Ditinjau dari jenis auditnya, perencanaan audit yang paling mudah adalah perencanaan audit laporan keuangan karena berbagai standar, petunjuk,
manual maupun praktik-praktik yang terbaik (best practices) telah
memberikan beberapa prosedur audit yang jelas yang harus dilakukan, seperti melakukan verifikasi atas piutang, memeriksa saldo persediaan, dan rekonsiliasi kas. Untuk dengan tujuan tertentu, tujuan-tujuan dan metodologinya biasanya didasarkan pada kesepakatan antara auditor dengan pihak yang meminta jasa audit jenis ini. Dengan demikian, kesepakatan yang ada mengurangi variasi atas tujuan dan metodologi yang akan digunakan. Perencanaan audit yang paling sulit adalah perencanaan audit kinerja karena sifat audit yang melebar sehingga menghasilkan variasi tujuan-tujuan dan metodologi-metodologi.
Karakteristik yang berbeda pada setiap jenis audit juga mempengaruhi
perencanaan audit yang dilakukan. Perbedaan tujuan audit akan
mempengaruhi Bila dibandingkan antara audit keuangan dan audit kinerja, audit keuangan dapat dipandang sebagai suatu pekerjaan rutin. Auditor mengambil pendekatan atas penugasan pada auditan tanpa mengarah pada permasalahan spesifik. Dalam audit kinerja, yang dicari auditor adalah permasalahan dan ketika ditemukan, auditor akan menelusuri penyebabnya. Dalam audit keuangan, yang menjadi pusat perhatian adalah angka-angka, dalam audit kinerja auditor lebih banyak berurusan dengan manusia. Bila dibandingkan dengan audit keuangan yang fokusnya lebih sempit pada persyaratan-persyaratan dan ekspektasi-ekspektasi yang khusus, audit kinerja lebih luas dan lebih memerlukan ruang yang luas untuk pertimbangan- pertimbangan dan interpretasi. Dalam audit kinerja, survei awal harus dilakukan lebih rinci bila dibandingkan dengan audit keuangan sebelum dapat menyusun rencana audit. Hal ini disebabkan oleh kebebasan dalam memilih subyek audit (auditor dapat memilih institusi, program, kegiatan atau aspek tertentu operasi secara spesifik) dan digabungkan dengan cakupan dan ruang yang luas untuk pertimbangan dan interpretasi.
Menurut Draft Standar Pemeriksaan Keuangan Negara BPK Standar Pekerjaan Lapangan Pemeriksaan Keuangan Paragraf 5.5, dalam suatu audit keuangan, perencanaan auditnya harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. Masalah yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi dan sektor dari organisasi publik dan bisnis entitas dan industri yang menjadi tempat usaha entitas untuk organisasi binis.
2. Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut.
3. Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah
informasi akuntansi yang signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi akuntansi.
4. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
5. Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan
pemeriksaan.
6. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian.
7. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan
pengujian pemeriksaan, seperti risiko kekeliruan atau kecurangan yang material atau adanya transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
8. Sifat laporan hasil pemeriksaan yang diharapkan akan diserahkan.
Sementara itu, dalam merencanakan suatu audit kinerja, beberapa hal yang harus dilakukan oleh auditor, seperti yang tertera dalam paragraf 7.8 Standar Pekerjaan Lapangan Pemeriksaan Kinerja, sebagai berikut:
1. Mempertimbangkan signifikansi masalah dan kebutuhan potensial
pengguna laporan hasil pemeriksaan.
2. Memperoleh pemahaman mengenai program yang diperiksa.
3. Mempertimbangkan pengendalian intern.
4. Merancang pemeriksaan untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan-
penyimpangan dari ketentuan dan peraturan perundang-undangan,
ketidakpatuhan terhadap kontrak/perjanjian, kecurangan (fraud) dan
ketidakpatutan (abuse).
5. Mengidentifikasi kriteria yang diperlukan untuk mengevaluasi hal-hal
yang harus diperiksa.
6. Mengidentifikasikan temuan pemeriksaan dan rekomendasi yang
signifikan dari pemeriksaan terdahulu yang dapat mempengaruhi tujuan pemeriksaan sekarang. Pemeriksa harus menentukan apakah manajemen sudah memperbaiki kondisi yang menyebabkan temuan tersebut dan sudah melaksanakan rekomendasinya.
7. Mengidentifikasi submer data potensial yang mungkin dapat digunakan
untuk mempertimbangkan validitas dan keandalan data tersebut, termasuk data yang dikumpulkan oleh entitas yang diperiksa, data yang
8. Mempertimbangkan apakah pekerjaan pemerksa lain atau ahli lainnya dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan.
9. Menyediakan pegawai atau staf yang cukup dan sumber daya lain
untuk melaksanakan pemeriksaan.
10.Mengomunikasikan informasi mengenai tujuan pemeriksaan serta
informasi umum lainnya yang berkaitan dengan rencana dan pelaksanaan pemeriksaan tersebut kepada manajemen dan pihak-pihak lain yang terkait.
11.Mempersiapkan suatu rencana pemeriksaan secara tertulis.
Standards for the Professional Practice of Internal Auditing dari Institute of Internal Auditor menyatakan hal-hal yang harus dipertimbangkan auditor dalam perencanaan audit, yaitu:
1. Tujuan-tujuan dari aktivitas-aktivitas yang diperiksa dan berbagai cara
yang digunakan oleh aktivitas untuk mengendalikan kinerjanya.
2. Risiko-risiko yang signifikan terhadap aktivitas tersebut, tujuan-
tujuannya, sumber dayanya, kegiatannya dan cara-cara yang digunakan untuk membuat pengaruh potensial dari risiko terjaga pada tingkat yang dapat diterima.
3. Kecukupan dan efektivitas manajemen risiko aktivitas dan sistem
pengendalian dibandingkan dengan kerangka kerja pengendalian yang relevan.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk membuat perbaikan secara
signifikan terhadap manajemen risiko dan sistem pengendalian dari aktivitas.
Perencaaan audit keuangan secara umum terdiri atas tujuh bagian utama yakni:
1. Persiapan perencanaan audit
2. Penetapan tujuan audit
3. Pemahaman atas entitas yang diaudit
4. Melakukan prosedur analitis awal
5. Menentukan materialitas, dan menetapkan risiko audit yang dapat
diterima dan risiko bawaan
6. Memahami struktur pengendalian intern dan menetapkan risiko
pengendalian
Perencanaan audit kinerja sedikit berbeda dari perencanaan audit keuangan karena pada audit kinerja, auditor harus lebih banyak memahami masalah dan program secara rinci sebagai akibat dari luasnya cakupan untuk pertimbangan dan interpretasi permasalahan. Pada umumnya, ada delapan bagian utama dalam perencanaan audit kinerja:
1. Mengumpulkan informasi tentang entitas audit dalam rangka
memperoleh pengetahuan tentang auditan dan masalah-masalah yang dihadapinya.
2. Menetapkan tujuan dan cakupan audit.
3. Melakukan analisis awal untuk menentukan pendekatan yang akan
diadopsi dan sifat dan luasnya prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan kemudian.
4. Menandai permasalahan-permasalahan khusus yang telah diketahui
selama perencanaan audit.
5. Menyiapkan suatu anggaran dan jadwal untuk audit.
6. Mengidentifikasi kebutuhan staf dan tim audit.
7. Mendiskusikan dengan entitas yang diaudit mengenai cakupan dan
tujuan-tujuan audit.
Selain langkah-langkah perencanaan di atas, auditor dalam merencanakan audit kinerja harus mempertimbangkan:
n Penentuan relevansi dan kesesuaian kriteria audit.
n Penentuan pendekatan yang efektif dan efisien dalam melakukan suatu
audit.
n Perencanaan pengunaan tenaga ahli.
n Selalu memperhatikan kebutuhan pengguna laporan audit.
n Menelaah temuan-temuan dan rekomendasi-rekomendasi dari audit
yang terdahulu dan mendokumentasikan rencana audit.