• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGETAHUAN LOKAL PETANI TERHADAP EKOSISTEM

3.5 Pengetahuan Lokal Petani Dalam Pengelolaan Padi Sawah

3.5.4 Memanen Padi

A. Manyabik Padi.

Secara harfiah manyabik padi terdiri dari 2 (dua) suku kata yaitu,

manyabik yang berati menyabit dan padi yang merupakan tanaman yang dikelola pada lahan sawah. Dalam pertanian padi sawah di Nagari Kamang Hilia,

manyabik padi diartikan sebagai kegiatan memanen padi sawah. Penggunaan kata

manyabik ini berasal dari alat yang digunakan ketika panen berupa sabit untuk memotong batang padi. Seperti yang diungkapkan oleh Ibuk Asnidar, berupa : “disiko mamanen tu disabuik manyabik. Soalnyo katiko panen tu yang dikarajoan tu mamotong padi manggunoan sabik”, (“disini memanen lebih dikenal dengan

manyabik. Soalnya ketika memanen yang dilakukan adalah memotong padi menggunakan sabik”, pen).

Foto 3.11. Kegiatan Manyabik

Terdapat beberapa tanda menurut pengetahuan petani mengenai padi yang siap untuk dipanen. Menurut petani, padi yang telah siap untuk dipanen adalah padi yang telah berusia sekitar 4 (empat) bulan. Biasanya petani akan mulai untuk

manyabik ketika melihat padi tersebut telah berwarna coklat tua secara merata. Selain itu batang padi kelihatan semakin merunduk yang menandakan padi sudah berisi. Tanda tersebut dijelaskan oleh Ibuk Rahmi, berupa :

“Padi yang umuanyo labiah kurang ampek bulan tu lah bisa disabik. Padi yang lah baumua ampek bulan tu lah barisi, sahinggo batang padi tu mulai marunduak ndek manahan buah padi nan lah barisi. Padi yang lah baumua ampek bulan biasonyo lah marato bawarna

coklat”, (“Padi yang umurnya sekitar empat bulan sudah

bisa untuk dipanen. Padi yang telah berusia empat bulan sudah berisi, sehingga batang padi yang menahannya mulai merunduk. Padi yang beumur empat bulan biasanya telah bewarna coklat secara merata”, pen).

Foto 3.12. Padi Siap Panen

Padi yang pertama disabik oleh petani merupakan padi yang terletak pada lahan yang akan dijadikan palampok. Palampok biasanya dibuat pada bagian tengah sawah yang bertujuan untuk mempermudah petani mengumpulkan batang padi yang telah disabik dari berbagai sisi sawah. Palampok berbentuk kemah sederhana yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan padi yang telah disabik,

tempat mairiak padi, dan tempat petani beristirahat.Seperti yang dijelaskan oleh Ibuk asnidar :

“Biasanyo padi nan partamo disabik tu padi nan talatak di tangah-tangah, karano urang ka mambuek palampok. Palampok ko tampek awak mangumpuaan padi nan lah tasabik, tampek wak mairiak, tu tampek wak

baistirahat”, (“biasanya padi yang pertami disabik

merupakan padi yang terletak pada bagian tengan sawah,

karena tempat tersebut akan dijadikan palampok.

Palampok merupakan tempat untuk mengumpulkan padi

yang telah disabik, tempat untuak mairiak, dan tempat beristirahat”, pen).

Foto 3.13. Palampok

B. Mairiak Padi

Mairiak padi merupakan kegiatan pada saat panen berupa melepaskan buah padi dari batang padi. Ibuk Asnidar menjelaskan bahwa; “mairiak padi ko malapehan padi dari batang padi” (mairiak padi merupakan melpaskan padi dari batang padi”, pen). Bapak Syaiful turut mengemukakan pendapat beliau mengenai maksud dari mairiak padi, berupa :“Mairiak ko caro petani untuak mananggaan buah padi dari batang padi nan lah basabik”, (mairiak merupakan cara petani untuk melepaskan buah padi dari batang padi yang telah disabik”, pen).

Terjadi perubahan-perubahan terhadap cara dan alat yang digunakan ketika mairiak padi di Nagari Kamang Hilia. Menurut pengetahuan petani yang didapat dari nenek moyang, mairiak padi dilakukan dengan cara mengambil setumpuk batang padi yang kemudian dipijak dan dipukulkan menggunakan 2 batang kayu atau pelepah kelapa. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Zamzani, berupa :

Sisuak urang mairiak ko mampagunoan kaki jo kayu

atau palapah karambia sennyo. Padi nan lah basabik tu barambah jo kayu, sudah tu balanyau jo kaki supayo

buah padi ko tangga sadonyo”, (“dahulu petani mairiak

hanya mempergunakan kaki dan kayu atau pelepah kelapa. Padi yang sudah disabik tersebut dipukulkan menggunakan kayu dan kemudian di pijak-pijak

menggunakan kaki agar buah padi terlepas semuanya”, pen).

Foto 3.14. Mairiak Padi Menggunakan Kayu dan Kaki

Mairiak menurut yang diajarkan nenek moyang petani di Nagari Kamang Hilia memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut petani kelebihannya berupa, buah padi pada batang bisa dilepaskan secara keseluruhan karena bisa diiriak

berulang kali. Selain itu padi yang telah siap diiriak tergolong bersih karena tidak terdapat potongan-potongan batang padi, sehingga dapat memudahkan petani dalam memisahkan padi boneh dengan padi hampo. Sementara kekurangannya berupa, memerlukan tenaga yang lebih dan waktu yang lama. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Zamzani, berupa :

“Mairiak jo caro sisuak ko paralu tanago banyak dan wakatu nan lamo. Cuman padi nan ka bairiak ko samparono lapehnyo dari batang padi. Padi tu pun barasiah ndek ndak do batang padi nan manyalek, sahinggo katiko mangipeh wak labiah sanang”

(“mairiak dengan cara dahulu ini memerlukan tenaga

yang banyak dan waktu yang lama. Tetapi padi yang

bairiak tersebut lebih sempurna dalam melepaskannya

dari batang padi. Padi tersebut tergolong bersih karena tidak ada potongan batang padinya, sehingga ketika mengipas kita lebih mudah”, pen).

Seiring perkembangan informasi petani mulai mendapatkan pengetahuan sebagai upaya dalam menghemat tenaga. Petani mulai membuat alat yang lebih

efisien dalam mairiak padi dengan membuat kayu palambuik padi. Kayu palambuik padi berbentuk persegi terdiri dari potongan-potongan kayu yang dipasangkan berjarak sehingga memiliki ruang untuk menampung buah padi yang terlepas ketika dipukulkan. Namun menggunakan kayu palambuik padi ini memiliki kekurangan berupa, padi yang terlepas cenderung berserak dan berhamburan. Sehingga petani lama-kelamaan mulai mengubah bentuk dari kayu palambuik padi dengan cara memasangkan alat untuk menahan hamburan padi yang terbuat dari plastik atau tikar yang tipis. Sehingga terjadi perubahan pada nama alat, yaitu tong palambuik. Menurut petani, penggunaan tong palambuik

dalam kegiatan mairiak berkembang dengan sendirinya. Tidak ada petani yang mengetahui dengan pasti semenjak kapan kayu atau tong palambuik mulai digunakan, hanya saja petani memperkirakan semenjak tahun 1990-an. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Zamzani, berupa :

“Ntah sajak bilo dan sia nan mamulai, kiro-kiro sekitar tahun 1990-an kami disiko mulai mampagunoan kayu nan dibuek untuak malambuikan padi. Jadi ndak paralu mampagunoan kaki untuak mananggaan padi lai doh. Katiko mampagunoannyo kami mandapek kendala lain, buah padi justru baserak katiko balakakan ka kayu palambuik. Jadi, kami mamasangan panahan buah padi dari plastik atau lapiak nan agak tipih. Samanjak itu lah kayu palambuik ko lah disabuik sen manjadi tong

palambuik ”, (“Ntah sejak kapan dan siapa yang

memulai, kira-kira sekitar tahun 1990-an kami disini mulai mempergunakan kayu yang dibuat untuk memukulkan padi. Sehingga tidak memerlukan kaki untuk melepaskan buah padi. Ketika dipergunakan, justru kami mendapatkan kendala baru, dimana buah padi yang terlepas justru berhamburan ketika dipukulkan. Jadi, kami memasangkan penahan buah padi yang terbuat dari plastik atau tikar yang tipis. Semenjak itu lah kayu palambuik mulai disebut dengan tong

Foto 3.15. Mairiak Padi Menggunakan Kayu Palambuik

Foto 3.16. Mairiak Padi Menggunakan Tong Palambuik

Seiring perkembangan teknologi di bidang pertanian, petani di Nagari Kamang Hilia mendapatkan informasi mengenai mesin untuk melepaskan buah padi. Petani di Nagari Kamang Hilia menyebutnya dengan masin pairiak padi

yang muncul sekitar tahun 2007-2008. Semenjak mengenal adanya masin pairiak padi, beberapa petani mulai mempergunakannya dengan alasan menghemat waktu tenaga. Namun meurut petani, penggunaan masin pairiak padi membuat buah padi tidak bersih karena banyak terdapat potongan-potongan batang padi. Selain mengganggu petani pada saat memisahkan padi yang berkualitas, menurut petani potongan padi tersebut dapat mengganggu kualitas beras. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Syaiful, berupa :

Kalau ndak salah 6 atau 7 tahun belakangan ko, petani disiko mulai mampagunoan masin pairiak padi. Mampagunoan masin pairiak padi ko bisa mampacapek wak katiko mairiak padi, talabiah wak ndak paralu tanago banyak. Tapi mampagunoan masin pairiak ko kumuah padi jadinyo, soalnyo banyak batang-batang padi. Jadi katiko mangipeh wak agak tapayah, samantaro angin kipeh ko ndak lo talok manabangan batang padi ko kasadoalahnyo doh. Salain tu, katiko padi ko lah siap untuak ditumbuak manjadi bareh, batang padi nan tabaok tu bapangaruah ka bareh. Bareh ko ndak rancak jadinyo, soalnyo kumuah ndek dadak

batang padi tu”, (“kalau tidak salah 6 (enam) atau 7

(tujuh) tahun belakangan ini, petani disini mulai

mempergunakan masin pairiak padi. Mempergunakan

masin pairiak padi dapat mempercepat kegiatan mairiak

padi, terlebih tenaga yang dibutuhkan tidak begitu

banyak. Namun mempergunakan masin pairiak padi ini membuat padi menjadi kotor, karena terdapat banyak potongan-potongan batang padi. Sehingga kita kesulitan dalam mengipas padi, sementara angin pada alat pengipas tidak cukup mampu untuk membuang seluruh batang padi. selain itu, ketika padi sudah siap diolah menjadi beras, batang padi yang terbawa dapat mengganggu kualitas beras. Beras menjadi kotor dan kurang bagus karena terdapat serpihan atau dedak dari batang padi”, pen).

Berbagai kekurangan dan kelebihan pada alat cara dan alat yang digunakan ketika mairiak padi membuat petani di Nagari Kamang Hilia memilah-milah dalam mempergunakannya. Petani berpatok kepada kondisi dan kenyamanan mereka dalam mempergunakan cara atau alat ketika mairiak padi.

Sehingga kesemua cara dan alat yang diketahui petani dalam mairiak padi

digunakan hingga sekaranag ini.