• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memasukkan Pendidikan Agama di Sekolah Umum

BAB IV PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM KH. A. WAHID HASYIM

2. Memasukkan Pendidikan Agama di Sekolah Umum

Pelajaran agama di sekolah umum dapat dikategorikan sebagai bagian dari pendidikan Islam, dalam kaitannya dengan tujuan mengembangkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Kategori sebagai pendidikan Islam ini terutama dilihat dari pengertian pendidikan Islam dari sudut filosofinya, bahwa esensi pendidikan Islam adalah untuk mengembangkan pribadi muslim yang memahami ajaran agamanya dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengabdian kepada Allah, Sang Pencipta.

Peningkatan iman dan takwa merupakan unsur dari tujuan pendidikan nasional, mempunyai makna yang sangat dalam bagi pembentukan manusia

73

Indonesia seutuhnya. Keimanan dan ketakwaan tidak dapat terwujud tanpa agama, karena hanya agamalah yang dapat menuntun manusia Indonesia menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Demikian dalam kaitan pembangunan bangsa, pendidikan agama pada hakikatnya merupakan bangunan bawah dari moral bangsa. Ketentraman hidup sehari-hari didalam masyarakat tidak hanya semata-mata ditentukan oleh ketentuan hukum semata tetapi juga dan terutama didasarkan atas ikatan moral nilai-nilai kesusilaan serta sopan santun yang didukung dan dihayati bersama oleh seluruh masyarakat.

Terwujudnya kehidupan masyarakat yang berpegang pada moralitas tidak bisa lain kecuali dengan pendidikan, khususnya pendidikan agama. Sebab moralitas yang mempunyai daya ikat masyarakat bersumber dari agama, nilai-nilai agama dan norma-norma agama. Agama yang berdimensi kedalam pada kehidupan manusia membentuk daya tahan untuk menghadapi sikap dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan ucapan dan batinnya.

Peranan agama demikian penting bagi tata kehidupan pribadi maupun masyarakat, maka dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya haruslah bertumpu di atas landasan keagamaan yang kokoh. Jalan untuk mewujudkannya tidak bisa lain kecuali hanyalah dengan menempatkan

pendidikan agama sebagai faktor dasar yang paling penting.12

Pendidikan agama dewasa ini merupakan bagian dari kurikulum wajib yang diselenggarakan di sekolah umum pada semua jenjang pendidikan. Dalam sistem pendidikan nasional pendidikan agama memiliki fungsi yang sangat fundamental terutama bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk membentuk watak dan kepribadian siswa yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Karena itu, pendidikan agama tidak

semata-mata diarahkan kepada transfer of knowledge pada tataran kognitif semata,

tetapi meliputi ranah pendidikan, termasuk aspek afektif dan psikomotorik.

12 Abdul Rachman Shaleh, “Aktualisasi Politik Pendidikan di Lingkungan Departemen Agama”, Pidato Pengukuhan sebagai Ahli Peneliti Utama Bid. Pendidikan Agama BALITBANG Agama Depag”, (Jakarta: BALITBANG Agama Depag, 1999), h. 11

74

Dengan demikian, muara dari seluruh proses pendidikan agama adalah terbentuknya penghayatan, sikap, dan perilaku sebagai seorang Muslim yang beriman dan mampu mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Sosok pribadi demikian yang menjadi tujuan dari penyelenggaraan pendidikan Islam.

Menurut Abudin Nata pendidikan agama secara sederhana adalah pendidikan yang materinya terdiri dari pengetahuan agama seperti

tauhid/akidah, fiqih, al-Qur’an, ibadah, dan akhlak yang ditujukan untuk

menghasilkan anak didik yang berjiwa agamis (religius) yang terlihat dari

akidahnya yang kuat, kepatuhannya dalam menjalankan ibadah, akhlaknya

mulia, kepedulian sosialnya tinggi serta gemar membaca al-Qur’an.13

Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan tujuan pendidikan Islam, maka pendidikan agama haruslah mengantarkan peserta didik kepada terbinanya tiga aspek.

Pertama, aspek keimanan mencakup seluruh arkanul iman. Kedua, aspek

ibadah, mencakup seluruh arkanul Islam. Ketiga, aspek akhlak, mencakup

akhlakul karimah. Untuk tujuan itulah pendidikan agama diarahkan pada

terbentuknya manusia Indonesia beridentitas dan berkepribadian Pancalilais, moralitas agamis yang kondusif serta ketegaran dan keteguhan pribadi dalam menghadapi pasang surut pembangunan bangsa.

Wahid Hasyim dikenal sebagai seorang yang mencurahkan perhatiannya dalam menyeimbangkan pengetahuan umum dan agama. Selain mendirikan PTAIN, hal tersebut juga diimplementasikan dalam bentuk lain, yakni memberikan pendidikan agama di sekolah-sekolah umum. Menyusul ditetapkannya UU Pendidikan No. 4/1950, Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan dan Menteri Agama mengeluarkan Keputusan Bersama pada 1951, yang intinya menegaskan bahwa pelajaran agama harus diajarkan di sekolah-sekolah umum. Selain itu, keputusan bersama ini juga menyatakan bahwa belajar di sekolah agama yang telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Agama dianggap telah memenuhi wajib belajar.

13

Abudin Nata, Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 28

75

Keputusan No.1432/Kab. Tanggal 20 Januari 1951 (Pendidikan) dan No. K.I/651. Tanggal 20 Januari 1951 (Agama) merupakan realisasi dari UU Pokok Pendidikan No. 4 Tahun 1950 Ayat 2: Cara menyelenggarakan pengajaran agama di sekolah-sekolah negeri diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan bersama-sama dengan Menteri Agama.

Keputusan tersebut terdiri dari 11 pasal, yang intinya adalah:

Pendidikan Agama diberikan di sekolah rendah dan lanjutan. Di sekolah rendah pendidikan agama dimulai di kelas 4 sebanyak 2 jam dalam 1 minggu. Sedangkan di lingkungan istimewa pendidikan agama dapat dimulai pada kelas satu dan lamanya belajar tidak boleh lebih dari 4 jam seminggu. Di sekolah lanjutan tingkat pertama dan atas baik di sekolah-sekolah umum maupun sekolah-sekolah-sekolah-sekolah vak diberikan pendidikan agama 2 jam tiap-tiap minggu. Pendidikan agama yang diberikan sesuai agama murid dan jumlah murid yang mengikuti pelajaran agama dalam satu kelas sekurang-kurangnya sepuluh orang untuk agama tertentu. Selama berlangsung pendidikan agama, murid yang beragama lain boleh meninggalkan kelas. Guru-guru agama diangkat oleh Menteri Agama dan begitu juga pembiayaan menjadi tanggung jawab Kementerian Agama. Bahan pelajaran ditetapkan oleh Kementerian Agama setelah mendapat persetujuan dari Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.

Dengan dimasukkannya pendidikan agama ke dalam kurikulum sekolah umum ini menunjukkan bukti betapa Wahid Hasyim menganggap pentingnya pendidikan ketuhanan/agama.

Menurut Wahid Hasyim pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk yang beragama. Jika didapati ada manusia yang menganggap bahwa agama itu tidak penting dan menganggap dirinya sebagai penentang agama, maka pada hakikatnya hati orang tersebut selalu merasa kosong dan telah menukar agamanya, dari yang lama kepada agama yang baru bernama anti-agama.

Wahid Hasyim menegaskan bahwa di Belanda yang dahulu menjadi

“kiblat”nya sebagian kaum terpelajar bangsa Indonesia, kini kurang dari 84% sekolah-sekolah rendah diisi dengan pendidikan agama. Akan tetapi di

76

Indonesia, orang masih berkeras kepala menganggap bahwa pendidikan

agama itu akan menghambat kemajuan.14

Menurut Azyumardi Azra bahwa Islam sebagai agama universal dan berlaku sepanjang zaman, bukan hanya mengatur urusan akhirat, tetapi juga urusan dunia. Demikian pula Islam mengatur ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Tuhan, dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan keduniaan. Islam

mengatur keduanya secara integrated.15

Jika di dalam bidang keilmuan dirumuskan upaya peintegrasian yang menyatu antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, maka penyatuan itu hendaknya tidak hanya mencakup dengan memasukkan mata pelajaran agama ke sekolah-sekolah umum dan mata pelajaran umum ke pesantren dan madrasah karena hal tersebut tidak sesuai dengan konsep pendidikan yang memperhatikan pengembangan seluruh aspek-aspek manusia dalam satu kesatuan yang utuh tanpa kompartementalisasi, tanpa terjadinya dikotonomi.

Kemudian dalam rangka kesatuan sistem agar secara teknis tidak ada dikotonomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum diwujudkan melalui kebijaksanaan Wahid Hasyim untuk memasukkan tujuh mata pelajaran di lingkungan madrasah, yaitu mata pelajaran membaca-menulis (latin), berhitung, Bahasa Indonesia, sejarah, ilmu bumi dan olahraga.

Kebijaksanaan tersebut, kemudian lahir Undang-Undang No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah dalam

Pasal 10 Ayat 2 disebutkan bahwa: “Belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan Menteri Agama dianggap telah memenuhi kewajiban belajar”. 16

Selanjutnya kebijakan tersebut berkembang ketika KH. Moh. Ilyas

menjadi Menteri Agama setelah Wahid Hasyim yaitu dengan

memperkenalkan Madrasah Wajib Belajar (MWB) 8 tahun. Tujuannya

14

Buntaran Sanusi dkk. (Ed.), KH. A. Wahid Hasyim; …, h. 27

15

Azyumardi Azra, dalam Abudin Nata et.al., Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), h. viii

16

Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa (Visi, Misi dan Aksi), (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2006), h. 26

77

diarahkan pada pembangunan jiwa bangsa, yaitu untuk kemajuan di bidang ekonomi, industri dan trasmigrasi dengan kurikulum yang menyelaraskan tiga perkembangan, yaitu perkembangan otak, perkembangan hati dan

keterampilan tangan atau Three H (heart, head, hand).

3. Pendidikan Guru Agama (PGA)

Dokumen terkait