• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

E. Pemikiran KH. A. Wahid Hasyim

3. Bidang Pendidikan

Dalam pemikirannya di bidang pendidikan, Wahid Hasyim memulainya dari perubahan secara perlahan-lahan pada Pondok Pesantren Tebuireng.

Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari

pada tahun 1899 M ini pada awalnya hanya berupa sebuah bedeng berbentuk bujur sangkar, dibagi menjadi dua ruangan. Bagian belakang berfungsi sebagai tempat tinggal Kyai dan keluarganya, sedangkan yang lainnya untuk tempat shalat dan belajar para santri yang berjumlah 28 orang.

Pendidikan semula berlangsung secara pengajian sorogan dan bandongan.

Sejak tahun 1916 mulai dirintis pendidikan dalam bentuk klasikal, meskipun masih sangat sederhana. Baru pada tahun 1926 pendidikan banyak mengalami penyempurnaan baik kurikulum maupun metodenya, termasuk adanya tambahan pelajaran umum yang meliputi Bahasa Indonesia, Ilmu Bumi dan berhitung.

Sebagaimana diketahui, memang pada dasarnya pesantren memiliki kultur

yang khas yang berbeda dengan budaya sekitarnya─dan cara pengajarannya

yang unik. Sang kyai, yang biasanya adalah pendiri sekaligus pemilik pesantren, membacakan manuskrip-manuskrip keagamaan klasik berbahasa Arab (dikenal

dengan sebutan “Kitab Kuning”), sementara para santri mendengarkan sambil

member catatan pada kitab yang sedang dibaca. Metode ini disebut bandongan

atau layanan kolektif. Selain itu, para santri juga ditugaskan membaca kitab, sementara kyai atau ustadz yang sudah mumpuni menyimak sambil mengoreksi

dan mengevaluasi bacaan dan performance seorang santri. Metode ini dikenal

dengan istilah sorogan atau layanan individual. Kegiatan belajar-mengajar

tersebut berlangsung tanpa adanya penjenjangan kelas dan kurikulum yang ketat,

dan biasanya dengan memisahkan jenis kelamin siswa19, antara laki-laki dengan

perempuan. Selain itu, jumlah teks klasik yang diterima di pesantren sebagai

19

51

ortodoks (al-kutub al-mu’tabarah) pada prinsipnya terbatas. Ilmu yang

bersangkutan dianggap sesuatu yang sudah bulat dan tidak dapat ditambah; hanya bisa diperjelas dan dirumuskan kembali. Meskipun terdapat karya-karya baru, namun kandungannya tidak berubah.

Melihat itu semua, ada kekhawatiran akan adanya kemunduran atau kemerosotan mutu pendidikan dan pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Karena materi yang diajarkan hanyalah materi-materi dan ilmu-ilmu keagamaan. Anak didik atau santri akan lebih senang mengikuti pemikiran ulama terdahulu dari pada berusaha melahirkan penemuan-penemuan baru, mereka terpesona terhadap buah pikiran masa lampau sehingga merasa cukup dengan apa yang sudah ada, dan pada akhirnya mereka tidak mampu untuk

memunculkan gagasan-gagasan keagamaan yang cemerlang.20

Guna meningkatkan pendidikan di Tebuireng, KH. Hasyim Asy’ari telah

menunjuk kepada Wahid Hasyim dan Muhammad Ilyas (sebelumnya telah diutus untuk belajar di Mekkah) untuk mengembangkan pendidikan di Tebuireng. Kesempatan baik ini, dimanfaatkan oleh mereka berdua untuk mengadakan pembaruan dalam tiga bidang yakni: a) memperluas pengetahuan para santri, b) memasukkan pengetahuan modern ke dalam kurikulum madrasah, dan c) meningkatkan sistem pengajaran bahasa Arab secara aktif. Karena disadari, bahwa pendidikan menentukan adanya objek yang menjadi permasalahan, dan membawa suatu proses kearah tercapainya tujuan yang telah terlebih dahulu ditetapkan.

Dengan keadaan seperti tersebut di atas , sebagai orang yang ditunjuk untuk melanjutkan usaha pendidikan yang dibangun oleh ayahandanya, Wahid Hasyim kemudian mengajukan beberapa usulan pembaruan pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng. Di antaranya mengenai metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar dan tujuan atau harapan santri belajar di pesantren dan pengenalan mata pelajaran dari Barat.

Mendudukkan para santri dalam posisi sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak

20

52

usia muda. Wahid Hasyim tidak ingin melihat santri berkedudukkan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah langsung membina pondok pesantren asuhan ayahandanya.

Keterbukaan terhadap segala hal yang baru dan pemikiran yang cukup maju dari Wahid Hasyim dapat dilihat ketika beliau mengusulkan adanya perubahan kurikulum di pondok pesantren. Ide yang ditawarkan adalah

memasukkannya ilmu pengetahuan “sekuler” dalam kurikulum pesantren. Hal

ini dimaksudkan agar santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu-ilmu pengetahuan modern Barat. Dengan dikuasainya kedua ilmu tersebut, santri, dalam pandangan Wahid Hasyim akan menjadi manusia

yang sempurna.21

Meski tidak pernah mengeyam pendidikan modern, wawasan berpikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Hal ini dapat diduga sebagai hasil dari luasnya bacaan dia, sebagaimana telah disinggung pada latar belakang pendidikan beliau di atas. Wawasan ini kemudian diaplikasikan dalam

kegiatan-kegiatan sosial dan pendidikan. Pada 1935 misalnya, bersama KH. Ilyas─yang

kemudian juga menjadi Menteri Agama─ Wahid Hasyim mendirikan Madrasah

Nizhamiyah yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama tapi juga ilmu-ilmu umum, termasuk bahasa Belanda dan Inggris. Apa yang dilakukan Wahid Hasyim bersama teman karibnya ini jelas merupakan inovasi baru bagi kalangan pesantren. Pada saat itu, pelajaran umum masih dianggap hal tabu oleh pesantren karena dipandang identik dengan Barat atau penjajah yang memperkenalkan ilmu tersebut ke Indonesia. Kebencian mendalam terhadap penjajah membuat pesantren mengharamkan semua yang berkaitan dengannya, seperti memakai dasi dan topi, di samping ilmu pengetahuan umum tersebut. Tidak mengherankan bila Wahid Hasyim, khususnya, dan pesantren Tebuireng, umumnya, mendapat kritikan banyak pesantren karena langkah baru tadi. Namun Wahid Hasyim dengan yakin melanjutkan usahanya ini, karena dia

21

Karel Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES, 1974), h. 72; lihat juga Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1979), h. 63 dan 268

53

melihat bahwa tidak semua yang datang dari Barat itu jelek atau tercela, apalagi dalam hal ilmu pengetahuan.

Usaha Wahid Hasyim ini juga dapat dilihat sebagai pengaruh dari

perkembangan pendidikan saat itu. Sejak diperkenalkannya “politik etis” oleh

Belanda─yang kemudian memberikan kesempatan belajar bagi sebagian kecil

masyarakat Indonesia─dan didorong semangat pembaruan yang berasal dari

Timur Tengah, umat Islam Indonesia pada akhir abad 19 dan awal abad 20 mulai mengembangkan sistem pendidikan moderen. Para pengelola pendidikan Islam tidak hanya mengubah pendidikan tradisional, seperti pesantren, ke bentuk madrasah atau pendidikan klasikal; sebagian mereka mengembangkan sistem pendidikan Barat yang dimuati nilai-nilai Islam, seperti dilakukan Muhammadiyah. Pada 1930-an telah dijumpai banyak sekolah moderen Islam yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum ditambah dengan pelajaran-pelajaran agama. Hal inilah yang tampaknya ikut mempengaruhi Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nizhamiyah di atas.

Dalam intitusi baru yang didirikan Wahid Hasyim ini, dia menggunakan ruang kelas dengan kurikulum 70% pelajaran umum dan 30% pelajaran agama. Pelajaran sekuler yang diajarkan di Madrasah Nizhamiyah adalah aritmatika, sejarah, geografi dan ilmu pengetahuan alam. Sebagai tambahan, santri diajari pelajaran bahasa, yakni bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Keterampilan mengetik juga diberikan untuk meningkatkan kualitas keterampilan santri.

Mengenai keefektifan metode yang digunakan di pesantren, Wahid Hasyim mengusulkan untuk mengadopsi sistem tutorial, sebagai ganti dari

metode bandongan. Menurutnya, metode bandongan sudah sangat tidak efektif

dalam mengembangkan inisiatif santri. Hal ini disebabkan di mana metode

bandongan diterapkan, santri dating hanya untuk mendengar, menulis dan

menghafal pelajaran yang diberikan; tidak ada kesempatan bagi santri untuk mengajukan pertanyaan atau bahkan mendiskusikan pelajaran. Wahid Hasyim

secara jelas menyimpulkan bahwa metode bandongan membuat santri pasif.

Wahid Hasyim juga mencoba untuk mengoreksi harapan santri belajar di pesantren. Dia mengusulkan agar kebanyakan para santri yang datang ke

54

pesantren tidak berharap menjadi ulama. Oleh karena itu, mereka tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam mengakumulasikan ilmu agama melalui teks-teks Arab. Mereka dapat memperoleh ilmu agama dari buku-buku yang ditulis dengan huruf Latin, dan menghabiskan sisa waktunya untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dibarengi kemampuan menguasai keterampilan yang berguna secara langsung di tengah masyarakat di mana mereka berada. Hanya sebagian kecil saja yang memang disiapkan menjadi ulama yang diajari bahasa Arab dan karya-karya klasik.

Langkah yang diambil, di samping untuk latihan mengoperasionalkan ilmu pengetahuan juga untuk mencoba menjajaki kondisi pendidikan yang sebenarnya sedang berkembang di masyarakat Islam pada waktu itu. Selanjutnya usaha meningkatkan ilmu pengetahuan, Wahid Hasyim merintis perpustakaan pribadi yang dipenuhi koleksi buku-buku agama dan ilmu pengetahuan umum. Dia juga berlangganan majalah-majalah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang mengungkap masalah-masalah agama, pendidikan, politik dan kehidupan yang

dialami oleh berbagai umat Islam di dunia.22

Semua buku dan majalah yang beliau punyai ditempatkan dalam perpustakaan dan beliau menganjurkan kepada santrinya untuk membacanya. Apa yang dilakukan Wahid Hasyim ini adalah untuk mendukung idenya bahwa umat Islam, khususnya generasi muda, harus banyak membaca.

Di samping itu, pada tahun 1936 didirikanlah Ikatan Pelajar-pelajar Islam (IKPI) yang dipimpin oleh Wahid Hasyim sendiri.

Bahkan ketika Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama (1949-1952) banyak hal pembaruan dalam usaha dan jasa di bidang pendidikan dan pengajaran Islam, yang kebetulan pada waktu itu yang menjadi penghubung pendidikan agama kantor Pusat Kementerian Agama adalah Mahmud Yunus. Di antara jasa-jasanya itu adalah sebagai berikut:

a. Mengeluarkan peraturan tentang: susunan dan tugas kewajiban Kantor

Pusat Kementerian Agama, Jawatan Pendidikan Agama dan Jawatan

22

55

Penerangan Agama. (Peraturan Menteri Agama No.2 tahun 1951 tanggal 12 januari 1951).

b. Mengeluarkan Peraturan Bersama Menteri PPK dan Menteri Agama

tentang: Pendidikan Agama di sekolah-sekolah Negeri dan Partikelir pada 20 Januari 1951.

c. Menyusun top formasi pegawai Kantor Pendidikan Agama di

Propinsi-propinsi dan Kabupaten-kabupaten seluruh Indonesia (pada tanggal 27 Januari 1951).

d. Mendirikan kantor-kantor pendidikan agama di propinsi-propinsi dan

kabupaten-kabupaten seluruh Indonesia (pada tanggal 30 Januari 1951).

e. Mendirikan Sekolah Guru Hakim Agama (SGHA) Negeri di Kotaraja

(Aceh) pada tanggal 13 Februari 1951.

f. Mendirikan Sekolah Guru Hakim Agama (SGHA) Negeri di Bukit Tinggi

(Sumatera Tengah) pada tanggal 31 Februari 1951.

g. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Tanjung Pinang

(Sumatera Tengah) pada tanggal 31 Mei 1951.

h. Mengusahakan keluarnya Putusan Menteri PPK dan persetujuan Menteri

Agama tentang penghargaan ijazah-ijazah madrasah (pada tanggal 17 Juli 1951).

i. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Kotaraja (pada

tanggal 14 Agustus 1951).

j. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Padang (pada

tanggal 16 Agustus 1951).

k. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Banjarmasin (pada

tanggal 16 Agustus 1951).

l. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Jakarta (pada

tanggal 16 Agustus 1951).

m. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Tanjung Karang

(Sumatera Selatan) pada tanggal 16 Agustus 1951).

n. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Bandung (pada

56

o. Mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Pamekasan (pada

tanggal 08 Agustus 1951).

p. Mendirikan Sekolah Guru Hakim Agama (SGHA) Negeri di Bandung

(pada tanggal 02 Agustus 1951).

q. Menetapkan rencana pendidikan Islam di sekolah-sekolah Rakyat dari

kelas IV—VI (pada tanggal 06 Mei 1951).

r. Menetapkan rencana pelajaran agama Islam di Sekolah-sekolah Lanjutan

Tingkat Pertama (pada tanggal 31 Agustus 1951).

s. Mengeluarkan peraturan bersama Menteri PPK dan Menteri Agama

tentang peraturan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta (pada tanggal 21 Oktober 1951).

t. Dan lain-lain, yang berhubungan dengan pendidikan agama.

Maksud dari itu semua, bahwa beliau juga menyadari, sejak sistem pendidikan Nasional mengadopsi sistem Barat yang memfokuskan pendidikan pada pelajaran sekuler, banyak hal yang hilang dari pendidikan terutama yang berkaitan dengan nilai dan moral. Hal ini menjadi perhatiannya karena, pendidikan yang menjadi motor penggerak kemajuan Indonesia tidak hanya persoalan perkembangan akal atau badan dan keterampilan belaka, akan tetapi juga persoalan perkembangan spirit yang hanya dapat dicapai melalui pendidikan agama. Oleh karena itu, beliau menekankan bahwa sistem pendidikan Nasional harus memasukkan pelajaran agama dan harus diberikan secara seimbang dengan pelajaran umum. Perdebatan mengenai apakah pelajaran agama harus diberikan di sekolah pemerintah (Negeri) atau tidak, akhirnya mengeluarkan SK bersama antara Kementrian Agama dengan Kementrian Pendidikan yang menyatakan bahwa pelajaran agama harus diberikan sejak kelas IV, dan sekolah menengah selama dua jam dalam seminggunya. Berkat usaha Wahid Hasyim dalam kabinet, pemerintah mengeluarkan peraturan tertanggal 21 Januari 1951 yang mewajibkan pelajaran

agama harus diajarkan di sekolah “sekuler”.

Pendeknya, pada masa Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama dan Mahmud Yunus sebagai Penghubung Pendidikan Agama, banyaklah

usaha-57

usaha yang dilaksanakan untuk kemajuan pendidikan agama seluruh Indonesia. Pada masa itulah (1951), lahir SGHA dan PGA di luar pulau Jawa, dengan rencana pelajaran yang sama; dan pada masa itu, lahirlah persatuan rencana pelajaran agama di sekolah-Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (rencana Panitia,

kemudian disahkan oleh Menteri Agama dan Menteri PPK). 23

Pada masa itu, 1951, telah ada jawatan Pendidikan Agama yang berkedudukan di Yogyakarta. Sebab itulah diadakan Penghubung Pendidikan Agama di Pusat Kementerian Agama di Jakarta yang dikepalai oleh Mahmud Yunus.

Dokumen terkait