c Pelayanan Spesialis Penunjang Medik 1 Pelayanan Radiolog
B GambarB 5.15B DiagramB Bar B DistribusiB ProporsiB UmurB BerdasarkanB FaktorB
2.8 BEpidemiologiBStroke 1BBerdasarkanBOrangB
Pria memiliki kecenderungan lebih besar terkena stroke pada usia dewasa awal dibandingkan dengan wanita, tetapi para wanita akan menyusul setelah mereka mencapai menopause. Insiden stroke lebih tinggi terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan rata-rata 25-30%. Namun kematian akibat stroke lebih banyak dijumpai pada perempuan karena umumnya perempuan terserang
stroke pada usia yang lebih tua. Stroke dapat ditemukan pada semua golongan umur, akan tetapi sebagian besar ditemukan pada golongan umur di atas 55 tahun. Usia yang rentan menderita stroke adalah lanjut usia (lansia) karena dengan seiringnya waktu, tekanan darah cenderung meningkat atau hipertensi sebagai salah satu faktor risiko utama terjadinya stroke. Dalam hal ini secara demografi struktur umur penduduk Indonesia bergerak ke arah struktur penduduk yang
semakin menua (ageing population). Peningkatan umur harapan hidup (UHH)
akan menambah jumlah lanjut usia (lansia) yang akan berdampak pada pergeseran pola penyakit di masyarakat dari penyakit infeksi ke penyakit degenerasi. Penyakit degenerasi akan menambah tingginya angka penyakit tidak menular (Shadine, M., 2010; Noor, N., 2008).
Prevalensi penyakit stroke pada kelompok yang didiagnosis tenaga kesehatan serta yang didiagnosis tenaga kesehatan atau gejala meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi pada umur ≥75 tahun (43,1‰ dan 67,0‰). Prevalensi stroke yang terdiagnosis tenaga kesehatan maupun berdasarkan diagnosis atau gejala sama tinggi pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi stroke cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan pendidikan rendah baik yang didiagnosis tenaga kesehatan (16,5‰) maupun diagnosis tenaga kesehatan atau gejala (32,8‰). Prevalensi lebih tinggi pada masyarakat yang tidak bekerja baik yang didiagnosis tenaga kesehatan (11,4‰) maupun yang didiagnosis tenaga kesehatan atau gejala (18‰) ( Kemenkes RI, 2014).
2.8.2BBerdasarkanBTempatB
Survei Departemen Kesehatan RI pada 987.205 subjek dari 258.366 rumah tangga di 33 provinsi mendapatkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian
utama pada usia >45 tahun (15,4% dari seluruh kematian). Prevalensi Stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tertinggi di Sulawesi Utara (10,8‰), diikuti DI Yogyakarta (10,3‰), Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil (Kemenkes RI, 2014).
Prevalensi stroke di kota lebih tinggi dari di desa, baik berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (8,2‰) maupun berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan atau gejala (12,7‰) (Kemenkes RI, 2014). Menurut Susalit yang dikutip oleh Yeni,Y., dkk (2009) saat ini terdapat kecenderungan pada masyarakat perkotaan lebih banyak menderita stroke dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan risiko hipertensi, stress, obesitas, kurangnya olahraga, merokok, alkohol dan makan-makanan yang tinggi kadar lemaknya. Perubahan gaya hidup seperti perubahan pola makan siap saji yang mengandung banyak lemak, protein dan garam tinggi tetapi rendah serat pangan membawa konsekuensi sebagai salah satu faktor berkembangnya penyakit degeneraif salah satunya adalah stroke.
2.8.3BBerdasarkanBWaktuB
B Pada tahun 2013 jumlah penderita penyakit stroke berdasarkan diagnosis
tenaga kesehatan sebanyak 1.236.825 orang (7,0%), sedangkan berdasarkan diagnosis/gejala sebanyak 2.137.941 orang (12,1%). Berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan maupun diagnosis/gejala, provinsi Jawa Barat memiliki jumlah penderita terbanyak yaitu sebanyak 238.001 orang (7,4%) dan 533.895 orang (16,6%), sedangkan provinsi Papua Barat memiliki jumlah penderita paling
sedikit yaitu sebanyak 2.007 orang (3,6%) dan 2.955 orang (5,3%) (Kemenkes RI, 2014).
2.9BPatofisiologiBStrokeB
Otak merupakan jaringan yang memiliki tingkat metabolisme paling tinggi. Meskipun yang dimiliki hanya sekitar 2,5% dari massa keseluruhan tubuh, jaringan otak menggunakan hingga 20% dari total curah jantung. Aliran darah yang membawa glukosa dan oksigen ke otak sangat penting bagi kehidupan dan metabolisme sel-sel otak. Sel otak yang tidak dialiri darah yang membawa glukosa dan oksigen dapat rusak bahkan menjadi mati. Ada beberapa kelainan yang diduga merupakan penyebab stroke pada dewasa muda, akan tetapi aterosklerosis diduga sebagai penyebab primer dari penyakit stroke. Aterosklerosis merupakan bentuk pengerasan pembuluh darah arteri. Aterosklerosis merupakan kumpulan perubahan patologis pada pembuluh darah arteri, seperti hilangnya elastisitas dan menyempitnya lumen pembuluh darah. Aterosklerosis ini merupakan respon normal terhadap injury yang terjadi pada lapisan endotel pembuluh darah arteri. Proses aterosklerosis ini lebih mudah terjadi pada pembuluh darah arteri karena arteri lebih banyak memiliki sel otot polos dibandingkan vena, dan sel otot polos tadi lebih banyak membentuk kumpulan plak aterosklerosis. Proses aterosklerosis ditandai oleh penimbunan lemak yang terjadi secara lambat pada dinding-dinding arteri yang disebut plak, sehingga dapat memblokir atau menghalangi sama sekali aliran darah ke jaringan. Bila sel-sel otot arteri tertimbun lemak maka elastisitasnya akan menghilang dan kurang dapat mengatur tekanan darah. Akibat lain dari aterosklerosis ini adalah terbentuknya bekuan darah atau trombus yang melekat pada dinding arteri dan
dapat menyebabkan sumbatan yang lebih berat. Apabila bagian trombus tadi terlepas dari dinding arteri dan ikut terbawa aliran darah menuju ke arteri yang lebih kecil, maka hal ini dapat menyebabkan sumbatan pada arteri tersebut. Bagian dari trombus yang terlepas tadi disebut emboli. Proses aterosklerosis ini dapat terjadi di semua pembuluh darah organ tubuh, baik pembuluh darah ke jantung, ginjal maupun otak. Oleh karena itu, aterosklerosis dapat mengakibatkan serangan jantung, hipertensi dan stroke. Serangan stroke ini dapat terjadi apabila proses penyempitan atau aterosklerosis ini terjadi pada pembuluh darah yang menuju ke otak (Wahjoepramono, E.J., 2005).
Arteri yang lebih mudah terkena kerusakan akibat proses aterosklerosis ini adalah aorta, arteri koronaria dan arteri-arteri yang mensuplai otak dan ginjal. Hal ini menunjukkan bahwa betapa mudahnya aterosklerosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mensuplai otak, sehingga dapat mengakibatkan stroke. Risiko aterosklerosis ini berhubungan dengan kadar LDL dalam darah yang meningkat, yang berasal dari katabolisme VLDL dan mengangkut 70% kolesterol serum total. Risiko berhubungan terbalik dengan kadar HDL, karena HDL membantu membersihkan kolesterol dari dinding pembuluh darah. Prevalensi aterosklerosis pada arteri meningkat sesuai dengan pertambahan usia, maka tidak mengherankan jika stroke pada usia dewasa muda yang disebabkan oleh aterosklerosis lebih banyak terjadi pada usia >30 tahun.
Serangan stroke dapat terjadi secara fokal (sebagian) maupun global (keseluruhan) pada otak. Gejala fokal dan tanda-tanda gangguan fungsi otak pada stroke akan muncul sesuai dengan area dari jaringan otak yang mengalami gangguan aliran darah. Pada sebagian besar kasus stroke iskemik dapat diperoleh
informasi yang jelas mengenai lokasi di lesi bagian otak., akan tetapi pada stroke hemoragik seringkali terjadi berbagai komplikasi perdarahan otak yang menyebabkan gangguan fungsi otak juga di daerah selain daerah yang terjadi perdarahan. Komplikasi ini disebabkan oleh peningkatan tekanan intra kranial, edema otak, kompresi jaringan otak dan pembuluh darah dan terdispersinya darah yang keluar ke berbagai arah. Oleh karena itu, gejala fokal terlokalisasi biasanya terjadi pada stroke iskemik, sedangkan pada stroke hemoragik gejala fokal tidak begitu jelas terlihat dan kurang memberikan prediksi lokal tertentu.
2.10BFaktorBRisikoBStrokeB
Stroke merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor risiko atau biasa disebut multikausal. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stroke dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi. Interaksi faktor-faktor tersebut dapat menimbulkan penyakit-penyakit pendukung atau penyakit yang dapat memperberat faktor risiko untuk terkena stroke (Wahjoepramono, E.J., 2005) 2.10.1BFaktorBRisikoByangBTidakBDapatBDimodifikasiB
B Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah faktor risiko yang tidak
dapat dilakukan intervensi, karena sudah merupakan karakteristik dari seseorang dari awal mula kehidupannya. Berikut ini merupakan faktor risiko stroke yang tidak dapat dimodifikasi.
1.BUsiaB
Usia merupakan faktor risiko stroke, dimana stroke dapat menyerang semua usia namun semakin bertambah umur seseorang maka semakin lebih berisiko terkena stroke. Setelah berusia 55 tahun, risikonya berlipat ganda setiap
kurun waktu sepuluh tahun. Dua pertiga dari semua serangan stroke terjadi pada orang yang berusia di atas 65 tahun (Shadine, M., 2010).
2.BJenisBKelaminB
Kejadian stroke diamati lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada wanita, tetapi penelitian menyimpulkan bahwa justru lebih banyak wanita yang meninggal karena stroke. Risiko stroke pria 1,25 lebih tinggi daripada wanita, tetapi serangan stroke pada pria terjadi di usia lebih muda sehingga tingkat kelangsungan hidup juga lebih tinggi. Dengan perkataan lain, walau lebih jarang terkena stroke pada umumnya wanita terserang pada usia lebih tua, sehingga kemungkinan risiko meninggal lebih besar terjadi pada wanita (Junaidi, I., 2004).
3.BRiwayatBPenyakitBKeluargaB
Stroke terkait dengan keturunan. Riwayat penyakit keluarga sebagai faktor genetik yang sangat berperan dengan kejadian stroke antara lain tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes dan cacat pada pembuluh darah. Gaya hidup dan pola suatu keluarga juga dapat mendukung risiko terjadinya serangan stroke. Cacat pada bentuk pembuluh darah (cadasil) mungkin faktor genetik yang paling berpengaruh dibandingkan faktor risiko stroke yang lain (Shadine, M., 2010). 4.BRas/BsukuB
Orang kulit hitam, hispanik Amerika, Cina dan Jepang memiliki insiden stroke yang lebih tinggi dibandingkan orang kulit putih (Wahjoepramono, E.J., 2005). Di Indonesia sendiri, suku Batak dan Padang lebih rentan terserang stroke dibandingkan dengan suku Jawa. Hal ini disebabkan oleh pola dan jenis makanan yang lebih banyak mengandung kolesterol (Depkes, 2007).
2.10.2BFaktorBRisikoByangBDapatBDimodifikasi 1.BTekananBDarahB
B Tekanan darah merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam
kejadian stroke. Tekanan darah yang tinggi atau lebih sering dikenal dengan istilah hipertensi merupakan faktor risiko utama, baik pada stroke iskemik maupun stroke hemoragik. Tekanan darah terdiri dari dua komponen yang disebut tekanan sistolik dan diastolik. Apabila tekanan darah sistolik melebihi 160 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg maka tekanan darah yang demikian tadi harus benar-benar diwaspadai. Hal ini disebabkan oleh hipertensi memicu proses aterosklerosis oleh karena tekanan yang tinggi dapat mendorong Low Density Lipprotein (LDL) kolesterol untuk lebih mudah masuk ke dalam lapisan intima lumen pembuluh darah dan menurunkan elastisitas dari pembuluh
darah tersebut (Lumongga F., 2007).B
Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang potensial. Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. Apabila pembuluh darah otak pecah maka timbullah perdarahan otak, dan apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian. Penderita hipertensi memiliki faktor risiko stroke 4-6 kali lipat dibandingkan orang yang tanpa hipertensi, sekitar 40-90% pasien stroke ternyata menderita hipertensi sebelum terkena stroke. Pada hasil Farmingham Study ditemukan bahwa hipertensi lebih sering ditemukan 1,5 kali lebih banyak pada stroke dibandingkan dengan yang tanpa hipertensi (Bustan, M.N., 2007). Pada penelitian oleh 187.000 dokter, peningkatan tekanan darah
sistolik perbatasan (140-159 mmHg) berhubungan dengan peningktan kejadian stroke sebanyak 42% (Lawrence dkk, 2002)
Pemeriksaan tekanan darah merupakan cara mudah untuk mendeteksi ada tidaknya hipertensi pada seseorang. Berdasarkan hasil dari berbagai penelitian diperoleh bukti yang jelas bahwa pengendalian hipertensi baik sistolik, diastolik maupun keduanya menurunkan angka kejadian stroke. Pengendalian hipertensi tidak cukup dengan minum obat teratur, faktor-faktor lainnya yang sekiranya berkaitan dengan hipertensi harus diperhatikan pula. Penurunan berat badan yang berlebihan, minum obat-obatan anti hipertensi, diet rendah garam dan olah raga secara teratur akan menambah tingkat keberhasilan pengendalian hipertensi (Shadine, M., 2010).
2.BPenyakitBJantungB
Penyakit atau kelainan pada jantung dapat mengakibatkan iskemia pada
otak terutama penyakit yang disebut atrial fibrillation, yakni penyakit jantung
dengan denyut jantung yang tidak teratur di bilik kiri atas. Denyut jantung di atrium kiri ini mencapai empat kali lebih cepat dibandingkan di bagian-bagian lain jantung. Ini menyebabkan aliran darah menjadi tidak teratur dan secara insidentil terjadi pembentukan gumpalan darah. Gumpalan-gumpalan inilah yang kemudian dapat mencapai otak dan menyebabkan stroke pada orang-orang berusia
di atas 80 tahun, atrial fibrillation merupakan penyebab utama kematian pada satu
di antara kasus stroke (Hull, 1993).
Penyakit jantung lainnya adalah cacat pada bentuk katup jantung (mitral
valve stenosis atau mitral valve calcification). Juga cacat pada bentuk otot
yang memisahkan kedua bilik atas. Secara alami gumpalan darah biasanya disaring dalam paru-paru, tetapi karena berlubang dinding jantung dapat meloloskan gumpalan darah itu sehingga tidak melalui paru-paru tetapi langsung menuju pembuluh di otak sehingga menyebabkan stroke. Cacat katup jantung
lainnya adalah ASA (atrila septal aneurysm) atau cacat bentuk kongenital pada
jaringan jantung, yakni penggelembungan dinding jantung ke arah salah satu bilik jatung. PFO dan ASA seringkali terjadi bersamaan sehingga memperbesar risiko stroke. Seseorang dengan penyakit atau kelainan pada jantung mendapatkan risiko untuk terkena stroke lebih tinggi 3 kali lipat dari orang yang tidak memiliki penyakit atau kelainan jantung (Shadine, M., 2010).
3.BDiabetesBMelitusB
Diabetes melitus merupakan faktor risiko untuk terjadinya stroke. Diabetes melitus digolongkan menjadi dua tipe, yaitu diabetes tipe 1 (akibat insulin absolute akibat destruksi sel beta yang disebabkan oleh autoimun ataupun idiopatik) dan diabetes tipe 2 (defisiensi insulin relative yang disebabkan oleh defek sekresi insulin lebih dominan daripada resistensi insulin atapun dapat sebaliknya). Diabetes melitus tipe 2 lebih dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang (Depkes, 2008).
Menurut WHO seseorang disebut sebagai penderita diabetes melitus apabila kadar glukosa darah vena dalam keadaan puasa lebih dari 140 mg/dl dan kadar glukosa darah vena 2 jam setelah diberi minum 75 mg glukosa lebih dari
200 mg/dl. Kadar glukosa darah utuh (whole blood) biasanya 15% lebih rendah
daripada kadar glukosa plasma. Sementara itu kadar glukosa darah kapilaris biasanya lebih tinggi 7-10% dibandingkan dengan kadar glukosa darah vena.
Penderita diabetes melitus memiliki risiko tiga kali lipat terkena stroke dan mencapai tingkat tertinggi pada usia 50-60 tahun. Setelah itu, risiko tersebut akan menurun, namun ada faktor penyebab lain yang dapat memperbesar risiko stroke karena sekitar 40% penderita diabetes pada umumya juga mengidap hipertensi (Shadine, M., 2010).
4.BHiperkolesterolemiaB
Meningginya kadar kolesterol dalam darah disebut hiperkolesterolemia. Kadar kolesterol di bawah 200 mg/dl dianggap aman, sedangkan di atas 240 mg/dl sudah berbahaya dan menempatkan seseorang pada risiko terkena penyakit jantung dan stroke ((Wahjoepramono, E.J., 2005).
Kolesterol LDL berfungsi membawa kolesterol dari hati ke dalam sel. Jika kadar kolesterol ini tinggi dapat mengakibatkan terjadinya penimbunan kolesterol di dalam sel yang dapat memicu terjadinya pengerasan dinding pembuluh darah arteri yang disebut sebagai proses aterosklerosis. Kolesterol HDL memiliki kerja yang berlawanan dengan kolesterol LDL, yaitu membawa kolesterol dari sel ke hati. Kadar HDL yang rendah justru memiliki efek buruk, memicu timbulya pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri. Peningkatan kadar LDL dan penurunan kadar HDL merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit jantung seperti ini merupakan faktor risiko terjadinya serangan stroke. Oleh karena itu pemeriksaan kadar kolesterol darah sangat penting dilakukan, karena tingginya kadar kolesterol dalam darah merupakan faktor risiko untuk terjadinya stroke (Shadine, M., 2010).
5.BObesitasB
Obesitas adalah kondisi dimana Body Mass Indec (BMI) ≥ 31 kg/m2.
Obesitas juga didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% dari berat badan idealnya. Obesitas merupakan faktor predisposisi penyakit kardiovaskuler dan stroke. Hal ini disebabkan keadaan obesitas berhubungan dengan tingginya tekanan darah dan kadar gula darah. Jika seseorang memiliki berat badan berlebih maka jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Orang obesitas akan meningkatkan risiko stroke karena obesitas merupakan faktor risiko untuk terjadinya hipertensi, penyakit jantung, ateriosklerosis dan diabetes melitus (Wahjoepramono, E.J., 2005).
6.BMerokokB
Rokok merupakan salah satu faktor yang signifikan untuk meningkatkan risiko terjadinya stroke. Orang yang memiliki kebiasaan merokok cenderung lebih berisiko untuk terkena penyakit jantung dan stroke dibandingkan orang yang tidak merokok. Hal ini disebabkan oleh zat-zat kimia beracun dalam rokok, seperti nikotin dan karbonmonoksida yang dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri, meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan kerusakan pada sistem kardiovaskuler melalui berbagai macam mekanisme tubuh. Rokok juga berhubungan dengan meningkatnya kadar fibrinogen (faktor penggumpal darah), peningkatan agregasi trombosit, menurunnya HDL dan meningkatnya hematokrit yang dapat mempercepat proses aterosklerosis yang menjadi faktor risiko untuk terkena stroke. Nikotin dalam rokok menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah yang dapat mengakibatkan naiknya tekanan darah. Arteri juga mengalami
penyempitan dan dinding pembuluh darah menjadi mudah robek yang mengakibatkan produksi trombosit meningkat sehingga darah mudah membeku. Selain itu, merokok dapat mengakibatkan hal buruk bagi lemak darah dan menurunkan kadar HDL dalam darah. Semua efek nikotin dari rokok dapat mempercepat proses aterosklerosis dan penyumbatan pada pembuluh darah. Karbonmonoksida dari rokok juga dapat mengurangi jumlah oksigen yang dibawa oleh darah, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara oksigen yang dibutuhkan dengan oksigen yang dibawa oleh darah (Stroke Association, 2010).
Rokok merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya infark jantung terutama kaum pria. Apabila dibandingkan dengan yang bukan perokok, maka perokok mempunyai faktor risiko dua kali lipat untuk mengalami jantung koroner. Penyakit ini dapat mengakibatkan mati mendadak maupun stroke (Junaidi, I., 2004).
7.BBKonsumsiBAlkoholBBerlebihanB
Secara umum peningkatan konsumsi alkohol meningkatkan tekanan darah sehingga memperbesar risiko stroke, baik yang iskemik maupun hemoragik. Konsumsi alkohol yang tidak berlebihan dapat mengurangi daya penggumpalan platelet dalam darah, seperti halnya asnirin. Dengan demikian, konsumsi alkohol yang cukup justru dianggap dapat melindungi tubuhnya dari bahaya stroke iskemik (Shadine, M., 2010).
Pada edisi 18 November, 2000 dari The New England Journal of
Medicine, dilaporkan bahwa Physicians Health Study memantau 22.000 pria yang selama rata-rata 12 tahun mengkonsumsi alkohol satu kali sehari ternyata hasilnya menunjukkan adanya penurunan risiko stroke secara menyuluruh. Klaus Berger
M.D. dari Brigham and Women`s Hospital di Boston beserta rekan-rekan juga menemukan bahwa manfaat ini masih terlihat pada konsumsi seminggu satu minuman. Walaupun demikian, disiplin menggunakan manfaat alkohol dalam konsumsi cukup sulit dikendalikan dan efek samping alkohol justru lebih berbahaya (Shadine, M., 2010).
8.BStressB
Stress dan kecemasan memengaruhi fungsi biologis tubuh. Pada saat stress peningkatan respon saraf simpatik memicu peningkatan tekanan darah dan terkadang disertai dengan kadar kolesterol darah, sehingga orang yang mudah stress akan berisiko terkena hipertensi dibandingkan seseorang yang tidak mudah mengalami stress. Selain itu jika stress berkombinasi dengan faktor risiko lain seperti ateriosklerosis berat, penyakit jantung akan memicu dan membuat risiko penderita stroke semakin berat. Stress meningkatkan risiko terkena stroke hampir dua kali lipat (Notoatmodjo, S., 2011).
9.BInfeksiB
Di Indonesia infeksi masih merupakan penyakit yang sangat mengganggu kesehatan masyarakat. Infeksi virus maupun bakteri dapat bergabung dengan faktor risiko lain dan membentuk risiko terjadinya stroke. Di antara sekian banyak penyakit infeksi maka yang mampu berperan sebagai faktor risiko stroke adalah tuberculosis, malaria, lues, leptospirosis dan infestasi cacing. Secara alami, sistem kekebalan tubuh biasanya melakukan perlawanan terhadap infeksi dalam bentuk meningkatkan peradangan dan sifat penangkalan infeksi pada darah. Sayangnya, reaksi kekebalan ini juga meningkatkan faktor penggumpalan dalam darah yang memicu risiko stroke embolik-sistemik (Shadine, M., 2010).
11.BCederaBKepalaBdanBLeherB
Cedera pada kepala atau cedera otak traumatik dapat menyebabkan pendarahan di dalam otak dan menyebabkan kerusakan yang sama seperti pada stroke hemoragik. Cedera pada leher, bila terkait dengan robeknya tulang punggung atau pembuluh karotid akibat peregangan atau pemutaran leher secara berlebihan atau adanya tekanan pada pembuluh merupakan penyebab stroke yang cukup berperan terutama pada orang dewasa usia muda (Shadine, M., 2010). 12.BPenggunaanBKontrasepsiBOralB
Faktor risiko stroke ini berkaitan dengan terjadinya fluktuasi dan perubahan hormonal yang memengaruhi seorang wanita dalam berbagai tahapan dalam kehidupannya. Peneliti memerlihatkan bahwa kontrasepsi oral jenis lama dengan kandungan estrogen yang tinggi dapat memperbesar risiko stroke pada wanita, tetapi kontrasepsi oral jenis baru dengan kandungan estrogen lebih rendah secara nyata tidak meningkatkan risiko stroke pada wanita (Shadine, M., 2010). 2.11BPencegahanBStrokeB
B Tujuan umum pencegahan stroke adalah menurunkan kecacatan dini,
kematian serta memperpanjang hidup dengan kualitas yang baik. Menurut Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke di Indonesia, upaya yang dilakukan untuk pencegahan penyakit stroke yaitu;
2.11.1BPencegahanBPrimordialB B
Tujuan pencegahan primordial adalah mencegah timbulnya faktor risiko stroke bagi individu yang belum mempunyai faktor risiko. Sasaran dari pencegahan primordial adalah orang-orang yang masih sehat dan belum memiliki faktor risiko timbulnya kejadian stroke. Contohnya dengan menjaga pola makan
sehat dan teratur, mempertahankan berat badan ideal, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol dan memperbanyak aktivitas fisik diawali dengan berjalan kaki dan berolahraga secara teratur (Bustan, M.N., 2007).
2.11.2BPencegahanBPrimerB
Tujuan pencegahan primer adalah mencegah atau mengurangi timbulnya faktor risiko stroke bagi individu yang sudah mempunyai faktor risiko. Sasarannya adalah orang-orang yang termasuk kelompok risiko tinggi yaitu orang-orang yang belum terkena stroke, tetapi berpotensi untuk menderita terjadinya stroke. Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain (Bustan, M.N., 2007):
1. Menghindari: rokok, stress mental, minum kopi dan alkohol, obesitas dan
golongan obat-obatan yang dapat memengaruhi cerebrovaskuler (amfetamin, kokain dan sejenisnya).
2. Mengurangi: asupan lemak, kalori, garam dan kolesterol yang berlebihan.
3. Mengontrol atau mengendalikan: hipertensi, diabetes melitus, penyakit
jantung dan aterosklerosis, kadar lemak darah, konsumsi makanan seimbang,