Walaupun para pemimpin Yahudi mewakili kebenaran Taurat, tetapi mereka tidak diutus Allah Bapa dan bukan wakil-Nya yang sejati. Kristus tidak hanya mewakili kebenaran firman, dan bukan hanya Sang Firman itu sendiri, tetapi juga diutus oleh Sang Bapa untuk mewujudkan kehendak-Nya. Keunikan dari Yesus ini penting. Hal inilah salah satu dasar berbagai klaim Injil Yohanes tentang diri Yesus Kristus. Jika Yesus tidak diutus oleh Sang Bapa, jika para murid tidak bertemu dengan Sang Bapa melalui diri Yesus, maka pemberitaan-Nya tidak berarti apa-apa. Hal ini penting kita camkan, karena implikasinya, ketika kita percaya kepada Yesus dan menaati firman-Nya, kita pun percaya dan menaati Sang Bapa.
Sebab itu, di sini kita menemukan salah satu poin penting. Di pasal 13 kita sudah melihat bahwa para murid diperintahkan untuk saling mengasihi. Kali ini penegasannya lebih umum dan kentara, para murid dipanggil untuk berkarya. Tanggung jawab orang Kristen memang bukan sebatas percaya dan bersyukur. Kita menjadi murid karena Tuhan berkehendak mewujudkan rencana-Nya. Karena inilah, Yesus memberikan janji, yaitu Ia akan melakukan apa yang kita minta dalam nama-Nya. Ini bukan merupakan cek kosong yang kita bisa isi sesuka hati. "Kita" yang disapa Tuhan di sini adalah para murid yang tahu dan mau bergumul demi kehendak-Nya, bukan orang yang terbiasa meminta kebutuhannya sendiri seenak perutnya.
Iman bukan cuma menyangkut perasaan belaka. Iman yang hidup seharusnya menggerakkan arahan hati, kehendak, perasaan, dan wujud tindakan ketaatan manusia kepada Allah. Orang yang mengaku beriman, tetapi tidak berkarya sesungguhnya tidak beriman. Hari ini kita ditantang untuk menyatakan bahwa kita berkarya, bukan hanya karena diperintahkan Tuhan, melainkan karena karya-Nya ada di dalam diri kita, niscaya membuat kita berkarya bagi Tuhan yang dahsyat itu.
79
Kamis, 6 Maret 2008
Bacaan : Yohanes 14:15-24
(6-3-2008)
Yohanes 14:15-24
Arti mengasihi Yesus
Judul: Arti mengasihi YesusMenyanyikan banyak lagu tentang keagungan Yesus bukan jaminan bahwa si penyanyinya benar-benar mengasihi Yesus. Membangun begitu banyak gedung atau monumen yang
mengusung nama Yesus pun tidak. Menulis banyak artikel seperti renungan ini pun sama saja. Nas ini menegaskan bahwa kasih murid kepada Tuhannya diwujudkan melalui ketaatan si murid pada perintah-Nya, baik dalam sikap, perasaan, dan tindakan.
Pemahaman kita tentang mengasihi Yesus makin seru karena para murid berhadapan dengan fakta bahwa Yesus naik ke surga. Arti mengasihi seperti di atas makin penting. Pertama, kita tidak ditinggalkan begitu saja, tapi memperoleh parakletos atau penolong, yaitu Roh Kudus. Sang parakletos jelas bukan manusia biasa, karena Ia adalah "Roh Kebenaran" yang menyertai kita dan diam di dalam kita (ayat 17). Artinya, dalam melakukan perintah-perintah Tuhan, kita tidak sendirian, tetapi mengalami penyertaan ilahiah. Kedua, dengan mengasihi Yesus secara sungguh-sungguh, kita menyenangkan hati Sang Bapa yang mengutus Yesus. Pemunculan figur Allah Bapa dalam Injil Yohanes bukanlah sekadar formalitas. Tema ini menandaskan bahwa apa yang dilakukan Yesus dan kita para murid-Nya merupakan bagian dari karya dan rencana Allah sejak bumi ini diciptakan. Melalui ketaatan kasih kita, kita beroleh anugerah menjadi bagian di dalamnya.
Kasih Tuhan tak pernah berubah. Namun zaman berubah, dan kita pun perlu mencari cara-cara baru dan kontekstual untuk mewujudkan kasih kita kepada Tuhan Yesus. Zaman ini menantang kita dengan perancuan nilai keluarga dan kemanusiaan; penindasan terhadap sesama manusia; perusakan lingkungan hidup; pemberhalaan kapital dan teknologi; dll. Setiap pagi hari, sebagai murid-murid Kristus, selayaknyalah kita berdoa, "Ya Tuhan, biarlah Roh Kudus menolong aku mewujudkan kasihku kepada-Mu melalui ketaatanku di tengah keluarga, lingkungan sosial dan alam, gereja, serta tempat kerjaku."
80
Jumat, 7 Maret 2008
Bacaan : Yohanes 14:25-31
(7-3-2008)
Yohanes 14:25-31
Roh dan firman
Judul: Roh dan firmanDoktrin pneumatologi [ajaran tentang Roh Kudus] tak jarang menimbulkan kontroversi. Padahal kita seharusnya justru terhibur dan dikuatkan oleh pengajaran tentang Sang Penolong/Penghibur [kedua kata ini terjemahan dari kata yang sama, parakletos], karena memang itulah tujuannya. Nas ini menegaskan peran Roh Kudus dalam kehidupan seorang murid: mengajar dan
mengingatkan si murid akan firman Tuhan, serta mewujudkan damai sejahtera yang ditinggalkan Yesus. Kehadiran Roh Kudus juga yang memampukan kita bersukacita atas fakta perginya Yesus kepada Sang Bapa dan janji bahwa Ia akan kembali.
Selain kontroversial, ajaran tentang Roh Kudus kadang dipandang sebagai teori teologis atau bahkan semacam takhayul Kristen. Kadang juga orang Kristen terjebak dalam pemahaman keliru bahwa Roh Kudus baru hadir ketika terjadi berbagai hal supernatural/mukjizat. Padahal tidak demikian. Roh Kudus diutus bagi para murid (ayat 16), bukan semata-mata demi mengadakan mukjizat. Roh Kudus mengajarkan kepada kita "segala sesuatu" (ayat 26), yaitu segala kebenaran Allah yang telah dinyatakan melalui Yesus, dan mengingatkan kembali firman itu. Implikasi bagi kita adalah, pertama, hidup seorang murid benar-benar dilandaskan pada firman Tuhan. Roh Kudus mengingatkan kita, supaya kehidupan berlandaskan firman itu benar-benar terjadi. Kedua, dalam menaati firman Tuhan, kita tidak mengandalkan kuasa kita sendiri. Tak jarang kita gagal menaati firman bukan karena kita tidak mau, tetapi karena kita gagal mengandalkan kuasa Roh Kudus.
Doktrin ini berpengaruh pada segenap lingkar kehidupan kita. Bahkan dalam relasi dengan pasangan, anak, dan orang tua, kita mesti mengandalkan Dia agar kelakuan kita sungguh-sungguh serasi kebenaran Alkitab. Supaya hidup kita mengasihi atau mengalami dan menyebarkan damai sejahtera Tuhan, kita tidak boleh melupakan dua hal penting: bahwa landasannya adalah firman, dan Roh Penolong itulah yang mengingatkan dan memberdayakan kita.
81
Dalam dunia pekerjaan, mendengar bos menyebut kata-kata seperti target, deadline/tenggat, kuota, hasil dll., kadang bisa menimbulkan rasa takut dan gentar. Apalagi kalau kata seperti itu keluar dari Sang Maha Kuasa. Di sini Tuhan Yesus menggunakan istilah "berbuah". Ada
perbedaan di antara ranting yang menghasilkan dan yang tidak menghasilkan buah (ayat 2, 5-6), yaitu orang yang sungguh-sungguh tinggal dalam Yesus dengan yang tidak. Seakan-akan orang Kristen harus mencapai suatu hasil konkret tertentu jika ia tidak ingin dirinya "dicampakkan ke dalam api lalu dibakar." Nas ini memang memaparkan risiko dan imbalan, tetapi ada hal penting lainnya yang perlu kita sadari.
Berlawanan dengan dunia kerja sekuler di mana target pribadi berarti harus dicapai secara pribadi (berdasar kompetensi pribadi) pula, nas ini justru memaparkan betapa tergantungnya seorang murid Tuhan dalam menghasilkan buah. Pertama, ia "dibersihkan" oleh Bapa supaya bisa lebih banyak berbuah. Kedua, dan yang paling penting, ia mampu berbuah mutlak hanya karena dirinya tinggal di dalam Kristus, Sang Pokok Anggur, bukan karena kapasitas pribadinya. Ketiga, murid berbuah karena firman Tuhan "tinggal" di dalam dirinya, dalam arti firman Tuhan menjadi dasar kehidupannya. Keempat, buah karya si murid itu niscaya memuliakan Tuhan, karena buah itu memang terjadi karena kuasa Tuhan sendiri.
Di dalam ketidakmungkinan manusiawi ini, justru tersirat suatu janji: bahwa kuasa Allah niscaya memungkinkan kita menghasilkan buah, yaitu sikap dan tindakan berdasarkan firman yang menyenangkan hati Allah dan menjadi penggenapan kehendak-Nya. Sebagai murid, mari kita pusatkan perhatian pada tindakan iman ini: menghasilkan buah yang konkret. Buah-buah itu harus muncul di segala bidang kehidupan kita, mulai dari rumah, lingkungan, tempat kerja, gereja, dan bahkan di dunia maya. Inilah wujud iman kita yang sebenarnya.
82
Minggu, 9 Maret 2008
Bacaan : Yohanes 15:9-17
(9-3-2008)
Yohanes 15:9-17
Sekali lagi, mengasihi
Judul: Sekali lagi, mengasihiEntah ada berapa milyar murid Yesus yang kini hidup di bumi ini. Satu hal menarik yang segera menonjol ketika kita memperhatikan hal ini adalah: betapa beragamnya kita. Pembaca renungan ini pun niscaya berasal dari kalangan tradisi gereja yang beragam. Di tengah keberagaman itu, sikap curiga, entah secara sosial atau doktrinal, sikap kecewa, kesal, dll. tetap mewarnai dinamika sikap dan hubungan para murid Kristus. Kondisi ini tentu saja tidak mungkin disingkirkan begitu saja. Walaupun begitu, kondisi ini pun tidak boleh kita terima begitu saja. Keberagaman denominasi, budaya, pola pikir teologi, dll., di antara para murid Kristus harus disikapi dengan satu hal penting: kasih.
Dalam nas ini Yesus mengajarkan bahwa tindakan mengasihi justru merupakan sebuah anugerah. Murid bisa mengasihi karena ia dipilih Tuhan untuk dikasihi, dan terlebih dulu dikasihi oleh Tuhan. Fakta ini membuat kita, sebagai murid, selamanya berutang kepada Allah, dan selamanya mesti merespons kasih itu dengan kasih kepada sesama kita. Bukan hanya itu, selain anugerah, mengasihi juga merupakan perintah dari Tuhan. Oleh karena itu, kondisi keberagaman di antara sesama murid Kristus harus kita hadapi dengan kesiapan dan kesigapan untuk mengasihi sesama murid. Kata-kata Tuhan dalam nas ini sangat jelas. Bukan kolega dari denominasi atau sinode yang sama saja yang harus kita kasihi, melainkan sesama orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, Anak Allah.
Bagi konteks kita, murid Kristus yang hidup di Indonesia, ini sangat penting. Sebagai contoh, kebanyakan orang Kristen di Jakarta tidak tahu apa yang dialami dan dihadapi saudara-saudari seiman kita di Bengkulu atau Papua, begitu pula sebaliknya. Menyadari hal ini, berbagai yayasan pelayanan seperti PPA berusaha keras agar kondisi ini tidak bertambah parah. Namun semua upaya itu niscaya percuma jika kita sendiri tidak punya tekad untuk mewujudkan iman kita dengan kasih yang konkret.
83
Senin, 10 Maret 2008
Bacaan : Yohanes 15:18-27