AKAMIGAS cEPU: JURUSAN TEKNIK
02:12
AKAMIGAS cEPU: JURUSAN LOGISTIK
Arti Sebuah Pertemanan
Jurusan Logistik mempelajari ilmu minyak dan gas
bumi (migas) secara umum, dari mengebor sampai
mendistribusikannya. Berteman juga
menjadi pelajaran tersendiri.
TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS
D
ari tengah hutan, rombongan pegawai itu masukke kota Sorong, Papua. Bagaikan Tarzan, masuk ke kota dan ikut ujian saja senangnya tak ketulungan. Ada sekitar 30 orang dari tengah hutan di Sorong yang berniat ikut ujian saringan Akademi Minyak dan Gas (Akamigas) Cepu tahun 1974, termasuk Burhanuddin Hassan. Bungky, begitu dia biasa disapa, adalah pegawai unit Eksplorasi V di Lapangan Sele Sorong. Dia tahu tentang penerimaan mahasiswa baru akademi itu dari pengumuman di bagian personalia. Bungky mendaftar di Jurusan Eksplorasi dan Pemasaran. Dari 30 orang yang mendaftar di Sorong, hanya delapan orang yang lulus dan menjalani psikotes di Jakarta. Sampai di Jakarta, Jurusan Eksplorasi dan Pemasaran ternyata tak dibuka. Waktu itu hanya ada Jurusan Logistik dan Topografi. Dari hasil psikotes, Bungky ternyata lebih cocok di bidang logistik. Kepalang basah, dia meneruskan niatnya belajar di Akamigas Cepu dengan jurusan yang sedikit berbelok.
Dari jurusan tak sengaja itu, Bungky justru menemukan banyak ilmu. Dia mendapat semua pelajaran teknik dasar. Kegiatan logistik tak hanya
Willem Siahaya, saat praktek kerja di rig Forex, di lapangan Jatibarang
AKAMIGAS cEPU: JURUSAN LOGISTIK
menyangkut persoalan sederhana seperti mengangkut, menyimpan dan membeli barang tetapi harus bertanggung jawab terhadap ketersediaan kebutuhan material untuk kelancaran dan kesinambungan operasi perusahaan. Ibarat tentara, fungsi logistik dipimpin seorang jenderal berbintang dua. “Orang beranggapan logistik merupakan jurusan paling gampang,” kata Bungky, “Padahal ini bukan masalah komersial saja, 50 persen pelajarannya adalah teknik.” Selama belajar di Jurusan Logistik, mahasiswa mempelajari bermacam ilmu seperti akunting, kalkulus, kimia organik dan anorganik, motor bakar, dan mekanika kekuatan bahan. Alat
TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS
pengeboran juga diperkenalkan dan dipelajari dengan diperlihatkan bentuk, formasi kedalaman dan cara penggunaannya. Dengan materi kurikulum yang lengkap dan jumlah jam pelajaran yang cukup panjang, Bungky dapat langsung diterima di University of Pittsburgh, Pensylvania, AS, untuk menyelesaikan pendidikan S2 Business Administration.
Mahasiswa Jurusan Logistik juga dituntut kemampuan lapangan. Ketika kuliah praktek di Karang Ampel Cirebon, mahasiswa belajar mengebor dan memindahkan peralatan bor, juga menyambung dan melepas pipa atau menambah pipa. Kaki dan tangan bekerja hingga berlumuran lumpur. Membuat dokumen pembelian barang dan pembebasan material impor juga dipelajari. “Logistik itu kunci efisiensi, meskipun penentuan membeli ada pada masing-masing orang,” kata Bungky.
Menurut Willem Siahaya, alumni angkatan pertama—Jurusan Logistik baru dibuka di angkatan kelima Akamigas Cepu—praktek kerja diselenggarakan agar mahasiswa lebih mengenal operasi dan material yang dibutuhkan. Dengan terjun langsung ke lapangan yang sesungguhnya, alumni jurusan logistik bisa mengerti seluruh kebutuhan material dan cara penyediaannya. Orang logistik harus menguasai material mulai dari ilmu bahan, di mana material tersebut dipakai dan bagaimana pengoperasiannya.
Wim, panggilan akrabnya, pernah kerja praktek di rig Forex milik perusahaan Prancis yang saat itu sedang mengebor Sumur Jatibarang 89 dengan mengenakan baju praktek bertuliskan AKAMIGAS. Supervisor Forex yang bernama Billounc, kebetulan kulitnya agak belang sehingga dijuluki “Belong”, tidak mau tahu bahwa mahasiswa Akamigas Cepu yang menjalani praktek kerja di rig pengeboran, tidak semuanya Jurusan Bor.
AKAMIGAS cEPU: JURUSAN LOGISTIK
Wim disuruh naik ke atas rig floor untuk melakukan tugas sebagai drilling operator yang seharusnya tugas orang bor. Terpaksa Wim memenuhi perintah itu dengan belajar secepat kilat. Karena senangnya “Belong” kepada Wim, sewaktu pulang cuti dari negaranya, dia membawa oleh-oleh miniatur menara Eiffel kebangaan Prancis untuk Wim.
Pengalaman praktek kerja itu menunjukkan bahwa alumni Jurusan Logistik harus mengenal dan memahami seluruh aktivitas operasi migas, mulai dari kegiatan seismik, eksplorasi, mengebor, eksploitasi, produksi, pengilangan hingga distribusi migas.
Ada lagi “nostalgila” Wim saat praktek kerja akhir untuk menyusun skripsi di Pertamina Unit Pengolahan Plaju, Sumatera Selatan. Usai praktek lapangan, Wim dan teman-temannya ingin bersantai dan menonton film di gedung pertemuan yang dikhususkan untuk staf Pertamina. Sewaktu mau masuk gedung, Wim dan teman-temannya dihadang petugas keamanan dan dilarang masuk karena tidak memakai dasi. Tidak kalah akal, Wim cs meninggalkan gedung seraya memasang saputangan pengganti dasi di leher.
Dengan bangga Wim dan teman-temannya masuk kembali, namun petugas keamanan masih tidak mau menyerah, sambil berkata bahwa anak karyawan dilarang masuk. Spontan Wim menjawab: “Kami ini bukan anak karyawan, tapi karyawan anak-anak.” Maklum, tampang mereka masih kekanak-kanakan. Kali ini Wim dan gerombolannya menang mutlak dan dipersilahkan masuk untuk menonton.
Masih di Plaju, Wim terkenang akan ulah temannya, Caca Isa Saleh, alumni Jurusan Produksi. Ketika makan malam di ruang makan Wisma Plaju, Caca menemukan masakan daging yang sangat keras untuk dikunyah. Kebetulan saat itu pengawas wisma melintas, Caca berteriak, “Kok ada ya
TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS
ban mobil seperti daging.” Walhasil besoknya, Caca dipanggil ke kantor dan mendapatkan hadiah berupa teguran lisan.
Jurusan Logistik di Akamigas Cepu berjumlah empat angkatan dan telah meluluskan 73 alumni. Kurikulum pokok Jurusan Logistik antara lain material, pergudangan, transportasi, pengadaan, kepabeanan dan ekspor-impor. “Ini merupakan kurikulum terbaik saat itu,” kata Wim.
Hadi Murdoko, alumni angkatan keenam, juga punya pengalaman seru ketika kuliah di Jurusan Logistik. Hadi sendiri masuk Akamigas Cepu secara tak disengaja. Pertamina ketika itu memiliki Divisi Ekonomi dan Pengembangan yang sedang mengembangkan pemasaran pupuk dan agrokimia sehingga membutuhkan tenaga penyelia atau supervisor, karena itu Hadi memilih Jurusan Pemasaran.
Ketika ujian pertama lulus, Hadi baru tahu bahwa Jurusan Pemasaran tahun itu tidak dibuka. Calon mahasiswa jurusan lain sudah melaju dan berada di Cepu. Hadi mengurus kelanjutan penerimaan itu dan akhirnya memilih Jurusan Logistik. “Datang ke Cepu jadi terlambat, tidak ikut wajib latih mahasiswa (walawa) dan masa prabakti mahasiswa (mapram). Saya digojlok teman-teman sendiri,” kata Hadi mengenang.
Setelah kuliah, Hadi dan teman-temannya belajar ilmu dasar dan diasah kemampuan ilmu logistiknya. Soal dosen, yang paling dikenang adalah Profesor Dr Kyai Moestopo, dosen Pancasila yang dikenal dengan moto Keep It Simple and Sweet alias KISS. Segala sesuatu perlu dijaga untuk tetap manis dan jangan dibuat repot.
Ada istilah lain dari Kyai Moestopo, yakni bergandulan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hadi menafsirkan istilah ini bermakna tinggi. Kalau dalam tender
AKAMIGAS cEPU: JURUSAN LOGISTIK
ragu siapa yang layak menang, tentukan mana yang paling menguntungkan untuk bangsa dan negara. ”Kalau masih bingung, maka kriterianya adalah yang paling diridhoi Tuhan,” kata Hadi, menafsirkan pesan Kyai Moestopo. Menurut Edi Sutopo, alumni angkatan keenam, mahasiswa Jurusan Logistik mempelajari bermacam-macam ilmu, sehingga pengetahuannya menjadi lebih kaya. Sebagai konsekuensinya, pelajaran menjadi terasa berat. Tak heran bila setiap tahun, ada saja yang gugur dan dipulangkan ke unit asal. Suyadi Taryam, alumni angkatan keenam juga menuturkan pengalamannya. Sebelum masuk Akamigas Cepu, dia adalah anak buah kapal (ABK) kapal tanker Ordinary Seaman sebagai Kelasi II. Sewaktu tes masuk Akamigas Cepu, dia gagal tes kesehatan dan diberi kesempatan mengulang pada bulan berikutnya.
Syukurlah, Suyadi akhirnya lulus dan berangkat ke Cepu. Menurut Suyadi, disiplin yang diterapkan di Akamigas Cepu awalnya terasa berat, namun lama-lama terbiasa dan akhirnya menjadi budaya dan tidak kaget di tempat kerja. Suyadi tidak canggung bergaul dengan masyarakat setempat, buktinya dia jatuh cinta dan beristrikan putri Cepu.
Pengalaman Lukiman Mulyono, alumni angkatan keenam, masuk Akamigas Cepu sulit, keluar pun sulit. Maksudnya tak mudah bagi mahasiswa bisa lolos sampai tingkat terakhir dan lulus ujian akhir. Makanya, Lukiman merasa bangga bisa masuk Akamigas Cepu dan bersaing dengan banyak pelamar yang mempunyai kemampuan yang sama. Kebanggaan serupa juga dirasakan ketika berhasil lulus dari akademi.
Hurip Tjiptadi, sebelum masuk Akamigas Cepu, telah menempuh Pendidikan Kejuruan Lanjutan Jurusan Material. Hurip mengakui, mahasiswa Akamigas
TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS
Cepu Jurusan Logistik berasal dari berbagai disiplin sehingga penerimaan pelajaran dan kemajuan belajar sangat bervariasi. Hal ini mengakibatkan lulusan Jurusan Logistik juga mengembangkan karier dengan meningkatkan kemampuan individu.
Jajat Ruchiat, alumni angkatan keenam, menuturkan pengalaman mapram. Sebagai mahasiswa angkatan terakhir, menurut Jajat, panggilan singkatnya, mapram tidak terlalu sadis. Dia “hanya” disuruh berciuman dengan sesama mahasiswa yang semuanya laki-laki. Pahit ketika menjalani, tapi begitu menggelitik ketika mengenang kembali. “Yang menyuruh ciuman adalah mahasiswa senior, Wim Siahaya,” kata Jajat sambil tertawa.
Djoko Sumitro, alumni angkatan keenam berkisah, mapram adalah masa yang paling berat. Salah satu pengalaman yang berkesan ketika hari pertama menginjakkan kaki di Cepu, adalah langsung digojlok dengan berbagai kegiatan yang melelahkan dan berurai keringat. Sudah letih, ingin masuk asrama pun masih diperas mentalnya. “Kita masuk asrama dengan merayap, meski pakaiannya rapi,” katanya.
Menurut Hartono, alumni angkatan kesembilan, gojlokan mapram yang berat menyebabkan dendam dilampiaskan setiap tahun secara turun temurun. Sayang seribu sayang, Hartono tidak bisa menyalurkannya kepada mahasiswa junior, karena dia adalah mahasiswa angkatan terakhir. “Nggak bisa balas dendam deh. Sebel saya,” katanya.
Kegiatan belajar yang paling menyenangkan bagi mahasiswa adalah praktek kerja, yang dilakukan di lingkungan logistik dan di luar logistik. Mahasiswa mempelajari kilang dan sebagainya, yang dipelajari dari sisi ilmu logistik. ”Semua ilmu dan aspek yang diajarkan ketika kuliah, masih berguna dan dapat dikembangkan ke dunia bisnis dan teknologi saat ini,” kata Hartono.
AKAMIGAS cEPU: JURUSAN LOGISTIK
Hartono juga menyimpan pengalaman lain saat tinggal di asrama. Kehidupan di asrama penuh kebersamaan. Ada sahabat Hartono yang bernama Fauzy Muhamad, yang gemar mengambil makanan untuk disimpan di kamar sebagai cemilan teman sekamar bila lapar di malam hari. Rokok juga begitu. Supaya hemat, beli rokok satu bungkus tapi uangnya patungan. Rokok disimpan di lemari dan tidak dikunci, disitulah diuji kejujuran pertemanan. Karena milik bersama, rokokn dihisap beramai-ramai.
Soeko Harjono, alumni angkatan kesembilan, mengakui bahwa semangat pertemanan di kampus sangat kental, terbawa setelah menjadi alumni di tempat kerja. Saat mahasiswa, Soeko berteman dengan Helmy Sungkar, juga alumni Jurusan Logistik yang dikenal sebagai promotor reli mobil dan ayah dari pereli Rifat Sungkar.
Saat belajar, Helmy sering kabur ke Jakarta untuk mengikuti reli, termasuk ketika menyusun skripsi. Teman-teman selalu melindungi Helmy bila dosen atau kepala asrama menanyakan keberadaannya. Soeko dan teman-teman berpikir, kalau Helmy berhasil menjadi juara, akan ada pesta bersama. Ada udang di balik batu rupanya.