c Pelayanan Spesialis Penunjang Medik 1 Pelayanan Radiolog
BABB5B PEMBAHASANB
5.1.5 BPemeriksaanBCTB Scan
Proporsi penderita stroke rawat inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten
Padang Lawas tahun 2014-2015 berdasarkan pemeriksaan CT Scan dapat dilihat
pada gambar berikut ini.
97,1% 2,9%
GambarB 5.9B DiagramBPieB DistribusiB ProporsiB PenderitaB StrokeB RawatB InapB
yangB Belum/B SudahB MelakukanB PemeriksaanB CTB Scan diB
RumahB SakitB LainB yangB TercatatB diB RSUD.B SibuhuanB KabupatenBPadangBLawasBTahunB2014-2015B
Gambar 5.9 menunjukkan bahwa proporsi penderita stroke yang dirawat inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas tahun 2014-2015 berdasarkan
yang sudah melakukan pemeriksaan CT Scan di rumah lain sebesar 30,5%
sedangkan yang belum melakukan pemeriksaan CT Scan terdapat 69,5%.B
Membedakan stroke hemoragik dan stroke iskemik merupakan langkah terpenting untuk manajemen kedua jenis stroke tersebut. Penegakan diagnosis
memerlukan alat penunjang CT (Computerszed Tomo-graphy) Scan kepala
sebagai pemeriksaan baku emas. Selain itu, juga dapat berguna untuk mengetahui
lokasi lesi dan menentukan luas atau beratnya penyakit. Di Indonesia alat CT Scan
ini hanya terdapat di kota-kota besar terutama di beberapa ibukota provinsi karena harga alat dan biaya perawatannya yang mahal. Begitu juga dengan halnya di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas dimana rumah sakit ini masih berada di tipe C, minimnya sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan dalam hal penangangan stroke, seperti belum ada dokter spesialis saraf dan alat pencitraan
(CT Scan), sehingga pasien stroke yang datang berobat harus ditanya apakah
sudah pernah berobat ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas alat CT Scan
69,5% 30,5%
atau melihat data rekam medik pasien tersebut. Bagi pasien yang belum pernah
melakukan pemeriksaan CT Scan sebelumnya atau pertama kali mendapat
serangan stroke, maka dokter akan mendiagnosa penderita stroke dengan gejala- gejala yang timbul menggunakan sistem skoring sehingga didapatkan hasil diagnosa sementara. Dengan begitu dapat dilakukan penanganan seoptimal mungkin selama pasien berada di perjalanan untuk dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Berdasarkan penjelasan dari dokter yang menangani penderita stroke, sebagian besar penderita yang mengalami onset serangan ≤6 jam dan belum
melakukan pemeriksaan CT Scan, akan segera dirujuk ke rumah sakit lain
terdekat yang memiliki fasilitas CT Scan untuk menetukan tipe stroke yang
dideritanya, setelah didapatkan hasilnya seorang penderita stroke bisa kembali melanjutkan pengobatan di RSUD. Sibuhuan ini sesuai dengan keinginan penderita stroke.
5.1.6BB TipeBStrokeBB
Proporsi penderita stroke rawat inap di RSUD.Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas tahun 2014-2015 berdasarkan tipe stroke dapat dilihat berikut ini.
GambarB5.10BDiagramBPieBDistribusiBProporsiBPenderitaBStrokeBRawatBInapB
BerdasarkanB TipeB StrokeB TercatatB diB RSUD.B SibuhuanB 68,6%
13,3% 18,1%
Gambar 5.10 menunjukkan bahwa bahwa proporsi penderita stroke yang dirawat inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas tahun 2014-2015 berdasarkan tipe stroke tetinggi adalah iskemik sebesar 68,6%, dan tipe stroke hemoragik sebesar 13,3%.
Dalam hal menentukan tipe stroke yang diderita oleh penderita stroke,
dokter menentukannya berdasarkan hasil pemeriksaan CT Scan bagi penderita
stroke yang sebelumnya berobat ke rumah sakit lain, sedangkan bagi penderita
stroke yang belum ada hasil CT Scan atau baru pertama kali mengalami serangan
stroke, dokter akan menentukan tipe stroke berdasarkan sistem skoring Siriraj. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian stroke iskemik memang lebih sering dialami dibandingkan dengan stroke hemoragik. Banyak kelainan yang dapat mendukung terjadinya stroke iskemik, akan tetapi proses aterosklerosis merupakan penyebab utama. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke iskemik (Ginsberg, L., 2008).
Pada penelitian lain di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukit Tinggi tahun 2010 didapatkan proporsi stroke iskemik yang lebih besar dibandingkan dengan stroke hemoragik, yaitu sebanyak 416 orang (64%) dari 655 penderita stroke (Mailisafitri, 2011). Begitu juga dengan hasil penelitian Faisal Budi (2013) di RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo tipe stroke yang paling banyak adalah NonHemoragik Stroke (NHS) yaitu 98 kasus (57,6%).
5.1.7B LetakBKelumpuhanB
Proporsi penderita stroke rawat inap di RSUD.Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas tahun 2014-2015 berdasarkan letak kelumpuhan adalah berikut ini.
GambarB5.11B DiagramB Pie DistribusiB ProporsiB PenderitaB StrokeB yangB DirawatB InapB BerdasarkanB LetakB KelumpuhanB diB RSUD.B SibuhuanBKabupatenBPadangBLawasBTahunB2014-2015B
B
Gambar 5.11 menunjukkan bahwa proporsi penderita stroke yang dirawat inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas tahun 2014-2015 berdasarkan letak kelumpuhan tertinggi adalah hemiparesis dextra sebesar 53,3%, kemudian diikuti oleh hemiparesis sinistra sebesar 32,4% dan terendah adalah hemiparesis duplex sebesar 14,3%.
Tingginya kelumpuhan pada sisi dextra terjadi karena otak kiri lebih dominan digunakan dalam aktivitas sehari-hari seperti berbicara, berhitung dan menulis sehingga metabolismenya lebih lancar dibandingkan otak sebelah kanan.
Oleh karena itu jika stroke menyerang belahan otak sebelah kiri (hemssfer serebrs
ssnsntra) dapat mengakibatkan kelumpuhan atau kelemahan motorik (daya gerak otot) yang ada pada sisi tubuh sebelah kanan (Anderson, S., 1993).
Hal ini sejalan dengan penelitian Napitupulu (2007) di RS. Santa Elisabeth
Medan dengan desain case serses, dimana letak kelumpuhan tertinggi pada
penderita stroke adalah hemiparesis dextra sebesar 44,8%. Begitu juga dengan hasil penelitian Hendryka (2010) di RSU. Dr. Pirngadi Medan yang menyatakan
53,3% 32,4%
14,3%
bahwa letak kelumpuhan tertinggi adalah hemiparesis dextra dengan proporsi 51,3%.
5.1.8B LamaBRawatanBB
Proporsi penderita stroke rawat inap di RSUD.Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas tahun 2014-2015 berdasarkan lama rawatan dapat dilihat pada gambar berikut ini.
GambarB 5.12B DiagramB PieB DistribusiB ProporsiB PenderitaB StrokeB yangB
DirawatB InapB BerdasarkanB LamaB RawatanB diB RSUD.B SibuhuanBKabupatenBPadangBLawasBTahunB2014-2015B B
Gambar 5.12 menunjukkan bahwa proporsi penderita stroke yang dirawat inap di RSUD. Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas tahun 2014-2015 berdasarkan lama rawatan tertinggi adalah yang dirawat selama ≤7 hari sebesar 92,4% sedangkan yang dirawat selama >7 hari sebesar 7,6%.
Penderita stroke yang dirawat inap di rumah sakit ini terbanyak adalah ≤7 hari terdapat 97 orang, hal ini disebabkan ada beberapa penderita setelah dibawa ke rumah sakit dan diberikan pengobatan mengalami kematian, dan ada juga yang dirujuk secepatnya ke rumah sakit lain. Kemudian Penderita stroke yang dirawat inap >7 hari terdapat 8 orang, oleh karena penderita stroke masih perlu mendapatkan pengobatan dan perawatan yang lebih untuk kesembuhannya.
92,4% 7,6%
5.1.9B SumberBBiayaBB B