RAYMOND WILLIAMS : REVOLUSI PANJANG
T. S ELIOT : TRADISI DAN ELIT
Pengaruh Eliot amat besar tentanga cara-cara berpikir bagian di dunia yang menggunakan Inggris sebagai bahasanya. Ia secara khusus dikenal sebagai kritikus sastra dan penyair yang sangat sukses. Karyanya meluas ke dalam teori budaya dan sosial di Inggris setelah Perang Dunia Kedua berdampak pada kebijakan politik dan pendidikan. Tesis utamanya menaruh perhatian pada karakter budaya yang terstratifikasi dan tidak demokratis.
Lahir dan memulai pendidikannya di Amerika, ia belajar menjadi filsuf, dan berteman dengan Bertrand Russell meski ada perbedaan politik yang memisahkan pemikiran mereka. Elliot sangat dipengaruhi oleh ahli metafisika neo-Hegelian, F.H. Bradley. Digelorakan oleh idealisme radikal serta minat untuk mencari realitas absolut di balik penampilan yang bersifat pemukaan saja, ia kemudian diarahkan pada komitmen atas ‘esensi’ dalam bentuk-bentuk yang bervariasi mulai dari ‘kebaikan atau manfaat’, ‘warisan budaya’, ‘tradisi’, dan esensi apa yang setara dengan Ketuhanan dalam iman Kristen.
Karya Eliot yang paling penting dalam wilayah kajian kritik budaya adalah After Strange Gods, The Idea of a Christian Society (‘Sesudah Dewa-Dewa Aneh, Ide tentang Masyarakat Kristen’) dan Notes Towards the Definition of Culture (‘Catatan untuk Pengertian Budaya’) dipublikasikan antara tahun 1934 dan 1949, yang menunjukkan evolusi pemikirannya pada ketidakpuasan moderenitas dan resolusi untuk mengembalikan struktur kehidupan sosial dunia seperti di masa lampau. Bentuk kreasi sastranya sendiri bersifat imajinatif, secara khusus tampak pada inovasinya. Ia juga dianggap berlawanan dengan dorongan-dorongan yang tidak semestinya serta ketidakdisiplinan moderenisme sebagai sebuah proyek. Ia mengumumkan bahwa pencarian itu terdapat dalam produktivitas tradisi kesusastraan Eropa yang menyatu. Pada awal karirnya, Elliot ditunjukkan sebuah peristiwa dalam sejarah budaya dimana terjadi provokasi atas turunnya nilai-nilai budaya yang serius. Gaya-gaya klasik sebelum abad ke-17 telah terpecah-pecah melalui penempatan yang keliru atas kognisi dan afeksi, yang dikatakan Elliot sebagai ‘pemisahan sensibilitas’, yakni suatu ‘esensi’ yang hillang dan moderenisme kini tersebar dalam bahasa-bahasa personal yang aneh dan mengabdi pada imajinasi. Para nabi, yakni para pencari kebenaran adalah seniman kreatifif masa kini yang harus membangkitkan kembali monoteisme tradisi nilai bersama dimana ada kombinasi yang tepat di dalam proses budaya. Jadi bisa dikatakan Eliot seolah-olah adalah seorang nabi semacam itu.
Bagi Elliot, runtuhnya konsentrasi kesusasteraan dan tradisi artistik bukan hanya suatu kebetulan yang misterius, yang mempengaruhi hanya sejumlah kecil seniman, kritikus dan kelompok estetis di sekitarnya. Keruntuhan, sebagaimana dicontohkan lewat hilangnya suatu hal yang esensial, telah mengancam seluruh tatanan hidup manusia. Keadaan bagi proyek kreatif kemudian direalisasikan sebagai petunjuk negara dalam mengarahkan kesadaran kolektif masyarakat yang lebih besar. Oleh karena itu, masyarakat moderen ditandai oleh kurangnya nilai dan kepercayaan bersama serta kegagalan untuk secara terus-menerus mencapai makna bersama, yang kita temui dalam erosi bahasa dan sistem komunikasi pada inti budaya. Kepercayaan semacam ini telah menuntun Eliot untuk menentang pengetahuan konvensional dalam estetika moderen yang menekankan kreativitas melalui perbedaan, menciptakan hal-hal baru, dan pemisahan. Ia bersebrangan dengan pemikiran yang menempatkan seniman kreatif dalam praktek pemulihan, pembebasan dan penyelamatan tradisi yang berdasarkan kemungkinan untuk produksi budaya yang diakui. Jadi, konsolidasi dan akarnya tampaknya menjadi tujuan. Pemulihan tradisi kesusastraan yang merupakan proyek moral, menurut Eliot hampir menyerupai cara-cara dalam sosiologi aliran Durkeim yang mencari kredo (sistem kepercayaan) yang tepat untuk meyakinkan komunitas solidaristik dalam menghadapi perubahan material dan tekanan atas hubungan yang terstruktur. Secara paradoks, Eliot juga melihat banyak kejahatan dalam masyarakat moderen yang termanifestasikan dalam bentuk-bentuk representasi, sesuatu yang oleh Marx telah lebih dahulu menjadi polemik, dimana etika untuk berkompetisi telah menjelma melalui kapitalisme, organisasi yang mengatur hubungan antar manusia di dalam kaitan dengan wacana tentang pasar, dimana motif sentral dalam transaksi ekonomi sebagai mediaasi semua kehidupan sosial, komoditas fetisisme (pemujaan pada tubuh dan seksualitas), eksploitasi manusia ke dalam bentuk-bentuk perburuhan, serta keuntungan ekonomi sebagai motif utama tindakan sosial. Semua prinsip-prinsip yang memberi tuntunan
dalam budaya dan kehidupan sosial moderen ini berlawanan dengan moral kehidupan Kristen, sebagaimana ketika prinsip-prinsip itu juga telah meremehkan pandangan Marx tentang sisa-sisa buangan pemikiran Yahudi (Judaism).
Dalam Notes Towards the Definition of Culture (Catatan untuk Definisi Budaya), Eliot akhirnya mengemukakan pandangan yang kurang egaliter tentang pentingnya stratifikasi pengalaman dan dan sosialisasi budaya. Pada awalnya, Ia mempresentasikan suatu kasus yang seolah-olah berkaitan dengan level-level analisis, akan tetapi level-level itu terletak pada bentuk yang sangat positivis dan menjadi pembenaran untuk berbagai level partisipasi dan kualitas pengalaman. Tiga strata budaya itu meliputi individu, kelompok dan keseluruhan masyarakat. Menurut Elliot, kita tidak dapat atau tidak seharusnya memilih standar-standar pada salah satu level, dan menerapkan level itu pada salah satu level lainnya. Dengan demikian, individu tertentu secara kultural hanya dapat mencapainya dalam level individual saja. Sebagai konsekuensinya, amatlah tidak tepat untuk berupaya mendidik mayoritas ke dalam budaya minoritas. Ini secara instan akan mengarah pada percampuran antara ide tentang budaya tinggi dengan budaya minoritas. Upaya demokratisasi budaya tinggi mengarah pada standar-standar yang melemah dan gagal. ‘Esensi’, kualitas dan tradisi pada inti kebudayaan secara umum harus dipertahankan oleh para penjaga warisan estetika untuk kebaikan semua orang. Suatu argumen yang mengingatkan kita pada konsep Republik Plato.
Walaupun ritual, rutinitas, dan adat kebiasaan atas cara hidup budaya kita bersama adalah kebiasaan-kebiasaan yang didukung oleh semua anggota masyarakat secara tidak sadar dalam kehidupan sehari-hari mereka, tetapi ada suatu keharusan untuk kesempurnaan dan puncak pencapaian budaya yang dikelola secara sadar. Hal ini menjadi tanggungjawab khusus seorang elit dan bukan secara spontan atau elit yang bersifat organis yang muncul berdasarkan kondisi material dominan kini. Warisan budaya, merupakan tradisi kreatif kita yang membutuhkan perawatan melalui keberlanjutan yang tersedia lewat pemeliharaan sistem kelas yang merupakan bentuk yang melahirkan modernitas dan kapitalisme untuk mengekspresikan dan menginstitusionalisasikan meritokrasi (sistem penghargaan berdasarkan keahlian seseorang). Rekomendasi ini dapat kita baca sebagai sebuah apologi untuk suatu sistem yang diwarisi ‘kapital budaya’ yang akan kita lihat kemudian melalui karya Bordieu.