Program audit merupakan suatu pernyataan tentang kualitas audit dan dokumen yang paling sering dibaca dari dokumentasi audit yang ada. Program audit harus disimpan pada bagian depan dari arsip kertas kerja untuk referensi selama dan setelah pekerjaan audit oleh pejabat-pejabat berikut:
1. Pimpinan lembaga audit.
2. Manajer/supervisor audit
3. Ketua tim audit (staf audit senior)
4. Anggota tim audit (staf audit junior)
5. Lembaga audit lainnya dalam program peer review.
Beberapa atribut berikut penting dimiliki oleh suatu program audit, yaitu:
2. Dalam bentuk terketik.
3. Memiliki bukti telah ditelaah oleh manajer audit.
4. Harus berisi rincian penting dari setiap aspek pekerjaan yang penting.
5. Harus memiliki judul-judul dan subjudul-subjudul yang jelas.
6. Disusun sependek mungkin.
Setiap program audit akan berisi beberapa judul/subjudul, seperti yang tertera pada daftar di bawah ini. Format seperti ini berlaku untuk semua jenis audit. Judul/subjudul yang pada umumnya ada dalam suatu program audit sebagai berikut:
a). Auditan/Judul/Tanggal. Informasi ini merupakan informasi mendasar
yang harus ada dalam program audit.
b). Tujuan-tujuan audit dan ranking tujuan-tujuan tersebut.
c). Format pelaporan. Seringkali format pelaporan telah jelas dengan
melihat tujuan-tujuan audit karena format pelaporan setiap jenis audit telah ditentukan dalam petunjuk pelaporan yang dikeluarkan oleh lembaga audit. Pada beberapa audit tertentu, tidak ada format pelaporan formal. Untuk audit-audit seperti ini, yang umumnya tujuan- tujuan auditnya beragam, pelaporannya dapat menjadi suatu hal yang rumit. Bagian ini harus menjelaskan rincian sistem pelaporan yang konsisten dengan setiap tujuan audit. Beberapa tujuan audit tambahan tidak secara khusus diatur pelaporannya kecuali bila memerlukan perhatian manajemen auditan.
d). Rincian staf audit. Bagian ini akan berisi daftar staf audit beserta
penjelasan ringkas mengenai pengalaman dan keahlian mereka masing- masing untuk bagian pekerjaan audit yang akan dibebankan kepada mereka. Adanya kekurangan tenaga ahli dapat dilihat dari program audit ini dan juga manajer audit akan memperhatikan sumber daya yang akan digunakan dalam setiap penugasan audit.
e). Staf auditan. Bagian ini berisi catatan atau daftar staf auditan yang
akan bekerja sama dalam audit, bersamaan dengan rincian tanggung jawab mereka. Aspek ini akan menjadi sangat penting dalam suatu penugasan audit. Untuk beberapa penugasan audit, staf auditan senior yang sangat berpengalaman akan terlibat, waktu mereka sangat terbatas dan tidak boleh disia-siakan. Hal ini juga akan mempengaruhi senioritas dari staf audit yang ditugaskan dan mungkin juga rincian strategi audit. Staf audit junior dapat memperoleh manfaat dari melihat rincian ini. Mereka akan mengetahui siapa-siapa saja yang penting dalam organisasi untuk menghindari tindakan-tindakan yang mungkin
menimbulkan permasalahan dan juga mendorong kredibilitas dari pekerjaan mereka.
f). Jadwal. Manajer audit dan tim audit perlu mengetahui kapan pekerjaan
audit akan dilakukan dan kapan batas waktu penyampaian laporan audit. Setelah jadwal ditetapkan oleh manajer audit, tim audit dapat bekerja sesuai dengan jadwal dengan penuh percaya diri.
g). Hal-hal penting berkenaan dengan audit. Program audit harus
mengungkapkan hal-hal penting berkenaan dengan audit secara ringkas. Rinciannya akan disimpan dalam arsip korespondensi atau arsip kertas kerja audit sebelumnya dan juga arsip kertas kerja audit tahun berjalan. Hal-hal penting tersebut dapat berupa kelemahan- kelemahan dalam sistem auditan dan juga program-program pengeluaran utama.
h). Angka-angka yang akan diaudit. Siapapun yang membuat rencana
audit dan membacanya perlu memperoleh gambaran yang jelas tentang besarnya organisasi atau otoritas yang diaudit. Angka-angka ringkasan dari laporan keuangan dapat menjadi informasi yang berguna.
i). Materialitas. Untuk pekerjaan atestasi, materialitas dan tingkat
kepercayaan harus dijelaskan dalam program audit beserta dengan seberapa besar mengandalkan pada pengendalian intern dan tingkat pengujian substantif yang akan dilakukan. Untuk pekerjaan audit kinerja, materialitas juga merupakan aspek yang penting. Pada bidang- bidang tertentu yang dianalisis, aspek-aspek tertentu dalam suatu bidang memerlukan analisis yang lebih mendalam daripada aspek- aspek lainnya. Misalnya, suatu audit efisiensi biaya pemeliharaan akan memiliki tingkat materialitas yang berbeda dengan audit efisiensi program peningkatan kompetensi guru.
j). Prosedur audit rinci. Bagian ini merupakan bagian yang paling
komprehensif dari suatu program audit. Bagian inilah yang menjadi inti dari pekerjaan perencanaan audit di mana berbagai hal yang dikemukakan dalam perencanaan dimasukkan ke dalam program dan pengujian-pengujian audit yang dibutuhkan. Pembaca program audit harus dapat memahami keseluruhan audit dengan menelaah prosedur audit rinci ini. Ia akan dapat memahami beberapa aspek berikut dari penugasan audit:
n Kedalaman pekerjaan audit yang akan diantisipasi.
n Kemungkinan sumber-sumber audit.
n Metode audit yang digunakan untuk permasalahan-permasalahan
n Rincian bagaimana pekerjaan lain telah dilakukan atau sedang dilakukan akan mendukung atau memodifikasi program ini.
n Sifat dari pengujian-pengujian yang direncanakan untuk setiap
bidang audit.
Rangkuman
Perencanaan audit mencakup perencanaan yang dilakukan oleh lembaga audit dalam memberikan layanan audit dan perencanaan yang dilakukan untuk setiap penugasan audit. Perencanaan lembaga audit dikembangkan dalam dua tingkatan, yaitu perencanaan strategis dan perencanaan operasional. Perencanaan strategis berfungsi mengoordinasikan semua penugasan yang direncanakan sehingga mampu mencakup semua bidang audit yang signifikan dan auditan-auditan yang dilayani oleh lembaga audit. Perencanaan operasional merinci pelaksanaan kegiatan audit dan sumber daya yang digunakan dalam suatu tahun audit.
Perencanaan penugasan audit dilakukan untuk setiap penugasan audit yang dilakukan. Tujuannya adalah agar audit dapat dilaksanakan dengan cara yang paling efisien tetapi tetap memenuhi tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Tahapan-tahapan dalam perencanaan audit adalah persiapan perencanaan audit, penetapan tujuan audit, pemahaman atas entitas/program yang diaudit, prosedur analitis awal, penetapan materialitas dan risiko dalam audit, dan penyusunan program audit.
Lampiran 1 : Kertas Kerja Audit
Pengertian kertas kerja audit adalah catatan-catatan yang dibuat atau dikumpulkan dan disimpan oleh auditor mengenai prosedur audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya, keterangan yang diperolehnya, dan kesimpulan yang ditariknya sehubungan dengan audit. Istilah lain untuk kertas kerja audit adalah dokumentasi audit. Kertas kerja audit adalah alat utama untuk mengendalikan dan mencatat penugasan audit sehingga mendukung kredibilitas pekerjaan audit. Kredibilitas suatu pekerjaan audit dapat meningkat apabila pekerjaan audit dicatat dan dikendalikan dengan cara yang rasional, teratur dan konsisten.
Tujuan dari penyusunan kertas kerja audit adalah:
a). Sebagai dasar untuk perencanaan audit tahun selanjutnya
Auditor merencanakan audit tahun berjalan dengan mengacu kertas kerja yang mencakup berbagai informasi perencanaan, seperti informasi mengenai sistem pengendalian intern, anggaran waktu tiap bidang audit, program audit dan hasil audit tahun lalu.
b). Sebagai catatan bahan bukti dan hasil pengujian yang telah dilakukan
Kertas kerja merupakan bukti bahwa auditor telah melakukan audit sesuai dengan standar audit. Hal ini berguna untuk menjaga auditor terhadap tuntutan pemakai laporan keuangan dan sanksi lembaga profesi.
c). Sebagai dasar untuk menentukan jenis laporan audit yang pantas
Kertas kerja memuat berbagai informasi penting yang berguna untuk membantu auditor menentukan kelayakan laporan audit yang akan diterbitkan dan memudahkan penyusunan laporan audit secara menyeluruh.
d). Sebagai dasar untuk penelaahan oleh penyelia dan partner
Penelaahan dilakukan untuk mengevaluasi apakah pekerjaan yang dilakukan dan bahan bukti yang diperoleh telah memadai untuk membenarkan laporan audit. Penelaahan umumnya dilakukan dalam dua tahap, yakni setelah audit pada segmen tertentu selesai dan setelah semua prosedur audit terlaksana.
misalnya, mencantumkan karakteristik kertas kerja yang disiapkan oleh auditor BPK sebagai berikut: lengkap dan akurat, jelas dan ringkas, mudah disiapkan, mudah dimengerti dan berurutan, relevan, terorganisasi dengan baik, dan mudah ditelaah.