam perilaku manusia yang secara rutin terjadi sebagai akibat ‘manipulasi’ yang diperhitungkan dalam propaganda fasis. Rakyat yang semula lemah lembut kemudian menjadi massa pembunuh, dan perbedaan-perbedaan yang dulu tidak muncul dalam isu ras dan etnis menjadi alasan ‘yang masuk akal’ untuk penghujatan dan bahkan pembasmian. Secara nyata, tidak ada satupun kepentingan yang terlewatkan. Para anggota institut Frankfurt ini kemudian harus melarikan diri ke Amerika Serikat agar dapat menghindari konsekuensi yang tak terelakkan dari histeria yang dimanipulasi oleh Nazi yang telah berubah menjadi mesin rasional bagi suatu bentuk masa depan yang ‘murni’ dan pembersihan sejarah.

Amerika Serikat menjadi tempat berlindung dari fenomena massa yang suka menganiaya. Para anggota Institut Frankfurt ini kemudian dihadapkan dengan fenomena baru yang memberi urat nadi untuk mendorong pencarian baru teori mereka lebih lanjut tentang ‘manipulasi’. Amerika digetarkan oleh bentuk kapitalisme yang jauh lebih canggih, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dunia barat. Di sini tidak ada fasisme, tetapi ada masyarakat yang relasi-relasinya diatur oleh regulasi ekonomi pasar yang dimotivasi oleh dorongan posesif individualisme. Relasi-relasi sosial itu diorientasikan untuk bentuk-bentuk kepemilikan dan pencapaian material dimana seluruh proses itu disosialisasikan, disampaikan dan diinformasikan melalui suatu manipulasi budaya populer dalam bentuk kesetaraan.

Sepertinya tidak lagi cukup relevan bagi anggota Institut Frankfurt itu untuk mempertimbangkan pikiran psikoanalisa tentang akar ‘kepribadian yang otoriter’ yang dapat menjelaskan pentingnya latihan untuk membersihkan diri (toilet traning) atau suatu bentuk represi atas dorongan-dorongan libido. Apa yang mereka lihat sekarang adalah suatu campuran yang kompleks dari hiburan, kesenangan, iklan, komoditas, gaya hidup, dan media massa yang semuanya membuat ‘orang Amerika’ menjadi ‘satu-dimensi. Situasi kompleks inilah yang dikatakan oleh Adorno dan Horkheimer sebagai ‘industri budaya’. Jadi, disini kajian psikologi mereka beralih ke wacana kritik tentang budaya massa.

Analisa tentang ‘proyek pencerahan (enlightenment) sebagai penipuan massa’ ini merupakan hal baru dan benar-benar bersifat sosiologis, sesuatu yang menjadi titik tolak pemikiran sekolah Frankfurt. Seperti yang digambarkan Bottomore sebagai berikut :

Argumentasi yang digunakan disini bukan lagi pemikiran Marx yang berdasarkan pada pertimbangan mengenai ‘ide-ide yang mengatur kita dalam setiap zaman adalah ide kelas penguasa’ dan teknologi moderen yang kita anggap telah meningkatkan efektivitas dimana ide-ide penguasa itu ditanamkan dalam

masyarakat secara menyeluruh (suatu hipotesa sudah pasti harus diuji secara empirik), melainkan lebih pada kesadaran teknologi dan teknologi itu sendirilah yang dengan sendirinya memproduksi fenomena baru dalam bentuk penyeragaman lewat ‘budaya massa’ yang membuat kita diam dan membunuh kritik itu sendiri.13

Disini kita temui suatu visi yang menyedihkan, kalau tidak mau dikatakan tragis, yang disampaikan oleh pemikiran Sekolah Frankfurt dalam periode ini. ‘Industri budaya’ bukan hanya sekedar deskripsi mengenai mekanisme kapitalis atas manipulasi dan produksi budaya dalam teori Fordisme merupakan suatu konsep yang terdiri atas cara hidup yang menyeluruh, bahkan menjadi budaya kelas pekerja. Istilah ‘budaya massa’ kemudian diganti dengan ide tentang ‘industri budaya’ dalam karya Adorno dan Horkheimer. Ide ini merangkum tidak hanya apparatus (perangkat) yang dipaksakan oleh kekuatan eksploitasi dari luar, tetapi oleh gaya hidup yang terintegrasi secara menyeluruh dan keberlangsungan produksi tiruan-tiruan yang ditujukan untuk kepuasan lahiriah semata. Visi yang ada di sini adalah suatu kekeliruan dan dianggap sebagai pesimisme yang keterlaluan.

Kaum proletar dalam analisis Marx merupakan kendaraan historis bagi revolusi sosial, dimana keadaan kelompok yang terdahulu menjadi modal bagi transformasi yang bersifat laten (apapun keadaan negara dengan kondisi strukturalnya yang opresif). Potensi ini dimunculkan bagi tindakan-tindakan militan yang merumuskan takdirnya untuk memutus mata rantai yang membatasi kemungkinan bagi manusia dan menghapus kekerasan dari bentuk status quo apapun. Dalam kenyataannya, kaum proletar ini sepenuhnya telah terpola. Pola-pola ini ditransformasikan secara ajaib ke dalam sikap- sikap pasif dan rasa puas, dan kehendak untuk berkuasa menjadi berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Disini, kaum proletar tidak lagi menjadi kekuatan revolusioner.

Sekolah Frankfurt melarikan diri dari gelombang pasang fasisme Eropa dan tenggelam dalam suatu kolam yang stagnan atas kemunduran untuk membangkitkan kembali istilah mereka sendiri tentang ‘kebrutalan’ (barbarity). Realisasi mereka atas kondisi masyarakat Amerika yang apatis dan mudah berubah-ubah, tidak dapat dijelaskan melalui teori ‘kegagapan budaya’ (culture shock). Teori ini lahir sebagai suatu pemikiran kontemporer yang sinis yang dikembangkan oleh sosiolog beraliran Marxis, C. Wright Mills melalui karyanya The Power Elite (Elit yang Berkuasa) pada tahun 1956. Mills berargumen bahwa ada suatu keruntuhan yang nyaris total dalam masyarakat madani (civil society), dan bahwa kehidupan politik kini dibangun melalui hubungan yang kurang lebih bersifat langsung antara ‘mereka’ yang secara terpilih memanipulasi dan ‘kita’ sebagai massa yang dapat dimanipulasi. Konteks politik kemudian menyulut tesis yang memunculkan ketakutan sebagaimana yang diungkapkan oleh McCarthyite tentang penyeragaman yang berproses melalui konspirasi, mulai dari bahaya ‘merah’ (sosialisme) dengan mencontohkan perang Korea, dan beralih ke propaganda bahaya ‘kuning’ (liberalisme) dimana pikiran mengontrol setiap pembicaraan serta ‘pencucian otak’. Dalam teori ini ‘massa’ diabaikan untuk strategi-strategi ‘bujukan-bujukan yang tersembunyi’. Mereka dibiarkan mengkonsumsi cerita-cerita fiksi picisan, acara televisi yang itu-itu saja dan tidak pernah berhenti, bioskop drive-in (dimana mobil bisa diparkir),

makanan cepat saji, komik yang membuat kecanduan, radio yang ‘menghibur’ tapi tidak pernah menginformasikan apa yang sesungguhnya ada. Dalam kenyataannya, kehidupan semacam itu sekedar menjadi mangsa bagi iklan.

Dialektika Pencerahan (Dialectic of Enlightenment) sebagai buah pikiran Horkheimer dan Adorno, merupakan analisis tentang ‘industri budaya’, tetapi sekaligus menjadi tangisan duka bagi estetika Marxisme, yang kini berhenti dalam pencarian situs bagi budaya dalam konsep tradisional mengenai dalam bentuk-bentuk budaya tinggi atau

Kultur. Industri budaya, dikatakan Swingehood seperti di bawah ini:

…industri budaya jelas dimaksudkan untuk menganjurkan dominasi dari atas meskipun keberhasilannya masih tergantung pada kelas pekerja yang tanpa bentuk, pasif dan irasional. Media massa bersifat represif: yakni kritik terhadap kapitalisme dibungkam, kebahagiaan diidentikan dengan kepatuhan dan integrasi individu yang lengkap ke dalam tatanan sosial dan politik. Dua tema inilah yang mendominasi pemikiran sekolah Frankfurt dalam teorinya tentang masyarakat massa, yakni kelemahan institusi tradisional yang berfungsi sebagai media sosialisasi dalam menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi yang massif; serta perwujudan budaya yang meningkat dimana obyek tenaga kerja manusia dan aktivitasnya ditransformasikan ke dalam kekuatan yang mandiri dan otonom yang seolah-olah diluar kontrol manusia.14

Runtuhnya keluarga atau lebih merupakan erosi peran-peran keluarga sebagai lembaga sosialisasi yang rasional dan memilih individu yang mandiri telah menyerah pada ruang yang sekarang dikuasai oleh ‘industri budaya’. Oleh karena itu ‘rumah bagi mereka yang bebas dan berani’ telah mejadi ruang gagasan Marcuse tentang ‘manusia satu dimensi’.

Dari analisis Horkheimer mengenai keluarga dan struktur kewenangan, Sekolah Frankfurt berproses untuk menemukan penyelamatan bagi kondisi manusia dan manifestasi budayanya dalam suatu gudang tradisional yang berisikan kebebasan, seni yang jujur, serta kesadaran kreatif seniman yang bebas dan jujur. Hal ini mungkin merupakan obat yang mencegah tekanan budaya massa, meski tidak pernah dan tidak akan pernah dapat menjadi sandaran bagi kebanyakan orang kecuali hanya bagi ‘beberapa orang saja’. Jadi, tidak ada kaum proletar baru di sini. Sekolah Frankfurt telah beralih dari penilaian kritis tentang stratifikasi budaya yang mengarah pada justifikasi (pembenaran) stratifikasi budaya.