• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ada yang mengira Jurusan Eksploitasi berurusan dengan perjalanan wisata. Kehidupan kampus dan asrama yang

Dalam dokumen Toekang Migas Menembus Batas (Halaman 87-91)

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN BOR

02:7

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN EKSPLOITASI-PRODUKSI

Kisah yang

Meledak-ledak

Ada yang mengira Jurusan Eksploitasi berurusan dengan

perjalanan wisata. Kehidupan kampus dan asrama yang

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

P

ada awal karirnya Amrul Baroos bekerja sebagai

tenaga lepas di Bagian Komunikasi Divisi Koordinator Kontraktor Asing-Pertamina (DKKA). Tugas Amrul mengurus hal-hal yang berkaitan dengan perijinan yang diperlukan para kontraktor asing untuk mengembangkan kegiatan eksplorasi. Mulai dari mengurus ijin Dispensasi Syarat Bendera untuk kapal-kapal yang digunakan pada kegiatan eksplorasi di laut, Flight Approval untuk pesawat, hingga mengurus rekomendasi ijin penggunaan bahan peledak dari Kepolisian Daerah (Polda) setempat. Berurusan dengan yang terakhir ini, Amrul harus pergi-pulang ke Bandung, Medan, Bengkulu dan Jambi untuk mendapatkan rekomendasi Polda di wilayah itu. Bahkan Amrul pernah terbang ke Natuna dalam kaitannya dengan keinginan kontraktor asing menggunakan lapangan terbang Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) sebagai entry point kegiatan di Laut Cina Selatan. Bagi Amrul yang menyukai travelling, pekerjaan sungguh menyenangkan, karena dapat berwisata dengan pesawat terbang.

Ketika tahun 1972 Amrul ditawari sekolah ke Akamigas Cepu, dia tidak ragu memilih Jurusan Eksploitasi karena menganggap jurusan ini

berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan di DKKA, yaitu selalu terbang ke daerah-daerah dalam rangka pengembangan kegiatan kontraktor asing. Baginya eksploitasi identik dengan bepergian ke daerah-daerah untuk pengembangan kegiatan perusahaan. Selain itu Amrul meyakini bahwa Akamigas Cepu adalah jembatan untuk menjadi pegawai staf di Pertamina.

Seharian Amrul mengikuti ujian pengetahuan umum sampai psikotes di Jakarta. Soal ujian terasa berat dan banyak. ”Bahkan ada yang muntah-muntah,” begitu Amrul menggambarkan sulitnya melewati proses seleksi di Akamigas Cepu.

Semua tes mampu dilewatinya tanpa kendala. Amrul diterima menjadi mahasiswa Jurusan Eksploitasi angkatan keenam. Sesampainya di kampus, buyar semua bayangan Amrul mengenai semua hal menyenangkan. Jurusan Eksploitasi ternyata tak ada urusan dengan perjalanan mengurus perijinan bahan peledak ke daerah-daerah atau ijin penggunaan lapangan terbang, tapi mempelajari ilmu minyak dan gas bumi (migas).

Setelah belajar, dia menilai Jurusan Eksploitasi adalah jurusan paling berat di Akamigas Cepu. Menurut dia, jurusan ini merupakan inti dari teknik perminyakan. Apa yang diperlajari di Jurusan Eksploitasi? Bermacam ilmu ada di sana. Mahasiswa Jurusan Eksploitasi belajar teknik dasar seperti termodinamika, fisika, mekanika, matematika, kalkulus, kimia anorganik dan kimia organik. Mahasiswa juga mempelajari mata kuliah yang tak ada di jurusan lain seperti petrofisik, yaitu fisika batu-batuan.

Di Jurusan Eksploitasi, mahasiswa juga belajar Interpretasi Log. Mata kuliah ini mempelajari hasil rekam alat yang diturunkan ke sumur untuk mendapatkan citra yang ada di bawah tanah. Kalau di kedokteran ibaratnya

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

CT-Scan atau Ultra Sonografi (USG). Ilmu ini memotret isi perut bumi dengan logging tools. Dari sini bisa ditentukan ketebalan pasir, kandungan air, minyak dan gas sekaligus membedakannya.

Mahasiswa Jurusan Eksploitasi belajar ilmu geologi untuk mempelajari jenis batuan agar dapat menggambar profil sumur menurut jenis batuan sesuai kedalamannya. Dengan mengetahui jenis batuan dan kedalamannya, dapat dipetakan susunan batuan di dalam sumur. Misalnya ketika kedalaman bor telah sampai seribu meter, dapat diketahui jenis batuan pada kedalaman tersebut dengan cara menghitung kecepatan aliran lumpur yang membawa cutting (pecahan formasi) ke permukaan dan mengambil contohnya. Dengan cara menghitung seperti itu, dapat diketahui jenis batuan di setiap kedalaman bor. ”Jenis batuan sesuai kedalamannya dipetakan pada profil sumur,” ujarnya. Tujuan utama kegiatan eksploitasi adalah untuk mengembangkan suatu lapangan migas. Melalui kajian data yang diperoleh dari hasil pengeboran sumur-sumur di daerah tersebut, dapat dihitung besarnya cadangan formasi. Selanjutnya dilakukan kajian keekonomian yang dituangkan dalam bentuk rencana pengembangan lapangan. Bila kajian keekonomian rencana pengembangan lapangan dianggap ekonomis, dilakukanlah pengeboran. Selama kuliah, Amrul menjalani berbagai praktek lapangan. Tahun pertama, kuliah kerja di Prabumulih. Di sana, Amrul mengikuti kegiatan perawatan sumur, juga pengetesan sumur, belum pengeboran. Amrul bekerja sebagai anggota kru perawatan sumur dan bekerja secara shift, baik siang maupun malam. Kegiatan itu sebenarnya pekerjaan orang produksi, tapi Amrul tetap diikutkan sebagai bagian dari tugas praktek lapangan.

Praktek kerja tahun kedua di Bunyu, mulai mengikuti kegiatan pengeboran. Di sini Amrul mulai belajar tugas-tugas field exploitation engineer atau ahli

teknik lapangan (ATL). Mulai dari membuat lumpur bor dan menganalisis karakteristiknya, mengambil dan menganalisis sample cutting, membuat profil sumur, menghitung jumlah bubur semen untuk menyemen casing, bahkan Amrul ikut mengukur panjang masing-masing casing yang akan dimasukkan ke sumur.

Praktek terakhir berkaitan dengan penyusunan skripsi. Amrul kerja praktek di Prabumulih untuk mengumpulkan data sumur-sumur Lapangan Tanjung Tiga, khususnya lapisan pasir yang diusulkan sebagai proyek waterflooding.

Dari uraian di atas, terlihat jelas pola pendidikan yang berlaku di Akamigas Cepu. Tahun pertama praktek tentang pengetahuan dasar, tahun kedua cara-cara bekerja dalam bidang masing-masing dan terakhir melakukan analisis terhadap suatu masalah dengan menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh selama pendidikan.

Jurusan Eksploitasi di Akamigas Cepu baru diselenggarakan pada tahun 1972. Hingga Pendidikan Pola 3 Tahun berakhir pada tahun 1975, jurusan ini telah meluluskan 24 orang. Jurusan Eksploitasi sangat berdekatan dengan Jurusan Produksi yang diselenggarakan sejak Akamigas Cepu berdiri. Jurusan Produksi telah meluluskan 81 orang.

Bambang Tjiptadi, alumni Jurusan Produksi angkatan keempat, mengatakan bahwa kurikulum dan materi teknis di Jurusan Produksi cukup lengkap dan berkualitas baik. Kuliah di kelas dan praktek di lapangan sudah proporsional. Semua pelajaran berkesan dan berguna, misalnya rumus matematika dan fisika yang dapat diterapkan di dunia kerja. “Sedangkan pengalaman dari pelajaran praktek adalah melihat langsung sistem dan cara kerja peralatan atau penerapan dari pelajaran teori,” kata Bambang.

TOEKANG MIGAS MENEMBUS BATAS

Bagi Bambang, mapram adalah pengalaman yang sangat berkesan dan tidak terlupakan. Berat ketika dijalani, namun setelah semuanya lewat, menimbulkan kesan bangga karena bisa melalui mapram dengan selamat. Saat mapram, setiap pagi Bambang dibangunkan dengan baju yang masih kotor. Setelah bangun, langsung lari pagi. Siangnya merayap di jalan-jalan kota Cepu dan masuk ke parit kotor dan bau.

Badan disiram blotong alias minyak mentah hingga kulit mengelupas. Pada malam hari, kelengkapan atribut diperiksa, masih harus push-up dan dibentak-bentak. “Semuanya masih terngiang di dalam ingatan,” kata Bambang.

Meski terasa berat saat menjalani, tapi ada satu hal penting yang diperoleh Bambang dari pengalaman mapram, yaitu rasa keakraban dan kesatuan, tidak saja dengan mahasiswa satu angkatan tetapi juga dengan mahasiswa senior. Mapram membentuk solidaritas yang tinggi di antara mahasiswa, yang kelak terbawa sampai di dunia kerja.

Menurut Rozali Abdul Rahman, alumni angkatan ketiga, dia berkesan saat ditunjuk sebagai ketua pelaksana mapram angkatan keempat. Saat apel malam, peserta bernama Djiwatmo hilang. Selama sehari dan semalam semua panitia sibuk mencari. Pinggiran sungai Bengawan Solo dan sepanjang rel kereta api ditelusuri, karena menurut informasi, Djiwatmo melewati rel kereta api menuju arah Surabaya.

Sebagai koordinator pelaksana mapram, Rozali merasa khawatir. Dia masih ingat kata-kata Kurchi, Kepala Keamanan Pusat Pendidikan Migas Cepu, yang memperingatkan kalau Djiwatmo benar-benar hilang, dia harus ikut bertanggung jawab. Keesokan harinya diperoleh kabar dari orang tua Djiwatmo bahwa Djiwatmo kembali ke rumahnya di Surabaya karena tidak

tahan mengikuti mapram. “Alhamdulillah, itu merupakan pengalaman pahit tapi sangat mengesankan,” kata Rozali.

Nilai-nilai kedisiplinan, semangat juang dan kepemimpinan juga dirasakan Frans Kumaat, alumni Jurusan Produksi angkatan keempat. Kedisiplinan sudah dirasakan Frans sejak awal, mulai mapram, kewiraan dan jam sekolah maupun jam belajar di asrama.

Semangat juang juga ditanamkan dan dimotivasi sejak awal, baik dari pendidik atau pengawas, juga melalui sistem gugur yang ancamannya dikeluarkan atau dipulangkan ke unit asal. Kepemimpinan dirasakan saat mapram, melalui kesempatan menjadi ketua-ketua regu, di kelas menjadi ketua kelas secara bergilir, saat praktek lapangan juga berkesempatan menjadi koordinator.

Menurut Frans, praktek kerja di lapangan menjadi pengalaman mengesankan. Saat praktek lapangan, mahasiswa dilatih patuh pada pimpinan dan pengawas serta membina kerja sama yang baik dengan karyawan. Praktek kerja di lapangan juga membuat mahasiswa memahami pentingnya arti safety first yang sesungguhnya.

Hal lain yang menyenangkan saat kuliah di Akamigas Cepu adalah kesempatan tinggal di asrama. Frans ketika itu mengagumi di kota sekecil Cepu, berdiri kampus dengan fasilitas lengkap dan asrama yang megah. Di asrama, Frans awalnya terkaget-kaget dipanggil Gus dan Den oleh ibu-ibu yang mencuci pakaian mahasiswa. “Mereka orang Jawa yang sangat sopan,” kata Frans.

Di asrama, Frans dan teman-teman yang lain mendapat fasilitas makan dengan menu yang bervariasi, sehingga tidak membosankan. Buktinya,

setelah empat bulan masuk asrama, berat badan Frans naik tujuh kilogram. “Makanan favorit saya sup bruinebon,” kata Frans.

Di waktu senggang, Frans dan teman-teman berolah raga seperti main pingpong. Kalau lupa waktu, terkadang bermain sampai malam hari. Mahasiswa mendapat uang saku, yang nilainya berbeda, tergantung perusahaan masing-masing. Frans yang berasal dari umum, mendapat uang saku Rp 3.750 per bulan. Dibilang besar ya tidak, dibilang kecil, ya begitulah. “Cukup untuk sekedar beli odol, sikat gigi, sabun, pakaian dalam dan mengirim surat buat orang tua dan pacar. Hahaha...” kata Frans mengenang.

Asrama menciptakan hubungan pertemanan yang akrab. Setiap ada teman yang baru pulang dari berlibur dan kembali ke asrama Cepu, ada saja yang membuat suasana geger. Yang semula sepi jadi berisik, sehingga suasana menjadi lebih hidup. Dari atas becak, mahasiswa yang kembali masuk ke asrama Vyatra selalu berteriak-teriak dan disambut dengan teriakan yang tak kalah kerasnya dari dalam asrama, yang bisa membangunkan orang tidur. “Pokoknya heboh deh,” kata Frans.

***

AKAMIGAS cEPU: JURUSAN EKSPLOITASI-PRODUKSI

02:8

Dalam dokumen Toekang Migas Menembus Batas (Halaman 87-91)