BAB III. PERTANGGUNGJAWABAN PPAT DAN PARA PIHAK
F. Pertanggungjawaban PPAT Atas Akta Jual Beli Tanah Dan
29 Tahun 2010 Yang Kemudian Diketahui Mengandung Cacat Yuridis Sebagai pejabat umum PPAT dituntut untuk bertanggungjawab terhadap akta yang telah dibuatnya. Apabila akta yang dibuat ternyata di kemudian hari menimbulkan sengketa, maka hal ini perlu dipertanyakan, apakah akta ini merupakan kesalahan PPAT atau kesalahan para pihak yang tidak mau jujur dalam memberikan keterangannya di hadapan PPAT atau adanya kesepakatan yang telah dibuat antara PPAT dengan salah satu atau mungkin kedua belah pihak yang menghadap. Jika akta yang diterbitkan PPAT mengandung cacat yuridis yang terjadi karena kesalahan PPAT, baik karena kelalaiannya maupun karena kesengajaan PPAT itu sendiri, maka PPATharus memberikan pertanggungjawaban. Seorang PPAT dapat dimintai pertanggungjawaban pidana dalam hal pembuatan akta yang didasarkan pada keterangan palsu, dan aturan
92Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 1988), hal. 150-151.
93Ibid.
yang ada kaitannya dengan permasalahan diatas adalah Pasal 263 ayat (1), 264 ayat (1) ke-1, atau 266 ayat (1) KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) KUHP.
Dalam Pasal 55 KUHP menyebutkan empat golongan yang dapat dipidana:
a. Pelaku atau pleger;
b. Menyuruh melakukan atau doenpleger;
c. Turut serta atau medepleger;
d. Penganjur atau uitlokker.
Pasal 56 KUHP menyebutkan siapayang dipidana sebagai pembantu suatukejahatan, yaitu ada dua golongan;
a. mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatandilakukan;
b. mereka yang memberi kesempatan sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan.
Pasal 266 ayat (1) KUHP, dapat dilihat yang menjadi unsur unsurnya yaitu:
a. Barangsiapa;
b. Menyuruh masukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta autentik;
c. Dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai aktaitu seolah-olah keterangannya sesuaidengan kebenaran;
d. Perbuatan itu menimbulkan kerugian.
Pasal 266 ayat (1) KUHP menyatakan, barangsiapa menyuruh masukkanketerangan palsu ke dalam suatu akta autentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, diancam, jika pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.
Kemudian Pelakunya sesuai denganPasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP yaitu:
a. mereka yang melakukan;
b. mereka yang menyuruh melakukan;
c. mereka yang turut serta dalam melakukan perbuatan.
Akta Jual beli tanah dan rumah merupakan produk hukum yang dibuat oleh PPAT dan Surat Kuasa merupakan produk hukum dari Notaris.Syaratnya seseorang, dalam hal ini Notaris/PPAT dapatdisebut sebagai ikut terlibat dan ikut bertanggungjawab dengan pihak lainnya di dalam mewujudkan tindak pidana apabila:
a. Dipandang dari sudut subjektif, ada 2 syaratnya:
1) adanya hubungan batin (kesengajaan) dengan tindak pidana yang hendak diwujudkan, artinya kesengajaan dalam berbuat diarahkan pada terwujudnya tindak pidana. Disini, sedikit atau banyak ada kepentingan untuk terwujudnya tindak pidana.
2) adanya hubungan batin (kesengajaan) seperti mengetahui antara dirinya dengan peserta lainnya, dan bahkan dengan apa yang diberbuat oleh peserta lainnya.
b. Dipandang dari sudut objektif, ialah bahwa perbuatan orang itu ada hubungan dengan terwujudnya tindak pidana, atau dengan kata lain wujud perbuatan orang itu secara objektif ada perannya/pengaruh positif baik besar atau kecil, terhadap terwujudnya tindak pidana.
Menurut ajaran yang kedua ini yaitu objektif, yang menitikberatkan pada wujud perbuatan apa serta sejauh mana peran dan andil serta pengaruh positif dari wujud perbuatan itu terhadap timbulnya tindak pidana yang dimaksudkan, yang
menentukan seberapa berat tanggungjawab yang dibebannya terhadap terjadinya tindak pidana.94
Dalam hal unsur “barang siapa” di dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP, harus diartikan sebagai pelaku atau subjek tindak pidana, yang dalam hal ini notarisadalah sebagai pembuat akta autentik dalam partij acten atau akta partai, tidak dapat dikatakan sebagai subjek (pelaku) dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP tersebut, yang menjadi pelaku adalah para pihak yang menyuruh membuat akta autentik, merekalah yang menyuruh melakukan membuat keterangan palsu, sedangkan PPAT hanya orang yang disuruh melakukan memasukkan keterangan palsu ke dalam akta autentik.
Berdasarkan Pasal 266 ayat (1) KUHP tindakansubjek (pelaku) yaitu menyuruh memasukkan suatu keterangan palsu ke dalam suatu akte otentik, sehingga kata “menyuruh” dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP ditafsirkan bahwa kehendak itu hanya ada pada si penyuruh (pelaku/subjek), sedangkan pada yang disuruh tidak terdapat kehendak untuk memasukkan keterangan palsu dan seterusnya. Selanjutnya, “penyertaan” sebagaimanadiatur Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP yang kemudian dihubungan dengan Pasal 266 ayat (1) KUHP, hal inipun sulit untuk dibuktikan keikutsertaan PPAT dalam perbuatan pidana, mengklasifikasikan “pelaku tindak pidana” yaitu mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan yang ikut serta melakukan tindak pidana. Sehingga jika seorang PPAT didakwakan sebagai pelaku “Penyertaaan” yang dihubungkan
94 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana( Bagian 3) Percobaan & Penyertaan, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, hal. 75.
dengan Pasal 266 ayat (1) KUHP, maka dapat dikontruksikan bahwa PPAT tersebut sebagai pelaku:
- “melakukan menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik ....”;
- “menyuruh melakukan menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik ...”;
- “ikut serta menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik…”;
Jika seorang PPAT dinyatakan sebagai “orang yang melakukan menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik ...”, adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh seorang PPAT, karena:
d. akta yang dibuat berupa akte partij/ akta pihak, yaitu akta yang dibuat oleh PPAT berdasarkan atas permintaan para pihak untuk mencatat atau menuliskan segala sesuatu hal yang dibicarakan oleh pihak berkaitan dengan tindakan hukum.
e. “orang yang menyuruh melakukan” menurut Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, yaitu adalah mereka yang melakukan semua unsur tindak pidana, artinya:
- jika dikaitkan dengan kedudukan seorang PPAT yang membuat akte partij, adalah suatu hal yang berlebihan dan tidak mungkin bisa dilakukan, sebab tidak mengkin notaris akan menyuruh para pihak untuk menempatkan keterangan palsu di dalam akta otentik yang dibuat oleh notaris tersebut, melainkan hal itu merupakan keinginan para pihak yang menyuruh notaris membuat akta.
- jika Notaris, dinyatakan sebagai “orang yang menyuruh melakukan menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik ...”, juga suatu hal yang mustahil dilakukan oleh seorang Notaris, oleh karena ke dua belah pihak yang datang kepada Notaris untuk membuatkan akta tersebut, dan hal tersebut merupakan kesepakatan ke dua belah pihak untuk dituangkan di dalam akta, serta suatu hal yang aneh juga notaris sebagai pejabat yang berwenang merupakan orang yang mempunyai kehendak melakukan tindak pidana menyuruh ke duabelah pihak untuk menempatkan keterangan palsu pada akta yang mereka kehendaki bersama, karena keterangan yang adil di dalam akta merupakan kesepakatan ke dua belah pihak.
Seorang Notaris/PPAT terkadang tanpa diketahuinya ada keterangan palsu (menyebabkan cacat yuridis) yang disampaikan para pihak, yang kemudian menjadi dasar pembuatan akta autentik. Adanya cacat yuridis atas Surat Kuasa Nomor 06 tanggal 10 Maret tahun 2010 yang dibuat dihadapan Notaris Hasan Basri Ruslan menyebabkan akta jual beli tanah dan rumah Nomor 29/2010 tanggal 15 Desember 2010 yang dibuat dihadapan PPAT Lindawati Girsang juga mengandung cacat yuridis. Akan tetapi dalam hal ini PPAT Lindawati Girsang tidak terlibat atau mengetahui bahwa terbitnya Surat Kuasa yang menjadi salah satu dokumen untuk membuat akta jual beli itu mengandung cacat yuridis dalam hal ini adanya pemalsuan tandatangan sehingga Lindawati Girsang tidak dapat dimintai pertanggung jawabannya. Pembuatan akta Jualbeli berdasarkan Surat Kuasa adalah sah dan dalam praktek dilapangan hal ini sering dilakukan. Adanya
pemalsuan tandatangan dalam Surat Kuasa murni dilakukan oleh para pihak yang menandatangani Surat Kuasa tersebut.
Menutut Pasal 1792 KUHPerdata maka sifat dari pemberian kuasa adalah
“mewakilkan” atau “perwakilan”. “Mewakilkan” disini maksudnya pemberi kuasa mewakilkan kepada si penerima kuasa untuk mengurus dan melaksanakan kepentingan si pemberi kuasa. Adapun arti kata “atas nama” yang dimaksud pasal ini adalah si penerima kuasa berbuat atau bertindak mewakili si pemberi kuasa.95
Dalam setiap pemberian kuasa, pada umumnya sekaligus sebagai penyerahaan perwakilan kepada penerima kuasa, sehingga dalam hal ini si penerima kuasa langsung berkedudukan sebagai wakil dari pemberi kuasa.96Dengan demikian, pada pemberian kuasa ini terjadi 2 (dua) hal yang bersamaan97 yaitu:
1. adanya pernyataan kehendak dari kedua belah pihak bahwa yang satu memberikan perintah dan yang lain menerima perintah itu; dan
2. adanya pernyataan sepihak dari pemberi perintah (kuasa) bahwa ia menghendaki agar diwakili oleh si penerima perintah.
Dalam cara pemberian dan penerimaan kuasa dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain dengan akta otentik (Notarieel) yang dibuat oleh Notaris, dengan akta bawah tangan (Onderhands geschrift), surat biasa dan atau dengan lisan. Surat Kuasa Kuasa Nomor 06 tanggal 10 Maret tahun 2010 dibuat secara Notaril sehingga Lindawati Girsang memiliki keyakinan bahwa benar telah
95 M.Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, (Bandung: Alumni, 1986), hal. 306.
96Ibid.
97 Hartono Soerjopratikno, Perwakilan Berdasarkan Kehendak, (Yogyakarta: Seksi Kenotariatan Fakultas Hukum UGM, 1982), hal.67.
terjadi penyerahan perwakilan secara sah antara Helmina Sitinjak beserta ahli wris lainnya kepada Rudi Simangungsong untu menjual tanah warisan tersebut.
Dalam hal adanya pencantuman harga tanah dalam akta jualbeli sebesar Rp. 280.000.000, (dua ratus delapan puluh juta rupiah) tidak sesuai dengan pernyataan dari Helmina Sitinjak karena dia tidak pernah menerima uang tersebut.Pencantuman harga jual beli yang tidak sebenarnya dapat dikategorikan membuat keterangan palsu dan hal ini bukan tanggung jawab PPAT tetapi merupakan tanggung jawab para pihak. PPAT dalam hal menuangkan harga jual beli tanah dan rumah dalam akta jual beli terlebih dahulu akan meminta kuitansi atau tanda bukti lainnya yang menyatakan telah menerima pembayaran atas penjualan tanah dan rumah tersebut.
G. Pertanggungjawaban Para Pihak AtasKeterangan Palsu Dalam Surat Kuasa No.06 Tanggal 10 Maret 2010 Yang Mengakibatkan Akta Jual Beli Tanah Dan Rumah Mengandung Cacat Yuridis
Prosedur yang harus dijalankan oleh Notaris/PPAT dan proses pembuatan akta adalah meminta dokumen-dokuman atau surat-menyurat yang diperlukan untuk dituangkan di dalam akta. Keterangan atau pernyataan dan keinginan para pihak yang diutarakan dihadapan Notaris/PPAT merupakan bahan dasar untuk membuatkan akta sesuai kenginan para pihak yang menghadap Notaris/PPAT.
Tanpa adanya keterangan atau pernyataan dan keinginan dari para pihak, Notaris/PPAT tidak mungkin untuk membuat akta.Kalaupun ada pernyataan atau keterangan palsu dimasukkan kedalam akta otentik, tidak menyebabkan akta tersebut palsu.
Berdasarkan salinan Putusan Nomor 2333 K/Pdt/2015 menurut kesaksian saksi bahwa adanya keterangan palsu yaitu tandatangan palsu yang dicantumkan para pihak dalam Surat Kuasa. Tetapi oleh Hakim tidak dijadikan salah satu bahan pertimbangan dalam memutuskan perkara ini. Hal ini dikarenakan untuk membuktikan adanya pemalsuan tandatangan dilakukan dalam proses peradilan pidana.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu membuktikan adanya pemalsuan tandatangan dalam proses peradilan pidana maka perlu adanya bantuan penyidik dalam hal ini dari pihak kepolisian untuk melakukan penelitian terlebih dahulu diLaboratorium Forensik. Hasil penelitian dari Laboratorium Forensik ini tidak diragukan lagi keabsahannya serta merupakan salah satu alat pembuktian yang sah di dalam persidangan.
Surat Kuasa merupakan akta pihak/partij acten dimana para pihak datang kehadapan Notaris untuk membuat akta tersebut.Penghadap datang dan memperkenalkan dirinya kepada Notaris sebagai ahli waris dari tanah warisan yang sesuai dengan isi dari Penetapan Pengadilan Negeri Medan Nomor 875/Pdt.P/1992/PN.Mdn tanggal 8 September 1992.Adanya pemalsuan keterangan dan tandatangan dalam Surat Kuasa merupakan tanggungjawab para pihak yang melakukannya karena dalam hal ini Notaris Hasan Basri Ruslan tidak mengetahui tentang pemalsuan itu sendiri.Pasal 266 ayat (1) KUHP tidak dapat diancamkan kepada Notaris karena Notaris hanya mencantumkan di dalam akta apa yang diberitahukan oleh penghadap, atas hal-hal yang sebenarnya diberikan kepadanya. Notaris tidak melakukan perbuatan membujuk (Pasal 55 ayat 1 ke-2) ataupun memberi bantuan (Pasal 56).Notaris hanya mencatumkan dalam akta
keterangan-keterangan yang diberikan oleh penghadap.Notaris tidak mengetahui, bahwa keterangan dan penghadap yang datang bukan ahli waris yang sebenarnya.
Adanya keterangan palsu yang dimasukkan dalam Surat Kuasa merupakan tanggung jawab penghadap itu sendiri.
Sanksi yang dapat diberikan kepada penghadap yang memberikan keterangan palsu dalam Surat Kuasa adalah berupa ancaman hukuman perdata yakni memberi ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkannya terhadap ahli waris yang sah, dan secara pidana kepada penghadap diberi hukuman pidana penjara sebab telah memenuhi unsur-unsur dari pasal-pasal yang dituduhkan dan telah terbukti secara sah melakukan kejahatan pemalsuan surat sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHP, yakni ”secara bersama-sama menyuruh menempatkan keterangan palsu dalam akta otentik”.
A. Akibat Menggunakan Akta Jual Beli Tanah Dan Rumah Yang Kemudian Dinyatakan Mengandung Cacat Yuridis
Perbuatan hukum dalam akta dapat mengandung cacat yang sifat cacat tersebut berbeda-beda.Dengan adanya cacat yang berbeda menimbulkan sanksi yang berbeda pula.Suatu perbuatan hukum dinyatakan batal mengakibatkan tujuan perbuatan hukum tersebut menjadi tidak berlaku.Perbedaan utama mengenai kebatalan adalah batal demi hukum (van rechtswege nietig) dan dapat dibatalkan (vernietigbaar).98 Mengenai pembatalan akta adalah menjadi kewenangan hakim perdata, yakni dengan mengajukan gugatan secara perdata kepengadilan.
Kewenangan dari hakim perdata untuk menyatakan suatu akta Notaris tersebut batal demi hukum, dapat dibatalkan atau akta Notaris tersebut dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum.Dalam hal Surat Kuasa Notaris dibatalkan oleh putusan hakim di pengadilan, maka jika menimbulkan kerugian bagi para pihak yang berkepentingan, Notaris dapat dituntut untuk rnemberikan ganti rugi, sepanjang hal tersebut terjadi disebabkan oleh karena kesalahan Notaris.Namun dalam hal pembatalan Surat Kuasa Notaris oleh pengadilan dengan alasan bukan merupakan kesalahan Notaris, maka para pihak yang berkepentingan tidak dapat menuntut Notaris untuk memberikan ganti rugi.
98 Herlina Budiono, Kebatalan Di Bidang Kenotariatan, Makalah yangdisampaikan pada Up Grading Refreshing Course, Ikatan Notaris Indonesia di Jakarta, tanggal 25-26 Januari 2006
Syarat sahnya perjanjian diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Apabila perjanjian tersebut melanggar syarat obyektif seperti hal yang tertentu atau suatu sebab yang halal, maka perjanjian tersebut batal demi hukum sedangkan apabila melanggar syarat subyektif, yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya atau kecakapan untuk membuat suatu perbuatan, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan. Dengan batalnya suatu perbuatan hukum, maka perbuatan hukum tersebut tidak mempunyai akibat hukum lagi. Batalnya perjanjian dapat berakibat terhadap siapapun, dapat pula hanya berlaku terhadap orang tertentu, serta dapat pula hanya batal sebagian.
Menurut Pasal 832 ayat 1 KUHPerdata yang berhak menjadi ahli waris ialah keluarga sedarah baik yang sah menurut Undang-Undang maupun yang diluar perkawinan dan suami atau isteri yang hidup terlama, oleh karena itu jual beli tanah warisan ini harus mendapat persetujuan oleh semua ahli waris sebagai pihak yang mendapatkan hak milik atas tanah tersebut akibat pewarisan. Dalam hal adanya ahli waris tidak bisa hadir di hadapan Notaris/ PPAT dalam pembuat akta tersebut (karena berhalangan hadir), maka ahli waris tersebut dapat membuat Surat Persetujuan di bawah tangan yang dilegalisasi notaris setempat atau dibuat Surat persetujuan dalam bentuk akta notaris.
Perbuatan hukum atas tanah warisan Sertipikat Hak Milik Nomor 579/Babura Sunggal tanpa melibatkan seluruh ahli waris yang sah dianggap cacat yuridis. Ahli waris lainnya merasa haknya telah dilanggar karena meraka tidak pernah bersepakat dan menandatangani Surat Kuasa yang dibuat dihadapan Notaris Hasan Basri Ruslan. Oleh karena itu apabila tandatangan tersebut dapat
dibuktikan dalam peradilan pidana yang telah berkekutan hukum tetap dimana benar telah dipalsukan maka berdasarkan Pasal 1471 KUHPerdata di atas, jual beli tersebut batal demi hukum.
Akibat hukum terhadap Surat Kuasa yang mengandung keterangan palsu menyebabkan Surat Kuasa tersebut menjadi akta dibawah tangan oleh hakim akta tersebut dapat dibatalkan. Dengan batalnya Surat Kuasa maka perbuatan hukum dalam akta jual beli tanah dan rumah menjadi tidak sah dan batal demi hukum.Helmina Sitinjak harus memberikan biaya ganti rugi, mengembalikan pinjaman uang sebesar Rp. 90.000.000,-(Sembilan puluh juta rupiah) kepada Rudi Simangungsong dan membayar biaya pengadilan. Dan apabila dapat dibuktikan secara pidana adanya pemalsuan tandatangan atas Surat Kuasa tersebut maka pihak yang terlibat dalam pemalsuan tandatangan dapat dikenai Pasal 266 ayat (1) KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHP, yakni ”secara bersama-sama menyuruh menempatkan keterangan palsu dalam akta otentik”. Pasal 1246 KUH Perdata menentukan bahwa "biaya, rugi, dan bunga yang oleh si berpiutang boleh menuntut akan penggantinya, terdirilah pada umumnyaatas rugi yang dideritanya dan untung yang sedianya harus dapat dinikmatinya....". Mengenai biaya, rugi, bunga dijelaskan lebih lanjut oleh Subekti sebagai berikut: biaya maksudnya yaitu yang benar telah dikeluarkan. Kerugian maksudnya kerugian yang benar-benar diderita akibat kelalaian dari debitur. Sedangkan bunga maksudnya yaitu keuntungan yang telah diperhitungkan sebelumnya akan di terima.99 Mengenai gugatan ganti kerugian yang berupa penggantian biaya, rugi dan bunga ini tidak
99Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: Intermasa, 2001), hal. 47
sepenuhnya harus terpenuhi, melainkan cukup dengan kerugian yang benar-benar telah diderita oleh kreditur karena kelalaian debitur yang tidak memenuhi kewajiban yang timbul karena perjanjian.100
B. Pertimbangan Hakim Dalam Putusan MA Nomor: 2333 K/Pdt/2015 1. Kasus Posisi
Pada bulan Maret 2010 Dita Hastuti yang merupakan anak kost yang tinggal di rumah Helmina Sitinjak menjumpai Helmina Sitinjak dengan maksud dan keinginan untuk meminjam uang sebesar Rp.90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) dan uang pinjamannya tersebut akan dikembalikan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan.
Pada saat itu Helmina Sitinjak tidak memiliki uang tunai selanjutnya Helmina Sitinjak bermaksud hendak meminjam uang kepada Rudi Simangungsong dengan jaminan Sertipikat asli Hak Milik No. 579/Babura Sunggal (Sertipikat ini merupakan Harta warisan dari Alm.suaminya). Pada bulan Maret 2010 Dita Hastuti, Helmina Sitinjak, Suryanto, Mumpuni Liani dan 3 (tiga) orang lainnya bersama sama dengan Rudi Simangungsongmendatangi kantor Notaris Hasan BasriRuslan. Helmina Sitinjak bermaksud hendak membuat akte perjanjian hutang piutang dengan jaminan (borg) Sertipikat asli Hak Milik No.
579/Babura Sunggal dimana Rudi Simangungsong sebagai pemberi pinjaman uang. Akan Tetapi setelah adanya sengketa ini baru diketahui bahwa yang ditandatangani oleh Helmina Sitinjak ini bukan Akta hutang piutang melainkan Surat Kuasa Nomor 06 tertanggal 10 Maret 2010. Didalam surat kuasa itu
100 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, (Bandung:Citra Aditya,1992),hal. 40.
dinyatakan bahwa Helmina Sitinjak beserta kelima ahli waris lainnya sebagai pemberi kuasa menjual dan Rudi Simangungsong sebagai penerima kuasa menjual. Setelah Akta tersebut ditanda tangani oleh Helmina Sitinjak, Suryanto, Mumpuni Liani dan 3 (tiga) orang lainnya (kelima orang ini adalah ahli waris palsu) serta Rudi Simangunsong, dan selanjutnya Rudi Simangunsong menyerahkan uang sebesar Rp.90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) kepada Helmina Sitinjak, dan seketika itu juga keseluruhan uang tersebut oleh Helmina Sitinjak diserahkan kepada Dita Hastuti.
Pada bulan Desember 2010 berdasarkan Akte Surat Kuasa Nomor 06 tertanggal 10 Maret 2010, Rudi Simangunsong membuat Akte Jual Beli Nomor 29/2010 tertanggal 15 Desember 2010 yang diperbuat dihadapan Lindawati Girsang sebagai Notaris/PPAT tentang pengikatan Jual Beli dimana Rudi Simangungsong selaku pihak penjual dan Rudi Simangungsong juga selaku pihak pembeli. Didalam salah satu klausule Akta Jual Beli disebutkan bahwa tanah dan rumah dibeli dengan harga sebesar Rp.280.000.000,- (dua ratus delapan puluh juta rupiah). Berdasarkan Akte Jual Beli tersebut Rudi Simangungsong membalik namakan Sertifikat Hak Milik Nomor 579/Babura Sunggal tersebut dikantor Badan Pertanahan Nasional Kota Medan kepada dan atas nama Rudi Simangungsong. Pada awal tahun 2011, Helmina Sitinjak menerima somasi dari Rudi Simangungsong yang isinya meminta Helmina Sitinjak mengosongkan tanah dan rumah tersebut.
2. Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Memutuskan Perkara
Dalam upaya memperoleh fakta hukum yang akurat selama persidangan, hakim berusaha menggali fakta fakta melalui pemeriksaan tahap jawab menjawab dan memeriksa alat-alat bukti yang diajukan dalam persidangan. Fakta yang terungkap di persidangan dicatat dalam berita acara persidangan. Fakta tersebut digunakan untuk menyusun pertimbangan fakta hukum.101
Secara teoritis pertibangan hukum mempunyai nilai objektif, namun factor subyektivitas atau keberpihakan pada niali-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, bukan berpihak kepada pihak yang berperkara. Faktor lain yang mempengaruhi kualitas pertimbangan hukum putusan yaitu kualitas keahlian hakim dalam menangani perkara sebelumnya.102
Pertimbangan hukum memuat:
A. Dasar hukum, B. Penalaran dan,
C. Argumentasi hukum yang di dalamnya sarat dengan penerapan berbagai teori hukum, teori kebenaran dan keadilan guna memberikan landasan pada putusannya.103
Hakim dalam memutus perkara sengketa tanah Nomor: 2333 K/Pdt/2015 terlebih dahulu mengolah dan memproses data-data yang diperoleh selama proses persidangan, baik dari bukti surat, saksi, persangkaan, pengakuan maupun sumpah
101Abdullah, Pertimbangan Hukum Putusan Pengadilan, (Surabaya: PT. BinaIlmu Offset.
2008),hal. 51-52.
102Ibid, hal. 13.
103Ibid.
yang terungkap dalam persidangan, sehingga keputusan Hakim yang ditetapkan dapat didasari oleh rasa tanggung jawab, keadilan, kebijaksanaan, profesionalisme dan bersifat obyektif.
Putusan Hakim Pengadilan Negeri Medan
- Menimbang, bahwa keberatan selanjutnya perihal saksi Suryanto dan saksi Mumpuni Liani dan 3 (tiga) orang lainnya diajak oleh Tergugat II ke Kantor
- Menimbang, bahwa keberatan selanjutnya perihal saksi Suryanto dan saksi Mumpuni Liani dan 3 (tiga) orang lainnya diajak oleh Tergugat II ke Kantor