• Tidak ada hasil yang ditemukan

dan tak berpenghuni. Serunya kuliah di Jurusan Eksplorasi-Geologi

Dalam dokumen Toekang Migas Menembus Batas (Halaman 78-83)

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

Beruntung Dodi bisa lulus ujian awal. Dari 15 orang kandidat di Lemigas, delapan dinyatakan lulus. Giliran psikotes yang berlangsung di Cepu, Dodi mengaku pasrah karena lingkungan pekerjaannya berbeda dengan jurusan yang dipilihnya. “Eh, dari hasil psikotes, ternyata memang saya cocok,” ujar Dodi, alumni angkatan kedelapan itu.

Masuk Akamigas Cepu memang tak semua sesuai dengan pilihan awal seperti Dodi. Ada yang pilihannya Jurusan Teknik Umum, ternyata hasil psikotesnya lebih condong ke geologi, seperti yang dialami Suprijanto, alumni angkatan ketujuh.

P

akaian perlente dan berkantor di ruang berpenyejuk

udara. Dia sehari-hari berkutat di depan komputer. Dodi Wahyudi Subrata, pegawai bagian Electronic Data Processing (EDP) Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) malah sering menghabiskan waktu istirahat di bagian eksplorasi. Dia tertegun melihat pegawai eksplorasi. “Pulang bawa Land Rover beratap terbuka, gondrong, bawa segala macam sampel fosil. Gaya juga nih,” kata Dodi.

Begitu seringnya main ke bagian eksplorasi saat istrihahat makan siang, Dodi kepincut ingin kuliah di Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas) Cepu. Tiga tahun bekerja di belakang komputer, kesempatan bersekolah di Akamigas Cepu terbuka pada tahun 1974. Tanpa ragu, Dodi memilih geologi sebagai jurusannya.

Tes awal dijalani di gedung Lembaga Adminitrasi Negara Juanda, Jakarta. Saat ditanya penguji mengapa mengambil Jurusan Geologi, Dodi menjawab taktis. Dia ingin menggabungkan teknologi komputer dengan geologi. Selesai ujian, dia lari terbirit-birit karena kerusuhan yang dikenal dengan peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974.

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN EKSPLORASI-GEOLOGI

Mahasiswa mengamati singkapan batuan

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

Hasil psikotes itu memunculkan masalah. Unit tempat Suprijanto bekerja tak memiliki bidang geologi. Dia tak patah semangat dan bertekad harus belajar di Cepu. “Walaupun saya nggak tahu binatang apa itu geologi,” kata Suprijanto.

Tekad masuk Jurusan Geologi di Akamigas Cepu juga dialami Achjar. Dia mendaftar ke Akamigas Cepu dari SMA Biak. Lulus tes di Lemigas Cipulir, Jakarta, Achjar berangkat ke Cepu. Ternyata dia salah naik kereta api sehingga tersasar ke Solo. Achjar, mahasiswa Jurusan Eksplorasi Geologi angkatan kedua yang melanjutkan ke Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP) Bandung, itu akhirnya naik truk dari Solo jam tiga subuh dan sampai di Cepu jam delapan malam.

Nasib Achjar ternyata masih lebih baik dari Sumarna. Pada tahun 1967, saat Sumarna baru lulus SMA, ditawari masuk Akamigas Cepu oleh saudaranya yang bekerja di Cepu. Dia mengajukan pendaftaran, tapi ditolak karena kampus ini untuk karyawan Pertamina atau Lemigas. Sumarna lalu menjadi karyawan dulu di Lemigas Jakarta dengan harapan tahun berikutnya bisa kuliah ke Cepu. Kenyataannya baru lima tahun kemudian cita-citanya kesampaian. ”Alasan atasan, karena tidak ada orang di kantor,” kata Sumarna, alumni angkatan ketujuh.

Setelah lulus tes, Sumarna digojlok dalam program masa prabakti mahasiswa (mapram) dan gemblengan wajib latih mahasiswa (walawa), eh, baru kuliah sebulan di Jurusan Geologi, Sumarna ditarik kembali ke Jakarta, karena pada waktu itu jurusan ini tidak jadi dibuka. Rupanya, dewi fortuna masih berada di pundak Sumarna. Setahun berikutnya, Sumarna bisa menghirup udara Cepu dan berkuliah di Jurusan Geologi.

*** Suprijanto bukan berasal dari keluarga berada. Dia kuliah

di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), yang sering terlambat kuliah karena harus menutupi kebutuhan hidup dengan mengajar di sekolah-sekolah SMA. Suprijanto kemudian bekerja sebagai pegawai bagian teknik di Pemasaran Dalam Negeri (PDN) Pertamina Surabaya.

Atas rekomendasi atasannya, Suprijanto bisa mengikuti rangkaian tes di Akamigas Cepu. Dengan latar belakang bidang mesin di tempatnya bekerja, dia seharusnya memilih Jurusan Teknik Mesin. Begitu tes psikologi, ternyata dia lebih cocok masuk Jurusan Eksplorasi-Geologi.

Mahasiswa Jurusan Eksplorasi bersiap field trip ke Pegunungan Kendeng, Jawa Timur

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

Tahun pertama, mahasiswa diperkuat ilmu dasar dan praktek. Dosen Jurusan Geologi umumnya berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gajah Mada (UGM). Dosen memegang peran dalam membentuk karakter mahasiswa. Banyak dosen kaliber internasional mengajar di Akamigas Cepu dengan beragam gaya. Prof Dr Kyai Moestopo, misalnya. Dosen mata kuliah Pancasila ini memberi pelajaran yang berhubungan dengan logika. Kalau sedang ujian, satu pertanyaan bisa berbeda jawaban dan semua lulus sepanjang masuk akal.

Maximon Shah Arifin, alumni angkatan ketiga, punya pengalaman tak terlupakan dengan dosen Kyai Moestopo. Ceritanya, Max, panggilan akrabnya, saat itu menjalani ujian akhir mata kuliah Pancasila dan Tata Negara. Ada lima

Foto bersama dengan pembimbing dan para karyawan kampus

Udara dingin menusuk kota Cepu dinihari itu. Jam baru menunjukkan angka tiga. Dalam keadaan mengantuk, rombongan mahasiswa yang mengikuti acara Malam Pendadakan berlari keliling Cepu. Semua laki-laki dengan kepala plontos. Mereka lalu berguling-guling dan merayap di got. “Baunya bukan main,” kata Soekowitono, alumni angkatan ketujuh.

Mapram Akamigas Cepu memang menyimpan banyak kenangan bagi Soekowitono. Ada pengalaman lucu ketika sedang shalat subuh. Ketika sujud, ada yang tak bangun saking mengantuknya. Saat terakhir mapram, mahasiswa baru diperlihatkan cacing, setelah itu matanya ditutup. Senior– dipanggil Raka—kemudian meminta mahasiswa baru—disebut Cama— makan mi yang dicampur minyak ikan. “Kita serasa makan cacing, sehingga semua muntah,” kata Soekowitono.

Mahasiswa baru sebelum menghuni asrama, tidur di barak yang terkenal angker. Di belakang kamar mandi terdapat pohon randu. Suatu ketika, ada yang tak tahan buang air besar di malam hari. Saat membuka pintu, tiba-tiba menyembul kepala gundul. Setelah itu ada mahasiswa lain yang ingin masuk kamar mandi dan melihat sosok gundul di toilet. Spontan berteriak hantu. Orang di kamar mandi itu sama-sama ketakutan dan lari pontang-panting.

Mahasiswa Akamigas Cepu angkatan ketujuh, ketika itu berjumlah 108 orang, sedangkan Raka lebih sedikit. Soekowitono dan kawan-kawan seringkali melawan hingga para Raka kewalahan. Begitu mapram selesai, tak ada rasa dendam, justru merasa akrab. Gojlokan saat mapram sangat berat, tapi bermanfaat karena bisa melatih mental mahasiswa dalam menjalani kuliah dan pekerjaan. Mapram juga menanamkan disiplin sejak mahasiswa menginjakkan kaki di Cepu.

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

Di mata mahasiswanya, Moestopo merupakan dosen nyentrik. Dia selalu membawa koper lengkap dengan gemboknya. Dosen ini juga selalu memakai baju tiga lapis dan melepasnya ketika berganti hari. Kyai Moestopo juga kerap mengunjungi rumah “remang-remang” untuk memeriksa mahasiswa yang pergi ke tempat “setengah gelap” itu. Kalau ketahuan, tak ada ampun dan ancamannya dikeluarkan.

Pada tahun pertama mahasiswa praktek di lapangan, mempelajari batuan di singkapan-singkapan batuan di lapangan sekitar Cepu. Tahun kedua ke unit-unit kerja Pertamina untuk mempelajari geologi minyak dan geofisika. Mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan eksplorasi migas antara lain sebagai wellsite geologist pada operasi pengeboran, pemetaan geologi serta survey topografi, gravimetri dan seismik.

Max punya pengalaman humanis saat kerja praktek di Sangkurilang, Kutai Timur. Max dan timnya masuk ke hutan yang masih perawan. Belum ada ranting patah oleh tangan manusia. “Kalau menyabit untuk membuka jalan setapak dengan parang ke sungai, bisa dapat ikan seember penuh,” kata Max.

Pada tahun ketiga, untuk menyelesaikan tugas akhir, setiap mahasiswa melakukan survey pemetaan, mengumpulkan batuan untuk diperiksa di laboratorium. Selanjutnya data yang diperoleh digunakan untuk membuat peta geologi. Dari analisa penampang dapat digunakan untuk interpretasi kemungkinan adanya jebakan minyak.

Materi kuliah aplikatif itu didukung berbagai fasilitas lengkap sebagai penunjang. Mahasiswa Jurusan Geologi setiap saat dapat memanfaatkan Laboratorium Paleontologi dan Petrografi. Mahasiswa diperkenalkan berbagai macam peta topografi, peta geologi bawah permukaan, penampang geologi, peta paleogeografi, menafsirkan foto udara dan lain-lain.

mahasiswa yang ikut ujian sekaligus. Satu pertanyaan harus dijawab secara berbeda oleh setiap mahasiswa. Pertanyaan pertama adalah bagaimana cara Tentara Republik Indonesia membingungkan musuh saat mempertahankan wilayah dan berhasil dijawab kelima mahasiswa itu. Max misalnya, menjawab dengan cara jalan-jalan dibom agar berlubang. Kyai Moestopo lalu memberi pertanyaan terakhir, yang diambil dari jawaban Max: diapakan jalan yang berlubang itu agar menghasilkan? Keempat mahasiswa telah menjawab dan dianggap benar. Giliran Max, dia mengaku bingung karena semuanya sudah terjawab. Max lalu menjawab asal-asalan: “Dikasih air kemudian diisi dengan benih ikan.” Di luar dugaan, sang Profesor berkomentar: “Good, kamu lulus!”

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN EKSPLORASI-GEOLOGI

Tim Voli Akamigas cepu

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN EKSPLORASI-GEOLOGI

Beragam fasilitas belajar dan materi kuliah di Jurusan Geologi itu, membuat mahasiswanya menjadi terasah, bahkan terbukti mampu bersaing. Suprijanto dan dua teman seangkatannya, Sumarna dan Abdurrahman, pernah mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah tentang geologi. Lawan tandingnya adalah peserta tingkat doktoral dari ITB, UGM dan PTPN “Veteran” Yogjakarta. Suprijanto dan timnya berhasil menjadi juara.

Selama belajar, ada saja pengalaman lucunya. Misalnya saat berada di laboratorium, ada mahasiswa jahil yang menutup lensa mikroskop dengan karbon setelah praktek. Kontan mahasiswa lain yang akan praktikum bingung karena obyeknya selalu gelap. Ketika ujian praktek paleontologi, mahasiswa diberi fosil dan diminta mendeskripsikan. Ternyata ada yang iseng menyelipkan biji cabai sehingga “fosil” tersebut tidak bisa diidentifikasi.

Selain fasilitas penunjang pendidikan, mahasiswa Jurusan Geologi juga mendapat fasilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Alat tulis, pakaian, kertas, buku semua disediakan. Mahasiswa juga mendapat jatah makan tiga kali sehari plus uang saku.

Selama di asrama, mahasiswa harus mematuhi berbagai aturan. Kalau tidak, bersiap-siaplah menerima surat peringatan. Setiap pelanggaran dicatat dan dikumpulkan nilainya. Mulai dari membolos hingga pelanggaran terberat yakni kepergok melakukan perbuatan asusila. Kalau nilai pelanggarannya sudah mencapai 50 poin penalti, artinya siap drop out dan dipulangkan ke unit asal.

***

02:6

Dalam dokumen Toekang Migas Menembus Batas (Halaman 78-83)