• Tidak ada hasil yang ditemukan

Roh Kudus akan datang Judul: Roh Kudus akan datang

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 84-88)

Setiap orang yang mengikut Yesus akan menghadapi perlawanan dari dunia. Ini merupakan konsekuensi yang harus dihadapi oleh orang yang berpaut dengan Kristus.

Mengapa Yesus merasa perlu memberitahu murid-murid-Nya mengenai perlawanan yang akan mereka hadapi? Sebab Yesus akan segera pergi kepada Bapa. Oleh karena itu, Yesus harus mempersiapkan para murid untuk menghadapi segala sesuatu sepeninggal Dia. Maka Yesus memberitahukan bahwa setelah Ia pergi, mereka akan menghadapi penganiayaan yang ditujukan kepada para pengikut Yesus (ayat 2). Namun Yesus memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan ditinggal sendirian. Roh Kudus akan datang dan dicurahkan atas para murid.

Yesus tahu apa yang akan dihadapi para murid dikemudian hari. Mereka akan menghadapi tantangan dari orang-orang yang membenci Kristus dan Injil (ayat 3-4). Sebab itu Ia tidak ingin iman para murid menjadi goyah atau lemah karena keadaan tersebut. Itulah sebabnya Roh Kudus diberikan untuk menyertai orang percaya. Roh Kudus akan melanjutkan pekerjaan yang telah dimulai Yesus.

Tiga tugas penting yang akan dilakukan oleh Roh Kudus ialah meyakinkan dunia akan dosa dan memanggil dunia untuk bertobat; menyatakan standar kebenaran Kristus kepada orang yang mau percaya; dan menyatakan penghakiman Kristus. Roh Kudus menolong orang percaya untuk membedakan yang benar dari yang salah. Roh Kudus juga menyatakan kepada para murid tentang segala perkara yang akan terjadi di masa mendatang (ayat 13).

Kita yang hidup di masa kini tidak perlu lagi menantikan Roh Kudus, karena begitu kita

membuka hati terhadap Kristus maka Ia hadir dalam hidup kita. Tanda bahwa kita memiliki Roh Kudus bukan hanya bila memiliki karunia roh seperti bahasa lidah dll. Tanda yang penting dari keberadaan Roh Kudus dalam hidup kita adalah apabila kita menjadi pelaku dan penyaksi kebenaran.

85

Rabu,, 12 Maret 2008

Bacaan : Yohanes 16:16-24

(12-3-2008)

Yohanes 16:16-24

Duka jadi suka

Judul: Duka jadi suka

Seperti kebanyakan orang masa kini, para murid Yesus juga mengikut Yesus dengan harapan akan mendapat kehormatan dan kemuliaan. Lalu ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, siapkah mereka untuk tetap ikut Yesus?

Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya. Ia berkata bahwa mereka akan mengalami kesedihan yang teramat dalam setelah kematian-Nya. Pada saat yang sama, orang-orang yang telah

menyalibkan Yesus justru akan bersukacita karena kematian Dia. Hari kematian Yesus bagaikan hari kemenangan bagi mereka. Namun kesedihan para murid tidak akan lama. Dukacita mereka akan berubah menjadi sukacita. Betapa besarnya sukacita yang akan dialami para murid ketika mereka tahu bahwa Yesus telah bangkit dari kematian (Luk. 24:41, 52). Yang Yesus maksud bukanlah menggantikan duka mereka dengan suka, melainkan duka mereka akan menjadi sukacita. Apa bedanya?

Banyak orang mengharapkan sukacita, tetapi tidak ingin mengalami dukacita dulu untuk memperoleh sukacita itu. Namun jika sukacita yang dimaksud Yesus adalah dukacita yang ditransformasi Allah menjadi sukacita, maka murid Kristus harus menanggung dukacita dulu, baru mengalami sukacita. Kebenaran ini digambarkan Yesus seperti seorang ibu yang akan melahirkan bayinya (ayat 21). Si ibu harus menanggung rasa sakit lebih dulu saat melahirkan. Sesudah itu, ia dapat bersukacita, yakni saat ia melihat dan menggendong bayinya. Seperti itulah derita dan kesedihan dalam hidup murid-murid Tuhan. Ada rasa sakit untuk seketika waktu lamanya, tetapi rasa sakit itu ditransformasi ke dalam sukacita kekal (band. 2Kor. 4:16-18). Sukacita kita sebagai orang Kristen bukan ditemukan dalam kepemilikan segala sesuatu yang kita inginkan. Seharusnya kita bersukacita karena kita membutuhkan Allah dan mengalami bagaimana hidup kita dipuaskan oleh Dia. Sukacita semacam itu adalah sukacita kekal, yang hanya dapat kita miliki bila kita berpaut pada Kristus.

86

Kamis, 13 Maret 2008

Bacaan : Yohanes 16:25-33

(13-3-2008)

Yohanes 16:25-33

Bukan pada iman kita

Judul: Bukan pada iman kita

Rasa takut tidak akan pernah bisa memberi perspektif yang sehat untuk melihat masa depan. Maka pengajaran Yesus berikutnya bukan merupakan peringatan yang dapat membuat mereka takut, melainkan berupa janji.

Sebelumnya para murid merasa tertekan karena perkataan Yesus tentang masa depan begitu membingungkan mereka. Maka Tuhan berjanji bahwa untuk seketika waktu lagi mereka akan memahami apa yang mereka perlukan untuk hidup sebagai seorang murid (ayat 25). Janji ini berakar dari janji keakraban dengan Bapa yang sebelumnya tidak mereka kenal (ayat 26-27). Namun setelah Yesus mati di salib dan kemarahan Allah terhadap pendosa ditanggung-Nya, keakraban dengan Bapa telah dimungkinkan sebab pendosa telah dikuduskan. Allah sendiri memang tidak segan memberkati anak-anak-Nya. Ia sendiri mengasihi milik-Nya dan memenuhi kebutuhan mereka karena Dia adalah Bapa yang penuh kasih.

Jaminan itu diberikan dalam penegasan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang diutus oleh Bapa, yang kemudian akan kembali kepada Bapa (ayat 28). Namun saatnya belum tiba. Memang para murid telah menemukan keyakinan di dalam perkataan Yesus. Namun mereka akan menghadapi perlawanan yang akan membuat iman mereka diguncang (ayat 31-32). Lalu di mana letak penghiburan itu? Inilah penghiburan itu: Yesus tahu bahwa para murid akan pergi ketika situasi memburuk. Meski demikian, para murid perlu tahu bahwa kemenangan tidak bergantung pada iman mereka, melainkan pada karya Juruselamat di Kalvari (ayat 33). Kristus telah mengalahkan dunia, maka kita pun dapat menang atas dunia.

Sekarang ini banyak pengajaran yang menekankan bahwa kemenangan iman tergantung pada kualitas iman kita. Tentu saja ini tidak sepenuhnya benar. Allah memang menginginkan kita untuk hidup dari iman (Rm.1:17). Namun jangan tempatkan keyakinan kita pada iman kita, karena iman kita tidaklah lebih berharga daripada obyek iman itu, yaitu Yesus Kristus.

87

Jumat, 14 Maret 2008

Bacaan : Yohanes 17:1-5

(14-3-2008)

Yohanes 17:1-5

Akrab dengan Allah

Judul: Akrab dengan Allah

Di dalam Alkitab, kita menemukan doa-doa yang agung. Kita tentu terkesan dengan doa Salomo (ayat 1Raj. 8), doa Abraham (Kej. 18), atau doa Musa (Kel. 32). Namun doa Tuhan Yesus ini adalah doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Mempelajari doa Yesus merupakan kesempatan unik bagi kita untuk melihat karakter dan hati Yesus.

Di dalam doa-Nya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan Bapa melalui hidup dan pelayanan-Nya di dunia (ayat 4). Namun saat kematian-Nya telah tiba (ayat 1). Bila

sebelumnya Ia telah memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.

Di dalam permulaan doa-Nya, Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Ini bukanlah doa yang egois, karena sesungguhnya Ia menujukan semua itu bagi kemuliaan Bapa. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu salib (ayat 2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan manusia berdosa. Lalu bagaimana salib memuliakan Bapa? Melalui karya salib, Anak memuliakan Bapa dengan menyatakan kedaulatan Allah atas si jahat, belas kasih Allah bagi manusia, dan

pembebasan orang percaya. Melalui salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal. Dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus (ayat 3).

Kita dapat melihat keakraban Tuhan kita dengan Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para pengikut-Nya di masa kini untuk menikmati juga keakraban dengan Bapa. Sebab itu, manfaatkanlah setiap waktu yang kita sediakan untuk

bersekutu dengan Allah, menikmati keakraban dengan Bapa seperti yang Yesus nikmati di dalam doa-Nya. Namun ingatlah bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya membuat kita menghormati Dia. Ia telah membayar harga yang mahal untuk kita.

88

Sabtu, 15 Maret 2008

Bacaan : Yohanes 17:6-19

(15-3-2008)

Yohanes 17:6-19

Yesus memperhatikan kita

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 84-88)