• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Penugasan Audit dan M anfaatnya

Perencanaan merupakan tahapan yang penting dalam proses audit. Standar pekerjaan lapangan pertama mengharuskan bahwa “Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.” Perencanaan meliputi penetapan tujuan audit dan pemilihan ruang lingkup dan metodologi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Tujuan dapat dipandang sebagai pertanyaan-pertanyaan yang oleh auditor dicarikan jawabannya. Ruang lingkup adalah batasan dari audit. Metodologi menjelaskan bagaimana tujuan-tujuan tersebut akan dicapai dan berisi pekerjaan-pekerjaan mengumpulkan bukti dan membuat analisis untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Standar audit mengharuskan bahwa rincian dari rencana untuk pekerjaan lapangan ditulis dalam suatu program audit.

Arens dan Loebbecke menyatakan bahwa alasan mengapa auditor harus merencanakan penugasan dengan sebaik-baiknya adalah untuk memampukan auditor mendapatkan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk setiap situasi yang dihadapi, untuk menekan biaya audit sampai pada jumlah yang sepantasnya, dan menghindarkan terjadinya kesalahpahaman dengan

auditan.1 Alasan-alasan ini juga yang menjadi pertimbangan auditor sektor

publik untuk melakukan persiapan dan perencanaan audit. Auditor sektor publik memerlukan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk mendukung laporan audit. Mereka menghadapi kendala waktu dan anggaran yang disediakan untuk melakukan audit. Contohnya, audit laporan keuangan pemerintah harus diselesaikan BPK dalam dua bulan. Informasi yang cukup tentang auditan yang dikumpulkan dalam perencanaan audit akan membantu auditor memahami penugasan dan auditan dan membantunya memiliki komunikasi yang baik dengan auditan, dan karenanya menghindari kesalahpahaman dengan auditan.

Dengan demikian, beberapa manfaat yang diperoleh auditor jika perencanaan audit dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu:

a). Untuk memperoleh bahan bukti kompeten yang cukup

Dengan merencanakan audit sebaik-baiknya, auditor dapat menentukan kecukupan bahan bukti yang diperlukannya sesuai dengan risiko dan materialitas tiap-tiap pos laporan keuangan. Bahan bukti yang kompeten dan cukup dapat digunakan auditor untuk mendukung pendapat yang dikeluarkannya.

b). Membantu menentukan sumber daya yang diperlukan dan biaya audit

Dengan perencanaan, auditor dapat menentukan prosedur audit yang hendak dilakukan sehingga lama pemeriksaan dan biaya audit dapat diperkirakan. Selain itu perencanaan yang jelas dapat menghindarkan

tumpang tindih prosedur audit, yang merupakan penyebab

membengkaknya biaya audit.

c). Menentukan prioritas

Jika auditor ingin menyelesaikan audit sebelum waktu yang ditetapkan, maka teknik yang digunakan adalah menetapkan prioritas pada prosedur audit individual. Tiap-tiap prosedur diselesaikan sesuai dengan urutan prioritas dan tidak melakukan prosedur audit pada pos- pos yang dianggap aman.

d). Meningkatkan disiplin dalam penyelesaian proses audit

Sebagaimana hutang yang memiliki tanggal jatuh tempo, audit juga memiliki target yang hendak dicapai baik dari segi waktu, biaya, maupun pencapaian. Perencanaan audit merupakan gambaran target yang harus dicapai oleh auditor.

e). Membangun saling pengertian dengan auditan

Rencana audit dapat digunakan untuk mengkomunikasikan gambaran proses audit yang akan dilakukan terhadap perusahaan/instansinya. Diharapkan dapat terjalin saling pengertian dan kerja sama antara auditor dengan auditan.

Audit dengan perencanaan yang baik akan mengantisipasikan beberapa hal berikut:

a). Berbagai jenis audit, karakteristik auditan dan penugasan staf yang kompeten. Perencanaan audit yang baik akan mengantisipasi berbagai karakteristik auditan dan memungkinkan auditor menugaskan staf yang ahli kepada auditan tertentu dengan cara yang paling efisien. Keahlian staf dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu keahlian yang didapat dari pendidikan dan pelatihan dan keahlian yang didapat dari pengalaman. Pengetahuan atas aktivitas dan administrasi dari auditan sangat penting untuk menentukan staf audit seperti apa yang diperlukan. Tanpa analisis yang tepat mengenai karakteristik auditan, suatu tim yang ditugaskan untuk suatu audit dapat tidak memiliki staf yang memiliki pengetahuan EDP padahal sistem informasi auditan telah terkomputerisasi secara komprehensif. Demikian pula, bila penugasannya merupakan audit kinerja, yang lebih diperlukan adalah staf yang memiliki pengetahuan mendalam tentang program yang diperiksa daripada staf dengan kemampuan perolehan data elektronis. b). Arah dan pengendalian audit. Ketika suatu audit dimulai, audit

tersebut perlu diarahkan. Rencana audit mengarahkan staf audit dalam melakukan audit dengan menunjukkan hubungan antara berbagai bagian pekerjaan audit dan kepentingan masing-masing bagian pekerjaan tersebut secara relatif.

c). Aspek-aspek kritis. Dalam setiap penugasan, beberapa aspek pekerjaan menjadi lebih sensitif, rumit atau sulit dipecahkan daripada aspe-aspek pekerjaan lainnya. Suatu perencanaan yang baik akan menonjolkan aspek-aspek ini sehingga dapat diberikan perhatian yang cukup pada setiap permasalahan khusus. Misalnya, suatu pemerintah daerah telah menyebabkan beberapa persoalan audit menjadi rumit selama beberapa tahun terakhir. Jika auditor mendapatkan informasi

bahwa skema akuntansi yang kreatif dan rumit telah dilakukan oleh pemda tersebut pada suatu tahun anggaran, auditor harus menonjolkan skema ini dalam perencanaannya. Hal ini akan memastikan bahwa skema ini telah diselidiki dengan sebaik-baiknya oleh tim audit ketika melaksanakan audit, dan kebutuhan akan ahli spesialis dapat diperoleh ketika rincian atas skema tersebut berhasil digambarkan. Dalam suatu audit, yang terjadi seringkali adalah penyelesaian beberapa masalah- masalah audit penting secara buru-buru setelah selurun pekerjaan audit diselesaikan. Praktik seperti ini melemahkan posisi auditor dalam hubungannya dengan auditan dan juga merupakan praktik audit yang buruk. Perencanaan yang menyeluruh atas aspek-aspek kritis dalam suat audit mendorong suatu pemikiran yang jernih pada tahap-tahap awal ketika masih banyak waktu untuk menemukan solusi yang baik. d). Jangka waktu penyelesaian. Auditor biasanya harus memberikan

laporannya dalam suatu jangka waktu yang telah ditetapkan sebelum pekerjaan dimulai, atau ditetapkan berdasarkan peraturan perundang- undangan atau kebiasaan. Dalam situasi apapun, auditor akan berusaha

menghabiskan waktu seminimal mungkin dengan tetap

mempertahankan efektivitas dan keekonomian suatu penugasan. Waktu yang diperlukan untuk melakukan suatu audit bergantung pada jumlah pekerjaan yang dilakukan dan keahlian staf yang ditugaskan.

Di samping manfaat, ada beberapa hambatan dalam perencanaan audit yang harus dihindarkan oleh auditor:

a). Perencanaan audit terlalu rumit dan tidak efisien

Perencanaan audit dapat menjadi rumit jika sebagian besar waktu dialokasikan untuk melengkapi kertas kerja secara detail dan hanya sedikit alokasi waktu untuk prosedur audit yang sebenarnya.

b). Perencanaan audit yang kaku

Perencanaan audit yang tidak fleksibel akan membuat auditor melanggar rencana audit yang telah ditetapkan. Kegagalan dalam melaksanakan audit sesuai rencana berisiko menghilangkan semua manfaat yang bisa didapat dari perencanaan audit.

Perencanaan yang baik atas penugasan audit akan membantu memastikan bahwa setiap bidang-bidang penting yang diaudit telah

memperoleh perhatian selayaknya, masalah-masalah penting telah

asisten dan dalam melakukan koordinasi pekerjaan dengan auditor lain atau tenaga ahli.