PANCASILA GENETIVUS SUBJEKTIVUS
DAFTAR PUSTAKA
Anton Bakker, 1987, “Ilmu-ilmu Sosial Menempatkan Manusia Sebagai Subyek” dalam Pancasila Sebagai Orientasi Pengembangan Ilmu, B.P. Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.
---, 1992, Ontologi Metafisika Umum, Kanisius, Yogyakarta.
Arif Sidharta, B, 1989, “Aspek Ontologi Dalam Filsafat Hukum” dalam Filsafat Hukum Madzah dan Refleksinya, Remaja Karya, Bandung.
Berten, K., 1985, Filsafat Barat Abad XX, Jilid II, Gramedia, Jakarta. ---, 1993, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Yogyakarta.
Dibyasuharda, 1990, Dimensi Metafisik Dalam SImbol, Disertasi S3, Fakultas Filsafat UGM. Driyarkara, N., 1978, Percikan Filsafat, PT. Pembangunan, Jakarta.
---, 1980, Driyarkara tentang Negara dan Bangsa, Kanisius, Yogyakarta. Eka, Darmaputra, 1992, Pancasila Identitas dan Modernitas, BPK Gunung Mulia, Jakarta. Frederick Sontag, 1970, Problems of Metaphysics, Chandler Publishing Co., Pennysylvania. Hardono Hadi, P., 1994, Hakikat dan Muatan Filsafat Pancasila, Kanisius, Yogyakarta. Joko Siswanto, 1995, Metafisika Substansi, Tesis S2, Fakultas Filsafat UGM.
Kaelan, 2000, Pendidikan Pancasila, Penerbit Paradigma, Yogyakarta.
Kodhi, Soejadi, 1994, Filsafat, Ideologi, dan Wawasan Bangsa Indonesia, Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta.
Nico Syukur Dister OFM, 1993, Filsafat Kebebasan, Kanisius, Yogyakarta. Noto Hamidjojo, O., 1971, Masalah Keadilan, Tirta Amerta, Semarang.
Notonagoro, 1980, Pancasila secara Ilmiah Populer, Pantjuran Tujuh, Jakarta. Lorens Bagus, 1991, Metafisika, Gramedia, Jakarta.
Oetojo Oesman, Alfian, 1990. Pancasila sebagai Ideologi Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Benegara, BP7 Pusat, Jakarta,
Pranarka, AMW., 1985, Sejarah Pemikiran tentang Pancasila, CSIS, Jakarta.
---, 1993, Arah Sejarah Transformasi Global dan Era Kebangkitan Nasional Kedua, Yayasan Kebangkitan Nasional, Yogyakarta.
Soerjanto Poespowardojo, 1989, Filsafat Pancasila, Sebuah Pendekatan Sosio Budaya, Gramedia, Jakarta.
Sutarjo Adisusila, 1985, “Gambaran Manusia Indonesia Menurut Pancasila” dalam Memanusiakan Manusia Muda, Kanisius, Yogyakarta.
ST. Alisyahbana, 1981, Pembimbing ke Filsafat Metafiska, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta. Theo Huijbers, 1990, Filsafat Hukum, Kanisius, Yogyakarta.
Modul 5
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
Oleh : Primus Aryesam
Universitas Katolik De La Salle Manado
A. PENGANTAR
Negara Indonesia sejak berdiri sampai saat ini menjadikan Pancasila sebagai dasar yang melandasi bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebegitu pentingnya peranan Pancasila sehingga setiap individu terpanggil untuk terus menerus mendalaminya. Melalui pendalaman terus-menerus diharapkan kita akan semakin mampu menyelami dan menemukan kekayaan yang sangat berharga yang terkandung didalamnya. Hal ini akan semakin mendorong upaya kita untuk mengamalkan dan mempertahankannya sebagai milik bangsa yang sudah teruji dan terkaji kesaktiannya melalui berbagai peristiwa sejarah. Pancasila sebagai hasil budi dan daya manusia Indonesia dalam menegara dan membangsa senantiasa terbuka untuk diteliti dan ditafsirkan kembali agar keberadaannya tetap relevan dan aktual bagi kehidupan kita, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Para pemikir ekstensialis beranggapan bahwa sifat manusia adalah “terus menerus menjadi”; maksudnya, dengan kemampuan akalnya manusia cenderung mempertanyakan berbagai hal guna menemukan kebenaran yang ultimate.Dalam ranah filsafati, manusia dituntun untuk berperilaku demikian.
Pemikiran rasional yang digunakan untuk mengkaji Pancasila akan memberikan suatu pemaparan konkrit tentang inti nilai Pancasila, serta secara kritis membuat analisa terhadap penegakan nilai-nilainya, dimulai dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dengan pandangan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu melampaui keterbatasan pemikiran manusia. Kita sebagai umat-Nya berusaha untuk mengikuti kehendak Tuhan yang terwujud dalam sikap toleransi dengan orang lain yang berbeda agama dengan kita. Demikian pula hakikat sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memandang manusia sebagai inti kehidupan yang perlu dihargai, sehingga di antara mereka terbangun suatu persekutuan. Musyawarah untuk mencapai mufakat perlu diutamakan agar kebersamaan dan kesetaraan menjadi nyata, sedemikian rupa mampu menopang terciptanya keadilan sosial.
Konsepsi Pancasila ditinjau dari perpektif filsafat akan bermanfaat bagi kita untuk menemukan kekayaan serta nilai-nilai hakiki dan penuh makna bagi umat manusia di abad ke-21. Kajian filosofis sila-sila Pancasila akan memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih memahami bagian-bagian terkecil dari setiap sila agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan bernegara.
Modul ini menyajikan bagaimana kita harus mempelajari Pancasila sebagai sistem filsafat, sedemikian rupa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa dimengerti sebagai nilai-nilai yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dengan memahami filosofinya, kita akan lebih tergerak untuk menerima dan mengamalkannya.
B. KOMPETENSI DASAR
1. Mahasiswa memiliki pemahaman tentang Pancasila sebagai sistem filsafat.
2. Mahasiswa mampu mendeskripsikan sila-sila Pancasila sebagai satu kesatuan yang sistematis, hirarkis, dan logis.
3. Mahasiswa mampu menguraikan dan merinci unsur-unsur Pancasila sebagai suatu sistem filsafat.
4. Mahasiswa dapat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila sebagai sistem filsafat dalam kehidupan sehari-hari.
C. POKOK BAHASAN
1. Pengertian dan Kegunaan Filsafat
2. Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Sistem Filsafat 3. Hakikat Sila-sila Pancasila dalam Perspektif Filsafat
D. PERLENGKAPAN
5. Laptop dan LCD
6. Slide dan film pendek yang menggambarkan pengamalan sila-sila Pancasila dalam kehidupan masyarakat
7. Kertas Kerja
E. DURASI
Dua kali pertemuan (2x100 menit)
F. METODE
1. Ceramah
2. Menyimak Slide dan Film Pendek
3. Kerja Individual/Mandiri, Diskusi Kelompok, dan Diskusi Kelas
G. LANGKAH PEMBELAJARAN 1. Pertemuan Pertama
No Langkah Pembelajaran Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
Diawali dengan doa bersama, dosen menyampaikan 10 menit
a Kompetensi yang harus dicapai dan materi pokok yang akan dipelajari pada dua kali pertemuan
b Metode pembelajaran yang akan dipakai
c Panduan ringkas/praktis untuk menyimak/mengkritisi sejumlah slide dan film pendek yang akan ditayangkan
2 Kegiatan Inti
a Pemutaran slide dan film pendek yang menggambarkan pengamalan nilai-nilai Pancasila, disertai panduan ringkas; mahasiswa melihat dan mempelajari substansinya
30 menit
b Berkenaan dengan hasil menyimak tayangan slide/film pendek, mahasiswa secara individual merumuskan pada kertas kerja: • Satu tema besar dan tiga kata/frase kunci yang relevan dengan
substansi slide/film
• Topik/judul yang relevan untuk slide/film
• Adegan/keadaan yang paling menarik dari slide/film
10 menit
c Berbekal hasil pekerjaan masing-masing, mahasiswa melakukan diskusi kelompok dan merekap hasilnya dalam kertas kerja
20 menit
d Hasil diskusi kelompok dibahas lebih lanjut dalam diskusi kelas. Salah satu kelompok ditunjuk untuk menyampaikan hasil kerjanya, dan kelompok lain menanggapi/melengkapi. Dosen bertindak sebagai moderator dan dinamisator
20 menit
3 Kegiatan Penutup
Mahasiswa membuat kesimpulan, refleksi, dan rencana aksi (masing-masing 1-2 kalimat) pada kertas kerja
10 menit
2. Pertemuan Kedua
No Langkah Pembelajaran Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
Diawali dengan doa bersama, dosen menyampaikan 10 menit
a Kompetensi yang harus dicapai dan materi pokok yang akan dipelajari b Metode pembelajaran yang akan dipakai
c Review ringkas hasil pembelajaran pada minggu sebelumnya
2 Kegiatan Inti
a Mahasiswa menyimak paparan dosen tentang:
• Pengertian filsafat dan pengertian Pancasila sebagai sistem filsafat • Unsur-unsur Pancasila sebagai sistem filsafat
• Hakikat sila-sila Pancasila dalam perspektif filsafat
20 menit
b Tanya jawab memperdalam materi pembelajaran 10 menit
c Mahasiswa menyimak paparan ulang dosen berkenaan dengan garis besar materi yang telah dibahas
10 menit
d Diskusi kelompok untuk membahas: • Implementasi sila-sila Pancasila
• Pengembangan penanaman nilai-nilai Pancasila
• Langkah-langkah nyata untuk mengurangi berbagai hambatan dalam penegakan nilai-nilai Pancasila
20 menit
3 Kegiatan Penutup
Mahasiswa diminta kesimpulan, refleksi, dan rencana aksi (masing-masing 1-2 kalimat) pada kertas kerja
10 menit
H. REFLEKSI
Refleksi pada akhir pertemuan pertama berkenaan dengan tingkat pemahaman mahasiswa selama ini terhadap filosofi nilai-nilai Pancasila, diikuti dengan perumusan rencana aksi (ketetapan diri) mengenai langkah-langkah yang hendak dilakukan untuk memperbaiki pemahaman. Refleksi pada akhir pertemuan kedua berkaitan dengan tingkat kepedulian mahasiswa selama ini terhadap usaha untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dilanjutkan dengan perumusan rencana aksi mengenai langkah-langkah yang hendak dilakukan untuk memperbaiki kepedulian.
Refleksi yang diikuti dengan perumusan rencana aksi (ketepatan diri) memiliki dua manfaat. Pertama, untuk mengetahui tingkat kesungguhan dan kemampuan mahasiswa melakukan refleksi. Kedua, menstimulus mahasiswa dalam mengembangkan komitmen dan sikap peduli terhadap kehidupan bersama, yakni kesediaan untuk memasyarakat dan menegara (kesediaan menjelmakan nilai-nilai Pancasila dan keberanian untuk melawan tindakan-tindakan anti nilai Pancasila).
I. BACAAN
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT