BAB IV KEARIFAN LOKAL DALAM PERTANIAN PADI SAWAH
4.2 Kearifan Lokal yang Sudah Hilang
4.2.1 Bentuk Tradisi Bajulo-Julo Dalam Pengelolaan Sawah
Fungsi sawah sebagai pengikat kekerabatan, memunculkan sebuah tradisi dalam pertanian padi sawah di Nagari Kamang Hilia berupa bajulo-julo. Bajulo-julo dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan arisan. Secara umum,
bajulo-julo atau arisan memiliki arti kegiatan mengumpulkan uang atau barang yg bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yg memperolehnya, undian dilaksanakan dl sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya53
Tradisi bajulo-julo telah ada dan diwariskan semenjak zaman nenek moyang petani di Nagari Kamang Hilia mengelola pertanian padi sawah di daerah ini. Kegiatan pertanian yang biasanya dilakukan dengan bajulo-julo adalah kegiatan menanam dan memanen padi sawah. Yang dikerjakan pada tradisi
. Namun pada dasarnya prinsip dari bajulo-julo atau arisan berupa bertemu (berkumpul) secara berkala. Prinsip inilah yang mendasari konsep bajulo-julo bagi petani di Nagari Kamang Hilia. Bajulo-julo bagi petani di Nagari Kamang Hilia merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama dalam mengerjakan kegiatan pertanian padi sawah secara bergantian.
53
bajulo-julo adalah proses penanaman, proses panen yang dimulai dari manyabik, mairiak, hingga membawa hasil panen ke rumah petani yang memiliki sawah tersebut.Seperti yang dikatakan oleh Bapak Kayo :
“Bajulo-julo ko wak baganti-ganti mangarajoan sawah. Biasonyo nan bajulo-juloan ko maso batanam jo maso manyabik. Yang sato bajulo-julo ko biasonyo urang saparuik. Misalnyo kini batanam disawah nan apak karajoan, biko dusanak-dusanak apak datang manolongnyo. Kalau lah siap disawah apak, baru bakarajoan sawah dusanak apak lainyo. Bantuak tu
taruih sacaro bagantian”, (artinya “Bajulo-julo ini
adalah kegiatan mengerjakan sawah secara bergantian. Biasanya bajulo-julo dilakukan pada masa menanam dan panen. Yang ikut bajulo-julo biasanya orang dalam ikatan keluarga. Contohnya adalah sekarang jatah mengerjakan sawah bapak, nantinya saudara-saudara akan datang kesawah untuk membantu. Setelah selesai, barulah mengerjakan sawah saudara yang lainnya. Seperti itu terus-menerus secara bergantian”, pen).
Pada dasarnya, bajulo-julo ini sebagai sarana untuk mengikat hubungan kekerabatan. Dimana pada kegiatan bajulo-julo tersebut merupakan kegiatan bergotong-royong yang dilakukan oleh satu induk kekerabatan (saparuik) pada pertanian padi sawah secara bergantian. Dengan menentukan sebuah kesepakatan secara bersama-sama terhadap lahan mana yang terlebih dahulu dikerjakan, kemudian dilanjutkan kelahan-lahan lainnya secara bergantian yang dimiliki oleh satu kekerabatan saparuik tersebut. Dalam melakukan tradisi bajulo-julo, petani melakukannya terhadap semua sawah yang dikelola oleh keluarga mereka, tanpa memandang status kepemilikan lahan padi sawah tersebut.
Dalam bajulo-julo, pihak yang sawahnya dikerjakan memiliki sebuah tanggung jawab dalam memenuhi konsumsi. Pihak pemilik sawah harus menyediakan makanan baik berupa makanan pokok berupa maupun makanan ringan yang biasa disebut kawa oleh petani di Nagari Kamang Hilia. Bapak Kayo
juga menjelaskan bahwa ada tanggung jawab si pemilik sawah dalam mengundang kerabatnya melakukan tradisi bajulo-julo, berupa :
“Urang nan sawahnyo dikarajoan ndak amuah lapeh handa sen doh. Urang tu harus manyadioan makan urang yang ka sawah. Nan yang disadioan urang tu nasi jo kawa. Pagi tu urang nan sawahnyo dikarajoan
maantaan kawa. Biko tangah hari baru maantaan nasi”,
(artinya “orang yang sawahnya sedang dikerjakan tidak bias lepas tangan begitu saja. Orang tersebut harus menyediakan makan untuk orang yang mengerjakan sawahnya. Yang harus disediakan berupa nasi dan kawa. Kawa disediakan semenjak pagi hari. Sedangkan nasi diantarkan ketika siang hari”, pen).
Bagi petani di Nagari Kamang Hilia, makanan yang disediakan tersebut bermakna bahwa adanya rasa syukur kepada Tuhan Yanag Maha Esa dalam memberikan rezeki dan umur panjang sehingga para petani yang melakukan tradisi bajulo-julo masih bisa hidup dan berkumpul sesama kerabatnya hingga pada saat itu. Makna tersebut di tuturkan oleh Bapak Kayo yang menjelaskan bahwa :
“Nan wak makan salamo ko kan rasaki dari Allah nan kuaso. Katiko wak ado rasaki balabiah tantu wak harus saliang babagi apo lai wak ko badunsanak. Bajulo-julo ko ndak sekedar wak mintak tolong ka dunsanak doh, tapi sakalian wak bisa ba silaturahmi jo dunsanak wak tu. Ma tau ado dunsanak wak nan sedang kasulitan, wak bisa samo-samo marasoannyo walaupun ndak tatolong sacaro nyato. Paliang indak awak ko maraso kalau iduik didunia ko ndak surang-surang doh, masih ado dunsanak wak nan
kamancaliakan” (artinya “Yang kita makan selam ini
merupakan rezeki dari Allah SWT. Ketika kita memiliki rezeki berlebih tentunya kita harus saling berbagi, apalagi kita ini bersaudara. Bajulo-julo ini tidak hanya wujud untuk meminta tolong ke kerabat, namun kita bisa sekalian bersilaturrahmi dengan kerabat. Mana tau ada kerabat yang dalam keadaan kesulitan, secara bersama-sama kita bias untuk saling merasakan walaupun nantinya tidak akan terbantu secara nyata. Paling tidak kita bias merasakan tidak sendiri dalam menjalankan hidup ini, karena masih ada kerabat yang memperhatikan”, pen).
Dalam penyediaan makanan berbeda-beda waktunya. Untuk makanan pokok berupa nasi, disediakan pada siang hari oleh petani yang sawahnya sedang dikerjakan. Hal ini dikarenakan, pada siang hari tenaga petani yang sedang mengerjakan sawah sudah sangat terkuras sehingga memerlukan pasokan tenaga yang ada pada makanan berupa nasi sebagai makanan pokok. Biasanya lauk yang disediakan untuk memakan nasi adalah rendang, berbagai gulai, berbagai gorengan, dan berbagai masakan sayuaran. Sementara kawa disediakan semenjak pagi, karena kawa merupakan makanan yang agak ringan sebagai penganjal perut dan pelepas dahaga sementara. Namun ketika mengantar nasi disiang hari, kawa
juga turut disediakan kembali sebagai penganjal perut atau mpelepas dahaga hingga sore hari. Kawa biasanya berisikan katan (ketan), buah-buahan, aneka kue, dan kopi atau teh. Untuk katan memang selalu disediakan sebagai salah satu makanan pada kawa. Karena katan merupakan salah satu makanan tradisioanal yang ada pada masyarakat Minangkabau.