TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS
T
ugasnya adalah menyusun kembali sembilan balokyang berserakan di meja. Penguji di depannya, dengan raut wajah serius, bertanya kepada Zainul Bahri tentang kesiapannya menyusun balok. Dengan tegas, Zainul menjawab bahwa balok itu bisa disusun dalam waktu tiga menit. Dia mendapat bocoran bahwa tiga menit merupakan waktu ideal menyusun balok yang telah diurai penguji.
Tiga menit berlalu dan Zainul belum berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Sejumput kekhawatiran mulai menyelimuti pikiran dan Zainul menyampaikan kepada penguji bahwa dia tidak mampu menyelesaikan susunan balok itu dalam waktu tiga menit. Ternyata penguji mempersilahkan Zainul meneruskan menyusun dan menunggu sampai selesai. Ada sedikit kelegaan, meski susunan balok baru bisa diselesaikan setelah waktu empat menit berlalu.
Zainul tak yakin bisa lulus psikotes ujian masuk ke Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas) Cepu karena merasa gagal menyusun kembali balok-balok sesuai janjinya. Ketika pengumuman tiba, Zainul mencari namanya dengan pasrah, tapi dicari juga dengan teliti karena penasaran. Ternyata
namanya ditemukan. Yup, dia lulus dan diterima di Jurusan Instrumen dan Elektronika tahun 1974. Senangnya bukan kepalang dan dia sangat mensyukuri hal itu.
Zainul adalah angkatan “kedua terakhir” Akamigas Cepu Pola Pendidikan 3 Tahun. Jurusan Instrumen dan Elektronika telah meluluskan 67 orang. Menurut Zainul, alumni angkatan kedelapan, materi kuliah, kedisplinan, semangat juang dan kepemimpinan yang dipetik semasa kuliah, sangat mewarnai perjalanan kariernya. “Belajar harus sungguh-sungguh dan jangan sampai nggak lulus,” kata Zainul. Mahasiswa Akamigas cepu angkatan kelima
TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS
Menurut pendapatnya, kurikulum dikembangkan sesuai tantangan kemajuan teknologi migas. Digabung dengan pengembangan profesionalisme tenaga kerja nasional, Zainul yakin, tenaga Indonesia mampu merebut posisi yang dikuasai tenaga asing. “Bila tak dapat meningkatkan kompetensi, akan tertinggal di era persaingan global,” katanya.
Bagi mahasiswa yang mengikuti wajib latih mahasiswa (walawa), saat masuk kampus, senior biasanya sudah melancarkan teror kepada lulusan walawa seperti terjadi di angkatan kelima. Senior menulis: Besok kita hajar satu-satu. Lalu mahasiswa baru merobek dan membuat spanduk tandingan. “Walawa otot kawat balung wesi, tidak takut pada Raka”. Raka adalah sebutan para senior selama masa prabakti mahasiswa (mapram), sedangkan mahasiswa baru dipanggil Cama.
Mahasiswa Jurusan Instrumen dan Elektronika angkatan kelima di EDP Pertamina
Berbeda dengan angkatan sebelumnya, Zainul dan kawan-kawan seangkatannya tidak mengikuti program walawa. Ketika masuk kampus Akamigas Cepu, mereka langsung digojlok dalam program mapram oleh seniornya. Mapram merupakan masa pengenalan mahasiswa baru terhadap mahasiswa lainnya, lingkungan serta pekerjaan bidang migas.
Dalam acara ini, mahasiswa mendapat penggojlokan fisik dan mental. Prosesi terunik di dunia adalah diceburkan ke blotong atau minyak kotor yang membuat kulit terkelupas. Cama juga harus berlari keliling Cepu dan merayap di got yang kotor. “Inti dari mapram adalah menumbuhkan semangat juang, solidaritas, kepemimpinan dan kedisiplinan,” kata A Rivai Prabu, alumni angkatan kedelapan.
Jusfic A Siregar, alumni angkatan kelima mengatakan bahwa semua fasilitas di Cepu memadai. Setiap hari mahasiswa mendapat jatah makan enak dan gizi berkecukupan. Sarapan biasanya roti atau nasi goreng dengan telur. Siang dan malam makan dengan menu ikan, daging, ayam, sayur dan lain-lain. ”Kadang bosen juga,” ujar Jusfic.
Di asrama, mahasiswa menempati kamar berukuran 4x6 meter, beberapa kamar dilengkapi kamar mandi di dalam. Setiap kamar tersedia tempat tidur bertingkat dan meja belajar untuk masing-masing orang. Kamar dibersihkan dan sprei diganti setiap hari. Ada juga uang saku, yang besarnya Rp 3.000 per bulan.
Selain fasilitas ruang kelas dan perpustakaan, Akamigas Cepu juga menyediakan fasilitas inti seperti lapangan, bengkel dan laboratorium. Pada tahun pertama, mahasiswa Jurusan Instrumen dan Elektronika belajar praktek di Cepu.
TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS
Menurut Jusfic, kualitas pendidikan Akamigas Cepu diakui perusahaan minyak asing. Jusfic adalah karyawan Stanvac yang bekerja sejak tahun 1968 dengan posisi sebagai helper. Posisi ini bisa dikategorikan sebagai golongan paling rendah di level karyawan di tempatnya bekerja. Tugas helper adalah membantu mengangkat perlengkapan, sarana dan peralatan yang bobotnya berat.
Pada tahun 1971, Jusfic dikirim untuk mengikuti tes bersama empat karyawan Stanvac lainnya ke Akamigas Cepu, tetapi hanya tiga yang lulus. Di angkatan kelima, Jusfic dan dua rekan yang lain merupakan karyawan tugas belajar dari perusahaan minyak asing pertama yang menimba ilmu di
Akamigas Cepu. Dua teman Jusfic belajar di Jurusan Produksi dan Bor. “Biasanya kami dikirim ke luar negeri, tapi Stanvac memandang bahwa Akamigas Cepu cukup bagus dan tidak kalah mutunya dengan lembaga pendidikan sejenis di luar negeri,” kata Jusfic.
Jusfic mengatakan dosen di Akamigas Cepu memiliki pengalaman matang di lapangan. Dosen dengan jam terbang tinggi di lapangan itu membuat mahasiswa lebih mudah mencerna pelajaran. Selain pengalaman serius, Jusfic juga punya pengalaman yang lucu. Ketika itu dia sedang membuat tugas akhir. Mentor Jusfic adalah manajer di Stanvac. Mentor itu mencoret-coret tugas akhir Jusfic dengan pinsil. Jusfic lalu menghapus mencoret-coretan itu, tanpa membetulkan dan mengembalikannya kepada dosen. Tak disangka, dosen malah berkata, ”Nah, ini baru betul.” Padahal tak satupun tulisan dari tugas akhir itu yang diubahnya. ”Rada pikun juga tuh dosen,” ujar Jusfic sambil terbahak.
Menurut Janto Pramoedji, alumni angkatan kelima, Akamigas Cepu memiliki keunggulan dalam soal praktek lapangan selain penguasaan teori. Dia pernah praktek kerja lapangan di Wonokromo, Sungei Gerong dan Plaju. Janto bekerja langsung di bengkel instrumen dan kilang. ”Kami belajar dan melihat langsung pekerjaan orang instrumen yang sesungguhnya. Ikut bekerja dan pada akhirnya ilmu itu kami terapkan begitu lulus,” kata Janto.
Pelajaran teori dan praktek instrumentasi untuk Jurusan Instrumentasi dan Elektronika angkatan pertama, dibuka pertama kali pada angkatan kelima Akamigas Cepu tahun 1971. Sarana prakteknya meningkat ketika masuk seorang ahli instrumentasi pensiunan BPM dan Pertamina dari Balikpapan, Itang Warsa, yang menurunkan ilmunya kepada mahasiswa sekitar tahun 1972. Itang memprakarsai permintaan peralatan instrumentasi bekas pakai milik Pertamina, yang kemudian menjadi alat peraga pertama di
AKAMIGAS cEPU: JURUSAN INSTRUMENTASI DAN ELEKTRONIKA
Mandi blotong, ritual mapram untuk mengenal dunia minyak
Laboratorium Instrumentasi dan Elektronika Pusdik Migas Cepu. Pelajaran praktek instrumentasi ini dirasakan oleh mahasiswa Akamigas Cepu angkatan delapan dan sembilan menjadi lebih bervariasi dan meningkat mutunya dengan kehadiran dosen-dosen muda lulusan Akamigas Cepu angkatan pertama Jurusan Instrumentasi dan Elektronika, yaitu para alumni angkatan kelima yang lulus pada tahun 1974. Tercatat nama-nama seperti Janto Pramoedji, Dito Ganinduto, Imam Suwignyo, Djoko Poernomo, telah menorehkan awal kariernya sebagai dosen di Akamigas Cepu, berbagi ilmu untuk adik-adik angkatan yang lebih muda.
Modal belajar di Cepu juga dirasakan Dito Ganinduto, alumni angkatan kelima yang menjadi anggota Komisi VII, yang membidangi masalah energi di Dewan Perwakilan Rakyat. Menurut dia, pelajaran teknis instrumentrasi dan elektronika terpakai ketika lulus dan bekerja di perusahaan minyak. Ketika bekerja di PT IMECO, Dito merasakan manfaatnya. Dengan bekal ilmu tentang level controller, pressure controller dan control valve sizing, dia berhasil menjual instrumentasi proses kontrol ke perusahaan perminyakan.
Begitu dia terjun ke arena politik, sebagai anggota legislatif, Dito lebih luwes membahas kebijakan di sektor migas karena memiliki dasar ilmu dan pengetahuan migas. Pengalaman kuliah banyak membantu. ”Jadi secara keseluruhan, konsep migas yang dipelajari masih terpakai,” katanya. Semasa SMA, Dito mengaku termasuk anak bandel, sehingga orang tuanya membawa Dito ke psikolog. Tadinya dia berniat melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), tapi psikolog memberi saran bahwa sekolah yang cocok bagi Dito adalah sekolah terikat dan tinggalnya di asrama. ”Akamigas Cepu adalah sekolah yang benar-benar mengubah hidup saya,” kata Dito.
***
AKAMIGAS cEPU: JURUSAN INSTRUMENTASI DAN ELEKTRONIKA