DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER
19) Berperilaku Baik (husnul amal)
Husnul amal bisa diartikan berperilaku baik. Baik atau kebaikan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Dengan istilah lain bahwa baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan.
Baik, sebagaimana dalam Nata (2002:102-103) tergambarkan bahwa yang disebut baik atau kebaikan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan, dan menyukai umat manusia. Sedangkan pengertian buruk adalah sesuatu yang tidak baik, yang tidak seperti yang seharusnya, tidak sempurna dalam kualitas, dibawah standar, kurang dalam nilai, tidak mencukupi, keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui, tidak dapat diterima, sesuatu yang tercela, lawan dari baik, dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan demikian yang dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik, dan tidak disukai kehadirannya oleh manusia (Zubaidi, 2015: 104).
Baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang berguna, yang sesuai dengan nilai dan norma agama; nilai serta norma yang terdapat dalam masyarakat, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Kata baik, dalam konteks Bahasa Arab, sekurang-kurangnya mempunyai enam istilah:
a) al-Hasanah, sebagaimana di kemukakan oleh Ar-Raghib al-Asfa hani (2008: 133) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukan sesuatu yang disukai atau di pandang baik. Ia membagi al-hasanah menjadi tiga bagian, yaitu dari segi akal, hawa nafsu dan pancaindera. Yang termasuk al-hasanah adalah semisal: keuntungan, kelapangan rezeki dan kemenagan. Sebagaimana dalam QS. An-Nahl: 125;
ُنَسْحَأ َييه يتِهليبَ ْمُْلَيداَجَو يةَنَسَْلْا يةَظيعْوَمْلاَو يةَمْكيْلْيبَ َكيِّبَر يلييبَس َليإ ُعْدا
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Lafadz al-hasanah terdapat juga dalam al-Qur’an yang memiliki berberapa makna, seperti yang terdapat dalam QS. At-Taubah:50;67
ُلْبَ ق ْنيم َنََّرْمَأ َنَّْذَخَأ ْدَق اوُلوُقَ ي ٌةَبييصُم َكْبيصُت ْنيإَو ْمُهْؤُسَت ٌةَنَسَح َكْبيصُت ْنيإ
ُحيرَف ْمُهَو اْوهلَوَ تَ يَو
َنو
Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang ; tetapi jika engkau ditimpa bencana , mereka berkata ,”Sungguh sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi berperang),” dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira.
Selain firman Allah alhasanah juga terdapat dalam hadits Nabi Saw.:
سو هيلع الله ىلص يهللََّا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق هنع الله يضر َةَرْ يَرُه يبَأ ْنَعَو
مل
:
يقُلُْلَْا ُنْسُحَو يهللََّا ىوْقَ ت َةهنَْلَْا ُليخْدُي اَم ُرَ ثْكَأ
ُهَحهحَصَو ُّييذيمْيِّتْلَا ُهَجَرْخَأ
ُميكاَْلَْا
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:“Amal yang paling banyak menentukan masuk surga ialah takwa kepada Allah dan perangai yang baik.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim. b) at-Tayyibah, terkait dengan istilah ini, Raghib al-Asfahani (2008: 349) jugamenjelaskan bahwa at-tayyibah itu khusus digu-nakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberi kelezatan kepada panca indra dan jiwa, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 57:
ُكاَنْ قَزَر اَم يتاَبيِّيَط ْنيم اوُلُك ىَوْلهسلاَو هنَمْلا ُمُكْيَلَع اَنْلزنَأَو َماَمَغْلا ُمُكْيَلَع اَنْلهلَظَو
ْم
نوُميلْظَي ْمُهَسُفْ نَأ اوُناَك ْنيكَلَو َنَّوُمَلَظ اَمَو
Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa” makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya kami; akan tetapi merekalah yang enganiaya diri mereka sendiri.c) Kkairan, oleh Ar-Raghib al-Asfahani (2008: 181) dijelaskan bahwa khairan itu digunakan untuk menunjukan sesuatu yang baik oleh seluruh umat manusia, seperti berakal, adil, keutamaan dan segala sesuatu yang bermanfaat.
اوُليمَع َنييذهلا ىَزُْيَ لاَف يةَئيِّيهسليبَ َءاَج ْنَمَو اَهْ نيم ٌْيرَخ ُهَلَ ف يةَنَسَْلْيبَ َءاَج ْنَم
َنوُلَمْعَ ي اوُناَك اَم لايإ يتاَئيِّيهسلا
Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, Maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, Maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.Selain firman Allah yang menyebut khairan, juga terdapat dalam sebuah hadits dibawah ini:
ملسو هيلع الله ىلص يهللََّا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق هنع الله يضر َةَييواَعُم ْنَعَو
:
ْنَم
ينييِّدلَا يفِ ُهْهيِّقَفُ ي اًْيرَخ يهيب ُهللََّا يديرُي
-هْيَلَع ٌقَفه تُم
Dari Muawiyah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ia akan diberi pemahaman tentang agama.” Muttafaq Alaihi.
Terdapat pula hadits yang menyatakan khairan yang telah diriwayatkan Imam Ibnu Majah sebagai berikut:
و
الله ىلص يهللََّا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق اَمُهْ نَع ُهللََّا َييضَر َرَمُع ينْبيا ينَعََ
ع
ملسو هيل
:
اَُيُ َلا ييذهلَا ْنيم ٌْيرَخ ْمُهاَذَأ ىَلَع ُيبْصَيَو َساهنلَا ُطيلاَُيُ ييذهلَا ُنيمْؤُمْلَا
َساهنلَا ُطيل
ْمُهاَذَأ ىَلَع ُيبْصَي َلاَو
ٍنَسَح ٍداَنْسييبِ ْهَجاَم ُنْبيا ُهَجَرْخَأ
Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar dengan gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar dengan gangguan mereka.” Riwayat Ibnu Majah dengan sanad hasan.
d) Karîmah, oleh Raghib al-Asfahani (2008: 79) diterangkan bah-wa ia digunakan untuk menunjukan pada perbuatan dan akhlak yang terpuji yang ditampakan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Sebagaimana telah disebutkan dalam QS. Al-Isra’: 23:
69
ََبيكْلا َكَدْنيع هنَغُلْ بَ ي اهميإ ًنَّاَسْحيإ ينْيَديلاَوْليبََو ُههييإ لايإ اوُدُبْعَ ت لاَأ َكُّبَر ىَضَقَو
اًيَيرَك لاْوَ ق اَمَُلَ ْلُقَو اَُهَْرَهْ نَ ت لاَو ٍِّفُأ اَمَُلَ ْلُقَ ت لاَف اَُهَلايك ْوَأ اَُهَُدَحَأ
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.e) Mahmûdah, menurut al-Asfahani (2008: 147) adalah mahmudah yang digunakan untuk menunjukan suatu yang utama sebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra’: 79:
اًدوُمَْمَ اًماَقَم َكُّبَر َكَثَعْ بَ ي ْنَأ ىَسَع َكَل ًةَليفَنَّ يهيب ْدهجَهَ تَ ف يلْيهللا َنيمَو
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.Orang yang mampu melaksanakan kebaikan, dalam prespektif Islam seperti sesuatu yang memiliki nilai keutamaan dalam ubudiyah baik yang wajib maupun yang sunah, baik ibadah yang mahdhah maupun ghairu mahdhah, ia bagian dari kelompok orang yang shalih. Satu sisi ia mampu melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan taat kepada Allah, pada sisi yang lain ia mampu memenuhi hal-hal yang terkait dengan urusan sesama manusia, itulah orang shalih.
f) al-Birr, menurut al-Asfahani (2008: 50) adalah digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluas atau memperbanyak melakukan perbuatan yang baik. Kata tersebut terkadang digunakan sebagai sifat Allah, maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan balasan pahala yang besar, dan jika digunakan untuk manusia, maka yang dimaksud adalah ketaatannya. Sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 177:
يهللَّيبَ َنَمآ ْنَم هيبْلا هنيكَلَو يبيرْغَمْلاَو يقيرْشَمْلا َلَبيق ْمُكَهوُجُو اوُّلَوُ ت ْنَأ هيبْلا َسْيَل
َينيِّييبهنلاَو يباَتيكْلاَو يةَكيئلاَمْلاَو يريخلآا يمْوَ يْلاَو
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.Yang dimaksud baik atau kebaikan adalah memasukkan orang-orang yang beriman kepada Allah, pada hari akhir, pada para Malaikat, pada kitab-kitab Allah dan para Nabi.
Juga terdapat dalam hadits muttafaq ‘alaih (dari Imam Bukhari dan Imam Muslim) tentang al-Birr, yaitu:
ملسو هيلع الله ىلص يهللََّا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق هنع الله يضر ٍدوُعْسَم ينْبيا ينَع
:
َْلَْا َليإ ييدْهَ ي هيبْلَا هنيإَو يِّيبْلَا َليإ ييدْهَ ي َقْديِّصلَا هنيإَف يقْديِّصليبَ ْمُكْيَلَع
ُلاَزَ ي اَمَو يةهن
َح َقْديِّصلَا ىهرَحَتَ يَو ُقُدْصَي ُلُجهرلَا
يِّديص يهللََّا َدْنيع َبَتْكُي هتَّ
َبيذَكْلاَو ْمُكهييإَو اًقي
َا ُلاَزَ ي اَمَو يراهنلَا َليإ ييدْهَ ي َروُجُفْلَا هنيإَو يروُجُفْلَا َليإ ييدْهَ ي َبيذَكْلَا هنيإَف
ُلُجهرل
ًبَاهذَك يهللََّا َدْنيع َبَتْكُي هتََّح َبيذَكْلَا ىهرَحَتَ يَو ُبيذْكَي
-
يهْيَلَع ٌقَفه تُم
Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersungguh-sungguh dengan kebohongan ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong.” Muttafaq Alaihi.
Pesan hadits tersebut berisa anjuran untuk berlaku shidiq (jujur). Ia merupakan sifat orang-orang yang mempunyai karakter terpuji. Ada bermacam-macam pengertian karakter, salah satunya menunjukkan bahwa bagaimana seseorang bertingkah laku. Jika seseorang bertingkah laku tidak jujur, tidak amanah, pembohong, kejam, rakus, sering mengujar kebencian
71 pada orang lain, dialah orang yang berkarakter tercela. Namun apabila seseorang berlaku jujur, amanah, ramah, pemurah, toleran, dialah orang yang berkarakter terpuji.