Tidak Menolong Orang yang Terzalimi
Dosa ketiga puluh, yang disebutkan sebagai dosa besar, adalah “tidak menolong orang-orang yang terzalimi” dan “tidak menghindarkan kezaliman dari mereka”.
Dalam hadis Amasy, Imam Ja’far Shadiq as berkata, “…dan tidak menolong orang yang terzalimi (adalah dosa besar).”
Membela orang yang terzalimi adalah dengan menolong mereka untuk menghindari kejahatan; tidak melakukan tugas demikian berarti melalaikan tugas besar yang telah Allah wajibkan terhadap kita.
Imam Musa Kazhim as berkata, “Jika seseorang disebabkan suatu kesulitan meminta perlindungan pada saudara muslimnya, tetapi meskipun dia mampu menolongnya namun dia tidak melakukan demikian, maka dia telah memutuskan pertolongan Allah bagi dirinya sendiri.” (Al-Kafi)
Allah tidak menolong seorang mukmin yang tidak menolong saudaranya yang seiman dan membiarkannya begitu saja.
Imam Ja’far Shadiq as menyebutkan, “Seorang mukmin meskipun mampu secara finansial tetapi dia tidak menolong saudara mukmin lainnya niscaya akan direndahkan derajatnya oleh Allah di dunia ini dan di akhirat.”
Demikian pula Imam Muhammad Baqir as mengatakan, “Tak seorang pun dari kalian yang seharusnya pergi ke suatu tempat di mana seorang penguasa tiran sedang menzalimi dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa, jika kalian tidak mampu untuk menolong orang-orang yang dizalimi. Karena apabila seorang mukmin hadir di tempat seperti itu maka menjadi kewajiban agamanya untuk menolong
saudara-Pustaka
Syiah
61
saudara mukminnya. Namun jika dia tidak hadir di tempat itu, kewajiban tersebut tidak ada.” (Safinat al-Bihâr)
Umru bin Qais mengatakan, “Sepupuku dan aku pergi menemui Imam Husain as ketika dikepung oleh tentara Yazid (la). Imam as berbicara singkat dengan kami dan kemudian bertanya, ‘Apakah kalian mau menolongku?’
Aku jawab, ‘Aku memiliki keluarga untuk diurus, di samping itu aku juga memiliki amanat-amanat dari beberapa orang yang ada padaku. Aku tidak tahu bagaimana akhir hidupku dan aku tidak ingin bahwa harta dari orang-orang yang aku miliki sebagai amanat itu akan dihancurkan’. Sepupuku juga memberikan penjelasan yang sama.”
Imam Husain as berkata, “Jika kalian tidak dapat memberikan pertolongan kepadaku, kalian harus pergi jauh dari gurun ini agar kalian tidak mungkin dapat mendengar teriakan sedihku meminta tolong. Karena jika siapa pun yang mendengar teriakan kami meminta tolong dan ia tidak menjawabnya, wajib atas Allah untuk melemparkannya ke dalam neraka.” (Safinat al-Bihâr)
Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Seorang alim Yahudi dihukum dengan palu dari api di dalam kuburnya dengan hukuman yang demikian berat hingga lidah-lidah api itu menyembur keluar dari dalam kubur. Ini karena dia melaksanakan salat tanpa wudu dan dia pernah lewat di depan seseorang yang dizalimi yang memintanya pertolongan namun dia tidak menolongnya.” (Safinat al-Bihâr)
Rasulullah saw bersabda, “Wajib menolong seorang mukmin apakah dia seorang yang menzalimi atau seorang yang dizalimi. Jika dia seorang yang menzalimi, dia harus dicegah melakukan kezaliman dan jika dia seorang yang dizalimi, dia harus ditolong dalam memperoleh hak-haknya. Orang itu seharusnya tidak dibiarkan dan ditinggalkan sendirian.” (Dâr al-Salâm)
Imam Ja’far Shadiq as berujar, “Bukanlah seorang mukmin orang yang mampu menolong tetapi tidak menolong saudaranya yang membutuhkan; Allah juga meninggalkannya sendirian dan tidak menolongnya di dunia ini tidak pula di akhirat.”
(Bihâr al-Anwar)
Pustaka
Syiah
62
Imam Muhammad Baqir as berkata, “Seseorang, yang di hadapannya aib-aib dari saudara muslimnya disebutkan, dan dia tidak berusaha menghilangkan aib-aib tersebut, padahal dia dapat melakukan demikian, maka Allah akan membuka (aib-aibnya) di dunia ini dan di akhirat.”
Dari hadis di atas dan riwayat-riwayat serupa lainnya tampak jelas bahwa kezaliman tidak terbatas pada kerugian fisik atau kesulitan keuangan. Kezaliman juga berkenaan dengan melukai kehormatan dan kemuliaan seseorang. Karena kehormatan seorang mukmin semahal nyawa dan hartanya. Mencemarkan kehormatan seorang mukmin juga haram, seperti merampas hartanya atau menghilangkan nyawanya. Hadis-hadis tersebut menekankan bahwa sebagaimana penting untuk membela nyawa dan harta seorang mukmin, maka juga wajib untuk melindungi kehormatan dan kemuliaannya. Wajib untuk menolongnya dalam membela kehormatannya.
Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Jika seseorang memberitahukan sesuatu (yang menyesatkan) kepada seorang mukmin, yang dengannya dia bermaksud membuatnya menjadi seorang manusia jahat dan karenanya kehormatan dan kemuliaannya akan hancur dan dia akan direndahkan dalam pandangan masyarakat umum dan orang-orang tidak akan memercayainya lagi atau menghormatinya, maka orang semacam ini tidak akan mendapat perlindungan Allah dan diserahkan kepada setan yang juga tidak menerimanya.” (Al-Kafi)
Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang mendengar aib-aib saudara mukminnya dalam suatu majelis dan berusaha membelanya, Allah menutup seribu pintu kejahatan darinya di dunia dan di akhirat. Namun jika dia tidak mencegah orang yang berbicara tentang aib-aib seorang mukmin meskipun mampu, dosa-dosanya akan sama dengan dosa tujuh puluh orang penggunjing.” (Makasib)
Syekh Anshari mengatakan bahwa dosanya sama dengan dengan dosa tujuh puluh orang penggunjing barangkali karena, jika orang yang menyebutkan aib-aib tersebut tidak dicegah, maka dia mungkin mengulangi perbuatan ini dalam beberapa kesempatan lainnya. Syekh selanjutnya mengatakan bahwa mencegah penggunjing tidak cukup tetapi seseorang seharusnya juga berusaha membela orang mukmin tadi dari segala tuduhan dan aib-aib semacam itu. Misalnya, jika aib menyangkut masalah
Pustaka
Syiah
63
duniawi, seseorang seharusnya mengatakan, “Bagaimanapun juga dia tidak melakukan dosa.” Jika aib itu menyangkut suatu kewajiban agama, dia harus berusaha bagaimanapun juga untuk membuktikan bahwa tuduhan tersebut salah.
Sebagai contoh, jika seorang mukmin dikatakan telah melalaikan salat, maka seseorang dapat membelanya dengan mengemukakan bahwa barangkali dia lupa untuk melaksanakannya. Jika seorang mukmin dituduh sebagai peminum minuman keras, seseorang dapat mengemukakan bahwa dia pasti telah melihatnya meminum sesuatu yang lain, atau sebagai upaya pembelaan terakhir seseorang dapat mengatakan, “Bagaimanapun juga, dia bukan seorang maksum. Seorang manusia itu adakalanya cenderung untuk berbuat dosa, jadi daripada menggunjing tentangnya, engkau seharusnya berusaha memperbaikinya dan menolongnya dalam kesulitan-kesulitannya.”
Dengan demikian, seseorang seharusnya melakukan setiap upaya membela saudara mukminnya dari dipermalukan seperti itu. Detail-detail tentang ini akan dibahas pada bab tentang menggunjing.
Hanya Orang yang Meminta Pertolongan yang Harus Ditolong Kita seharusnya tahu bahwa menolong seseorang yang dizalimi tidak menjadi wajib, hanya apabila mereka meminta pertolongan. Setiap orang yang mampu menghilangkan kesulitan-kesulitan dari seorang mukmin harus melakukan demikian.
Jika seorang miskin meminta pertolongan, itu jauh lebih penting. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Orang yang mendengar permintaan tolong dari seseorang,
‘Wahai kaum muslim! Tolonglah aku’, dan tidak menolongnya, dia bukan seorang muslim.” (Wasail al-Syi’ah)
Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Jika seseorang meminta saudara muslimnya untuk menolongnya tetapi dia tidak memberi pertolongan meskipun dia cukup mampu untuk itu, Allah Swt akan menempatkan seekor ular besar dari (ular-ular) neraka di dalam kuburnya sehingga ular itu terus menerus dapat menggigitnya.” (Mustadrak) Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa orang seperti itu akan terus menerima hukuman ini hingga hari kiamat meskipun dia telah diampuni (untuk dosa-dosa lain).
Pustaka
Syiah
64
Ada beberapa hadis jenis ini dari para Imam as. Imam Ali Zainal Abidin as mengatakan, “Dosa yang mengakibatkan turunnya bencana adalah apabila seseorang tidak merespon permintaan tolong dari orang-orang yang tidak berdaya.”
(Maani al-Akhbâr)
Kemudian Imam as berdoa kepada Allah dengan mengatakan,
“Ya Allah! Aku memohon ampun untuk waktu ketika seseorang dizalimi di hadapanku dan aku tidak menolongnya. Aku memohon perlindungan pada-Mu karena tidak menolong yang terzalimi dan si miskin.” (Shahifah al-Sajjadiyah)
Hadis-hadis tentang masalah ini banyak dan tersebar luas. Biarlah kami cukupkan dengan hadis-hadis yang telah kami bahas.
Menolong Orang yang Dizalimi Tidak Hanya Bagi Orang-Orang Mukmin
Menolong orang yang dizalimi adalah wajib. Ini tidak bermakna bahwa wajibnya hanya untuk menolong orang-orang mukmin yang terzalimi. Perintah untuk menolong orang yang terzalimi menurut penjelasan al-Quran dan hadis-hadis hanya bersifat kondisional sejauh menyangkut kemampuan orang yang menolong.
Meskipun orang-orang yang terzalimi bukanlah orang-orang Syi'ah dan mereka termasuk mazhab-mazhab kaum muslim lainnya, tetap wajib untuk menolong mereka. Bahkan jika seorang kafir non-ofensif terzalimi, perintah amr ma’ruf nahi munkar memerintahkan bahwa dia harus ditolong dan kejahatan harus dilenyapkan.
Ada sebuah peristiwa dalam kitab Muntahul Âmâl bahwa Manshur Dawaniqi berada di Mekkah ketika berlian mahal dibawa kepadanya. Berlian itu untuk dijual. Ketika Manshur melihat berlian itu, dia mengenal bahwa berlian itu milik Hisyam bin Abdul Malik dan seharusnya diserahkan kepadanya (Manshur). Karena Muhammad bin Hisyam masih hidup, dia harus menjualnya kepadanya. Dia memerintahkan para pengawalnya untuk menutup semua pintu masjid setelah salat Subuh esok harinya dan membiarkan orang banyak untuk lewat hanya dari satu pintu setelah dilakukan pemeriksaan ketat. Ketika Muhammad bin Hisyam ditemukan, dia harus ditahan dan dibawa kepadanya.
Pustaka
Syiah
65
Ketika pada esok harinya setelah salat Subuh berjemaah semua pintu ditutup dan diumumkan bahwa orang banyak harus lewat dari satu pintu keluar, Muhammad bin Hisyam menyadari bahwa itu adalah rencana jahat untuk menangkapnya. Dia menjadi takut dan memandang ke sana dan ke sini dalam kebingungan dan kecemasan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tepat pada saat itu Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husain datang kepadanya dan bertanya, “Siapakah engkau? Mengapa engkau begitu ketakutan?”
Muhammad bin Hisyam bertanya, “Jika aku mengungkapkan identitasku, akankah nyawaku aman?” Muhammad bin Zaid menjawab, “Ya! Aku bersumpah untuk menghilangkan bahaya ini darimu.”
Muhammad bin Hisyam berkata, “Aku, Muhammad bin Hisyam bin Abdul Malik.
Sekarang beritahukan siapakah engkau?”
Muhammad bin Zaid berkata, “Aku, Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husain.
Sesungguhnya datukmu Marwan telah membunuh ayahku secara zalim, tetapi jangan khawatir, engkau aman. Menghilangkan nyawamu tidak akan membalas darah ayahku yang tidak berdosa dan engkau sendiri tidak membunuh ayahku.
Sekarang aku akan berusaha keras menyelamatkanmu dari bahaya ini. Aku telah memikirkan jalan keluar dari ini. Aku inginkan engkau bekerja sama denganku dan berjanji kepadaku bahwa engkau sama sekali tidak takut dan menaruh kepercayaanmu padaku.”
Demikianlah, Muhammad bin Zaid menutupi kepala dan wajah Muhammad bin Hisyam dengan jubahnya sendiri dan menariknya menuju pintu keluar dengan memukulnya di setiap langkah. Ketika mereka sampai di pintu keluar ia memberitahukan pengawal dengan suara keras, “Manusia celaka ini adalah penunggang unta dari Kufah. Ia telah menyewa seekor unta dariku tetapi ia melarikan diri dan ia memberi unta itu kepada seseorang lain. Aku juga memiliki dua saksi yang adil untuk mendukung klaimku ini. Engkau dapat mengirim wakil-wakilmu bersamaku dan aku akan membawanya kepada Kadi untuk diadili.” Rabi, kepala pengawal memerintahkan dua orang wakilnya untuk menyertai mereka dan mereka keluar dari masjid bersama-sama. Ketika mereka berjalan beberapa jauhnya, Muhammad bin Zaid berkata kepada Muhammad bin Hisyam, “Masih ada waktu
Pustaka
Syiah
66
bagimu untuk bertobat dan berjanji untuk mengembalikan uangku, aku tidak akan menyusahkan para pengawal ini dan Kadi jika engkau meyakinkan aku.”
Muhammad bin Hisyam mengangkat tongkat dan berkata, “Wahai putra Rasulullah!
Aku berjanji untuk melakukan sebagaimana engkau katakan.”
Muhammad bin Zaid memberitahukan para pengawal bahwa karena orang ini telah bertobat, maka tidak perlu lagi bagi mereka untuk terlalu merisaukan. Para pengawal meninggalkan mereka. Muhammad bin Hisyam membuka jubah dari wajahnya dan mencium wajah dan kepala Muhammad bin Zaid dan mengatakan, “Allah mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya hingga Dia menunjuk Nabi dari keluargamu.”
Kemudian ia mengeluarkan berlian mahal itu dari sakunya dan meminta Muhammad bin Zaid untuk menerimanya sebagai imbalan karena ia telah menyelamatkan nyawanya, namun Muhammad bin Zaid menolak dengan mengatakan, “Aku berasal dari keluarga yang tidak menerima apa pun sebagai imbalan bagi suatu perbuatan baik. Apabila aku memaafkan pembunuhan ayahku, berapa nilai berlian ini bagiku?
Aku tidak bisa menerimanya.”
Ahli Ibadah Tenggelam Ke Dalam Tanah
Syekh Thusi meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as: “Ada seorang lelaki tua Bani Israil. Dia sedang berdoa ketika dia melihat dua orang anak menangkap seekor burung dan ditarik bulu burungnya. Burung itu menjerit kesakitan. Namun dia tetap asyik dalam doa-doanya dan tidak menolong burung yang malang itu dengan melepaskannya dari cengkeraman anak-anak nakal tadi. Maka Allah Swt memerintahkan bumi untuk menelan lelaki ini, menghisapnya ke kedalaman bumi yang paling rendah.”
Balasan Duniawi dan Surgawi Bagi Mereka yang Menolong Orang Beriman
Sejumlah besar hadis telah sampai kepada kita yang menekankan pentingnya menolong dan membantu seorang mukmin dan ganjaran yang diperoleh oleh orang-orang yang berbuat demikian. Marilah kita mengkaji sebagian dari hadis-hadis ini.
Pustaka
Syiah
67
Imam Ja’far Shadiq as mengatakan, “Barangsiapa yang merespon permintaan pertolongan dari saudara mukminnya yang mengalami kesulitan, membuatnya gembira, menolongnya dan memenuhi kebutuhannya, maka Allah menjadikan tujuh puluh dua nikmat wajib atasnya. Salah satu dari nikmat-nikmat ini diberikan kepadanya di dunia ini sehingga dia dapat menyelesaikan persoalan duniawinya dan tujuh puluh satu nikmat lainnya disediakan baginya untuk menghilangkan ketakutan dan kesulitan akhiratnya.” (Wasail al-Syi’ah)
Imam Ja’far Shadiq as juga mengatakan, “Jika seseorang berusaha memenuhi kebutuhan seorang mukmin dan dia menyempurnakannya, Allah Swt menulis dalam catatan amalannya berupa pahala melaksanakan ibadah haji, umrah dan iktikaf selama dua bulan di Masjidilharam dan pahala berpuasa dua bulan. Namun jika kebutuhan itu dipenuhi secara tidak sempurna, tercatat baginya pahala haji dan umrah.” (Al-Amr bi al-Ma’ruf)
Imam as juga menyebutkan bahwa diwahyukan atas Nabi Daud as bahwa, “Apabila suatu perbuatan baik dari salah seorang hamba-Ku sampai kepada-Ku niscaya Aku akan menganugerahinya surga.”
Daud as bertanya, “Tuhanku! Perbuatan apakah itu?”
Allah berfirman, “Menghilangkan kesedihan dan kesulitan dari seorang mukmin, meskipun itu hanya sedikit kurma yang dia berikan kepadanya.”
Daud as berkata, “Hanya Engkau ya Allah Yang memiliki keagungan sedemikian hingga apabila seseorang mengenal-Mu, dia pasti tidak pernah berputus asa dari rahmat-Mu.”
Dikutip dari Maimun bin Mahram dalam kitab Faqih, “Aku sedang duduk di majelis Imam Hasan as ketika seseorang masuk dan berkata, ‘Wahai putra Rasulullah! Aku berutang kepada si fulan dan sekarang dia ingin memenjarakan aku.’
Imam as berkata, ‘Aku tidak memiliki uang untuk melunasi utangmu’.
Dia berkata, ‘Barangkali engkau dapat berbicara kepadanya agar dia tidak akan memasukkanku ke dalam penjara.’
Pustaka
Syiah
68
Imam as bangkit dan mengenakan sepatunya. Aku berkata, ‘Wahai putra Rasulullah!
Apakah engkau lupa bahwa engkau sedang melakukan iktikaf dan tidak dapat keluar dari masjid?’
Imam as berkata, ‘Aku tidak lupa, namun aku telah mendengar ayahku mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Orang yang berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan saudara mukminnya seolah-olah dia selama 9000 tahun berpuasa di siang harinya dan melaksanakan salat sepanjang malamnya.’”
Surat Imam Ja’far Shadiq as kepada Penguasa Ahwaz
Ketika Najasyi menjadi penguasa Ahwaz, ada seseorang yang menjadi pelayannya yang memohon kepada Imam Ja’far Shadiq as dengan berkata, “Aku berutang sejumlah uang kepada penguasa dan dia adalah seorang Syi'ah. Jika Anda merasa patut, tolong tulis surat kepadanya mengenai masalah ini.”
Imam as menulis surat,
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Senangkanlah saudaramu agar Allah berkenan menyenangkanmu.” (Ushul al-Kafi)
Perawi mengatakan bahwa ketika orang itu pergi menemui Najasyi, dia sedang sibuk dalam masalah pemerintahan. Ketika tidak sibuk, dia menyerahkan surat tersebut kepada Najasyi dengan mengatakan bahwa surat itu dari Imam Ja’far Shadiq as.
Najasyi mencium surat tersebut dan menyentuhkannya pada matanya dan bertanya,
“Apa masalahnya?” Dia mengatakan kepadanya bahwa dia berutang sejumlah pajak.
Najasyi bertanya, “Berapa banyak?” Dia menjawab, “Sepuluh ribu dirham.” Najasyi memanggil akuntannya dan memberitahunya untuk mencatat utangnya sebagai lunas dan menutup akunnya dalam daftar. Kemudian Najasyi selanjutnya mengatakan bahwa untuk tahun berikutnya juga jumlah pajak ini harus ditandai sebagai lunas. Lalu Najasyi berpaling kepadanya dan bertanya, “Apakah aku telah membuatmu bahagia?” “Ya!” jawab lelaki itu.
Kemudian Najasyi meminta seekor kuda dan seorang budak membawanya. Dia memesan sebuah baju dan memberikannya kepada lelaki itu. Di setiap langkah ia selalu bertanya, “Apakah aku telah membuatmu bahagia? Apakah aku telah membuatmu bahagia?” Lelaki itu selalu menjawab, “Ya! Ya! Semoga aku menjadi
Pustaka
Syiah
69
tebusan bagimu, Ya!” Akhirnya, Najasyi mengatakan kepadanya untuk juga mengambil permadani yang dia sedang duduk di atasnya. Karena, katanya, “Di atas permadani inilah, engkau menyerahkan surat ini dari Maulaku, Imam as, dan jika engkau ada kebutuhan lain, katakan kepadaku.”
Lelaki itu sangat berterima kasih kepadanya. Dia kembali kepada Imam as dan menceritakan segala detailnya. Imam as sangat senang dengan perilaku Najasyi.
Lelaki itu bertanya, “Wahai Maulaku! Apakah engkau senang dengan respon Najasyi?”
Imam as menjawab, “Demi Allah! Najasyi juga telah membuat rida Allah, Rasul-Nya (saw) dan Ahlulbaitnya.”
Yaqthin, ayah dari Ali bin Yaqthin, meriwayatkan bahwa salah seorang akuntan dari Yahya bin Khalid ditunjuk untuk mengumpulkan pajak dari daerah mereka. Yaqthin mengatakan, “Pada waktu itu aku berutang sejumlah besar pajak. Jika semua pajak harus dibayar, aku harus menjual seluruh hartaku. Beberapa orang mengemukakan bahwa dia adalah seorang Syi'ah. Namun aku terlalu takut untuk mendekatinya seandainya dia ternyata bukan seorang Syi'ah dan akan memaksaku untuk memberikan seluruh hartaku, karena aku adalah seorang pengikut Ali as. Aku memutuskan untuk melarikan diri dari tempat itu dan pergi ke Mekkah. Setelah menyelesaikan ibadah haji, aku memutuskan untuk mengunjungi Madinah dan mengenalkan diriku di hadapan Imam Ja’far Shadiq as dan berkata kepada beliau, ‘Si fulan telah ditunjuk sebagai pengumpul pajak namun aku terlalu takut untuk mendekatinya karena khawatir bahwa dia mungkin bukan salah seorang dari pendukungmu.’ Imam as berkata kepadaku bahwa tidak ada alasan bagiku untuk khawatir dan beliau menulis catatan singkat:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Ada banyak orang di dalam naungan-Nya yang para walinya hanyalah orang-orang yang menghilangkan kesedihan dan kesulitan dari saudara-saudara mereka atau memberikan mereka kesempatan atau berbuat suatu kebaikan kepada mereka meskipun itu berupa separuh dari sebutir kurma kering, dan orang ini adalah saudaramu.
Pustaka
Syiah
70
Imam as membubuhi stempelnya pada akhir catatan tersebut dan menyerahkan catatan itu kepadaku dengan mengatakan, ‘Berikan ini kepadanya.’ Ketika aku kembali ke kota kelahiranku dan pergi ke pintunya, aku berkata, ‘Aku telah diutus oleh Imam Ja’far Shadiq as.’ Dia berlari ke pintu bertelanjang kaki. Ketika melihatku, dia memberi salam kepadaku, mencium dahiku dan bertanya apakah Maulanya telah mengutus aku. Aku menjawab ‘ya’ dan dia berkata, ‘Jika ini demikian, nyawaku pun siap kukorbankan.’ Dia menggenggam tanganku dan memintaku untuk menceritakan kepadanya dalam kondisi apakah Imam as ketika aku berangkat. Aku katakan kepadanya bahwa Imam as dalam kondisi baik. ‘Demi Allah? Ya, demi Allah?’ Dia menanyakan ini tiga kali dan setelah itu aku menyerahkan kepadanya catatan yang ditulis tangan oleh Imam as. Dia mencium catatan itu dan menyentuhkannya pada matanya. Lalu dia bertanya kepadaku apa yang aku inginkan darinya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku berutang pajak beberapa ribu dirham dan aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk membayarnya. Dia meminta data-dataku dan memaafkan pajak yang harus dibayar olehku dan memberiku secarik kuitansi.
Setelah ini dia meminta brankas uangnya dan memberikan separuh uangnya untukku. Kemudian dia meminta kuda-kudanya dan membagikannya secara merata di antara kami. Setelah ini dia mengambil pakaian-pakaiannya dan membagikannya secara merata di antara kami. Ketika dia selesai membagikan seluruh miliknya dan memberiku separuhnya, dia berkata, ‘Wahai saudaraku! Apakah aku telah membuatmu rida?’ Kujawab, ‘Ya, demi Allah!’
Ketika tiba waktu untuk haji aku berkata kepada diriku bahwa aku tidak pernah dapat membalas kebaikannya kecuali untuk apa yang sangat disukai oleh Allah dan
Ketika tiba waktu untuk haji aku berkata kepada diriku bahwa aku tidak pernah dapat membalas kebaikannya kecuali untuk apa yang sangat disukai oleh Allah dan