Mungkin sulit untuk membayangkan dua orang yang sangat berbeda dengan Lukács: ‘…. Salah seorang yang amat berbakat dalam filsafat telah muncul dari perbudakan dalam wilayah abu-abu aliran Marxis.’15 Adalah Antonio Gramsci, seorang komunis Italia yang tulisannya dipandang sebagai ‘…..lebih luas, ‘demokratis’, dan memperkaya strategi revolusi sosialis Lenin’.16 Meskipun berjarak hanya 6 tahun semenjak kelahirannya, orang-orang Eropa Timur yang aristokratis memiliki posisi kelas yang sangat berbeda dan menyukai pengalaman hidup yang berbeda dengan orang-orang kecil, sakit-sakitan dan orang-orang Sardinia yang cacat. Sangat jelas bahwa mereka terikat bersama oleh suatu komitmen yang kurang kuat pada penyebab sosialisme. Akan tetapi mereka juga terikat lewat metafora yang buruk tentang ‘kurungan’, sebagaimana yang dijelaskan oleh Lukács tentang dogma dalam aliran Stalinis, serta Gramsci dalam penjelasan tentang kondisi-kondisi penjara Mussolini yang tidak manusiawi, yang selalu diklaim Gramsci sepanjang hampir seperempat hidupnya yang pendek. Meskipun Lukács membuka kemungkinan-kemungkinan untuk suatu keterlibatan secara populis dalam proses budaya, melalui idenya tentang realisme dan totalitas, tidak dapat disangkal lagi bahwa karyanya secara terus menerus ditujukan pada apa yang kita rujuk sebagai ‘budaya tinggi’ yang terletak dalam dominasi seni yang agung, serta kepemimpinan seniman besar sebagai ‘pengikut kebenaran’. Di sisi lain, Gramsci lewat pemikirannya menunjukkan peran kaum intelektual, kebutuhan atas suatu aktivitas budaya politik yang aktif, dan analisa hegemoni yang menjelaskan beragam jenis perbedaan tentang pemahaman dan keterlibatan dalam budaya populer.
Semakin luas kehidupan budaya dan kekayaan pengalaman seorang individu, semakin dekat opininya pada kebenaranm, opini-opini itu dapat diterima oleh setiap orang: semakin banyak individu yang memiliki budaya yang luas dan kaya pengalaman, maka opini-opini popuker semakin mendekati kebenaran – ini untuk mengatakan, isilah kebenaran dalam suatu bentuk yang tidak matang dan tidak sempurna, yang bisa dikembangkan sampai bentuk itu mencapai kematangan dan kesempurnaan. Dengan mengikuti pemikiran ini, bisa dikatakan bahwa kebenaran seharusnya tidak disajikan dalam bentuk yang dogmatis dan absolut, seolah-olah kebenaran itu bersifat matang dan sempurna. Karena kebenaran dapat menyebar, maka kebenaran harus diadaptasikan dengan kondisi historis dan budaya kelompok sosial dimana kita menginginkan kebenaran semacam itu tersebar.17
Ide-ide ini, yang dikombinasikan dengan elemen-elemen dan revisi dari Althusser, menjadi sangat berpengaruh dalam perkembangan kajian budaya dan sosiologi budaya di Inggris seperti yang akan kita bahast kemudian.
Ruang lingkup kepentingan Gramsci secara substantif diuji lewat ukuran topik- topik, sebagaimana yang dirujuk dalam bukunya, The Prison Notebooks (‘Catatan-catan Penjara’) yang secara bervariasi mempersoalkan pendidikan, filsafat, isu-isu gender, sejarah, aspek kecerdasan (intelejensia), dan budaya secara spesifik. Walaupun begitu, motif Gramsci secara keseluruhan merupakan generasi dan elaborasi teori Marxis yang sesuai bagi analisis teantang kondisi budaya kapitalis canggih. Pemikiran Gramsci menunjukkan bahwa ia seorang teoritisi yang aktif dan tidak mudah diprediksi, yang menekankan karakter tindakan politik yang disengaja, sebagai oposisi terhadap teori-teori yang memuja hukum perkembangan kapitalis bersifat deterministis dan keras. Jalan menuju sosialisme tidak bersifat tunggal maupun lurus, serta membutuhkan suatu penempatan kembali individu ke dalam pusaran perjuangan revolusioner. Untuk tujuan ini, tulisannya sendiri selalu dianggap sebagai suatu tindakan revolusioner, bukan suatu tindakan spekulasi atau sekedar deskripsi, melainkan suatu dinamika dalam proses perubahan. Dorongan ini secara sistematis dihidupkan oleh internalisasi kritik budaya tentang pengertian mengenai ‘praksis’, yakni suatu penggabungan kesadaran tentang teori dan praktek, logos dan eros (rasionalitas dan perasaan), pemikiran dan tindakan, serta subyek dan obyek. Kehidupan adalah suatu proyek dan proyek bersifat polemik.
Filsafat mengenai praksis adalah suatu reformasi dan perkembangan Hegelianisme; ini adalah filsafat yang telah terbebaskan (atau yang berupaya membebaskan dirinya sendiri) dari semua elemen ideologi yang hanya memiliki pengaruh pada satu sisi saja (bersifat unilateral) ataupun elemen ideologi yang fanatik. Ini juga merupakan kontradiksi-kontradisi yang dipenuhi oleh kesadaran, dimana para filsuf sendiri dipahami, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok secara menyeluruh, yang bukan hanya memahami kontradiksi saja, melainkan juga memposisikan dirinya sendiri sebagai elemen dari kontradiksi itu dan mengangkat elemen ini pada suatu prinsip pengetahuan yang menghasilkan tindakan.18
Kontribusi pemikiran Gramsci yang paling signifikan terhadap tradisi Marxis, serta terhadap analisis formasi-formasi sosial dan politik, telah didiskusikan dalam pemikirannya yang orisinil tentang sifat ideologi dan bagaimana ideologi itu difungsikan dalam konsepnya tentang ‘hegemoni’. Dengan cara yang amat khusus, konsep ini memperbaharui teori ideologi ke dalam konteks modernitas terkini. Pada kenyataannya, Hegel telah membagi otoritas ke dalam dua ruang yaitu ‘masyarakat politik’ (political society) dan ‘masyakarat madani’ (civil society), sementara Gramsci menggarap kembali perbedaan ini ke dalam dua metode yang diaplikasikan dalam analisis tentang kontrol, dominasi dan persetujuan (konsensus). Masyarakat politik berada di pinggir kekuasaan yang keras dan brutal, yang secara tipikal merupakan suatu tatanan tertua dalam masyarakat. Struktur-struktur politik moderen berfungsi melalui persekutuan dan kombinasi yang terkontrol. Implikasinya di sini adalah suatu bentuk kesukarelaan politik (a politic voluntarism). Pada kenyataannya, strategi ideologis merupakan salah satu
bentuk paksaan (coersion), memang terdapat unsur persuasi dan kerjasama, tetapi unsur pemaksaan di sini bersifat ‘halus’ dan persuasi bersifat ‘tersembunyi’, sedangkan kerjasama bersifat ‘satu sisi’. Apa yang dipertahankan disini adalah penampilan dan pengalaman volunterisme. Hegemoni adalah prinsip yang memungkinkan kesepakatan- kesepakatan yang bersifat implisit melalui ‘konsensus’ populer. Hegemoni memediasi individu dan penggunaan pilihan, dan hegemoni memasukkan struktur-struktur yang di dalamnya pilihan-pilihan dimungkinkan. Pilihan-pilihan itu memperluas pengetahuan kita tentang dunia. ‘Perangkat-perangkat hegemoni, yang sejauh ini telah menciptakan ranah ideologi baru dan menentukan suatu reformasi kesadaran tentang metode pengetahuan, direalisasikan sebagai suatu fakta pengetahuan, atau suatu fakta filsafat’.19
Seluruh elemen dalam superstruktur berpengaruh untuk mengupayakan praktek hegemoni ideologi dalam budaya, mulai dari agama ke pendidikan media massa, hukum, budaya massa, olahraga, kesenangan, dan lain sebagainya. Di dalam masyarakat massa yang maju dengan pendidikan massa, kesusastraan massa dan media massa yang semuanya berfungsi melalui suatu level teknologi yang tertinggi, pusat kekuasaan menjadi jauh lebih trampil dan licik dalam memperluas upaya merangkul periferi (pinggiran).
Praktek hegemoni yang ‘normal’ dalam area ini telah menjadi klasik, yakni rezim parlementer yang dikarakterisasikan oleh kombinasi variasi antara kekuasaan dan kesepakatan dalam keseimbangan mereka satu sama lainnya, tanpa paksaan yang melampaui konsensus secara berlebih-lebihan. Sehingga, hegemoni mencoba untuk memperoleh penggunaan paksaan yang kemunculannya didukung oleh persetujuan mayoritas sebagaimana yang diekspresikan oleh instrumen opini publik yaitu surat kabar dan asosiasinya… Jalan tengah antara konsensus dan paksaan berpihak pada korupsi atau penipuan (yang merupakan karakteristik dari situasi-situasi tertentu dimana praktek fungsi hegemoni menjadi sulit karena penggunaan unsur paksaan menjadi sangat berbahaya).20
Di luar konteks institusi, kekuatan hegemonik diciptakan secara aktual dan permanen melalui nilai-nilai budaya, norma, kepercayaan, mitos dan tradisi yang muncul untuk dimiliki orang dan mempunyai kehidupan diluar pemerintahan tertentu dan sistem kelas. Bagaimanapun juga, kekuatan hegemonik itu melayani tatanan yang telah ada untuk terus berlanjut. Politik modern tidak terlalu banyak dikelola lewat kekuasaan seperti melalui otoritas, dimana kewenangan semacam ini membutuhkan persetujuan atau ‘legitimasi’. Karena sistem semacam ini mengundang dan tergantung pada konsensus, maka sistem ini memberikan stabilitas budaya bagi rakyatnya, suatu fakta yang mereka ciptakan sendiri.
Fakta atas hegemoni tidak diragukan lagi menganggap bahwa kepentingan dan tendensi kelompok-kelompok atas hegemoni ini dipraktekkan dalam suatu pertimbangan dimana ada suatu keseimbangan kompromi tertentu, dimana kelompok yang berkuasa mengorbankan suatu jenis ekonomi secara kolektif, tetapi pengorbanan dan kompromi semacam itu juga tidak diragukan lagi, secara esensial tidak memiliki dampak apapun.21
Analisis Gramsci tentang peran kaum intelektual dalam proses budaya (suatu isu yang selalu kritis terhadap teori Marxis, karena kaum intelektual, baik sebagai penjaga terdepan dalam reaksi atas perubahan sosial, maupun sebagai kelas kaum pengkhianat yang secara esensial berada di dalam gerakan revolusi) adalah untuk mendemokrasikan peran dan kemudian mengkombinasikan keahlian dan vitalitas peran-peran tersebut. Demokratisasi berlangsung dengan cara mencabut kepemilikan budaya oleh kelompok yang memiliki dan memproduksi budaya itu. Menjadi intelektual adalah suatu fungsi yang bersifat universal.
Setiap orang, pada akhirnya berada di luar aktivitas profesionalnya, dan berperilaku dalam berbagai bentuk aktivitas intelektual, pada situasi itulah ia menjadi seorang ‘filsuf’, seorang seniman yang bercita-rasa, dimana ia berpartisipasi dalam suatu konsepsi tertentu atas dunia, dan memiliki garis sadar atas perilaku moralnya, sehingga ia ikut andil dalam memelihara suatu konsepsi tentang dunia atau memodifikasi konsepsi itu, yakni yang melahirkan cara-cara baru dalam pemikiran.22
Sehingga, ruang aktivitas intelektual dalam suatu masyarakat tidak dimiliki oleh elit budaya saja, yang mempraktekkan suatu cara-cara kognitif yang khusus dan suatu epistemologi bersama. Akan tetapi ruang aktivitas intelektual itu memanifestasikan dirinya sendiri suatu sebagai segmen integral tindakan politik yang berakar dalam kehidupan sehari-hari dan budaya orang pada umumnya.
Cara-cara untuk menjadi intelektual baru tidak lagi dapat dilakukan lewat retorika, sebagai seorang pendorong kegairahan dan emosi yang hanya tampak dari luarnya dan sesaat saja, melainkan secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan praktis, misalnya sebagai seorang perancang, pengelola, dan seorang ‘yang secara permanen terus melakukan persuasi’, jadi bukan hanya sekedar seorang orator (pembicara di ruang publik).23
Gramsci kemudian menggambarkan dua jenis intelektual. Yang pertama, intelektual ‘tradisional’, yaitu yang mendukung tatanan lama (dan harus menanggung karakteristik yang secara menyolok menyerupai gereja Katolik). Yang kedua, intelektual ‘organis’ yang muncul sebagai wakil dari zamannya untuk mengartikulasikan tatanan baru. Mereka secara relatif menjadi bagian dari permasalahan dan sekaligus solusinya.