• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk-bentuk Praktik Ketidakadilan Gender

Diskriminasi Hukum dan Gender

4. Bentuk-bentuk Praktik Ketidakadilan Gender

Praktik ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender termanifestasi dalam berbagai macam bentuk praktis. Namun, secara paradigmatif, semua manifestasi tersebut terhubung saling berkaitan, saling mempengaruhi, dan saling merekonstruksi pola pikir tentang gender. Manifestasi ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender tersebut nampak dalam:

Wacana marginalisasi dalam berbagai bidang hidup sehari-hari, terutama ekonomi, politik, dan pendidikan. Proses ini menyebabkan dekonstruksi harkat dan martabat pada individu. Meskipun masih menjadi perdebatan keras, namun sumber-sumber penyebabnya dapat diketemukan dalam interpretasi lembaga keagamaan, tradisi dan budaya, undang-undang, kebijakan pemerintah, bahkan dalam ruang lingkup dunia pendidikan.

Wacana subordinasi yang seringkali menempatkan individu tertentu pada nilai eksistensial yang lebih rendah dari individu yang lain. Seringkali wacana subordinasi ini menimpa jenis kelamin perempuan, dengan meletakkan harkatnya lebih rendah di bawah laki-laki.

Wacana stereotipe yang diartikulasikan sebagai sikap negatif masyarakat terhadap individu tertentu, yang dampaknya merugikan individu yang menyandang. Budaya ini muncul dari tradisi, dan terbentuk dalam kata-kata bijak, “Hujan sehari menghapus

kemarau setahun”, “tumpah nila setitik, rusak susu sebelanga”, dan banyak lagi yang lainnya.

Wacana beban ganda yang dapat dimaknai ke dalam bentuk pembagian tugas, kewajiban, dan tanggung jawab yang memberatkan salah satu pihak. Dalam perspektif ini, secara tradisional, seringkali menimpa perempuan dalam hal tugas kerumahtanggaan.

Wacana kekerasan dalam segala bentuk manifestasi dan praktiknya. Wacana ini – secara langsung maupun tidak langsung – mengakibatkan kerusakan atau penderitaan fisik, kekerasan seksual, dan tekanan psikologis. Hal ini terjadi akibat adanya perbuatan yang mengancam, pemaksaan atau perampasan atas hak kebebasan dan kemerdekaan individu, dan politisasi atas nilai-nilai norma kehidupan tertentu.

Dalam proses manifestasi wacana-wacana yang bias ketidakadilan dan kesetaraan gender tersebut di atas, ada beberapa faktor yang dianggap sebagai pelaku utama, mereka adalah:

(1) Negara, melalui kebijakan negara yang bias gender.

(2) Media, melalui pemberitaan dan tayangan yang bias gender.

(3) Masyarakat, melalui interpretasi hidup beragama, tradisi dan kebudayaan, sosio kultur. (4) Keluarga, melalui proses pendampingan dan pembinaan dalam keluarga yang sifatnya

bias gender.

(5) Individu, melalui cara berpikir pragmatis dan individualis yang perspektifnya hanyalah keuntungan semata.

J. BACAAN ANJURAN

Kalyanamitra.or.id. Factsheet: Pokok-Pokok Pikiran Usulan Rancangan Undang-Undang Tentang Persamaan dan Keadilan Untuk Perempuan yang diterbitkan oleh CEDAW working Group Indonesia (CWGI) dalam pertemuan tahunan WEMC pada tahun 2009.

Rosemarie Tong. 1997. Feminist Thought : A Comprehensive Introduction. USA: Westview Press.

Pembayun, Ellys Lestari. 2009. Perempuan vs Perempuan: Realitas Gender, Tayangan Gosip, dan Dunia Maya. Bandung: Penerbit NUANSA.

Haryono, Anton. 2014. Demokrasi dan Pendidikan Demokrasi: Peliknya Realisasi Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma.

Modul 11

ANALISIS KASUS DAN TANTANGAN KE DEPAN

Diskriminasi Hukum dan Gender

Oleh: Celine Tri Siwi

Universitas Katolik Widya Karya Malang

A. PENGANTAR

Cita-cita ideal bernegara berlaku bagi segenap bangsa Indonesia tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini merupakan kemajuan tersendiri bagi bangsa Indonesia dibandingkan beberapa konstitusi negara lain seperti Amerika dan Perancis. Sila ke-2 Pancasila yang berbunyi "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" menunjukkan bahwa salah satu penyangga bangsa Indonesia adalah prinsip kemanusiaan yang adil, yang dengan sendirinya menentang diskriminasi baik berdasarkan ras, agama, keyakinan politik, maupun gender. Prinsip-prinsip dasar tersebut juga dapat dilihat dari perumusan ketentuan UUD 1945 pada Bab XA tentang Hak Asasi Manusia. Seluruh ketentuan masalah hak asasi manusia dalam UUD 1945 menyebutkan 'setiap orang' atau 'setiap warga negara' yang menunjukkan tidak ada pembedaan berdasarkan gender. Bahkan dalam Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 disebutkan "Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu."

Diskriminasi merupakan bentuk ketidakadilan. Ketidakadilan tersebut terwujud dalam pembedaan perlakuan hukum terhadap sesama warga Negara, berdasarkan warna kulit, golongan, suku, etnis, agama, jenis kelamin (gender), dsb. Diskriminasi dalam praktik dapat terjadi secara eksplisit ataupun secara terselubung. Peraturan perundang-undangan yang membeda-bedakan warga Negara merupakan bentuk diskriminasi yang terbuka. Namun yang terbanyak adalah diskriminasi terselubung dalam bentuk pemberlakuan pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang berbeda-beda terhadap warga negara yang pada akhirnya melahirkan ketidak-adilan. Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status seseorang. Tindakan diskriminasi adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Dengan demikian, meningkatkan kesetaraan adalah bagian penting dari strategi pembangunan yang mengupayakan pemberdayaan semua orang untuk melepaskan diri dari kemiskinan serta meningkatkan taraf hidup.

Salah satu bidang yang rawan diskriminasi di bidang hukum dan gender yakni di tempat kerja. Pekerjaan yang layak dalam decent work for all didasarkan pada 4 (empat) pilar yaitu dengan mengutamakan prinsip-prinsip dan hak mendasar di tempat kerja (bebas dari kerja paksa, adanya kebebasan berserikat, non diskriminasi dan bebas dari pekerja anak), memberikan perlindungan sosial terhadap resiko-resiko yang timbul dalam

melaksanakan tugas, dengan tanpa mengurangi kesempatan bekerja serta memberikan kesempatan untuk adanya dialog sosial.

B. KOMPETENSI DASAR

1. Mahasiswa memiliki pemahaman tentang diskriminasi hukum dan gender. 2. Mahasiswa memiliki rasa tanggungjawab dalam keterlibatannya dalam analisis

kasus serta penyelesaian perselisihan akibat diskriminasi hukum dan gender. 3. Mahasiswa memiliki empati dan kepedulian terhadap isu-isu diskriminasi hukum

dan gender.

C. POKOK BAHASAN

1. Diskriminasi Hukum dan Gender : Realitas Kongkret dan Pemahaman Konseptual 2. Keadilan Hukum dan Gender: Mewujudkan Nilai-nilai Kemanusiaan

D. PERLENGKAPAN

1. Laptop dan LCD

2. Slide materi kuliah dan slide pendek yang menggambarkan kasus diskriminasi hukum dan gender

3. Kertas kerja

E. DURASI

Satu kali pertemuan (1 x 100 menit)

F. METODE

1. Menyimak slide materi dan film pendek tentang diskriminasi hukum dan gender . 2. Kerja Individual, Diskusi Kelompok, dan Diskusi Kelas.

G. LANGKAH PEMBELAJARAN

No Langkah Pembelajaran Waktu

1 Kegiatan Pendahuluan

Dosen menyampaikan: 10 menit

a Kompetensi yang harus dicapai dan materi pokok yang akan dipelajari b Metode pembelajaran yang akan dipakai

c Panduan ringkasan/praktis untuk menyimak/mengkritisi sejumlah slide dan film pendek yang akan ditayangkan

d Pembentukan kelompok belajar

2 Kegiatan Inti

a Dosen menyampaikan materi pengantar sebelum diskusi terkait isu diskriminasi hukum dan gender

b Pemutaran film pendek berjudul “types of discrimination” (dapat

diunduh di youtube) yang menggambarkan tipe diskriminasi di tempat kerja. Dengan panduan ringkas yang telah dibagikan, mahasiswa menyimak tayangan slide dan film pendek

15 menit

c Berkenaan dengan hasil menyimak tayangan film, mahasiswa secara individual merumuskan/menuliskan pada kertas kerja:

• Satu tema besar dan tiga kata/frasa kunci yang relevan untuk seluruh slide materi dan film.

• Beberapa tipe diskriminasi di tempat kerja dan solusinya.

10 menit

d Berbekal pada hasil pekerjaan masing-masing, mahasiswa melakukan diskusi kelompok dan merekap hasilnya dalam kertas kerja

20 menit

e Hasil diskusi kelompok dibahas dalam diskusi kelas. Salah satu

kelompok menyampaikan hasil kerjanya; kelompok lain menanggapi/ melengkapi; dosen bertindak sebagai moderator dan dinamisator

20 menit

3 Kegiatan Penutup

Mahasiswa membuat kesimpulan, refleksi dan rencana aksi (masing-masing 1-2 kalimat) pada kertas kerja

10 menit

H. REFLEKSI

Refleksi diarahkan untuk suatu pemaknaan yang mendalam mengenai terjadinya diskriminasi hukum dan gender, baik yang menjadi akar masalahnya maupun bahayanya bagi kemanusiaan dan kehidupan bersama. Selain kejadian-kejadian pada tingkat nasional, Mahasiswa perlu merefleksikan apakah diskriminasi hukum dan gender juga ditemui di lingkungan terdekatnya. Apakah ia pernah merasa terdiskriminasi, atau sebaliknya pernah menjadi pelaku diskriminasi? Bagaimana ia memahami fenomena diskriminasi, baik pada ranah hukum maupun pada ranah sosial? Bagaimana ia memaknai realitas Indonesia bila ditilik dari perspektif diskriminasi? Rencana-rencana aksi (ketetapan diri) semacam apa yang perlu ia susun? Dalam refleksi, mahasiswa bebas mengutarakan pengalaman dan perasaannya, apapun yang dimaui, sejauh tidak menyimpang dari tema besar refleksi, yakni masalah diskriminasi.

I. BACAAN

DISKRIMINASI HUKUM DAN GENDER: UPAYA PENYELESAIAN