PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM
KH. A. WAHID HASYIM
(Menteri Agama RI 1949-1952)
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Oleh
MULYANTI NIM: 106011000116
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM
KH. A. WAHID HASYIM
(Menteri Agama RI 1949-1952)
SkripsiDiajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memenuhi Gelar Sarjana Pendidikan Islam
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Oleh: Mulyanti
NIM: 106011000116
Di Bawah Bimbingan:
Dr. H. Abd. Madjid Khon, M.Ag
NIP: 19580707 1987031005
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
KEMENTERIAN AGAMA No. Dokumen : FITK-FR-AKD-078
UIN JAKARTA FORM (FR) Tgl. Terbit : 08 Juli 2010
FITK No. Revisi: : 002
Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia Hal : 1/1
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Mulyanti
Tempat/ Tgl. Lahir : Jakarta, 25 Mei 1989
NIM : 106011000116
Jurusan/ Prodi : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : “Pembaruan Pendidikan Islam KH. A. Wahid
Hasyim (Menteri Agama RI 1949-1952)”
Dosen Pembimbing : Dr. H. Abd. Madjid Khon, M. Ag
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis. Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.
Jakarta, 03 Maret 2011 Mahasiswa Ybs.
Materai 6000
Mulyanti
ii
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Pembaruan Pendidikan Islam KH. A. Wahid Hasyim
(Menteri Agama RI 1949-1952)”, ditulis oleh Mulyanti (1060110000116) di bawah
bimbingan Dr. H. Abd. Madjid Khon, M.Ag. Skripsi ini mendeksripsikan mengenai Pembaruan yang dilakukan KH. A. Wahid Hasyim dalam rangka memajukan pendidikan Islam di Indonesia ketika menjabat sebagai Menteri Agama RI.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriftif dan pendekatan historis, melalui kajian pustaka (kualitatif) yakni mencari data dari berbagai buku-buku referensi dan wawancara.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui, mengidentifikasi dan mengungkap usaha-usaha pembaruan yang dilakukan oleh KH. A. Wahid Hasyim dalam pendidikan Islam pada masanya.
iii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiim
Puja dan puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam tercurahkan kepada Rasulullah SAW, keluarga dan sahabatnya.
Selanjutnya, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang membantu kelancaran penulisan skripsi ini, baik berupa dorongan moril maupun materil. Karena penulis yakin tanpa bantuan dan dukungan tersebut, sulit rasanya bagi penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Disamping itu, izinkan penulis untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Bapak Prof. Dr. H. Dede
Rosyada, M.A, serta para pembantu dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Bapak Bahrissalim, M.Ag, dan
Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Bapak Sapiudin Shidiq, M.Ag, beserta seluruh staffnya.
3. Bapak Dr. H. Abd. Madjid Khon, M.Ag, yang telah meluangkan waktunya
untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah
memberikan ilmunya kepada penulis, semoga Bapak dan Ibu dosen selalu dalam rahmat dan lindungan Allah SWT. Sehingga ilmu yang telah diajarkan dapat bermanfaat dikemudian hari.
5. Ungkapan terima kasih dan penghargaan yang sangat spesial penulis haturkan
iv
kiranya merupakan dorongan moril yang paling efektif bagi kelanjutan studi penulis hingga saat ini.
6. Keluarga Besar KH. A. Wahid Hasyim, terkhusus Bapak KH. Salahuddin
Wahid (Gus Sholah) yang telah memberikan bantuan kepada penulis untuk mendapatkan informasi mengenai biografi dan pemikiran dari KH. A. Wahid Hasyim yang mendukung penyelesaian skripsi ini.
7. Bapak pimpinan beserta para staff Perpustakaan Utama, Perpustakaan
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, atas segala kemudahan yang diberikan kepada penulis untuk mendapatkan referensi yang mendukung penyelesaian skripsi ini.
8. Kawan-kawanku Mahasiswa UIN khususnya kawan-kawan seperjuangan
Jurusan Pendidikan Agama Islam 2006 Kelas C dan peminatan Sejarah, Jaka Lelana, Ephee, Fuzie, Hasmidar, Yunie, Lesti, Ida Afandi, beserta kawan-kawan jejaring sosial (Facebook, Twitter, Yahoo), yang selalu memberikan support kepada penulis.
9. Seseorang terdekat dan terkasih, suami dari penulis: Muhammad Arif, yang
selalu mendukung penyelesaian skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga amal baik dari semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini mendapatkan balasan pahala dari rahmat Allah SWT. Semoga apa yang telah ditulis dalam skripsi ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak. Amin ya Rabbal a’lamin.
Jakarta, 03 Maret 2011
v
DAFTAR ISI
PEDOMAN TRANSLITERASI ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan ... 6
1. Identifikasi Masalah ... 6
2. Pembatasan Masalah ... 6
3. Perumusan masalah ... 7
C. Tujuan dan Manfaat ... 7
D. Metodologi Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN TEORI A. Pembaruan 1. Pengertian Pembaruan ... 10
2. Pengertian Kaum Pembaru ... 13
3. Peran Kaum Pembaru ... 17
4. Gagasan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia Abad 20 ... 19
5. Faktor-faktor Pendukung Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia Abad 20 ... 24
B. Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Islam ... 25
2. Tujuan pendidikan Islam ... 27
vi
BAB III BIOGRAFI KH. A. WAHID HASYIM
A. Latar Belakang Keluarga ... 35
B. Pendidikan Wahid Hasyim ... 37
C. Ciri Fisik dan Kepribadian Wahid Hasyim ... 40
D. Aktivitas Sosial dan Politik Wahid Hasyim ... 43
E. Pemikiran KH. A. Wahid Hasyim... 47
1. Bidang Agama ... 47
2. Bidang Sosial ... 49
3. Bidang Pendidikan... 51
4. Bidang Politik ... 58
BAB IV PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM KH. A. WAHID HASYIM A. Pembaruan Pendidikan Islam 1. Mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri ... 62
2. Memasukkan Pendidikan Agama di Sekolah Umum ... 73
3. Pendidikan Guru Agama ... 78
B. Respon Terhadap Pembaruan Pendidikan Islam KH. A. Wahid Hasyim ... 83
1. Pemikiran Pendidikan Islam ... 83
2. Respon Masyarakat ... 91
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 93
B. Saran ... 94
vii
Daftar Tabel
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan Islam senantiasa menjadi sebuah kajian yang menarik bukan hanya karena memiliki kekhasan tersendiri, namun juga karena kaya akan konsep-konsep yang tidak kalah bermutu dibandingkan dengan pendidikan modern. Dalam lingkup pemikiran pendidikan Islam, kita temukan tokoh-tokoh besar dengan ide-idenya yang cerdas dan kreatif yang menjadi inspirasi dan kontribusi yang besar bagi dinamika pendidikan Islam di Indonesia.
Salah satu peran ulama sebagai tokoh Islam yang patut dicatat adalah posisi mereka sebagai kelompok terpelajar yang membawa pencerahan kepada masyarakat sekitarnya. Berbagai lembaga pendidikan telah dilahirkan oleh mereka baik dalam bentuk sekolah maupun pondok pesantren. Semua itu adalah lembaga yang ikut mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berpendidikan. Mereka telah berperan dalam memajukan ilmu pengetahuan, khususnya Islam lewat karya-karya yang telah ditulis atau melalui jalur dakwah mereka.
2
bangsa Indonesia sangat besar sekali. Begitu pula dengan dunia pendidikan dan pengetahuan, pendidikan Islam merupakan sumber dasar yang tidak kecil artinya bagi pendidikan Nasional. Itu berarti bahwa pendidikan Islam di
Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pendidikan Nasional.1
Demikian dalam kaitan pembangunan bangsa, pendidikan agama pada hakikatnya merupakan bangunan dasar dari moral bangsa. Ketentraman hidup sehari-hari di dalam masyarakat tidak hanya semata-mata ditentukan oleh ketentuan hukum semata, tetapi juga dan terutama didasarkan atas ikatan moral nilai-nilai kesusilaan serta sopan santun yang didukung dan dihayati bersama oleh seluruh masyarakat.
Peranan agama menjadi demikian penting bagi tata kehidupan pribadi maupun masyarakat (kelompok), maka dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya haruslah bertumpu di atas landasan keagamaan yang kokoh. Jalan untuk mewujudkannya tidak bisa dengan jalan lain kecuali hanyalah dengan menempatkan pendidikan agama sebagai faktor dasar yang
paling penting.2
Perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia. Agar mampu berperan di masa yang akan datang maka diperlukannya peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting. Salah satu peran penting pendidikan adalah menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan perubahan zaman agar tidak terjadi kesenjangan antara realitas dan idealitas.
Berkenaan dengan hal tersebut umat Islam telah mengenal berbagai jenis macam ilmu pengetahuan baik itu ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum. Dan Islam pada hakikatnya tidak mengenal diskriminasi atau sikap membeda-bedakan di dalam segala hal juga dalam lapangan ilmu pengetahuan.
1
Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1997), h. 183
2
3
Pada masa kolonial sesuai dengan misi kolonialisme, pendidikan Islam dianaktirikan. Pendidikan Islam dikategorikan sebagai sekolah liar. Bahkan, pemerintah kolonial telah melahirkan peraturan-peraturan yang membatasi bahkan mematikan sekolah-sekolah partikelir dengan mengeluarkan peraturan
yang terkenal wilde schoolen ordonantie pada tahun 1933. Berbeda ketika
masa penjajahan Jepang. Dunia pendidikan secara umum (tidak hanya pendidikan Islam) terbengkalai, karena murid-murid sekolah tiap hari hanya
diperintahkan gerak badan, baris berbaris, bekerja bakti paksa (romusha),
bernyanyi dan lain sebagainya. Hal ini diperuntukkan agar kekuatan umat Islam dan Nasionalis dapat dibina untuk kepentingan perang Asia Timur Raya yang dipimpin oleh Jepang. Namun yang masih agak beruntung adalah madrasah-madrasah yang berada dalam lingkungan pondok pesantren yang bebas dari pengawasan langsung pemerintah Jepang. Pendidikan pondok
pesantren masih dapat berjalan agak wajar.3
Lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah dan pondok pesantren sudah ada sejak agama Islam berkembang di Indonesia. Madrasah itu tumbuh dan berkembang dari bawah, dalam arti masyarakat (umat) yang didasari oleh rasa tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran Islam kepada generasi penerus. Oleh karena itu, madrasah dan pondok pesantren pada waktu itu
lebih ditekankan pada pendalaman ilmu-ilmu Islam.4 Dengan melihat sikap
bangsa Indonesia tersebut, menjadikan bangsa ini memiliki rendahnya kualitas sumber daya manusia di kalangan umat Islam di masa itu.
Bangsa Indonesia di masa awal kemerdekaan kerap kali masih mengambil sikap bahwa pendidikan anak-anak mereka harus ditujukan pada maksud untuk menjadikan mereka itu “ahli-ahli agama”. Akibatnya, kurangnya kesediaan anak-anak itu setelah menjadi dewasa, untuk ikut berlomba-lomba dalam perjuangan hidup yang bersifat modern. Dan harus dipahami bahwa Indonesia yang pada saat itu sedang membangun
3
Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidkan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet.IX, h. 152
4
4
membutuhkan tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu pengetahuan umum lainnya. Juga sebaliknya, pembangunan yang sedang berlangsung juga membutuhkan agama agar terhindar dari dekadensi moral.
Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah ada di masa sebelumnya sampai pada saat itu di biarkan hidup meskipun dalam keadaan yang sangat sederhana dan hidup apa adanya. Kalaupun pada masa itu ada perhatian, hanyalah sebatas dorongan moral seperti pada:
a. Maklumat BPKNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) 22
Desember 1945 No. 15 Berita RI tahun No. 4 dan No. 5 halaman 20 kolom 1 (agar pendidikan di langgar-langgar dan madrasah berjalan terus dan diperpesat).
b. Keputusan BPKNIP 27 Desember 1945 (agar madrasah mendapat
perhatian dan bantIan dari pemerintah).
c. Laporan Panitia Penyelidik Pengajaran RI tanggal 2 Mei 1946
(Pengajaran yang bersifat pondok pesantren dan madrasah dipandang perlu untuk dipertinggi dan dimodernisasi serta diberi bantuan berupa
biaya sesuai dengan keputusan BPKNIP.5
Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada baru hanya sebatas madrasah dan pondok pesantren. Umat Islam belum memiliki sekolah yang mengajarkan dan memelihara pendidikan agama Islam dengan dasar pengetahuan setingkat universitas yang nantinya akan melahirkan sarjana yang menguasai dua lapangan ilmu sekaligus yaitu ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Sementara, kelompok minoritas (non-muslim) sudah
mempunyainya, dalam bentuk sekolah-sekolah tinggi pada masa itu.6
Selanjutnya pendidikan Islam mengalami modernisasi lanjutan dimana sebelumnya sudah banyak madarasah dan pondok pesantren di Indonesia yang didirikan para tokoh pembaru pendidikan Islam sebelum kemerdekaan untuk selanjutnya dihadirkannya setelah lima bulan Indonesia merdeka tepatnya pada tanggal 3 Januari 1946 dengan berdirinya Departemen Agama. Walau pada masa itu dipandang motivasi pendiriannya bernuansa politis, tapi lembaga ini menjadi salah satu pelaku pembaruan pendidikan Islam yang
5 Abdul Rachman Shaleh, Madrasah…, h. 22. 6
5
paling penting. Karena salah satu bidang garapan Departemen Agama adalah bidang pendidikan Islam.
Pembinaan pendidikan Agama tersebut yang secara formal institusional di percayakan kepada Departemen Agama dan Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayan oleh karena itu dikeluarkanlah berbagai peraturan bersama berupa kebijakan antar kedua departemen tersebut untuk mengelola
pendidikan agama di sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta.7
Selanjutnya, peranan Departemen Agama menjadi sangat penting dalam melakukan pembaruan di bidang pendidikan Islam berkaitan dengan kekurangan-kekurangan di masa itu karena pembangunan bangsa, pendidikan agama pada hakikatnya merupakan bangunan dasar dari moral bangsa. Untuk kemudian muncul berbagai kebijakan-kebijakan baru sebagai pembaruan dari pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh Departemen Agama.
Kemudian hadir KH. A. Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama RI yang menjabat pada tahun 1949-1952 untuk melakukan pembaruan di bidang pendidikan agama Islam sebagai salah satu bidang garapan Departemen Agama.
Semenjak KH. A. Wahid Hasyim menjabat sebagai Menteri Agama, pendirian madrasah di pesantren-pesantren (sebagai simbol dari pendidikan
Islam) semakin menemukan momentumnya.8
Kemudian atas dasar kesimpatikan penulis terhadap KH. A. Wahid Hasyim dan rasa ingin tahu yang mendalam tentang pembaruan yang dilakukannya dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia maka penulis bermaksud untuk menulisnya dalam bentuk skripsi yang berjudul: PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM KH. A.WAHID HASYIM (Menteri Agama RI 1949-1952).
7
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan), (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Maret, 1999), h.76-77.
8
6
B.
Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka diidentifikasi masalah diantaranya yaitu:
a. Pendidikan agama sebagai faktor dasar yang paling penting dalam rangka
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
b. Banyaknya kebijakan-kebijakan dari kolonial Belanda dan Jepang yang
pada saat itu yang sangat merugikan pendidikan Islam.
c. Pendidikan Islam pada masa awal kemerdekaan (Orde Lama) kurang
mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal madrasah dan pondok pesantren sebagai cermin dari pendidikan Islam sudah banyak terdapat di Indonesia.
d. Pendidikan Islam di masa itu diyakini hanya mampu melahirkan generasi
yang hanya mampu di bidang agama saja dan tidak mampu melahirkan generasi yang mampu di bidang agama dan umum.
e. Pentingnya peran Departemen Agama pada masa itu secara maksimal
dalam membangun kembali pendidikan Islam menjadi lebih baik lagi.
2. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas maka penulis merasa perlu membatasi pembahasan pada tiga permasalahan yaitu:
Pembaruan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah upaya untuk melakukan perubahan dengan pembaruan dalam pendidikan Islam ke arah yang lebih berkualitas sesuai dengan tuntunan zaman dengan tetap berpedoman pada asas-asas keislaman.
Pendidikan Islam yang dimaksud dalam skripsi ini adalah pendidikan Islam yang ditangani oleh Departemen Agama meliputi berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), Kurikulum/Pengajaran Agama di sekolah-sekolah umum, dan Pendidikan Guru Agama (PGA).
7
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana pembaruan pendidikan Islam KH. A. Wahid Hasyim dalam pendidikan Islam di Indonesia ketika menjabat sebagai Menteri Agama 1949-1952?
C.
Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menngungkap usaha-usaha pembaruan yang dilakukan oleh KH. A. Wahid Hasyim dalam pendidikan Islam di Indonesia pada masanya.
Manfaat yang diambil dari penulisan skripsi ini adalah :
1. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menambahkan pembendaharaan
kepustakaan bagi UIN Jakarta, khususnya mengenai kontribusi KH. A. Wahid Hasyim dalam pembaruan pendidikan Islam.
2. Secara pragmatis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bagi generasi
muda Indonesia dalam melanjutkan cita-cita KH. A. Wahid Hasyim.
3. Menumbuhkan semangat berusaha untuk lebih memajukan pendidikan
Islam.
D.
Metodologi Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode deksriptif yaitu penenlitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan
sejelas mungkin tanpa ada perlakuan dari obyek yang diteliti.9 Dan untuk
mengkaji riwayat hidup atau biografi Wahid Hasyim serta aktifitas-aktifitasnya yang berkaitan dengan pendidikan, peneliti menggunakan
pendekatan historis.10
9
Kountur Ronny, Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, (Jakarta: PPM, 2003), h.105
10
8
Dengan metode di atas penulis akan menggambarkan mengenai gagasan pemikiran KH. A.Wahid Hasyim dalam pembaruan pendidikan Islam di Indonesia.
1. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data akurat dalam penulisan ini, penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data:
a. Studi Dokumentasi
Menginventaris hasil pemikiran KH. A.Wahid Hasyim yang tertuang dalam karya pemikirannya maupun dalam literatur lain yang berkaitan dengan masalah penelitian.
b. Wawancara
Yaitu melakukan dialog atau tanya jawab secara lisan dengan dua orang atau lebih dengan bertatapan muka secara langsung
informasi-informasi atau keterangan.11 Hal ini dilakukan untuk memperoleh
informasi objektif dari yang diwawancarai. Wawancara dilakukan kepada bagian dari keluarga KH. A. Wahid Hasyim yaitu Salahuddin Wahid (anak ketiga dari Wahid Hasyim).
2. Teknik Pengolahan Data
Setelah melalui tahap pengumpulan data, selanjutnya dilakukan pengolahan data, sehingga data yang diperoleh dapat digunakan untuk menganalisa permasalahan yang akan diteliti. Langkah-langkah pengolahan data melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Data
Data yang terkumpul diperiksa kembali apakah masih terdapat kekurangan atau ada yang tidak cocok dengan masalah penelitian.
b. Klasifikasi Data
Klasifikasi data dilakukan dengan cara mengelompokkan data sesuai dengan pokok bahasan agar mempermudah dalam menganalisa.
11
9
c. Penyusunan Data
Penyusunan data dilakukan dengan cara menyusun dan menempatkan data pada setiap pokok bahasan secara sistematis sehingga memudahkan permasalahan.
3. Teknik Analisa Data
Teknik analisisnya menggunakan Content Analisys yaitu menarik
kesimpulan dalam usaha menemukan karakteristik pesan yang dilakukan secara objektif dan sistematis.
Seluruh data akan dibahas dan dianalisis secara analisa kualitatif dengan melalui proses:
a. Reduksi Data
Data yang diperoleh di lapangan ditulis dalam bentuk uraian atau laporan terperinci. Laporan yang disusun kemudian direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok, difokuskan pada hal-hal-hal-hal yang penting dan dicarikan temanya.
b. Display Data
Data yang telah diperoleh diklasifikasikan menurut pokok permasalahan dan dibuat dalam bentuk matriks sehingga memudahkan peneliti untuk melihat hubungan suatu data dengan data yang lainnya.
c. Mengambil Kesimpulan/Verifikasi
Peneliti membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah diproses
melalui reduksi dan display data. 12
E.
Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah merujuk pada “Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007”.
Sedangkan kutipan ayat-ayat suci al-Qur’an dan terjemahnya, berasal dari
terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2010.
12
10
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pembaruan
1. Pengertian Pembaruan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembaruan berasal dari kata “Baru” yang artinya proses, cara, perbuatan membarui, dan proses
mengembangkan kebudayaan terutama di lapangan teknologi dan ekonomi.1
Sedangkan kata modern diartikan sebagai terbaru, mutakhir, sikap dan cara
berpikir serta cara bertidak sesuai dengan tuntutan zaman.2
Dalam bahasa Arab, yang memiliki kesepadanan makna dengan kata
pembaruan adalah tajdîd (
ﺪ
ﺪﻴ
ﺠ
ﺘ
), maknanya antara lain: renewal, innovation,reorganization, reform, dan modernization.3 Kata tersebut berasal dari kata
kerja (
ًﺪ
ﺪﻴ
ﺠ
ﺘ
-ﺪ
ﺪ
ﺠ
ﻴ
-ﺪ
ﺪ
ﺠ
)4 yang berarti to renew, to modernize5, yaitumemperbarui atau memodernkan. Tajdîd bisa juga diartikan sebagai islah
(memperbaiki) dan reformasi (menyusun kembali) sehingga gerakan
pembaruan disebut pula gerakan tajdîd, gerakan islah, maupun gerakan
reformasi.
1
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Cet. II, h. 109
2
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar…, h.751
3
J. Milten Cowan (ed.) Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, (New York: t.t, 1971), h.114
4
Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasit, Juz I, (Kairo: t.t, 1972), h. 109
5
11
Istilah pembaruan atau tajdîd dalam sebuah hadis:
ّ لا د اد ا ي س ثّح
ليحا ش ع ّا ا ّيعس ي خا ه ا خا
ا:ل ق .ص ها ل س ع عا يف ّ ه ى ا ع ق ع ي ا ع ّ ف ع ّّ ّ ا
أا ل ثع ّ ها
ّد ل دّجّ س ئ لك أ ى ع
6
“Telah menceritakan kepada kami Sulaimân ibn Dâwud al-Mahriyyu
telah mengabarkan kepada kami ibn Wahb telah mengabarkan kepadaku
Sa’îd ibn Abî Ayyûb dari Syarâhîl ibn Yazîd al-Mu’âfiriyi dari ‘Alqamah
dari Abî Hurairah, sejauh yang aku tahu, dari Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah akan membengkitkan untuk umat ini pada
setiap seratus tahun orang-orang yang akan memperbarui agamanya.”
(hadis riwayat Abû Dâwud).
Sedangkan menurut Harun Nasution, pembaruan atau modernisasi dalam masyarakat Barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, isntitusi-institusi lama dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh perubahan dan keadaan, terutama oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern.7
Selanjutnya kata modern erat kaitannya dengan kata modernisasi yang
berarti pembaruan atau tajdîd dalam bahasa Arabnya (jadi lebih pada
prosesnya). Menurut Harun Nasution, modernisme dalam Islam lebih digunakan kata pembaruan dalam arti memperbarui hal-hal lama yang dianggap menyeleweng dari yang sebenarnya. Hal ini disebabkan istilah modernism sendiri dianggap mengandung arti negatif disamping arti positifnya. Yang dimaksud Harun Nasution dalam arti negatif di sini ialah kecenderungan adanya konotasi Barat yang ada pada kata itu, karena dapat
6
Abû Dâwud Sulaimân ibn al-Asy‟ats al-Sijistânî, Sunan Abû Dâwud, hadis no. 4291, (Beirut: Dâr ibn Hazm, 1988), h. 647
7
12
muncul kesan bahwa gerakan modernisme diilhami dari modernism yang
tumbuh di Barat.8
Sedangkan, menurut Arkoun, istilah modernitas berasal dari bahasa latin, yaitu “modernus”. Kata ini pertama kali dipakai di dunia Kristen pada masa antara tahun 490 dan 500 yang menunjukkan perpindahan dari masa Romawi lama ke periode Masehi. Modernitas masa klasik Eropa sendiri telah berjalan abad ke-16 hingga tahun 1950-an. Begitupun menurut ahli sejarah kenamaan, Arnold Toynbee, mengatakan bahwa modernitas telah mulai menjelang akhir
abad ke-15 Masehi.9
Bila dilihat dari beberapa pendapat di atas, memang pembaruan identik dengan modernisasi dan reformasi. Dari semua itu, tergantung muatan yang diberikan masing-masing pakar. Namun yang terpenting kandungan yang tersirat dari simbol tersebut, selalu mengandung aplikasi ke arah perbaikan.
M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa di dalam pembaruan terdapat syarat pokok tertentu. Permbaruan dapat terlaksana akibat pemahaman dan
penghayatan nilai-nilai al-Qur‟an, serta kemampuan memanfaatkan dan
menyesuaikan diri dengan hukum-hukum sejarah (lihat: Q.S. 33:62 ; 35:43).
Dari ayat-ayat al-Qur‟an tersebut dipahami bahwa pembaruan baru dapat
terlaksana bila dipenuhi dua syarat pokok: (a) adanya nilai atau ide; dan (b)
adanya pelaku-pelaku yang menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut.10
Jika dilihat dari beberapa definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pembaruan adalah suatu proses perubahan ke arah perbaikan dalam rangka memperbaiki tatanan atau sistem lama yang dianggap tidak relevan lagi baik berupa fisik maupun mentalitasnya, agar dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman sekarang ini.
Kaitannya dengan pengertian pembaruan pendidikan Islam dalam skripsi ini berarti upaya untuk melakukan perubahan dengan pembaruan dalam
8
Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), Cet. I, h. 350
9
Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, (Jakarta: Paramadina, 1998), Cet. I, h. 43
10
13
pendidikan Islam ke arah yang lebih berkualitas sesuai dengan tuntunan
zaman dengan tetap berpedoman pada al-Qur‟an dan Sunnah.
2. Pengertian Kaum Pembaru
Berbicara tentang pembaruan tidak akan terlepas dari orang yang melakukan pembaruan itu sendiri. Pembaru adalah sebutan bagi orang yang melakukan pembaruan.
Seorang pembaru, menurut Abdul Hakim bin Amir Abdat, haruslah seorang yang berilmu dan memahami betul ilmu agama secara zahir maupun batin. Selain itu, dia juga harus senantiasa menghidupkan dan mengajak umat kepada al-Quran dan sunnah. Dan dalam amaliyahnya bersih dari syirik dan bid‟ah.11
Dr. Mochtar Pobotinggi merumuskan bahwa kaum pembaru adalah anggota masyarakat yang lebih mampu menyatakan perasaan dalam ucapan
yang jelas (bijak).12 Sementara itu, Dr. Taufik Abdullah menyatakan bahwa
kaum pembaru bukanlah kedudukan yang diangkat, dan juga bukan berdasarkan pilihan orang banyak. Pembaru adalah bagaimana seseorang yang mau menghubungkan dirinya dengan cita-cita dan nilai. Karenanya pembaru pemikiran itu dibimbing oleh suatu misi tertentu. Seseorang kaum modernis dituntut untuk dapat menganalisis permasalahan masyarakat secara jujur dan objektif, apa adanya tanpa dipengaruhi oleh hal-hal lain. Penilaian yang jujur dan objektif itu diharapkan akan lahir analisis-analisis yang
bermanfaat bagi masyarakat.13
Istilah kaum pembaru atau kaum modernis sebagaimana diungkapkan
dalam Al-Qur‟an surat Ali Imran:
11
Abdul Hakim bin Amir Abdat, al-Masâil; Masalah-masalah Agama, vol.2, (Jakarta: Darul Qalam, 2001), h. 171
12
Mochtar Pobotinggi, Kaum Intelektual Pemimpin dan Aliran-aliran Idiologi di Indonesia sebelum Revolusi dalam Peristiwa, (Jakarta: LP3ES, 1992), h. 40
13
14
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian
malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (serayal berkata), “Ya Tuhan Kami, tidaklah
Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau. Maka
lindungilah kami dari azab neraka” (Q.S. Ali Imran: 190-191).14
Kata (
ﻟﻷ
) al-Albâb adalah bentuk jamak dari (ﻟ
) lubyaitu “saripati”sesuatu. Kacang misalnya, memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang
dinamai lub. Ulul Albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni,
yang tidak diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut idea yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. Orang yang merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan
kekuasaan Allah swt.15 Di dalam al-Qur‟an masih banyak ayat yang
memanggil daya observasi ulil albab, supaya memperhatikan apa yang terjadi
dalam lingkungannya, dari lingkungan yang dekat, sampai pada lingkungan yang luas di ruang angkasa.
Dan salah satu ayat al-Qur‟an lainnya yang menyangkut pembaruan yang
dilakukan dengan perubahan dan pelakunya adalah yang dirumuskan dalam
firman Allah: … sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
(masyarakat) sampai mereka mengubah (terlebih dahulu) apa yang ada pada
diri mereka (sikap mental mereka)… (Q.S. 13:11).
14
Kementerian Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Yayasan Penyelengara Penterjemah/Pentafsir al-Qur‟an, 2010), h. 96
15
15
Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dalam pembaruan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah swt. dan kedua, perubahan keadaan diri manusia yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Allah terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang diterapkannya. Hukum-hukum tersebut tidak
memilih atau membedakan antara satu masyarakat atau kelompok lain.16
Menurut Ziadudin Sardar bahwa yang dimaksud dengan kaum pembaru adalah golongan Muslim berpendidikan yang memiliki kelebihan istimewa menyangkut nilai-nilai budaya dan karenanya dapat dijadikan pemimpin. Orang-orang yang berependidikan saja tidak dengan sendirinya dapat disebut pembaru, sebab mereka sering tidak begitu tahu tentang hal-hal lain di luar masalah teknik mesin, akuntansi dan obat-obatan. Cara pemikiran yang menandai pada pembaru itu bukanlah cabang ilmu atau teologi melainkan ideologi. Suatu ideologi mengungkapkan pandangan dunia serta nilai-nilai budaya mereka. Pembaru adalah golongan masyarakat pendidikan yang pegangannya atas ideologi Islam tak diragukan lagi. Individu semacam itu
sulit untuk dicari.17
Ahmad Watik Praktiknya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pembaru adalah orang-orang yang karena pendidikannya, baik formal maupun informal, mempunyai perilaku cendekiawan. Kecendekiawanan tersebut tercemin dan merespons lingkungan hidupnya dengan sifat kritis,
kreatif, objektif, analitis dan bertanggung jawab, karena sikap
kecendekiawanan itu. Ia mempunyai wawasan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Belum tentu seorang yang ilmuwan atau akademikus adalah seorang cendekiawan atau pembaru pemikiran. Selain itu, kategori cendekiawan atau pembaru dapat pula dimasukkan budayawan, seniman, ulama atau siapa pun yang mempunyai perilaku cendekiawan di atas. Cendekiawan Muslim, secara tentatif dan sederhana dapat dilukiskan sebagai Muslim yang mempunyai kualitas perilaku pembaru pemikiran seperti
16
M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Qur’an…, h. 246 17
16
tersebut di atas, bermain dan senantiasa Committed pada Dienul Islam sebagai
pandangan hidupnya. Ulil albâb yang diungkapkan oleh al-Qur‟an merupakan
gambaran yang paling tepat untuk melukiskan sifat-sifat cendekiawan
Muslim.18
Berdasarkan ungkapan Praktiknya di atas, setiap orang dapat dikategorikan sebagai pembaru dengan tidak dibatasi jenjang pendidikan formal, asal mereka mempunyai pandangan dan wawasan luas, yang diekspresikan sewaktu melihat, menafsirkan, dan merespons berbagai masalah kehidupan disekitarnya. Kemampuan tersebut lebih berarti bagi kehidupan di sekitarnya, apabila mereka memiliki sifat kritis, kreatif, objektif, analitis dan penuh tanggung jawab atas segala aktifitas yang dilakukan. Sifat-sifat yang dimiliki tersebut tidak hanya diperuntukkan pada masalah sosial, melainkan juga pada masalah agama. Mereka mampu menafsirkan ayat-ayat Allah dengan berusaha mengaplikasikan dalam berbagai sektor kehidupan.
Di samping itu para pembaru harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:19
a. Pikiran yang jernih
b. Wawasan yang luas
c. Sikap yang konsisten
d. Kemampuan menganalisa hal-hal mana yang melampaui batas dan yang
akan mengantarkan kepada tujuan
e. Mampu memelihara keseimbangan
f. Memiliki kekuatan berpikir
g. Berani dan pantang mundur dalam menghadapi tantangan zaman
h. Memiliki kemampuan memimpin
i. Memiliki kemampuan berijtihad
j. Memiliki kemampuan untuk membagun dan membina masyarakat
k. Dapat membedakan ajaran Islam dan ajaran jahiliyah
l. Seorang Muslim yang rnemiliki keimanam, pandangan, pemahaman, dan
perasaan yang benar tentang Islam.
Selain itu, menurut Imam al-Suyûtî, sebagaimana dikutip oleh Syamsu al-Haq, bahwa seorang pembaru adalah orang yang hidup di tengah berbagai
18
Amin Rais, Islam di Indonesia Suatu Ikhtiar Mengaca Diri, (Jakarta: CV.Rajawali, 1989), h. 3-4
19
17
golongan. Dirinya dikenal karena ilmu yang dimilikinya, dan senantiasa
menolong sunnah melalui ucapannya.20
Berdasarkan beberapa pendapat di atas bahwa yang dimaksudkan dengan kaum pembaru adalah seorang Muslim yang karena pendidikannya, baik melalui jalur pendidikan formal maupun non-formal, mempunyai kedalaman berbagai disiplin keilmuan, keluasan pandangan yang disertai kebijakan dan keadilan, sehingga bisa bergerak dalam multidimensi aktivitas kehidupan masyarakat; tidak terbenam dan terbawa arus perubahan, kemajuan dan perkembangan zaman. Namun, mengarahkan perubahan masyarakat dengan mengubah pola pikir masyarakat dari tradisi berpikir konvensional yang jauh tertinggal dari kemajuan zaman dengan pola pikir yang berorientasi kepada kemajuan mengikuti perkembangan zaman yang berdasarkan nilai-nilai Islam.
3. Peran Kaum Pembaru
Istilah "peran" kerap diucapkan banyak orang. Sering kita mendengar kata peran dikaitkan dengan posisi atau kedudukan seseorang. Atau "peran" dikaitkan dengan "apa yang dimainkan" oleh seorang aktor dalam suatu
drama. Mungkin tak banyak orang tahu, bahwa kata "peran", atau role dalam
bahasa Inggrisnya, memang diambil dari kata dramaturgy atau seni teater.
Dalam seni teater seorang aktor diberi peran yang harus dimainkan sesuai dengan plot-nya, dengan alur ceritanya, dengan lakonnya.
Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti pemain sandiwara (film), tukang lawak pada permainan makyong, perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di
masyarakat.21
20 Abî al-Tayyib Muhammad Syamsu al-Haq, ‘
Aunu al-Ma’bûd Syarhu Sunan Abî Dâwud,vol. II, (Madinah al-Munawarah: Maktabat al-Salafiyah, 1969), h. 386
21
18
Dalam bahasa Inggris kata “peran” atau “role” di dalam kamus oxford
dictionary diartikan : Actor’s part; one’s task or function. Yang berarti aktor;
tugas seseorang atau fungsi.22
Jadi, peran adalah hal-hal yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki posisi penting dalam masyarakat untuk tercapainya suatu tujuan.
Menurut Imam Bawani dan Isa Anshari ada tiga peran yang bisa dilakukan oleh pembaru, pertama, melalui “kaderisasi”, kedua, melalui “kerja kemanusiaan,” dan ketiga, melalui “konsepsi keilmuan”. Ketiga peran tersebut dilandasi dan dinapasi oleh prinsip-prinsip ajaran Islam. Lebih lanjut Imam Bawani dan Isa Anshari mengatakan bahwa “peran pertama, merupakan upaya pembaru pemikiran untuk mencetak kader-kader umat yang mampu berbuat bagi kepentingan Islam dalam kehidupan di masa mendatang, dan peran ini berkaitan dengan “pendidikan”. Untuk berhasilnya kaderisasi tersebut diperlukan penggarapan yang serius, perencanaan yang matang, dan waktu yang cukup panjang, serta dapat dilakukan melalui wadah lembaga pendidikan formal maupun nonformal.”23
Peran pembaru pemikiran yang kedua, menurut Imam Bawani dan Isa
Anshari, adalah untuk mendarmabaktikan dirinya dalam proses perjalanan kehidupan, melibatkan diri secara langsung dalam aktifitas bermasyarakat, dengan segala kemampuan yang dimiliki. Mereka mencoba mengubah tatanan dan praktik kehidupan yang tidak mencerminkan kebebasan, keadilan dan kebenaran, kemudian menggantinya dengan tatanan yang membawa keharmonisan hidup dalam masyarakat secara sempurna yang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Untuk merealisasikan peran tersebut,
dibutuhkan kecakapan dan kecekatan bertindak.24
Peran ketiga, dari pembaru menurut Imam Bawani dan Isa Anshari
adalah untuk merubah praktik kehidupan yang tidak benar dan
22
The New Oxford Illustrated Dictionary, (Oxford: Oxford University Press, 1982),h. 1466
23
Fuad Anshari, Prinsip-prinsip Dasar Konsep Sosial Islami, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1984), h. 37
24
19
meluruskannya ke jalan yang benar, mengemukakan gagasan kreatif mengenai berbagai sektor pembangunan, menemukan dan mengembangkan konsep ilmiah tentang kebudayaan dan peradaban, sehingga dapat membuka cakrawala berpikir masyarakat, menyadarkan untuk mengikuti dan menerapkan dalam kehidupan menuju kemajuan, kesejahteraan dan
kemakmuran bersama yang dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam.25
Menurut Edward Mortinor peran pembaru direlevankan dengan peran seorang Muslim semata-mata, yaitu membantu orang yang membutuhkan dan
membangun masyarakat di mana hukum Tuhan diberlakukan.26
Menurut Ali Shariati peranan kaum pembaru adalah membangkitkan dan membangun masyarakat yang terletak dalam usahanya, dalam kehidupannya
yang selalu dinamik.27
Berdasarkan beberapa pendapat tentang peran kaum pembaru di atas, Penulis menyimpulkan bahwa tugas pembaru adalah membawa masyarakat ke arah kemajuan dalam rangka membebaskan dari belenggu kehidupan, dan mengajak bersama-sama untuk mengangkat dan mempertahankan eksistensi kemanusiaan, mengubah tatanan kehidupan dan praktik kehidupan yang tidak benar menjadi benar, mengubah tradisi berpikir konvensional yang jauh tertinggal dari kemajuan zaman, menjadi pola pikir yang menuju kesejahteraan, ketentraman dan kemakmuran bersama yang berdasarkan nilai-nilai Islam.
4. Gagasan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia Abad 20
Timbulnya pembaruan pemikiran Islam di Indonesia baik dalam bidang agama, sosial, dan pendidikan di awali dan dilatarbelakangi oleh pembaruan pemikiran Islam yang timbul di belahan dunia Islam lainnya, terutama oleh pembaruan pemikiran Islam yang timbul di Mesir, Turki, dan India. Latar
25
Fuad, Prinsip-prinsip …, h. 37
26
Edward Mortinor, Islam and Power, Terj. Islam dan Kekuasaan, Oleh Rahmani Astuti, (Bandung: Mizan, 1984), h. 383
27
20
belakang pembaruan yang timbul di Mesir dimulai sejak kedatangan Napoleon ke Mesir.
Mesir yang mempunyai Kairo sebagai ibukota dengan Universitas al-Azhar yang didirikan pada abad kesepuluh, merupakan pusat peradaban Islam dan kekuatan politik yang besar pengaruhnya di dunia Islam pada masa lampau. Sultan-sultan Mesir turut berperang dalam mengalahkan kaum salib dan dapat mematahkan kekuatan Hulagu di ‘Ain Jalut sehingga Mesir, Afrika Utara, dan Spanyol Islam selamat dari kehancuran sebagaimana dialami dunia Islam di bagian Timur. Di samping itu, mulai dari abad keenam belas Mesir merupakan bagian dari kerajaan Turki ‘Utsmani dan mengikuti dari dekat kemajuan-kemajuan yang dicapai kerajaan ini di Eropa. Mesir sadar akan kelemahan dunia Barat dibandingkan dengan supremasi dunia Islam zaman itu.
Turki sendiri merupakan salah satu dari tiga Negara besar di dunia Islam abad-abad keenam belas sampai abad kedelapan belas, ketika Eropa, Inggris dan Prancis belum muncul sebagai negara yang berpengaruh dalam politik internasional. Bahkan kerajaan ‘Utsmani menguasai daratan Eropa dari Istanbul sampai ke pintu gerbang kota Wina.
Adapun India, dengan berdirinya di sana kerajaan Mughal, merupakan negara kedua dari tiga negara besar tersebut di atas. Delhi merupakan pusat
kekuasaan dan kebudayaan Islam di dunia Islam bagian Timur.28
Pemikiran-pemikiran yang ditimbulkan pemimpin modernisasi di Timur Tengah itu kemudian mempengaruhi pemimpin-pemimpin Islam di Indonesia dan timbullah pula di kalangan kita usaha-usaha modernisasi yang dimulai
pada permulaan abad kedua puluh ini.29
Gagasan tentang pembaruan pendidikan Islam mempunyai akar historis dalam gagasan tentang pembaruan pendidikan dan institusi Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, pembaruan pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dengan kebangkitan gagasan dan program pembaruan Islam.
28
Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan, 1996), Cet. IV, h. 151-152
29
21
Kerangka dasar yang berada dibalik pembaruan Islam secara keseluruhan adalah bahwa pembaruan pemikiran dan kelembagaan Islam merupakan prasyarat bagi kebangkitan umat Muslim di masa modern. Oleh karena itu,
pemikiran dan kelembagaan Islam ─termasuk pendidikan— haruslah
diperbarui. Mempertahankan pemikiran dan kelembagaan Islam “tradisional”
hanya akan memperpanjang nestapa ketidakberdayaan umat Muslim dalam
berhadapan dengan kemajuan dunia modern.30
Pendidikan sering dianggap sebagai obyek modernisasi. Dalam konteks ini, pendidikan di negara-negara yang tengah menjalankan program modernisasi pada umumnya dipandang masih terbelakang dalam berbagai hal, dan arena itu sulit diharapkan bisa memenuhi dan mendukung program modernisasi. Karena itulah pendidikan harus diperbarui atau dimodernisasi, sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang dipikulkan kepadanya.
Seperti halnya umat Islam di negara-negara Timur Tengah, perlawanan terhadap kolonialisme telah mendorong umat Islam untuk mengadakan berbagai pembaruan. Gerakan pembaruan ini tidak mungkin berjalan bila tidak diikuti perubahan di bidang pendidikan. Dengan otomatis perubahan Islam berjalan seiring dengan pembaruan pendidikan Islam. Fenomena ini
berlaku di seluruh negara-negara Islam, termasuk Indonesia.31
Gagasan pembaruan yang menemukan momentumnya sejak awal abad ke-20, telah mengalami beberapa perubahan baik dalam bentuk kebangkitan agama, perubahan, maupun pencerahan dengan munculnya beberapa tokoh-tokoh pembaru pemikiran Islam di Indonesia. Para pembaru itu banyak bergerak di bidang organisasi sosial, pendidikan dan politik. Diantaranya Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Thaher Jalaluddin, Haji Karim Amirullah, Haji Abdullah Ahmad, Syekh Ibrahim Musa, Zainuddin Labai al-Yunusi, yang kesemuanya berasal dari Minangkabau.
Di jawa muncul tokoh H. Ahmad Dahlan, dengan gerakan Muhammadiyah, H. Hasan, dengan gerakan Persatuan Islam (Persis), Haji
30
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000), Cet. Ke-2, h. 31
31
22
Abdul Halim dengan gerakan Perserikatan Ulama, KH. Hasyim Asy‟ari dengan organisasi Nahdlatul Ulama. Tokoh-tokoh ini semuanya banyak bergerak di bidang pendidikan. Muncullah upaya-upaya untuk memperbarui pendidikan Islam di Indonesia.
Ada beberapa indikasi pendidikan Islam sebelum dimasuki oleh ide-ide pembaruan:
a. Pendidikan yang bersifat nonklasikal. Pendidikan ini tidak dibatasi atau
ditentukan lamanya belajar seseorang berdasarkan tahun. Jadi seseorang bisa tinggal di suatu pesantren, satu tahun atau dua tahun, atau boleh jadi beberapa bulan saja, bahkan mungkin juga belasan tahun.
b. Mata pelajaran adalah semata-mata pelajaran agama yang bersumber dari
kitab-kitab klasik. Tidak diajarkan mata pelajaran umum.
c. Metode yang digunakan adalah metode sorogan, wetonan, hafalan, dan
muzakarah.
d. Tidak mementingkan ijazah sebagai bukti yang bersangkutan telah
menyelesaikan atau menamatkan pelajarannya.
e. Tradisi kehidupan pesantren amat dominan di kalangan santri dan kiai.
Ciri dari tradisi itu adalah antara lain kentalnya hubungan antara kiai dan santri. Hubungan bathin ini berlangsung terus sepanjang masa. Kontak-kontak pribadi itulah yang terpelihara sepanjang masa. Santri yang telah menyelesaikan pelajaran di suatu pesantren bisa jadi pindah ke pesantren lain atau mendirikan pesantren baru, namun kontak pribadinya dengan kiai, di mana dia pernah berguru masih tetap terpelihara.
23
pesantren.32 Ketiga macam ini adalah merupakan tuntutan terhadap kebutuhan
dunia pendidikan Islam di kala itu. Dengan demikian, jika ide-ide pembaruan itu diterapkan dalam dunia pendidikan Islam, maka merupakan salah satu jalan menuju perbaikan pendidikan Islam di Indonesia.
Secara ideal, pendidikan Islam berfungsi dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas tinggi, baik dalam penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam hal karakter, sikap moral, penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Singkatnya, pendidikan Islam secara ideal berfungsi membina dan menyiapkan anak didik yang berilmu, berteknologi, berketerampilan tinggi, dan sekaligus beriman dan beramal shaleh.
Dalam rangka perwujudan fungsi idealnya untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia tersebut, sistem pendidikan Islam haruslah senantiasa mengorientasikan diri kepada menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam masyarakat kita sebagai konsekuensi dari perubahan.
5. Faktor-faktor Pendukung Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia
Abad 20
Steenbrink, menyebutkan ada beberapa faktor pendorong bagi pembaruan pendidikan Islam di Indonesia pada permulaan abad ke-20, yaitu:
a. Sejak tahun 1900, telah banyak pemikiran untuk kembali ke al-Qur‟an
dan Sunnah yang dijadikan titik tolak untuk menilai kebiasaan agama dan kebudayaan yang ada. Tema sentralnya adalah menolak taklid. Dengan
kembali ke al-Qur‟an dan Sunnah mengakibatkan perubahan dalam
bermacam-macam kebiasaan agama.
b. Dorongan kedua, adalah sifat perlawanan Nasional terhadap penguasa
kolonial Belanda.
c. Dorongan ketiga, adalah adanya usaha-usaha dari umat Islam untuk
memperkuat organisasinya di bidang sosial ekonomi.
32
24
d. Dorongan keempat, berasal dari pembaruan pendidikan Islam. Dalam
bidang ini cukup banyak orang dan organisasi Islam, tidak puas dengan
metode tradisional dalam mempelajari al-Qur‟an dan studi agama.33
Usaha-usaha pembaruan pendidikan Islam di Indonesia yang telah
dimulai sejak awal abad ke-20. Dimotivasi oleh kondisi intern umat Islam
maupun faktor ekstern. Dari uraian yang dikemukakan terdahulu dapat
dimaklumi bahwa pembaruan itu terkonsentrasi kepada dua hal yaitu sistemnya, dan materi pelajaran. Sistemnya yang ada pada mulanya sebelum masuk ide-ide pembaruan adalah sistem klasikal. Materi pelajaran sebelum masuk ide-ide pembaruan terpusat kepada mata pelajaran agama melulu, dengan berpedoman kepada kitab-kitab klasik, dan setelah diinspirasi oleh ide-ide pembaruan mata pelajarannya telah berimbang antara ilmu-ilmu
agama dengan ilmu-ilmu umum.34
B. Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Sebelum membahas pengertian pendidikan Islam, terlebih dahulu penulis mengemukakan pengertian pendidikan secara umum.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan berasal dari kata “didik” yang mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” yang artinya proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses,
perbuatan, cara mendidik.35
Istilah pendidikan adalah terjemah dari bahasa Yunani yaitu paedagogie
yang berarti “pendidikan‟ dan paedagogia yang berarti “pergaulan dengan
anak-anak.” Sedangkan orang yang tugasnya membimbing atau mendidik
dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri disebut paedagogos. Istilah
paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing,
memimpin).36
33
Karel Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, (Jakarta: LP3ES, 1986), h. 26-28
34
Haidar, Sejarah …, h. 49
35
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar…, h. 232 36
25
Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik
menuju terbentuknya kepribadian yang utama.37
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan
negara.38
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses kegiatan bimbingan sikap dan tata laku baik jasmani maupun rohani yang dilakukan secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik kepada seseorang atau sekelompok orang melalui pengajaran atau pelatihan dengan tujuan membentuk kepribadian yang utama.
Mengacu pada pembahasan yang dimaksud, bahwa yang dimaksud pendidikan di sini adalah pendidikan Islam, Zuhairini dkk, mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis
dalam membantu anak didik mereka supaya sesuai dengan ajaran Islam.39
H. M. Arifin berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek
kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.40 Menurut Ahmad D.
37
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma‟arif, 1980), Cet. Ke-4, h. 19
38
Kementerian Pendidikan Nasional, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Nasional, 2003), h.3
39
Zuhairini, dkk., Metodik Pendidikan Agama Dilengkapi dengan Sistem Modul dan Permainan Simulasi, (Surabaya: Usaha Nasional, 1977) h. 77
40
26
Marimba, pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani
berdasarkan hukum-hukum agama Islam.41
Menurut Abdul Rachman Saleh, pendidikan Islam merupakan usaha sadar untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan segala potensi yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya agar mampu mengemban amanat dan tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi
dalam pengabdiannya kepada Allah.42
Sedangkan pengertian pendidikan Islam yang tercantum dalam GBPP PAI Departemen Pendidikan Nasional adalah:
upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber
utamanya kitab suci al-Qur‟an dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan
dan pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman, dibarengi tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannnya dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud
kesatuan dan persatuan bangsa.43
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses kegiatan bimbingan sikap dan tata laku baik jasmani maupun rohani yang dilakukan secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik kepada seseorang atau sekelompok orang melalui pengajaran atau pelatihan berdasarkan hukum-hukum Islam dengan tujuan agar mampu mengemban amanat dan tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi dalam pengabdiannya kepada Allah.
2. Tujuan Pendidikan Islam
Istilah “tujuan” atau “sasaran” atau “maksud”, dalam bahasa Arab
dinyatakan dengan istilah ghayat, ahdaf, atau maqasid. Sedangkan dalam
bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah goal, purpose, objective, atau aim.
41
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma‟arif,
1980), Cet. Ke-4, h. 23
42
Abdul Rachman Shaleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, (Jakarta: PT. Gemawaindu Pancaperkasa, 2000), Cet. Ke-1, h. 2
43
27
Secara umum istilah-istilah itu mengandung pengertian yang sama, yaitu perbuatan yang diarahkan kepada suatu target tertentu atau arah yang hendak dicapai melalui serangkai upaya atau aktivitas.
Sedangkan secara istilah, Zakiah Darajat mengemukakan bahwa tujuan adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan
selesai dilaksanakan.44 Dan menurut M. Arifin, tujuan itu menunjukkan
kepada futuritas (masa depan) yang terletak suatu jarak tertentu yang tidak
dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu.45
Meskipun terdapat keragaman tentang definisi tujuan, namun pada pengertian itu berpusat pada usaha atau perbuatan yang dilaksanakan untuk mencapai atau meraih suatu maksud tertentu.
Tujuan pendidikan agama Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan yang bahagia di
dunia dan di akhirat.46
Menurut Mahmud Yunus bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah mendidik anak-anak, pemuda-pemudi ataupun orang dewasa supaya menjadi seorang muslim sejati, beriman teguh, beramal saleh dan berakhlak mulia, sehingga ia menjadi salah seorang masyarakat yang sanggup hidup di atas
kakinya sendiri.47
Selanjutnya, dalam penerapannya pada pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam dibagi menjadi tiga poin, yaitu:
A.Tujuan Akhir
Tujuan ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan berlaku umum karena sesuai dengan konsep ketuhanan yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Dalam pendidikan Islam, tujuan akhir ini pada akhirnya
44
Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 29
45
M. Arifin, Ilmu…, h. 54 46
Departemen Agama RI, Pedoman Pendidikan Agama bagi Anak Putus Sekolah, (Jakarta: Binbaga Islam, 2003), h. 10
47
28
sesuai dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah, yaitu:
1. Menjadi Hamba Allah
Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Firman Allah swt.,:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka
menyembah-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat:56).48
2. Mengantarkan anak didik menjadi khalifah fi al-Ardh (pemimpin di
bumi) dan melestarikannya, lebih jauh lagi mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya sesuai dengan tujuan penciptaannya. Firman Allah swt.,:
. ..
“ Dan (ingatlah) Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”…” (Q.S. al-Baqarah: 30)49
3. Memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di
akhirat, baik secara individu maupun sosial. Firman Allah swt.,:
. ..
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan
bagianmu di dunia”... (Q.S. al-Qasas: 77)50
Ketiga tujuan akhir itu pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena pencapaian tujuan yang satu memerlukan
48
Kementerian Agama RI, al-Qur’an …, h. 756 49
Kementerian Agama RI, al-Qur’an …, h.6 50
29
pencapaian tujuan yang lain, bahkan secara ideal ketiga-tiganya harus dicapai secara bersamaan melalui proses pencapaian yang seimbang.
Ketiga tujuan tertinggi tersebut, berdasarkan pengalaman aktivitas pendidikan dari masa ke masa, belum pernah tercapai seluruhnya baik secara individu maupun kolektif. Apalagi kebahagiaan dunia dan akhirat, kedua hal itu sulit diketahui tingkat pencapaiannya secara empirik.
Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa tujuan akhir tersebut diyakini sebagai sesuatu yang ideal dan dapat memotivasi usaha pendidikan dan bahkan dapat menjadikan aktivitas pendidikan lebih bermakna.
B.Tujuan Umum
Tidak berbeda jauh dengan tujuan akhir, tujuan umum pun belum diukur secara empirik taraf pencapaiannya. Salah satu formulasi tujuan umum pendidikan adalah rumusan yang dibuat oleh Konferensi Pendidikan Islam Internasional yang pertama di Mekkah pada tahun 1977, yang menyatakan:
Education should aim balanced growth of the total personality of man through the training of men‟s spirit, intellect, the rational self, feelings, and bodily sense. There fore, education should cater for the growth of man in all its aspect, spirituall, intellectual, imaginative, physical, linguistic, both individuality and collectively and motivate all these aspect toward goodness the attainment of profection. The ultimate aim of Islamic education lies in the realization of complete submission to Allah
on the level of individual, the community, and humanity at large. (sic).51
Pendidikan bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melaui latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan, dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan harus mencakup kehidupan manusia dalam segala aspeknya baik spiritual, intelektual, imajinatif, jasmaniah, keilmiahannya, dan bahasanya baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek ini ke arah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan Islam terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.
51
30
Sedangkan menurut Zuhairini dkk., Tujuan umumnya ialah membimbing peserta didik agar menjadi seorang muslim sejati beriman teguh, beramal saleh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama dan
negara.52
C.Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah pengkususan atau operasionalisasi tujuan akhir dan tujuan umum (pendidikan Islam). Tujuan khusus bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan jika diperlukan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka tujuan akhir dan
tujuan umum itu. 53 Pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada:
1. Kultur dan cita-cita suatu bangsa
Setiap bangsa umumnya memiliki tradisi dan budaya
sendiri-sendiri. Perbedaan antara berbagai bangsa inilah yang
memungkinkan adanya perbedaan cita-cita, sehingga terjadi pula perbedaan dalam merusmuskan tujuan yang dikehendaki di bidang pendidikan.
2. Minat, bakat, dan kesanggupan anak didik
Islam mengakui perbedaan individu dalam hal minat, bakat, dan
kemampuan. Untuk mencapai prestasi sebagaimana yang
diharapkan, kesusaian tujuan khusus dengan minat, bakat, dan kemampuan anak didik sangat menentukan.
3. Tuntutan situasi dan kondisi pada kurun waktu tertentu
Apabila tujuan khusus pendidikan tidak mempertimbangkan faktor situasi dan kondisi pada kurun waktu tertentu, maka pendidikan akan kurang memiliki daya guna. Dasar pertimbangan ini
52
Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Edisi 1, Cet. Ke-2, h. 47
53
31
sangat penting terutama bagi perencanaan pendidikan. Dalam hal ini,
harus mengantisipasi perkembangan di masa depan.54
Untuk melengkapi uraian di atas, ada baiknya kita simak juga rumusan tujuan pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para ilmuwan Muslim, yaitu:
a. Imam Ghazali, berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling
utama adalah untuk beribadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada
Allah dan mencapai insan yang tujuannya kebahagiaan dunia dan akhirat.
b. Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Najid, mengatakan bahwa
tujuan pendidikan Islam adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mengusahakan penghidupan.
c. Musthafa Amin, mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akhirat. 55
d. Athiyah al-Abrasyi, merumuskan tujuan pendidikan Islam ke dalam lima
pokok, yaitu:
1. Pembentukan akhlak al-karimah.
2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.
3. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi
pemanfaatannya. Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan.
4. Menumbuhkan ruh ilmiah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk
mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu.
5. Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga
mudah untuk mencari rezeki.56
Kalau diperhatikan rumusan-rumusan tujuan pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para pemikir pendidikan Islam tersebut, ternyata tujuan pendidikan Islam bukanlah hanya sekedar berorientasi mencari kesenangan dunia atau materi semata, tetapi menyangkut masalah duniawi dan ukhrawi yang seimbang.
54
Abu Ahmadi, Islam�