BAB II KHATAMAN AL- QUR’AN DAN PEMBACAAN
E. Biografi Singkat Pendiri Asrama Darul Qur’an
KH. Moh. Fathoni Dimyathi Lc adalah pengasuh utama atau pendiri asrama Darul Qur’an sekaligus pimpinan unit Tahfizul Qur’an di pondok pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng, Mojokerto. Beliau lahir pada tanggal 12 Agustus 1963 M di kota Mojokerto. Beliau juga
merupakan putra dari salah satu mu’assis pondok pesantren Bidayatul Hidayah, KH. Moh. Dimyathi Salim dan bu nyai Muflichah. Beliau mempunyai istri yang bernama Ning Nur Afifah dan dikaruniai delapan putra putri yang semuanya berkecimpung didunia al-Qur’an sejak dini.7
Kyai Fathoni merupakan putra ketiga dari tujuh bersaudara yang mana sejak berdirinya asrama Darul Qur’an ini, saudara-saudara beliau juga ikut andil dalam mengembangkan kredibilitas asrama Darul Qur’an. Masa kecil beliau juga sudah tidak asing lagi dengan wawasan keislaman, karena beliau tinggal dilingkungan pesantren yang membuat kyai Fathoni lebih mudah mendapatkan pengetahuan agama.
Beliau merupakan sosok yang sangat patut dicontoh dalam kegigihannya belajar ilmu al-Qur’an, karena sejak kecil sudah mulai terlihat ketertarikan beliau terhadap al-Qur’an dengan mulai sedikit-sedikit menghafalkan al-Qur’an. Terbukti saat beliau beranjak remaja, kyai Fathoni berhasil menempuh program menghafal al-Qur’an 30 juz dalam kurun waktu 20 bulan pada usia 18 tahun.
Saat beliau berusia 16 tahun, beliau memantapkan untuk belajar al-Qur’an di Madrasah Al-al-Qur’an Tebuireng, Jombang pada tahun 1979-1983 M. Yang mana pesantren tersebut didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan salah satu ulama besar di Indonesia. Di pesantren tersebut, kyai Fathoni tidak hanya mengkhatamkan al-Qur’an dan belajar ilmu al-Qur’an saja, melainkan beliau juga mempelajari ilmu qiraat.
Setelah beberapa tahun kyai Fathoni mendalami ilmu al-Qur’an, beliau kemudian melanjutkan kuliah sekaligus mondok di Damascus, Syiria tepatnya di Darul Qur’an Damascus Syiria pada tahun 1984-1988 M. Di sini kyai Fathoni juga berguru al-Qur’an dan mendapatkan
pengesahan sanad dari guru-guru al-Qur’an beliau.8 Karena ketekunan kyai Fathoni dalam menuntut ilmu, pada tahun 1988 M beliau berhasil lulus S1 Jurusan Bahasa Arab dan Islamic Study Fakultas Dakwah di Damascus Syiria dan pernah mengikuti pelatihan Da’i, Khotib, dan guru di Damascus selama satu bulan pada tahun 1994 M.
Hasil ketekunan beliau dalam menuntut ilmu dan dengan kemampuan dan keahlian yang beliau miliki, aktifitas beliau di samping sebagai pengasuh asrama Darul Qur’an, beliau disibukkan dengan membina beberapa kegiatan di bidang al-Qur’an, mulai dari JHQ, pembina bidang tahfidz LPTQ Jawa Timur sejak tahun 2000 sampai sekarang dan juga sering menjadi dewan hakim Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) mulai dari tingkat regional sampai tingkat nasional.
Pada beberapa kesempatan beliau menjadi pembicara tentang Islam dan Imam salat tarawih di luar negeri seperti di Makkah (1983), Damascus-Syiria (1984-1988), Selangor-Malaysia (2005-2008), Amstredam-Belanda (2009). Serta beberapa kali melakukan kunjungan ke luar negeri di antaranya ke Turky, Pakistan, Belgia, serta Perancis.9 Keberhasilan kyai Fathoni dalam mendalami ilmu al-Qur’an juga dibuktikan dengan berhasilnya beliau meraih juara dua pada Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) 30 juz tingkat Internasional di Makkah pada tahun 1983 M. Selepas dari belajar al-Qur’an di Madrasah Al-Qur’an Tebuireng beliau melanjutkan pendalaman al-Qur’an di Jama’ah Tahfidzul Qur’an, Masjidil Haram, Makkah pada tahun 1983-1984 M. Disana kyai Fathoni berguru al-Qur’an pada guru-guru besar yang ada di Masjidil Haram guna mendapatkan sanad bacaan al-Qur’an.10
8 Nur Millah Muthoharoh (Wakil Pengasuh Asrama Darul Qur’an), diwawancarai oleh Riv’atul Mahmudah, Mojogeneng, 5 Mei 2020, Mojokerto.
9 Buku Memori Santri 2014
Keahlian kyai Fathoni sudah tidak diragukan lagi melihat bagaimana latar belakang beliau dalam menuntut ilmu. Beliau ahli dalam metode menghafal al-Qur’an, pendalaman ilmu Tajwid, bimbingan lagu-lagu tartil, ilmu Tajwid Qira’ah Sab’ah, dan ilmu Bahasa Arab. Kyai Fathoni juga membagikan ilmu pengetahuan beliau melalui beberapa buku yang beliau tulis, di antara karya-karyanya adalah buku Ensiklopedia Al-Qur’an Kumpulan Ayat-ayat Beredaksi Mirip, Ifhamul Murid fi ‘ilmi Tajwid, Pendapat Ulama Tentang Membaca Al-Qur’an bagi Orang Junub dan Wanita Haid, Agar Tidak Merugi Sebagai Huffadzhul Qur’an, Faidlur Rohmani ar-Rahim Fi Fadlolil Qur’an al-Karim, Metode Pilihan Untuk Menghafal Al-Qur’an, Pemahaman Universal Tentang Makharij dan Sifatul Huruf, dan Kumpulan Nasyid Arab Syiria.
Di masa dewasa ini, dengan mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat, beliau mulai mengajarkan pengetahuan al-Qur’an melalui media sosial baik di instagram maupun youtube. Upaya ini dilakukan semata-mata agar kita bisa melestarikan al-Qur’an dan mencintai al-Qur’an.
Dalam sambutan beliau pada buku memori santri, beliau mengatakan, “salah satu daripada nikmat Allah yang sangat besar adalah nikmat terpilihnya kita sebagai pecinta dan pengabdi al-Qur’an. Bisa dikatakan bahwa nikmat ini adalah nikmat yang tak terkira besarnya, sebagaimana dijelaskan bahwa orang-orang yang ahli al-Qur’an, mereka itulah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” 11
Semua pencapaian yang diraih oleh Kyai Fathoni adalah hasil dari ketekunan beliau dalam menuntut ilmu dan tentunya tak luput dari berkah al-Qur’an melihat begitu semangatnya beliau mempelajari ilmu al-Qur’an.
Seperti yang selalu beliau katakan kepada santri-santrinya, “Sesuatu yang luar biasa itu harus ditempuh dengan cara yang luar biasa pula.”
63