• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN WILAYAH SULAWESI

III. 5-8 (5) Bidang Politik, Hukum dan Keamanan

Sejak tahun 2002 lima gubernur se-Sulawesi (Provinsi Gorontalo, Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara) membentuk Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) dan sepakat melakukan interkoneksi program pengembangan komoditas guna mengatasi kesenjangan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia. Visi pembangunan industri di kawasan Sulawesi pada tahun 2010 yang diarahkan kepada pengembangan industri yang berbasis agribisnis, perikanan dan industri prospektif. Misalnya Provinsi Gorontalo dengan potensi jagung, sapi dan ikan, Sulawesi Utara dengan komoditi cengkeh dan kelapa, Sulawesi Tengah komoditi cacao, Sulawesi Selatan cacao dan kopi, potensi lainnya di Sulawesi Tenggara. Dalam upaya mempercepat implementasi sistem kerjasama antar daerah tersebut, pemerintah pada bulan Agustus 2007 mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah. Kerja Sama Pengelolaan Sumberdaya Alam di Kawasan Sulawesi. Secara geografis wilayah Sulawesi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga adalah Provinsi Sulawesi Utara (Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud). Provinsi Sulawesi Utara berada di ujung utara NKRI dan berada diperbatasan antara Republik Indonesia dengan negara. Namun sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mendukung pengelolaan dan pengawasan wilayah perbatasan masih sangat minim.

Isu Strategis Bidang politik, pertahanan dan keamanan di Wlayah Pulau Sulawesi adalah (1) Belum optimalnya kinerja penyelenggara negara sebagai akibat belum adanya kepastian hukum dalam hal perundang-undangannya (materi hukum), penerapan dan penegakan; (2) Belum berjalannya pembangunan kerjasama pembanguna antardaerah secara terpadu; (3) Masih sangat terbatasnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mendukung pengelolaan dan pengawasan wilayah perbatasan; serta (4) Masih tingginya potensi konflik horizontal di beberapa wilayah.

Pada tahun 2010, wilayah Sulawesi akan juga melaksanakan pilkada provinsi/ kabupaten/kota. Dengan demikian, sebagaimana halnya di wilayah lain, peningkatan kapasitas lembaga KPU Provinsi/Kabupaten/Kota dan pendidikan pemilih sangat penting untuk meningkatkan kualitas pilkada. Di wilayah-wilayah rawan konflik, para calon pemilih harus ditingkatkan kesadarannya, bahwa demokrasi melalui pilkada, berparlemen, dan kebebasan berwacana adalah satu-satu cara memperbaiki kualitas kehidupan bersama, sedangkan cara-cara kekerasan tidak dapat diterima. Para pelakunya akan berhadapan dengan hukum tanpa kecuali.

5.2 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Sulawesi

Tujuan pengembangan wilayah Pulau Sulawesi pada tahun 2010 antara lain adalah:

(1) Meningkatkan standar hidup masyarakat di wilayah Sulawesi

(2) Meningkatkan produksi dan produktivitas sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan di Sulawesi

(3) Meningkatkan ketersediaan, kualitas, dan jangkauan pelayanan prasarana dan sarana transportasi, baik darat, laut dan udara.

III.5-9

(4) Meningkatkan jumlah, mutu dan jangkauan sistem jaringan prasarana dasar (jalan, pelabuhan, lapangan udara, telekomunikasi, listrik dan telepon).

(5) Menigkatkan aksesibilitas masyarakat wilayah Pulau Sulawesi terhadap pelayanan publik dasar.

(6) Mewujudkan keseimbangan pembangunan wilayah Sulawesi Bagian Selatan, Sulawesi Bagian Tengah dan Sulawesi Bagian Utara

(7)Terwujudnya jati diri dan karakter bangsa yang tangguh dan toleran

(8) Meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan

(9) Meningkatkan budaya serta prestasi olahraga

Sasaran pengembangan wilayah Pulau Sulawesi dalam kurun waktu 2010-2014 adalah sebagai berikut:

(1) Meningkatnya standar hidup masyarakat Pulau Sulawesi

a. Meningkatnya pendapatan per kapita di Provinsi Sulawesi Utara sekitar dari Rp.7,190.51 ribu, Provinsi Gorontalo sekitar Rp.2,693.88 ribu, Provinsi Sulawesi Tengah sekitar Rp.6,377.82 ribu, Provinsi Sulawesi Barat sekitar dari Rp.3,789.52 ribu, Provinsi Sulawesi Selatan sekitar Rp.6,102.59 ribu, Provinsi Sulawesi Tenggara sekitar Rp. 5,126.63 ribu.

b. Tercapainya pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Utara sebesar 5,99 persen, Provinsi Gorontalo sebesar 7,25 persen, Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 10,17 persen , Provinsi Sulawesi Barat sebesar 10,54 persen, Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 4,95 persen, Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 6,73 persen .

c. Tingkat kemiskinan di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 9.89 persen, Provinsi Gorontalo sebesar 28,68 persen, Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 21,53 persen, Provinsi Sulawesi Barat sebesar 17,11 persen, Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 14,65 persen pada tahun 2010, Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 20,23 persen. d. Menurunnya angka pengangguran di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 10,47

persen, Provinsi Gorontalo sebesar 4,80 persen, Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 6,76 persen, Provinsi Sulawesi Barat sebesar 4,29 persen, Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 7,20 persen, Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 3,87 persen.

e. Meningkatnya angka rata-rata lama sekolah di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 8,96 tahun, Provinsi Gorontalo sebesar 7,10 tahun, Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 7,98 tahun, Provinsi Sulawesi Barat sebesar 7,50 tahun, Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 8,00 tahun, Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 7,90 tahun.

f. Menurunnya angka kematian bayi di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 14,23 per 1000 kelahiran hidup, Provinsi Gorontalo sebesar 28,88 per 1000 kelahiran hidup, Provinsi Sulawesi Barat sebesar 28,30 per 1000 kelahiran hidup, Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 35,28 per 1000 kelahiran hidup, Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 28,30 per 1000 kelahiran hidup, Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 28,46 per 1000 kelahiran hidup.

(2) Meningkatkan produksi dan produktivitas sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan di Sulawesi

(3) Meningkatkan ketersediaan, kualitas, dan jangkauan pelayanan prasarana dan sarana transportasi, baik darat, laut dan udara.

(4) Meningkatkan jumlah, mutu dan jangkauan sistem jaringan prasarana dasar (jalan, pelabuhan, lapangan udara, telekomunikasi, listrik dan telepon).

(5) Menigkatkan aksesibilitas masyarakat wilayah Pulau Sulawesi terhadap pelayanan publik dasar.

III.5-10

(6) Mewujudkan keseimbangan pembangunan wilayah Sulawesi Bagian Selatan, Sulawesi Bagian Tengah dan Sulawesi Bagian Utara

(7) Terwujudnya jati diri dan karakter bangsa yang tangguh dan toleran, yang antara lain ditandai dengan meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya yang positif dan produktif; serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap keragaman dan kekayaan budaya.

(8) Meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan

(9) Meningkatkan budaya serta prestasi olahraga tingkat nasional dan internasional

5.3 Strategi dan Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah Sulawesi

Dengan memperhatikan rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Sulawesi, pengembangaan wilayah Sulawesi diarahkan untuk: (1) Mendorong perkembangan peran Pulau Sulawesi sebagai salah satu wilayah yang memiliki peluang-peluang eksternal cukup besar; (2) mengembangkan komoditas unggulan Pulau Sulawesi yang memiliki daya saing tinggi melalui kerjasama lintas sektor dan lintas wilayah provinsi dalam pengelolaan dan pemasarannya; (3) memprioritaskan kawasan-kawasan tertinggal dan kawasan perbatasan dalam rangka pencapaian pemerataan tingkat perkembangan antar wilayah, termasuk pengembangan pulau-pulau kecil dan gugus kepulau-pulauan; (4) memanfaatkan potensi sumber daya di darat dan laut secara optimal serta mengatasi potensi konflik lintas wilayah provinsi yang terjadi di beberapa wilayah perairan dan daratan; (5) mempertahankan keberadaan sentra-sentra produksi pangan nasional, khususnya bagi sawah-sawah beririgasi teknis dari ancaman konversi lahan; (6) memantapkan keterkaitan antara kawasan andalan dan kawasan budidaya lainnya, berikut kota-kota pusat-pusat kegiatan didalamnya, dengan kawasankawasan dan pusat-pusat pertumbuhan antar pulau di wilayah nasional, serta dengan pusat-pusat pertumbuhan di kawasan sub-regional ASEAN, Asia Pasifik dan kawasan internasional lainnya dalam menciptakan daya saing wilayah; (7) mempertahankan dan merehabilitasi kawasan lindung hingga mencapai luasan minimal 40 persen dari luas Pulau Sulawesi dalam rangka mengurangi resiko dampak bencana lingkungan yang dapat mengancam keselamatan masyarakat dan asset-asset sosial-ekonominya yang berbentuk prasarana, pusat permukiman maupun kawasan budidaya; (8) Meningkatkan upaya pengembangan dan pelestarian kesenian; (9) Meningkatkan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda; (10) Memperluas pengerahan tenaga terdidik untuk pembangunan perdesaan; (11) Meningkatkan upaya pemasyarakatan dan pembinaan olahraga; (12) Meningkatkan upaya pembinaan olahraga yang bersifat nasional; (13) Meningkatkan kerjasama pola kemitraan untuk pembangunan sarana dan prasarana olahraga. (14) mengembangkan industri pengolahan yang berbasis pada sektor kelautan, pertanian, perkebunan, pertambangan, dan kehutanan secara berkelanjutan; (15) mengembangkan pemanfaatan ruang untuk mewadahi dinamika kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya.

Pengembangan sistem pusat permukiman di wilayah Pulau Sulawesi ditekankan pada terbentuknya fungsi dan hirarki pusat permukiman sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang meliputi Pusat Kegiatan Nasional, Pusat Kegiatan Wilayah, Pusat Kegiatan Lokal dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional di kawasan perbatasan negara. Pengembangan PKN di Pulau Sulawesi diarahkan untuk: (1) mendorong optimalisasi pengembangan kawasan perkotaan Maminasata (Makassar–Maros–

III.5-11

Sungguminasa–Takalar) dan Manado-Bitung sebagai pusat pelayanan primer yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya, (2) mendorong pengembangan kota-kota Gorontalo, Palu, dan Kendari sebagai pusat pelayanan sekunder. Pengembangan PKW di Pulau Sulawesi diarahkan untuk: (1) Mendorong pengembangan kota-kota Tomohon, Kotamobagu, Tondano, Isimu, Marisa, Kwandang, Luwuk, Parepare, Kolonodale, Palopo, Watampone, Bulukumba, Jeneponto, Pangkajene, Barru, Lasolo, Rarowatu, Raha, Baubau, dan Kolaka sebagai pusat pelayanan sekunder; (2) mengendalikan pengembangan kota-kota Mamuju, Poso, Buol, Donggala, Toli-Toli, Tondano, dan Unaaha sebagai pusat pelayanan sekunder sesuai dengan daya dukung lingkungannya. Pengembangan PKL di Pulau Sulawesi diarahkan ditetapkan melalui Peraturan Daerah Provinsi berdasarkan usulan Pemerintah Kabupaten/Kota dengan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam RTRWN. Pengembangan PKSN di kawasan perbatasan negara diarahkan pada pengembangan kota Melonguane dan Tahuna.

III.5-12

GAMBAR  5.1

PETA RENCANA TATA RUANG PULAU 

SULAWESI

Rencana  Tata  Ruang  Pulau:

Mengembangkan  komoditas  unggulan  Pulau Sulawesi  yang  memiliki  daya  saing tinggi  melalui  kerjasama  lintas  sektor dan  lintas  wilayah  provinsi  Mempertahankan  dan  merehabilitasi 

kawasan  lindung hingga  mencapai  luasan minimal  40 persen dari luas  Pulau Sulawesi

Memprioritaskan  kawasan‐kawasan  tertinggal  dan kawasan  perbatasan  dalam  rangka  pencapaian  pemerataan  tingkat  perkembangan  antar  wilayah Mengembangkan  industri  pengolahan 

yang berbasis  pada  sektor kelautan,  pertanian, perkebunan, 

pertambangan,  dan kehutanan  secara  berkelanjutan

Memanfaatkan  potensi  sumber daya  di darat  dan  laut  secara optimal  serta  mengatasi  konflik  lintas  wilayah  provinsi yang  terjadi  di beberapa  wilayah  perairan dan  daratan

Mengembangkan  pemanfaatan  ruang  untuk mewadahi  dinamika  kehidupan  ekonomi, sosial,  dan  budaya

Mempertahankan  keberadaan  sentra‐ sentra produksi pangan  nasional,  khususnya bagi  sawah‐sawah  beririgasi teknis dari  ancaman  konversi lahan

Memantapkan  keterkaitan  antara  kawasan  andalan  dan  kawasan  budidaya lainnya. 

III.5-13

GAMBAR  5.2

ISU STRATEGIS