Oleh: Andreas Doweng Bolo
Universitas Katolik Parahyangan Bandung
A. PENGANTAR
Etika membantu manusia dalam menentukan orientasi hidup. Manusia mempunyai pertanyaan fundamental: bagaimana saya harus hidup dan bertindak? Etika dan moral adalah dua hal yang berbeda namun tidak terpisah satu dengan yang lain. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Ajaran moral adalah petunjuk bagaimana manusia harus hidup sedangkan etika berusaha mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu atau mengambil sikap yang bertanggunjawab terhadap berbagai ajaran moral2. Dengan demikian etika tidak menghasilkan secara langsung kebaikan, namun ia memberi pengertian kritis dan mendasar.
Dalam konteks Pancasila sebagai sistem etika, maka peran etika di sini pun pertama-tama memberi pengertian kritis dan mendasar tentang moralitas Pancasila. Sebagai ajaran, Pancasila tidak sekadar berisi ajaran moral begitu saja (etika deskriptif), tetapi lebih dari itu ia merupakan sebuah perintah/sebuah keharusan (etika normatif). Refleksi Pancasila dalam konteks etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis Pancasila yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat digunakan dalam praktik.
Berkaca pada pengalaman era Suharto (Orde Baru) yang memonopoli tafsir atas Pancasila. Sebagaimana dikatakan oleh KH A Mustofa Bisri, “Pada masa rezim Suharto, diskusi tentang Pancasila terhenti. Diganti oleh “pemasyarakatan Pancasila” dengan apa yang disebut “Penataran P4” yang tentu saja sebagaimana pemahaman dan kehendak rezim. Siapapun yang tampak tidak taat kepada pemerintahan Orde Baru berarti tidak Pancasilais.3 Maka di era sesudah orde represif itu, dengan suasana demokrasi yang lebih baik refleksi Pancasila menjadi sesuatu yang menarik untuk terus dikembangkan. Ketika Orde Baru berkuasa, jargon “menerapkan Pancasila secara murni dan konsekuen” menjadi motor penggerak. Namun, upaya ini tidak seiring dengan refleksi kritis atas jargon tersebut. Ruang publik menjadi arena monopoli ajaran dari penguasa tanpa memberi kesempatan pada publik untuk bertanya.
2
Franz Suseno, Etika Dasar-Masalah Pokok Filsafat Moral, hlm. 14 (Selanjutnya disingkat Franz Magnis-Suseno, hlm…)
3
Lihat. KH A Mustofa Bisri, Pancasila Kembali, Pengantar untuk buku,As’Ad Said Ali, Negara Pancasila-Jalan
Kemaslahatan berbangsa, hlm. xxvii-xxviii. Bdk. Juga tulisah Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, (terutama bab 3- Orde Baru dan Rezim Neo-Fasisme Militer). Lihat juga tulisan, David
Bourchier, Pancasila Versi Orde Baru dan Asal Muasal Negara Organis (Intergralistik) (terutama bab 8-Menanamkan Ortodoksi Ideologi).
Refleksi utama Pancasila sebagai sebuah sistem etika pun tidak lepas dari dua refleksi penting dalam etika yaitu mengenai kebebasan dan tanggungjawab serta suara hati. Pancasila lahir dari nurani terdalam seluruh manusia yaitu kebebasan. Proklamasi kemerdekaan dengan pernyataan pertama “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan” merupakan tuntutan etis yang berdimensi imperatif. Pernyataan ini merupakan cetusan suara hati seluruh manusia Indonesia. Kemerdekaan/kebebasan itu memungkinkan seseorang atau suatu bangsa menentukan garis hidupnya. Dalam konteks Indonesia, orientasi hidup utama itu kemudian dinyatakan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam perjalan bangsa Indonesia hingga kini, dengan realitas kehidupan bangsa yang pluralistik (banyak) sekaligus heterogen (beragam), Pancasila menjadi matriks berpikir sekaligus orientasi bersama. Maka refleksi Pancasila sebagai sistem etika ini selain menarik konsekuensi logis pemerdekaan bangsa dan sekaligus merefleksikan realitas Indonesia yang bhinneka tunggal ika. Kedua refleksi ini tentu tidak lepas dari sejarah perjuangan bangsa, situasi Indonesia masa kini dan masa depan Indonesia sebagai bangsa. Sebagaimana prinsip etika maka refleksi ini pun tidak menunjukkan dengan gamblang mana yang baik dan buruk tetapi sekadar memberi bantuan agar manusia bisa menilai dengan lebih matang dan dewasa pilihan hidup.
B. KOMPETENSI DASAR
1. Mahasiswa mengerti dan memahami etika pada umumnya dan Pancasila sebagai sistem etika pada khususnya
2. Mahasiswa mampu berpikir kritis dan rasional dalam menghadapi berbagai ragam perbedaan yang ada di tengah kehidupan bersama sebagai bangsa.
3. Mahasiswa memiliki sikap bertanggungjawab yang didasari pada suara hati dalam memaknai kemerdekaan
C. POKOK BAHASAN
1. Etika sebagai upaya reflektif yang rasional dan kritis dalam menentukan orientasi hidup manusia
2. Pancasila sebagai ajaran moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
3. Pancasila sebagai sebuah sistem etika: membuka ruang komunikasi dalam kesedrajatan antar anak bangsa.
D. PERLENGKAPAN
1. Laptop dan LCD
2. Berita dan media massa dan hasil survey baik dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, lembaga ilmu pengetahuan
3. Film pendek/wawancara TV yang berisi pilihan bebas dan tanggungjawab manusia Indonesia
E. DURASI
Dua kali pertemuan (2 x 100 menit).
F. METODE
1. Tutorial
2. Membaca berita/opini media massa atau hasil survey/analisis lembaga lain 3. Menyaksikan film
4. Diskusi kelompok, pleno kelas dan refleksi pribadi
G. LANGKAH PEMBELAJARAN 1. Pertemuan Pertama
No Langkah Pembelajaran Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
a Dosen menyampaikan kompetensi dan materi pokok yang akan dibahas dalam dua kali pertemuan
10 menit
b Dosen menyampaikan petunjuk teknis proses perkuliahan
2 Kegiatan Inti
a Dosen menjelaskan pengertian etika pada umumnya dan memberi pertanyaan mengenai pesan moral dari sebuah
tanyangan/bacaan/kisah (misalnya: cuplikan Kick Andy: Kisah “Dokter Gila” Pendiri Rumah Sakit Apung)
15 menit
b Mahasiswa menonton/membaca kisah kehidupan (misalnya: cuplikan Kick Andy: Kisah “Dokter Gila” Pendiri Rumah Sakit Apung)
20 menit
c Mahasiswa secara individual membuat daftar kesesuaian antara ajaran moral dan tindakan (dalam kisah Kick Andy berarti list tindakan
dokter Lie Dharmawan dan ajaran moral)
5 menit
d Diskusi kelompok membahas hasil kerja individual tentang ajaran moral dan tindakan moral
25 menit
e Masing-masing kelompok membacakan hasil diskusi kelompok 10 menit f Dosen menarik benang merah antara materi tentang etika dan moral
serta hasil diskusi kelompok
5 menit
3 Kegiatan Penutup
Setiap mahasiswa membuat refleksi tentang satu ajaran moral yang sesuai dengan Pancasila dan membuat pertimbangan etis atas ajaran moral tersebut
2. Pertemuan Kedua
No Langkah Pembelajaran Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
a Dosen menyampaikan kompetensi dan materi pokok yang akan dibahas dalam dua kali pertemuan
15 menit b Dosen menyampaikan petunjuk teknis proses perkuliahan
c Dosen menjelaskan secara ringkas Pancasila sebagai sikap etis
2 Kegiatan Inti
a Menonton atau membaca bersama kisah inspiratif pendiri bangsa atau kisah inspiratif tentang anak bangsa Indonesia dewasa ini (misalnya: Bung Hatta dalam program Mata Najwa: Belajar dari Bung Hatta)
10 menit
b Diskusi kelompok membahas nilai-nilai etis: mahasiswa secara pribadi menuliskan nilai-nilai etis yang dihidupi oleh tokoh yang dipelajari, serta menuliskan nilai-nilai etis yang harus dihidupi dalam situasi Indonesia masa kini
30 menit
c Presentasi hasil diskusi kelompok Dosen menarik benang merah nilai-nilai etis berdasarkan kerangka teoritis dan praksis kehidupan, serta menegaskan etika sebagai sebuah sikap hidup
35 menit
3 Kegiatan Penutup
Setiap mahasiswa melakukan refleksi kritis berkenaan dengan aktualisasi