PENGEMBANGAN WILAYAH KEPULAUAN NUSA TENGGARA
III. 6-7 (5) Bidang Politik, Hukum dan Keamanan
Kondisi di Nusa Tenggara sejak reformasi 1998 memunculkan dampak yang luar biasa, berbagai konflik terjadi yang umumnya disebabkan oleh krisis ekonomi, politik, sosial budaya hingga keagamaan. Nusa Tenggara Barat termasuk wilayah dengan tingkat eskalasi konflik antar kelompok warga tinggi sebesar 30 kali atau 4,42 persen, sedangkan konflik lainnya relatif lebih rendah. Demikian juga dengan Nusa Tenggara Timur tingkat konflik perkelahian antar kelompok warga cukup tinggi sebanyak 86 kali atau 3.71 persen. Konflik lain yang terjadi di wilayah ini adalah perkelahian warga dan aparat keamanan, perkelahian antar suku sebanyak 6 kali. Khusus untuk wilayah Nusa Tenggara Timur ini potensi konflik juga terdapat di perairan di perbatasan dengan Timor Timur yang dapat mengancam pertahanan negara, karena belum ada kesepakatan tentang garis batas laut kedua negara, juga adanya eksodus pengungsi dari Timor Timur yang juga masih jadi masalah serius bagi Indonesia dan Timor Timur. Oleh karena itu, kondisi keamanan di wilayah Nusa Tenggara harus menjadi perhatian terkait dengan banyaknya konfilk horizontal. Sehingga perlu adanya early warning system untuk pencegahan konflik. Selain itu perlu adanya upaya peningkatan dalam menjaga keamanan wilayah perbatasan di NTT dan wilayah terluar di bagian selatan
Selain masalah konflik horizontal dan masalah perbatasan, berbagai isu strategis di Bidang politik, pertahanan dan keamanan di Wilayah Nusa Tenggara antara lain yaitu (1) Belum optimalnya dalam memanfaatkan situasi devided goverment untuk penguatan fungsi check and balance antara eksekutif dan legislatif; (2) Belum optimalnya peningkatan prasarana pertahanan dan alutsista untuk pengamanan wilayah perbatasan dan wilayah terluar; (3) Belum berjalannya sinergi dan sinkronisasi Peraturan Pusat dan Daerah dan antar sektor pembangunan di daerah; (4) masih rendahnya kebebasan sipil, pemenuhan hak-hak politik rakyat terutama untuk terlibat dalam proses penyusunan kebijakan publik dan melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan; serta (5) pelaksanaan pilkada di provinsi dan beberapa di kabupaten/kota yang dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan pemimpin politik yang lebih berkualitas.
6.2 Tujuan dan Sasaran Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
Tujuan pengembangan wilayah Kepulauan Nusa Tenggara pada tahun 2010 antara lain adalah:
(1) Meningkatkan standar hidup masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara
(2) Menigkatkan aksesibilitas masyarakat wilayah Kepulauan Nusa Tenggara terhadap pelayanan publik dasar.
(3) Mewujudkan keseimbangan pembangunan wilayah Kepulauan Nusa Tenggara bagian barat dan timur.
(4) Meningkatkan kontribusi Kepulauan Nusa Tenggara dalam perdagangan internasional
(5) Mengoptimalkan sektor unggulan di Kepulauan Nusa Tenggara. (6) Meningkatkan jariangan transportasi antarwilayah.
(7) Meningkatkan jumlah, mutu dan jangkauan sistem jaringan prasarana dasar (jalan, pelabuhan, lapangan udara, telekomunikasi, listrik dan telepon).
(8) Terwujudnya jati diri dan karakter bangsa yang tangguh dan toleran
(9) Meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan
III.6-8
Sasaran pengembangan wilayah Kepulauan Nusa Tenggara pada tahun 2010 adalah sebagai berikut:
(1) Meningkatnya standar hidup masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara
a. Meningkatnya pendapatan per kapita dari Rp 4.070.931 pada tahun 2010 menjadi Rp 4.442.833 pada tahun 2014 untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur diharapkan terjadi kenaikan pendapatan per kapita dari Rp 2.466.904 pada tahun 2010 menjadi Rp 2.487.902 pada tahun 2014.
b. Tercapainya pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,90 persen per tahun dalam kurun waktu 2010-2014 untuk Kepulauan Nusa Tenggara. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 3,59 persen pada tahun 2010 menjadi 3,80 persen pada tahun 2014. Sedangkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 5,98 persen sehingga pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,07 persen. c. Menurunnya jumlah tingkat kemiskinan dari 23,12 persen pada tahun 2010
menjadi 17,98 persen pada tahun 2014 untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur diharapkan tingkat kemiskinan berkurang dari 26,91 persen pada tahun 2010 menjadi 20,12 persen pada tahun 2014.
d. Menurunnya angka pengangguran dari 3,74 persen pada tahun 2010 menjadi 2,33 persen pada tahun 2014 untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, diharapkan angka pengangguran menurun 1,80 persen pada tahun 2010 menjadi 1,06 persen pada tahun 2014.
e. Meningkatnya angka rata-rata lama sekolah dari 7,06 tahun pada tahun 2010 menjadi 7,42 tahun pada tahun 2014 untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, diharapkan terjadi peningkatan angka rata-rata lama sekolah dari 6,68 tahun pada tahun 2010 menjadi 6,96 tahun pada tahun 2014.
f. Menurunnya angka kematian bayi dari 43,95 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2010 menjadi 34,22 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2014 untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, diharapkan angka kematian bayi menurun dari 30,29 per seribu kelahirann hidup pada tahun 2010 menjadi 23,81 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2014.
(2) Meningkatnya standar layanan jasa pendidikan di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara.
(3) Meningkatnya standar layanan jasa kesehatan di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara.
(4) Berkurangnya ketimpangan kontribusi perdagangan internasional antara Nusa Tenggara bagian barat dengan Nusa Tenggara bagian timur.
(5) Meningkatnya produksi dan produktivitas perikanan laut dengan terbentuknya industri pengolahan hasil laut di Kepulauan Nusa Tenggara.
(6) Terwujudnya jati diri dan karakter bangsa yang tangguh dan toleran, yang antara lain ditandai dengan meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya yang positif dan produktif; serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap keragaman dan kekayaan budaya.
III.6-9
(8) Meningkatkan budaya serta prestasi olahraga tingkat nasional dan internasional
6.3. Strategi dan Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
Dengan memperhatikan rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, pengembangaan wilayah kepulauan Nusa Tenggara diarahkan untuk: (1) mengembangkan kota-kota di kawasan pesisir sebagai Pusat Pelayanan kegiatan industri kemaritiman terpadu sebagai sektor basis yang didukung oleh prasarana dan sarana yang memadai, khususnya transportasi, energi, dan sumber daya air; (2) mengembangkan wilayah darat, laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil sebagai satu kesatuan wilayah Kepulauan Nusa Tenggara melalui kegiatan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang terpadu didukung oleh prasarana dan sarana yang memadai; (3) meningkatkan aksesibilitas antar kota-kota pesisir yang menghubungkan poros Banda Aceh–Atambua, sehingga membentuk keterkaitan sosial ekonomi yang kuat; (4) meningkatkan keterkaitan pengembangan antar kawasan (Kawasan Andalan dan Kawasan Andalan Laut) untuk mengoptimalkan potensi wisata budaya dan wisata alam, termasuk wisata bahari, dengan mengembangkan jalur wisata terpadu Bali -Lombok –Komodo–Tana Toraja; (5) menetapkan fokus spesialisasi penanganan komoditas unggulan termasuk pemasarannya, yang berorientasi ekspor, dengan mengutamakan pengelolaan sumberdaya alam terbarukan berdasarkan prinsip kemanfaatan bersama antarwilayah maupun antarkawasan; (6) memanfaatkan keberadaan Forum Kerjasama Daerah dan Forum Kerjasama Ekonomi Internasional baik secara bilateral dengan Australia dan Timor Leste, maupun secara multilateral dalam konteks kerjasama ekonomi sub-regional; (7) meningkatkan perlindungan kawasan konservasi nasional di Kepulauan Nusa Tenggara khususnya konservasi laut agar kelestariannya terpelihara; (8) mengelola kawasan perbatasan darat dengan Timor Leste dan Kawasan perbatasan laut dengan Timor Leste dan Australia sebagai ‘beranda depan’ Negara Kesatuan Republik Indonesia. (9) Meningkatkan upaya pengembangan dan pelestarian kesenian; (10) Meningkatkan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda; (11) Memperluas pengerahan tenaga terdidik untuk pembangunan perdesaan; (12) Meningkatkan upaya pemasyarakatan dan pembinaan olahraga; (13) Meningkatkan upaya pembinaan olahraga yang bersifat nasional; (14) Meningkatkan kerjasama pola kemitraan untuk pembangunan sarana dan prasarana olahraga.
Pengembangan sistem pusat permukiman di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara ditekankan pada terbentuknya fungsi dan hirarki pusat permukiman sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang meliputi Pusat Kegiatan Nasional, Pusat Kegiatan Wilayah, Pusat Kegiatan Lokal dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional di kawasan perbatasan negara. Pengembangan PKN di Kepulauan Nusa Tenggara diarahkan untuk mendorong pengembangan kota Mataram dan Kupang sebagai pusat pelayanan primer yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya.
Pengembangan PKW di Kepulauan Nusa Tenggara diarahkan untuk: (1) mendorong pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang berperan juga sebagai pusat industri pengolahan hasil kelautan dan perikanan, melalui pembangunan prasarana dan sarana pendukung; (2) mendorong pengembangan kota Praya, Raba, Sumbawa Besar, Ende, Kefamenanu, dan Labuhan Bajo sebagai pusat pelayanan sekunder dan pusat
III.6-10
pertumbuhan ekonomi wilayah sekaligus sebagai pusat perkembangan industri maritim dan kelautan; (3) mengendalikan pengembangan kota Soe, Waingapu, Maumere, dan Ruteng sebagai pusat pelayanan sekunder yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya.
Pengembangan PKSN di Kepulauan Nusa Tenggara diarahkan untuk mendorong perkembangan kota Atambua dan Kupang yang terletak di kawasan perbatasan negara.
III.6-11 GAMBAR 6.1 PETA RENCANA TATA RUANG KEPULAUAN NUSA TENGGARA Rencana Tata Ruang Pulau: • Mengembangkan kota‐kota di kawasan pesisir sebagai Pusat Pelayanan kegiatan industri kemaritiman terpadu. • Mengembangkan wilayah darat, laut, pesisir, dan pulau‐pulau kecil sebagai satu kesatuan wilayah Kepulauan Nusa Tenggara. • Meningkatkan aksesibilitas antar kota‐kota pesisir yang menghubungkan poros Banda Aceh – Atambua, sehingga membentuk keterkaitan sosial ekonomi yang kuat. • Meningkatkan perlindungan kawasan konservasi nasional di Kepulauan Nusa Tenggara khususnya konservasi laut agar kelestariannya terpelihara. • Meningkatkan kerjasama pola kemitraan untuk pembangunan sarana dan prasarana olahraga. • Meningkatkan keterkaitan pengembangan antar kawasan, menetapkan fokus spesialisasi penanganan komoditas unggulan termasuk pemasarannya, memanfaatkan keberadaan Forum Kerjasama Daerah dan Forum Kerjasama Ekonomi Internasional baik secara bilateral dan multilateral.
III.6-12 GAMBAR 6.2 ISU STRATEGIS