BAB IV: METODOLOGI HERMENEUTIKA AL- QUR’AN LIBERATIF
2. Berbagai Pembacaan atas Al- Qur’an
Farid Esack melalui bukunya The Qur’an; A User’s Guide24
menjelaskan berbagai pembacaan atas al-Qur’an. Menurut Esack, al
-Qur’an sebagai teks sentral umat Islam telah dipelajari secara luas dan
menyeluruh oleh para pemikir insider maupun outsider, baik secara kritis
maupun tidak.25 Al-Qur’an menurut Esack telah menarik perhatian
sejumlah pengkaji al-Qur’an untuk selalu berinteraksi dan bergaul
dengannya. Esack menganalogikan al-Qur’an sebagai sosok tubuh wanita
yang memiliki keindahan dan daya tarik. Al-Qur’an dari berbagai sisinya
bagaikan mutiara yang memancarkan keindahan. Di dalamnya menyimpan
sejuta misteri yang mengandung rasa penasaran. Al-Qur’an sebagai
seorang kekasih yang sangat dicintai, tentu banyak cara yang dilakukan
dalam mendekatinya.26
Dalam melakukan analisis terhadap berbagai pembacaan atas al-Qur’an, Esack membuat garis pemisah antara “pembaca internal” dengan “pembaca eksternal”. Kelompok yang masuk ke dalam garis pembaca
internal yaitu; (1) Ordinary Muslims; (2) Confessional Muslim Scholars;
(3) Critical Muslim Scholars. Sementara kelompok yang berada di dalam
garis pembacaan eksternal yaitu; (1) Participant Observers; (2)
24 (Oxford: Oneworld Publications, 2007).
25 Farid Esack, Qur’an, Liberation, hlm. 52.
79
Revisionist/ Disinterested Observers; (3) Polemicist. Berikut ilustrasi
pembagiaannya;27
Skema: 2
Approaching the Qur’an28
Pada garis pembaca internal, yang pertama, kelompok ordinary
muslims atau diistilahkan lain oleh Esack sebagai the uncritical lover (pecinta tak kritis) yaitu komunitas Muslim awam yang digambarkan oleh
Esack sebagai kelompok pembaca al-Qur’an yang mengalami ekstasi
bawah sadar. Bagaikan pemuda yang jatuh cinta secara buta, suatu
27 Esack menjelaskan bahwa pembagian kelompok tersebut harus dipandang sebagai hal yang deskriptif bukannya evaluatif. Sehingga menurut Esack, pembagian tersebut tidak menunjukkan bahwa tingkat pertama adalah “tingkat tertinggi” atau “terendah”. Farid Esack, The Qur’an, hlm. 2.
28 Farid Esack, The Qur’an, hlm. 3.
نارقلا
Self Other Ummah World 2 Confessional Muslim Scholars 3 Critical Muslim Scholars 1 Ordinary Muslims 5 Revisionist (Disinterested Observers Participant Observers 4 Polemicist 680
pembacaan pasrah tanpa pertanyaan apapun tentangnya.29 Kedua,
kelompok confessional muslim scholars istilah lainnya adalah the
scholarly lover (pecinta akademis) yaitu kelompok ulama konfensional yang cenderung apologetik dan fanatik dalam setiap kajiannya terhadap al-Qur’an. Sebagai pecinta akademis, kelompok ini berusaha menjelaskan
makna-makna serta kelebihan yang dikandung al-Qur’an. Dan berusaha
memahami lebih dekat sosok yang dicintainya. Menurut kelompok ini, setiap apapun temuan baru dari luar Islam dijawab oleh kelompok ini
dengan mengatakan bahwa semuanya telah terangkum dalam al-Qur’an.
Ibarat orang yang jatuh cinta, ia adalah pemuda yang tidak mau kekasihnya dianggap kurang sempurna oleh orang lain. Esack menyebut beberapa pemikir yang masuk dalam kelompok ini seperti Abdul A’la al-Maududi (1977), Amin Ahsan Islahi (1997), dan Bint Syathi’.30 Ketiga, kelompok critical muslim scholars atau the critical lover (pecinta kritis) yaitu
pembaca yang selalu bertanya kepada al-Qur’an bakan pertanyaan
-pertanyaan ontologis, -pertanyaan tentang hakikat, fungsionalisme dan kehadirannya. Pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan, bukan
dimaksudkan sebagai upaya menjauhkan diri dari al-Qur’an, tetapi justru
bermaksud untuk mengenal lebih dekat (proses mengetahui secara terus menerus). Ibarat orang yang jatuh cinta, pecinta kritis mempertanyakan banyak hal tentang kekasihnya seolah-olah ia bukan orang yang
29 Farid Esack, The Qur’an, hlm. 2.
81
dicintainya. Karena bagi pecinta kritis, ia tidak cukup hanya mengetahui sebatas ornamen atau estetikanya. Pecinta kritis menganggap bahwa
kekasihnya tersebut (al-Qur’an) mampu memberikan jauh lebih banyak
dari sekadar yang terlihat dari keindahan luarnya. Di antara para pecinta kritis adalah Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, dan Nasr Hamid Abu
Zayd.31
Sementara itu, pada garis pembaca eksternal, terdapat tiga kelompok
yaitu; pertama, participant observer atau the friend of the lover (teman
dari pecinta) yaitu kelompok pembaca orang luar yang bersifat kritis-akademis. Sebagaimana pecinta kritis, teman dari pecinta ini juga mempertanyakan aspek-aspek ontologis bahkan yang telah baku diyakini
oleh pemeluknya.32 Kelompok ini pada satu sisi dimungkinkan untuk
mengakui keindahan al-Qur’an. Bahkan mereka juga mungkin
mencintainya meskipun dalam pengertian yang berbeda, tapi enggan untuk menyatakan kecintaan ini karena takut salah dipahami (oleh komunitas Muslim). Masuk dalam kelompok ini di antaranya adalah W. Montgomery Watt (dimensi sosiologis wahyu), Wilfred Cantwell Smith (dimensi
31 Farid Esack, The Qur’an, hlm. 5. Esack sendiri masuk ke dalam kelompok ketiga ini, yang sangat kritis dalam melakukan pembacaan teks-teks al-Qur’an. Bahkan lebih dari itu, Esack berusaha mengkonstruksi realitas kontemporer sebagai basis dalam proses penafsirannya. Esack berusaha membongkar “berbagai” kepentingan yang tersembunyi dibalik teks, dan melakukan counter kepentingan untuk menciptakan realitas yang lebih berkeadilan. Esack pun mengapresiasi pembacaan kritis atas al-Qur’an. Sebuah pembacaan yang sangat memperhatikan proses dialektika antara teks dan konteks, menimbang realitas dan budaya sebagai fakta empiris yang mempengaruhinya.
32 Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya, bagaimana kemungkinan hubungan Tuhan dengan Muhammad dan bagaimana proses turunnya wahyu dan sebagainya. Kemudian, seberapa besar historisitas kemanusiaan terlibat dalam formasi tekstualitas al-Qur’an.
82
spiritual wahyu), Kenneth Cragg dan William Graham.33 Kedua,
revisionist/ disinterested observers atau the voyeur (para pencela) yaitu kelompok yang menganggap tidak memiliki kepentingan apapun dalam
membaca al-Qur’an. Karakteristik utama kelompok ini adalah kajian
kiritis terhadap asal-usul agama Islam dan al-Qur’an. Kajiannya sangat
menekankan pada aspek catatan Muslim sejak permulaan, bahkan melebar hingga perlunya melakukan perbandingan catatan dengan sumber-sumber di luar Islam. Implikasinya adalah kelompok ini hanya menerima bukti-bukti material kontemporer yang diambil dari semacam arkeologi dan
geneologi.34 Masuk dalam kelompok ini adalah John Wansborough,
Andrew Rippin, dan Christoph Luxemborg.35 Ketiga, polemicist (tukang
polemik) yaitu kelompok yang secara sadar membawa “kepentingan” untuk memasukkan asumsi-asumsi yang telah dimilikinya untuk
melakukan justifikasi terhadap al-Qur’an. Ia selalu menyalahkan atas apa
yang dibangun oleh al-Qur’an, bahkan terkadang ia merasa terancam akan
keberadaan al-Qur’an. Esack tidak menyebut siapa tokoh yang masuk
dalam kelompok ini, tapi menurut Esack, dimungkinkan bahwa
kadang-kadang dua kelompok pembaca luar bisa masuk di dalamnya.36
33 Farid Esack, The Qur’an, hlm. 6-7.
34 Tidak jarang, karena penekanannya pada bukti-bukti material, kelompok ini sering memberikan kesimpulan bahwa Islam (komunitas Muslim) adalah komunitas yang terbentuk dari adaptasi agama Judeo-Kristiani. Bahkan tidak jarang tuduhan yang mengatakan bahwa Islam adalah
“anak haram” dari agama Yahudi dan Kristen. Dan Muhammad adalah seorang messianisme
keyahudian. Farid Esack, The Qur’an, hlm. 8; Iswahyudi, “Dari Pewahyuan Progressif Menuju Tafsir Pembebasan; Telaah atas Hermeneutika al-Qur’an Farid Esack”, al-Tahrir (Vol. 11, No. 1, 2011), hlm. 84.
35 Farid Esack, The Qur’an, hlm. 8-9.
36 Kelompok ini diilustrasikan oleh Esack sebagai seorang yang “berselingkuh” baik dengan Bible maupun sekularisme. Farid Esack, The Qur’an, hlm. 9-10.
83
Tipologi atas pembacaan al-Qur’an yang dilakukan oleh Esack di
atas, sesungguhnya adalah langkah dalam memahami berbagai metode pembacaan yang relevan terhadap konteks kebutuhan kontemporer. Esack berusaha untuk mencari celah dan mengkritisi kekurangan-kekurangan
yang dilakukan oleh para pendahulunya. Esack ingin teks-teks al-Qur’an
dapat relevan pada situasi yang dihadapi oleh umat Islam. Semangatnya
untuk mengaktualkan nilai-nilai al-Qur’an inilah yang membawanya
kepada wilayah praksis-liberatif. Maka, sesungguhnya cara pembacaan
terhadap al-Qur’an yang diinginkan oleh Esack adalah pembacaan yang
kritis dan penuh dengan semangat pembebasan.