• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KEARIFAN LOKAL DALAM PERTANIAN PADI SAWAH

4.1 Kearifan Lokal yang Masih Dipertahankan

4.1.3 Mananam Sarantak

Mananam Sarantak berasal dari 2 (dua) suku kata yang berasal dari Bahasa Indonesia, yaitu mananam yang berarti menanam dan sarantak berarti serentak. Mananam sarantak dalam pertanian di Nagari Kamang Hilia merupakan kegiatan menanam padi dalam satu kurun waktu yang sama oleh sekelompok petani pada suatu kawasan pertanian.

Dalam pertanian padi sawah di Nagari Kamang Hilia terdapat sebuah kebijakan dalam menentukan waktu untuk memulai menanam padi yang disebut

tanam sarantak. Mananam sarantak merupakan suatu kebijakan yang disepakati oleh petani agar tidak terjadi berbagai konflik sesama petani ketika melakukan pengelolaan sawah. Fungsi dari mananam sarantak sangat berguna untuk beberapa pengelolaan sawah, yaitu ; pengelolaan air dan tanah untuk padi sawah dan penanggulangan hama padi sawah. Selain itu, kebijakan tanam sarantak dapat mempererat hubungan sosial sesama petani. Para petani dapat berkumpul secara bersamaan pada lahan sawah mereka, sehingga bisa saling bertukar pikiran dalam meningkatkan hasil padi sawah dan saling bahu membahu dalam pengelolaan padi sawah.

Dalam menentukan waktu mananam sarantak, tidak ada pertemuan yang dikhususkan untuk menentukan waktu penanaman. Petani hanya bertukar pikiran dan pendapat dalam melihat acuan untuk memulai mananam sarantak melalui pertemuan secara tidak langsung di sawah ketika mengelola limbah yang muncul pada saat peanen sebelumnya, pertemuan dijalan, tempat peribadatan, berkumpul di warung-warung, dan bentuk-bentuk pertemuan lainnya. Acuan yang dijadikan petani dalam menentukan waktu manam sarantak adalah air yang disediakan oleh

sumber irigasi pertanian padi sawah mereka. Apabila petani merasa sumber air irigasi cukup untuk mengairi areal padi sawah yang menjadi kawasan alirannya, maka dengan segera masing-masing petani mulai melakukan pengelolaan padi sawah berupa memperbaiki dan membersihkan aliran irigasi tali banda.

Kebijakan mananam sarantak diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang petani di Nagari Kamang Hilia. Bertahannya kebijakan dalam menanam sarantak disebabkan oleh fungsinya yang sangat membantu petani dalam pengelolaan padi sawah tanpa mengganggu padi sawah petani lainnya. Selanjutnya kebijakan tanam sarantak mampu mempererat hubungan sesama petani, sehingga petani dapat mengembangkan pengetahuan karena adanya keterbukaan untuk saling berbagi informasi pengelolaan pertanian.

A. Fungsi Mananam Sarantak terhadap Pengelolaan Air dan Tanah Bentuk kebijakan tanam sarantak yang pertama akan diuraikan adalah usaha dalam memenuhi kebutuhan air sawah. Petani yang ingin memenuhi kebutuhan air sawah, harus memperhatikan dan menjaga sawah petani lainnya yang menjadi aliran air sawahnya. Disinilah kebijakan tanam sarantak berfungsi, dimana dengan melakukan kegiatan menanam sawah secara serentak, maka kebutuhan air sawah berlangsung pada kurun waktu yang sama. Sehingga tidak ada lagi petani yang merasa terganggu atau dirugikan yang disebabkan genangan air ketika petani lainnya berusaha memenuhi kebutuhan air sawahnya. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Kayo, berupa :

“Ndak sadoalah sawah nan ado di nagari ko talatak di tapi banda. Jadi katiko sawah paralu aia, aia tu basaluran dari sawah-sawah nan barado di tapi banda. Samakin jauah sawah wak dari banda, samakin banyak lo sawah nan manjadi aliran aia. Supayo ndak ado nan maraso dirugian, patani disiko sapakaik untuk batanam sacaro sarantak. Kalau batanam lah sarantak, wakatu sawah mampaguoan aia kan sarantak lo. Jadi, ndak kan ado masalah yang tibo karano salah paham dalam

mampagunoan aia untuak mangolah sawah”, (“tidak

semua swah yang ada di nagari ini berdampingan

langsung dengan banda. Sehingga ketika sawah

memerlukan air, air tersebut dialirkan melalui sawah petani lainnya. Semakin jauh sawah dari banda, maka semakin banyak sawah yang menjadi aliran air. Agar tidak ada yang merasa dirugikan, petani disini sepakat untuk menanam secara serentak. Jika menanam sudah serentak, waktu sawah dalam mempergunakan air terjadi secara bersamaan. Jadi, tidak akan muncul permasalahan yang disebabkan salah paham dalam menggunakan air untuk pengelolaan sawah”, pen).

Fungsi mananam sarantak berguna pula untuk pengelolaan tanah pada lahan padi sawah ketika kegiatan membajak sawah. Bagi petani yang sawahnya berada dekat dengan jalan, tidak akan mengalami kesulitan untuk memasukan alat bajak. Hanya saja, sawah petani yang berada di tepi jalan akan menjadi tempat laluan alat bajak yang akan digunakan oleh petani lain yang sawahnya tidak berada di tepi jalan. Dengan adanya kebijakan mananam sarantak, kegiatan mambajak pun terjadi dalam kurun waktu yang sama. Sehingga petani yang sawahnya menjadi laluan alat bajak petani lainnya tidak merasa khawatir akan rusaknya lahan atau tanaman padi sawah. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Kayo, berupa :

“Petani nan sawahnyo nan di tapi jalan mungkin ndak payah mamasuak bajak ka sawah, tapi sawahnyo manjadi tampek laluan bajak untuak petani nan lain. Untuang sen ado kesepakatan petani untuk batanam sarantak. Jadi, petani nan sawahnyo manjadi laulan ndak maraso tagaduah

katiko petani lain manumpang malaluan bajak”, (“Petani

yang sawahnya di tepi jalan mungkin tidak akan menemukan kesulitan ketika memasukan alat bajak, namun sawah mereka akan menjadi tempat laluan bajak bagi petani lainnya. Untung saja ada kespakatan petani untuk menanam secara serentak. Jadi, petani yang sawahnya menjadi laluan petani lainnya tidak akan merasa terganggu ketika petani lainnya melewatkan bajak dari sawahnya”, pen).

B. Fungsi Mananam Sarantak terhadap Penanggulangan Hama

Tanam sarantak juga berperan dalam membantu petani mengendalian hama padi sawah. Fungsi dari kebijakan tanam sarantak terhadap pengendalian hama dapat dilihat melalui beberapa pengelolaan padi sawah, berupa ; pengendalian hama ketika memanfaatkan pupuk50, pengendalian hama dengan memanfaatkan saluran irigasi51, dan menggunakan berbagai alat untuk menanggulangi hama52

50

Pengetahuan Petani Dalam memanfaatkan fungsi pupuk sebagai penanggulangan hama telah dijelaskan pada BAB III berupa Pengetahuan Lokal Petani dalam Pengelolaan sawah pada bagian Pengetahuan Petani mengenai Hama dan Penyakit Tanaman Padi.

51

Pengendalian hama menggunakan saluran irigasi telah dijelaskan sebelumnya pada BAB IV mengenai Kearifan Lokal yang Masih Dipertahankan berupa Banda Sawah dalam

Penanggulangan Hama Keong Mas.

52

Pengetahuan Petani Dalam memanfaatkan fungsi pupuk sebagai penanggulangan hama telah dijelaskan pada BAB III berupa Pengetahuan Lokal Petani dalam Pengelolaan sawah pada bagian Pengetahuan Petani mengenai Hama dan Penyakit Tanaman Padi.

. Dengan diberlakukannya kebijakan mananam saranatak,

maka berbagai usah petani dalam menanggulangi hama juga dilakukan secara bersemaan, sehingga dapat memperkecil peluang hama untuk menyerang tanaman padi yang terfokus pada satu lahan pertanian atau mencegah terjadinya perkembangan hama karena tersedianya makanan hama dalam jumlah yang besar. Sehingga peluang terjadinya gagal panen dalam pertanian padi sawah di Nagari Kamang Hilia semakin mengecil. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Zamzani, berupa :

Batanam sarantak ko bisa juo untuak mananggulangi hamo. Katiko sawah yang ado di nagari ko sarangkek batanam, mako hamo padi ko ndak manyarang ciek sawah sen. Sehingga, padi nan ado di sawah tu ndak talalu banyak nan rusak, karano hamo nan manyarang menyebar ka sawah nan lain. Tapi kadang-kadang, hamo tu justru bakambang labiah banyak, karano padi yang manjadi makanan hamo ko tasadio dalam jumlah nan banyak. Untuak itu petani disiko punyo usaho untuak manatisipasinyo. Petani disiko barusaho mananggulanginyo malalui pupuak, saluaran aia, dan

alaik-alaik penanggulangan hamo”, (“menanam

serentak ini bisa juga dijadikan sebagai usaha untuk menanggulangi hama. Ketika sawah yang ada di nagari ini melakukan penanamn secara serentak, maka hama padi tidak akan menyerang satu sawah saja. Sehingga, padi yang ada pada sawah tersebut tidak akan mengalami kerusakan yang begitu parah, karena hama yang menyerang tersebar ke sawah yang lainnya. Tetapi, terkadang hama tersebut justru bisa berkembang lebih banyak akibat tersedianya sumber makanan yang begitu banyak karena pengaruh tanam sarantak. Untuk itu, petani disini mempunyai beberapa usaha dalam menanggulanginya. Petani disini berusaha menanggulangi melalui pemanfaatan pupuk, saluran air, dan alat-alat penanggulangan hama”, pen).

C. Fungsi Mananam Sarantak terhadap Hubungan Sosial Petani

Selain membantu petani dalam pengelolaan padi sawah, kebijakan

mananam sarantak juga berperan dalam menjalin silaturahmi sesama petani. Dimana, mananam sarantak secara tidak langsung membuat intensitas petani untuk berkumpul dalam satu tempat berupa sawah menjadi lebih sering. Sehingga memberikan kesempatan kepada petani untuk menjalin komunikasi yang baik serta berbagi pengalaman dalam pengelolaan padi sawah. Komunikasi yang baik tersebut mendorong petani untuk salaing bahu membahu ketika melihat petani lainnya merasa kesulitan dalam pengelolaan saawah. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Zamzani, berupa :

“Di nagari ko urang batanam sacaro sarantak, sahinggo kami para petani acok basobok di sawah. Katiko basobok, kami acok bacarito tentang pangalaman-pangalaman salamo mangolah sawah. Ndak jarang kami saling tolong

manolong katiko agak tapayah mangarajoan sawah”, (“di

nagari ini petani menanam padi secara serentak, sehingga kami para petani sering berjumpa di sawah. Ketika berjumpa, kami sering bercerita mengenai pengalaman-pengalaman selama mengelola padi sawah. Tidak jarang kami saling tolong menolong ketika mengalami kendala dalam mengerjakan sawah”, pen).