• Tidak ada hasil yang ditemukan

tahu-tahu sudah diterima

Dalam dokumen Toekang Migas Menembus Batas (Halaman 96-100)

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

S

elembar pengumuman ditempel di Bagian Personalia

Unit Pertamina Pangkalan Brandan. Isinya mengenai penerimaan mahasiwa baru Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas) Cepu pada tahun 1971. Tak banyak pikir, Hamdi Alnaf bergegas menghadap kepala bagiannya. Kepada atasannya, Hamdi yang sudah enam tahun bekerja di Pertamina sebagai wakil kepala bagian teknik mesin mengutarakan keinginannya mengikuti pendaftaran Akamigas Cepu. Ada sembilan jurusan yang dibuka di Akamigas Cepu. Menurut sang atasan, seperti ditirukan Hamdi, Jurusan Teknik Umum sudah banyak pegawainya. Unit Pertamina lebih memerlukan orang yang mengetahui minyak pelumas. “Pokoknya tentang produk. Bahan bakar itu buat apa, sesuai dengan apa,” kata Hamdi.

Hamdi lalu dikirim untuk mengikuti tes. Berangkatlah pegawai lulusan Sekolah Teknik Mesin (STM) ini ke Jakarta. Sambil menunggu wawancara, Hamdi mengobrol dengan penguji tentang perawatan dan produk minyak dan gas bumi. Ternyata obrolan itu sudah masuk tahap tes. Hamdi melewati tes dengan mulus dan diterima di Jurusan Pemasaran atau Sales Technical Advisor (STA) dan kemudian berubah menjadi Sales Engineering and Marketing (SEM). Hamdi tercatat sebagai alumni angkatan kedua.

Jurusan STA baru diadakan di Akamigas Cepu pada tahun 1969. Jurusan ini telah meluluskan 61 orang. Setelah angkatan ketujuh, Jurusan SEM selanjutnya dikenal sebagai Jurusan Marketing Operation (MO).

Akamigas Cepu menjadi target pegawai Pertamina dan institusi migas lain sebagai batu loncatan dalam kariernya. Ibrahim Hasyim, pegawai Bagian Eksplorasi Produksi Pertamina Pangkalan Brandan yang sejak awal masuk kerja bertujuan untuk sekolah, menjemput peluang masuk Akamigas Cepu. Manajer produksi yang menjadi atasan Ibrahim memberi tahu bahwa pegawai yang bisa bersekolah

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN PEMASARAN

Mahasiswa Jurusan Sales Engineering & Marketing angkatan keempat

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

di Cepu harus bekerja minimal dua tahun. Padahal, kata Ibrahim, Pertamina hanya mensyaratkan satu tahun.

Ibrahim memprotes kebijakan atasannya. Eh, dia malah dipindahkan ke bagian personalia. Kepindahan itu ternyata membawa keberuntungan bagi Ibrahim, karena dia bisa mendaftar ujian untuk calon mahasiswa Akamigas Cepu. Bagi Ibrahim, kesempatan ini membuatnya senang, tapi juga membingungkan. Ada perasaan tidak enak dengan atasannya terdahulu. “Karena saya takut ketemu pimpinan produksi, maka saya ambil Jurusan SEM,“ kata Ibrahim sambil terkekeh.

Saat tes masuk Akamigas Cepu, psikolog bertanya kepada Ibrahim alasan memilih Jurusan SEM. Pria asal Aceh ini pun berkilah dan mencari alasan. Ketika bekerja di bagian eksplorasi produksi, kata dia, tugasnya lebih banyak di pelosok. “Saya ini anak kampung. Saya ingin bekerja di kota,” kata Ibrahim.

Ibrahim akhirnya melewati semua proses seleksi dan diterima di Jurusan SEM tahun 1970. Di Pangkalan Brandan, tes diikuti 250 orang dan hanya 11 orang yang lolos, termasuk Ibrahim, yang mengaku senang bukan kepalang ketika namanya tercantum di pengumuman penerimaan.

Di Cepu, Ibrahim belajar ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia dan lain-lain ditambah keterampilan dari praktek laboratorium dan lapangan. Ibrahim juga ditempa latihan kepemimpinan dan disiplin sejak awal hingga akhir kuliah. “Ramuan materi itu merupakan adonan yang pas,” kata Ibrahim.

Bersekolah di Akamigas Cepu juga membawa kenangan yang mendalam bagi Nugraha Priyatna. Dia menceritakan ihwalnya belajar di Cepu. Mulanya

Nugraha tidak mengerti ada pendidikan di Cepu. Sekitar tahun 1970, dia mendapat informasi tentang sekolah yang digaji. Tahun 1972 Nugraha ikut mendaftar, tapi sudah ditutup. Dia melamar lagi setahun kemudian.

Sebelum menginjakkan kaki di Cepu, Nugraha dan mahasiswa baru lainnya harus mengikuti wajib latih mahasiwa (walawa) selama 40 hari di Depot Pendidikan Kodam-VII Diponegoro Klaten. Banyak mahasiwa baru yang ciut nyalinya, tapi ada juga yang mengelabui tentara dengan berpura-pura sakit. “Malah ada yang mengaku pangkatnya lebih tinggi dari tentara itu dan menjanjikan kenaikan pangkat asal tak digojlok,” kata Nugraha.

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN PEMASARAN

Mahasiswa Jurusan Marketing Operation angkatan pertama bersama dosen

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

Nugraha mengajukan judul skripsi dengan tema Tanker Discharge Operation di tempat praktek kerja di Pangkalan Brandan. Saat itu belum ada mahasiswa yang mengambil skripsi dengan tema tanker, sehingga bolehlah Nugraha membanggakan idenya yang orisinil. “Tapi susahnya, waktu itu belum ada komputer. Skripsi diketik dengan mesin ketik. Jadi kalau salah ya dibuang, ulang lagi dari awal,” kenang Nugraha, alumni angkatan ketujuh.

Aswindarto, alumni angkatan ketujuh, punya pengalaman mendalam ketika mapram. Ceritanya, dia datang terlambat. Sebagai hukuman, dia disuruh membersihkan kilang. Tugas ini berat dan menguras keringat, tapi dari hukuman di kilang itu, ada pengalaman berharga yang dipetik Aswindarto, yaitu bisa melihat lebih dekat soal kilang. “Ternyata, begini isi dapur minyak,” kata Aswindarto mengenang kilang penuh kenangan itu.

Belajar di Akamigas Cepu, menurut Aswindarto juga sangat menyenangkan. Mahasiswa tak perlu membawa modal apa-apa dan hanya diminta belajar saja. Semua kebutuhan dipenuhi. Kalau bosan makan di asrama, mahasiswa bisa makan di luar. Dengan gaji Rp 4.500 per bulan, duit sebanyak itu bisa digunakan untuk menonton film di bioskop, jalan-jalan ke Surabaya, menabung, membeli sepeda dan makan di rumah makan favorit, Ayam Perawan. Itu gaji non-karyawan. Kalau karyawan, gajinya Rp 10.000 per bulan. Makanya kalau sudah di Cepu dan gagal, ya keterlaluan. “Kenyataannya, saat masuk ada 20 orang, naik tingkat 2 yang drop out 7 orang, yang lulus tinggal 10 orang,” kata Aswindarto.

Meski menyenangkan, tapi pelajarannya cukup berat. Aswindarto pernah tidak lulus saat diajar dosen Prof Dr Kyai Moestopo. Sekali ujian untuk lima mahasiswa. Kebetulan yang duduk di baris depan bisa menjawab semuanya, sehingga Aswindarto tidak kebagian pertanyaan. “Tapi saya

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN PEMASARAN

heran, belum ditanya apa-apa, eh dosen Moestopo bilang saya disuruh mengulang lagi.”

Pengalaman lain yang lebih seru, adalah ketika Aswindarto dan beberapa teman seangkatan berlibur ke Surabaya. Rupanya mereka terlena sehingga lupa kembali ke Cepu. Ingat-ingat sudah hari Minggu. Padahal, hari Senin ada ujian. Apa boleh buat, berbagai cara ditempuh agar bisa sampai Cepu tepat waktu.

Ketika itu sarana transportasi masih susah, tidak seperti sekarang. Dari Surabaya ke Cepu tidak bisa menggunakan transportasi umum sekali jalan. Harus disambung-sambung. Dari Surabaya naik kereta api ke Babat, setelah itu disambung naik bus sampai Bojonegoro. Di Bojonegoro, Aswindarto dan teman-temannya tidur di terminal, menunggu bus ke Cepu. Bus baru datang jam tiga pagi dan sampai Cepu jam tujuh pagi. “Naik bus sambung-sambung adalah usaha yang keras agar tidak mendapat poin kesalahan,” kata Aswin. Meski berliku, asal ada kemauan, banyak jalan menuju Cepu.

02:10

Dalam dokumen Toekang Migas Menembus Batas (Halaman 96-100)